Di usianya yang baru menginjak usia tujuh belas tahun, Renzela Oskar harus di hadapkan dengan permasalahan rumit keluarga, keserakahan sang Papi yang tengah menguasai seluruh aset warisan dari sang Kakek untuk menghidupi wanita selingkuhannya membuatnya memilih jalan yang paling dia benci; Menikah di usia muda.
Demi mengambil kuasa atas semua aset yang Papinya kuasai, Renzela rela mengubur dalam-dalam kebahagiaannya dan menikah dengan seorang lelaki yang tidak pernah dia kenal. Hanya sebatas nama yang dia ketahui, yaitu Darrel Bastian Baskara; pengusaha mapan yang Om nya pilihkan.
Siapa sangka, saat pertemuan pertamanya dengan lelaki yang akan menjadi calon suaminya, Renzela malah di kaget kan dengan sebuah kontrak pernikahan yang harus dia tanda tangani.
Bagaimana perjalanan pernikahan mereka?
Mampukah Renzela memanipulasi hak walinya untuk menyadarkan sang Papi? Dan akankah Renzela mendapatkan kebahagiaan nya sendiri?
Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapat hukuman baru.
Mobil Darrel terlihat memasuki area parkir sekolah, tak lama sosok nya yang mengenakan setelan jas terlihat memasuki area sekolah dengan tergesa-gesa. Dia benar-benar khawatir dengan apa yang terjadi karena tiba-tiba di panggil ke sini.
"Renzela!" Langkahnya tiba-tiba berhenti tatkala matanya melihat sosok sang istri yang tengah berjemur di lapangan sekolah, terlihat memprihatinkan terlebih gadis kecil itu benar-benar tak bergerak dengan tangan yang di angkat menghormat bendera. "Apa dia di hukum?" Ingin menghampirinya tapi dia urungkan. Walau kasihan, dia harus tahu permasalahannya dulu dan setelah itu baru menghampiri Renzela dan menolong nya.
Darrel langsung melangkah, tapi bukan menuju ruangan guru, dia kembali berbalik menuju pos satpam karena ada yang harus di lakukan, "Permisi Pak. Maaf apa saya boleh meminta tolong?" ucap tiba-tiba.
Pak satpam sampai kaget, saat menoleh lebih kaget lagi karena ternyata itu Tuan Darrel. "Iya Pak, silahkan. Apa yang harus saya bantu?"
Darrel pun langsung mengambil dompetnya, mengeluarkan uang dua ratus ribu dan lekas di berikan pada satpam itu, "Tolong belikan air mineral dan berikan pada istri saya yang sedang berdiri di lapangan. Sisanya ambil saja untuk bapak." ucapnya cepat. Setelahnya dia benar-benar langsung pergi untuk menemui guru yang menghubungi nya tadi. Dia tidak boleh membuang waktu karena semakin telat dia menemui guru itu semakin lama pula Renzela akan terus berjemur di sana. "Tunggulah sebentar. Aku akan segera mengakhiri hukuman itu."
...***...
Matahari rasanya sudah berada di atas kepala, entah sudah berapa lama Renzela berdiri di bawah trik sinar matahari, yang jelas dia benar-benar sudah kelelahan dan rasanya sudah hampir pingsan. Berapa jam lagi kah dia harus berdiri di sini, dia benar-benar sudah tidak kuat.
"Non Renzela."
Panggilan itu langsung membuat Renzela menoleh, sedikit kaget saat tahu kalau itu ternyata Pak satpam, dan lebih kaget lagi kenapa Pak satpam itu membawa kantung plastik transparan yang isinya berbagai minuman yang terlihat begitu segar, membuat dahaga nya semakin menjadi dan kenapa pula malah berjalan semakin mendekat ke arahnya. "Ada apa ya Pak?" tanyanya heran. Jangan bilang ini adalah kerjaan Claudia lagi agar dia semakin tersiksa saat melihat minuman segar di kala situasi seperti ini.
"Ini Non, minum dulu."
Di luar ekspektasi, Renzela sampai kaget serasa mimpi, kok bisa masih ada orang baik di keadaan yang menyiksa begini. "Bapak tidak bercanda kan? Bapak bisa kena sangsi loh kalau ketahuan membantu saya. Kenapa harus repot-repot Pak?"
"Tidak kok, Non. Saya hanya menjalankan perintah. Ini tadi suami Non yang memberikan ini. Katanya dia harus langsung menemui guru terlebih dulu. Jadi beliau meminta saya mengantarkan ini untuk Non. Bahkan beliau memberikan saya upah."
