Pertemuan tak direncanakan antara CEO Reswara Corp dengan Alintha Kasandra merupakan awal kisah mereka.
CEO Reswara Corp yang merupakan penerus keluarga perusahaan Reswara, Reizan Danish Reswara diusia 25 tahun dia sudah memegang kendali perusahaan.
Lalu Bagaimana pertemuan antara Pemilik perusahaan dengan karyawan itu terjadi, dan apakah ada peristiwa lain selanjutnya.
Akankah Rei terpikat oleh keistimewaan Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erenkaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Majemuk
"It's okey wae mas it's okey wae aku rapopo aku rapopo aku rapopo." gumamku menyanyikan lagu almarhumah Jupe ditengah perjalanan menuju tempat interview yang sepertinya related sama cuaca mendung di hatiku.
Sesampainya di sebuah cafe yang dua hari lalu menghubungi ku untuk datang interview hari ini, nampaknya cafe ini cukup bagus dan strategis. Hanya saja ada beberapa sudut peletakan kursi yang kurang pas menurut ku karena berdekatan dengan pintu. Kenapa kurang pas karena kursi yang berada di dekat pintu entah itu pintu masuk atau pintu penghubung dengan ruang lainnya, akan sangat mengganggu pagi customer yang memilih tempat itu. Posisi dekat pintu sangat sering digunakan lalu lalang pegawai dan tamu lainnya, kalau untuk aku jika saat aku datang ke cafe enggan memilih dekat pintu.
Nampak ada dua calon pegawai yang hari ini sudah duduk manis di depan meja resepsionis. Agaknya aku sedikit telat, saat aku menghampiri mereka, mereka pun tersenyum hangat nampak menyambut ku ramah.
"Aku telat yahh." ucap ku basa basi.
"Ahh enggak kok masih kurang lima belas menitan." salah satu dari mereka menyahuti ku.
"Melamar bagian apa." tanyaku kepo karena takut mereka ternyata rivalku kan cukup bahaya.
"Nganu (itu) mbak saya Indah bagian Helper." cewek dengan rambut dikuncir kuda menjawab, lalu mataku menatap kearah mbaknya yang berjilbab.
"Saya waiters mbak, Denok." jawabnya.
"Ohiyaaa, saya Alin admin atau kasir."
"Kasirnya atau adminnya mbak."
"Sedapatnya aja kalau dapat admin okey kalau kasir yah it's okey." jelasku mereka berdua mengangguk paham, dan aku merasa lega ternyata diantara kita berbeda posisi.
"Mbak nya sampun (sudah) pengalaman kerja di cafe."
"Sebelumnya saya bekerja di cafe di Surabaya." jawabku mereka mengangguk tak ada yang bersuara hingga seseorang datang memanggil salah satu dari kami.
"Denok."
Ternyata mbak nya yang berjilbab yang telah dipanggil interview duluan, sembari menunggu dipanggil mataku menyusuri seluruh sudut cafe ini. Begitu pun ditempat sebelum nya seolah aku ingin mengenal dulu tempat yang akan ku jadikan untuk mengais rejeki.
"Mbaknya bukan orang Jogja yah." tanya intan pada ku.
"Aku dari Malang mbak, tapi aku sebelumnya tinggal, kuliah dan kerja di Surabaya." jawabku, sepertinya dia sedikit terkejut.
"Lohh penak Yo mbak e iso Nyambi kuliah (lah enak yah mbak nya bisa sambil kuliah)." jawabnya sendu, terlihat dari sorot matanya yang sayu seperti menyimpan sesuatu.
"Yaa emang kenapa gak bisa disambi mbak, bisa diakali kok. Ada apa."
"Kalau aku gak bisa mbak Nyambi gitu soale aku kerja dua shift dua tempat, jadi gak ada kesempatan buat lanjut kuliah." jelasnya, agaknya aku sedikit paham maksudnya. Mungkin karena masalah hidupnya yang pelik membuat kondisi Indah seperti itu. Sepertinya aku perlu sedikit mengorek masalah pribadi Indah, Kepo dikit gak apa-apa kan.
"Hemmm, memangnya Indah kenapa harus bekerja Doble. Aku gak maksud ngorek nihh cuma tanya aja, kalau Indah gak mau cerita gak apa-apa."
"Haahhh, dua tahun yang lalu ibu ku meninggal mbak pas aku masih kelas dua SMA. Dan aku punya adik masih SMP yang harus lanjut sekolah. Tapi dia kadang suka bantu kerja ditempat cuci mobil pas libur sekolah. Ehhmm..." jelasnya lalu terpotong yang sepertinya dia tak sanggup bercerita.
"Kenapa Indah." tanya ku karena dia masih enggak bersuara.
"Yaa sudah gak apa-apa jangan dilanjutkan."
"Ayahku pergi saat aku kelas satu SMA, dan sejak ayah gak ada ibu jadi pontang-panting untuk menghidupi kita, gak lama itu ternyata ibu sakit magh kronis karena suka telat makan. Hemmm." jawabnya lirih, aku pun meremat tangannya guna menyalurkan rasa simpati ku. Ternyata hari ini aku dapat lagi sebuah cerita baru, hidupku masih jauh diatas mereka- mereka yang bahkan tidak ada apa-apanya aku terkadang ingin sekali menyerah.
"Mbak tahu kondisi kamu, mbak berdoa semoga kamu dapat melewati semua ini, kamu tinggal dirumah sendiri atau gimana."
"rumah peninggalan ibu mbak, Alhamdulillah masih ada tempat berteduh."
"Iyaa yang kuat, semangats harus tetap berjuang sampai tujuan kita tercapai." sahutku memberikan support pada Indah, kami baru kenal bahkan belum 15 menit tapi kenapa hatiku seolah bisa menerima dia dengan baik.
Setelah menunggu kurang lebih empat puluh menit nampak Denok keluar disusul dengan nama Indah disebutkan. Aku menoleh padanya mengudarakan dua tanganku yang terkepal kode memberikan semangat padanya.
Ternyata takdir masing-masing itu sudah ada porsinya sendiri -sendiri, jika belum saatnya kita bahagia tak perlu kita bersedih. Apa gunanya menghardik sang pencipta jika kita merasa tak puas dengan hidup kita. jika kehidupan kita tak berjalan mulus tak perlu menangis berlebihan, gulung-gulung, ngereog. Tuhan pun tahu kapan kita dapat jatah bahagia, dan kini aku pun telah tersadar sesadar-sadarnya. Catatan amal baik ku kurang jadi belum dapat jatah bahagia dari sang pencipta.
Setelah menunggu dua jam kurang interview kini giliran ku tiba, mengikuti prosedur penerimaan pegawai cafe. Setelah beberapa alur ku ikuti tak perlu waktu yang lama bagi ku untuk proses interview, karena dari pengalaman ku yang beberapa kali bekerja di cafe menjadi bahan pertimbangan.
"Nanti akan kami hubungi lagi yah mbak Alin."
"Siapp kak." sahutku lalu melenggang keluar dari ruang interview. Tidak ada agenda lain jadilah aku yang langsung go back home, dari pada keluyuran nggak jelas.
Arah pandangku berhenti pada satu objek yang tak asing yang tengah duduk manis di kursi customer sambil meminum sebuah orange juice, dan dia pun tersenyum padaku.
"Hahhhhhh." ku hela nafas panjang, aku tak bergerak namun sosok itu yang kini mendekat ke arah ku.
"Sudah selesai mainnya."
*
*
*
My Lovely Pak Bos
Selamat Hari Raya Iedul Fitri Readers, Minnal Aidzin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin.
Happy reading guys.