"Om Darrel di sini?" Renzela sesaat terdiam, perasaan senang, haru dan gelisah menjadi satu. Senang karena bisa mendapatkan minuman segar, terharu karena ternyata Om Darrel begitu mempedulikannya, tapi gelisah, bagaimana kalau Om Darrel marah dengan kelakuan nya ini. Dia benar-benar malu.
"Non kenapa diam saja? Ini minum dulu! Suami Non benar-benar mengkhawatirkan Non."
"Iya, terima kasih, Pak." Perlahan Renzela langsung mengambil kantong plastik itu, setelahnya langsung mengambil salah satu botol dan langsung meneguk nya, persetan dengan apa yang akan terjadi nanti, mau kena marah Om Darrel pun tak apa, yang penting sekarang dia harus menghilangkan dahaganya sebelum dia pingsan.
"Kalau begitu saya permisi, Non."
Pak satpam pergi, Renzela pun kembali berdiri tegak mengangkat tangannya setelah puas menghilangkan dahaganya. Dia benar-benar kembali menjalani hukuman dengan harap-harap cemas, apa yang akan terjadi nanti setelah Om Darrel menemui guru BK itu, dia mungkin salah, tapi jujur dia tidak ingin di cap anak brandal oleh suaminya itu. Dan lagi Kenapa suaminya tidak menemuinya terlebih dahulu, setidaknya dia akan menjelaskan semuanya kalau dia tidak sepenuhnya salah sebelum guru BK itu yang bicara dan menyudutkan kan nya.
Menit demi menit berlalu, mata Renzela sudah kunang-kunang, kaki dan tangannya sudah kebas tak berasa, ternyata meski telah menghilangkan dahaga pun, tubuhnya benar-benar lemas. "Ya Tuhan. Apa aku benar-benar akan pingsan sebelum menyelesaikan hukuman ini. Kuatkan lah aku karena kalau aku sampai tumbang Kak Claudia benar-benar akan kegirangan dan akan semakin menginjak harga diriku." Keluhnya pasrah. Padahal katanya ada Om Darrel, tapi kenapa suaminya itu tidak membantu meringankan hukuman nya.
"Kau tidak akan pingsan, jadi ayo pulang!"
Renzela sampai kaget dan refleks langsung berbalik ke belakang, "O-Om!" Hampir saja kehabisan kata-kata, sejak kapan suaminya ada di belakangnya, apalagi sampai mendengar doa nya yang memalukan. Padahal baru juga dia memikirkan nya. "Ke-kenapa Om bisa di sini?"
"Aku mendapatkan panggilan karena katanya istri kecil ku telah berulah di sekolah," Perkataannya memang terdengar kaku dan dingin, tapi jujur hati Darrel ikut sakit melihat keadaan gadis ini, apalagi setelah tadi dia berhadapan dengan guru BK, dia benar-benar menjadi amat begitu kasihan pada Renzela. Dia sampai tidak sadar langsung mendekat, bahkan semakin dekat dan langsung menggerakkan kedua tangannya, satu tangannya menyibakkan rambut Renzela yang tertiup angin, dan satu tangannya lagi perlahan menyeka setiap keringat di wajah gadis ini. "Makanya jangan berbuat onar kalau tidak sanggup menerima resikonya."
"Maaf, Om."
Melihat raut wajah itu, Darrel ikut kesal. Sudah jelas gadis kecil ini bertingkah seperti itu bukan tanpa alasan, jadi dia benar-benar tidak percaya dengan perkataan Guru BK tadi, "Ayo pulang, ini sekolah SMA, bukan pelatihan militer jadi tidak ada gunanya terus berdiri di sini." ajaknya sambil mengelus kepala Renzela berusaha menghibur nya. Dia tahu istri kecilnya ini pasti teramat lelah setelah hampir empat jam berdiri di sini. Untung saja tadi dia langsung bergegas, jadi dia bisa langsung membawanya pulang.
"Om tidak marah pada ku?" Perasaan Renzela kini bisa sedikit lebih lega, hal yang dia takutkan dari insiden ini adalah kemarahan suaminya atas sikapnya yang kekanak-kanakan, dia takut nama baik suaminya ikut tercoreng karena ulahnya. Tapi suaminya itu tidak memasang ekspresi kesal sedikit pun.
"Aku tidak marah, Renzela. Jadi ayo pergi, kau pasti sudah lelah kan?" Bukan hanya mengajak, tangan Darrel kini ikut bergerak langsung menggenggam tangan Renzela untuk menuntunnya.
"Tunggu, Om. Aku berdiri di sini karena mendapatkan hukuman. Aku tidak boleh pulang begitu saja."
Darrel sampai menghela nafas, sungguh polos istrinya ini. Kalau saja dia ada di posisi Renzela dia benar-benar akan langsung meninggalkan lapangan yang panas ini saat ada orang yang membela nya, "Aku sudah bicara dengan guru BK, jadi aku bisa membawa mu pulang dan melupakan hukuman ini."
"Terima kasih, Om. Tapi kenapa pulang, aku kan harus masuk kelas dan belajar."
Darrel lagi-lagi menghela nafas, dia tahu Renzela pasti kelelahan bahkan bibirnya saja sudah sangat pucat, tapi kenapa malah banyak bicara, bukankah mengikuti ajakannya adalah lebih baik. Dia sampai tak tega melihat wajah yang sudah memerah karena terkena trik matahari itu, dia refleks melepaskan jasanya dan langsung menyelimuti kepala Renzela agar tak terkena sengatan matahari. "Aku meminta guru BK mengubah hukuman mu. Pada akhirnya kau di skorsing selama dua hari."
"Oh." Perasaan Renzela mendadak jadi hampa, entahlah, padahal dia baru saja berdebar dengan perhatian suaminya ini, tapi setelah mendengar itu hatinya kembali kacau, apakah dia harus senang, atau malah sedih dengan adanya bantuan suaminya ini. Jadi kalau dia kena skorsing dia akan terkurung di dalam rumah dan tidak bisa bermain dengan teman-teman sekolahnya. Sungguh malah seperti hukuman yang lebih kejam.
Melihat raut wajah redup itu Darrel sampai serba salah. Saat tadi dia berbicara dengan guru BK hanya itu hukuman yang paling ringan, dia kira itu akan menyenangkan untuk Renzela karena tidak harus sekolah. "Kenapa, apa kau tidak suka?" tanyanya sambil memposisikan jas nya agar menutupi tubuh Renzela. Harus bagaimana kah dia agar bisa mengembalikan senyuman gadis ini. "Maaf, tapi bukannya bagus kalau kau tidak harus sekolah. Kau bisa bermain sesukanya, dan lakukan apapun yang kau inginkan selama mendapatkan hukuman itu." bujuknya merayu.
"Sungguh, apa aku boleh melakukan apapun?" Tiba-tiba Renzela mendapat semangat lagi, bahkan langsung mengangkat kepalanya untuk menatap wajah suaminya. Dia sampai tak sadar jas yang sedari tadi menempel di kepalanya hampir jatuh lagi.
"Lakukan apapun yang kau inginkan. Jika kau bosan, kau boleh ikut ke kantor bersama ku." Sudut bibir Darrel sampai terangkat, sepertinya rayuannya berhasil karena gadis ini sudah kembali memancarkan senyuman nya. "Katakanlah apa yang kau inginkan?" ucapnya lagi.
"Sungguh, Om? Janji ya."
"Iya. Aku janji."
"Hore!" Senang bukan main, rasanya Renzela mau jingkrak-jingkrak saking senangnya, dia benar-benar akan menyusun dapat apa saja yang akan dia lakukan untuk sekarang dan esok hari. "Om memang yang terbaik." ucapnya lagi sampai tak sadar langsung bergerak memeluk lelaki yang tengah berdiri tegak di depannya. Rasa kesalnya akan kejadian hari ini benar-benar terbayarkan dengan perhatian lelaki ini.
Jika Renzela kegirangan sampai tak sadar memeluk suaminya, berbeda cerita dengan Darrel sendiri. Lelaki itu sampai kaget dan mematung, tangan mungil yang melingkar di pinggang nya, dan tubuh mungil yang bersandar di tubuhnya terasa begitu hangat membuatnya merasakan sesuatu yang aneh.
"Aku tahu kau senang, tapi bisakah jangan terus berdiri di sini. Ini sangat panas jadi lebih baik kita langsung berteduh." ucapnya mengalihkan kecanggungan. Dia laki-laki normal, kalau terus di biarkan bisa berbahaya. "Ayo kita ke mall dulu, katanya ponsel mu rusak. Aku akan menggantinya dengan yang baru."
"Terima kasih, Om."
Darrel ikut tersenyum melihat keceriaan itu, sesaat dia baru sadar, ternyata gadis ini benar-benar cantik, apalagi senyuman nya itu, benar-benar enak di pandang dan membuat hati tenang.
kasian renzelanya dong Thor,kok dapet yg udah GK perjaka