Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 03
Di kediaman Morana, ada acara makan malam besar yang dihadiri oleh keluarga besar. Sebab nanti malam akan ada pesta untuk pengantin yang baru saja menikah.
Di sana juga ada kedua orang tua Ashvin yang kini sudah menjadi bagian dari keluarga Morana. Mereka semua tampak bahagia, terlebih lagi Ashvin dan Leila yang sudah resmi menikah.
“Akhirnya kita tidak diam-diam lagi di belakang Leticia,” bisik Leila di telinga suaminya.
Ashvin hanya tertawa pelan, “Aku juga sudah sangat muak berpura-pura di belakang Leticia, sekarang aku sudah bebas dan kau yang menjadi istriku… bukan Leticia yang bodoh itu.”
Semuanya tertawa senang mendengar perkataan Ashvin yang dengan tidak tahu malunya menjelekkan nama Leticia, padahal salah satu orang yang ada di sana adalah orang suruhan Max yang memang ditugaskan untuk mencari informasi apa saja yang ada di keluarga Morana.
“Ash benar, Leticia memang sangat bodoh! Makanya dia sangat mudah ditipu dengan menikah dengan pria kejam itu,” Savanya malah ikut menertawakan sang putri.
Di mata Savanya, hanya ada Leila yang merupakan putri kebanggaannya dan Leticia hanya bayang-bayang Leila yang akan musnah kapan saja.
Di Mansion Max, Leticia mendengar dan melihat semuanya. Sebab orang suruhan Max memakai kacamata yang terdapat kamera dan juga perekam suaranya.
Leticia tidak menyangka kalau mereka semua menertawakan diri, rasa bencinya kepada mereka semakin besar.
“Tidak perlu membuang air mata berhargamu untuk sampah seperti mereka,” ucap Max sambil mengusap air mata istrinya yang tiba-tiba keluar.
“Kak Max benar, dan ini adalah terakhir kalinya aku menangis kebodohanku,” kekeh Leticia yang kini merubah panggilannya kepada Max yang memang lima tahun lebih tua darinya.
Air mata Leticia sudah tidak keluar lagi, karena air matanya sangat berharga… seperti apa yang dikatakan sang suami.
Leticia menatap wajah Max yang juga menatapnya, mereka sudah menandatangani perjanjian. Dan Leticia bisa memutuskan untuk melanjutkan pernikahan ini atau bercerai, setelah enam bulan… namun, Max tidak akan membiarkan pernikahan ini berakhir… bahkan sampai mati pun, hanya Leticia yang ia inginkan sebagai pasangannya.
“Mulai sekarang kau harus terbiasa kejam, Leticia sayang. Jadi, sebelum kau menemui mereka… kau harus merubah pandanganmu terhadap mereka. Gunakan rasa bencimu untuk melawan mereka secara perlahan, dan aku mendukungmu dari belakang,” ujar Max yang kini mengusap pelan pipi putih sang istri.
Entah hanya perasaan Leticia atau apa, ia merasa kalau Max sudah mengenalnya… tetapi Leticia sama sekali tidak mengenali pria yang namanya hanya dikenal sebagai sosok yang begitu kejam.
“Mommy akan berkunjung satu jam lagi, sebaiknya kita makan… karena menghadapi Mommy sangat membutuhkan energi yang banyak!”
Tanpa aba-aba, Max menggendong Leticia dan membuat sang istri terkejut. Leticia memeluk leher suaminya, karena takut terjatuh.
Tidak seperti tatapan matanya yang tajam dan menyeramkan itu, perlakuan Max bisa dikatakan cukup lembut untuk mereka yang baru saja bertemu dan langsung menikah.
“Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.” Ucap pria itu sambil menundukkan kepalanya untuk menatap wajah cantik sang istri.
Leticia ingin sekali menanyakan sesuatu kepada suaminya, tetapi ia merasa bukan sekarang waktu yang tepat untuk menanyakan hal yang sebenarnya tidak terlalu penting itu.
“Dan Mansion ini sudah menjadi milikmu, jadi kau bisa memerintah semua orang di sini. Kau adalah istriku, jadi perintahmu sama seperti perintahku!”
Aura yang dikeluarkan oleh Max benar-benar sangat kuat, begitu dominan dan membuat kepala Leticia mengangguk tanpa sadar.
Sebenarnya siapa Max? Kenapa pria itu bisa memiliki aura yang begitu menyeramkan, hanya dengan sorot mata biru yang sangat tajam itu?
Rasa penasaran Leticia semakin besar, tetapi lagi-lagi ia menahan diri untuk tidak bertanya.
...***...
Leticia tercengang saat melihat hidangan di atas meja makan, sangat banyak dan semuanya adalah makanan kesukaannya.
“Bagaimana Kak Max mengetahui semua makanan kesukaanku?” Tanya Leticia yang sudah tidak bisa menahannya lagi.
“Semua tentangmu, aku sudah mengetahuinya,” jawaban itu terdengar sedikit menakutkan di telinga Leticia.
Sebenarnya Max sudah menyuruh orang-orangnya untuk mencari tahu semua tentang Leticia, ketika mereka dijodohkan. Bahkan Max sudah mengetahui lebih dulu tentang perselingkuhan Ashvin dan Leila, tetapi pria itu hanya berpura-pura tidak tahu.
Lalu, ada lagi satu alasan kuat kenapa Max menerima perjodohan ini dan langsung setuju untuk menikah dengan Leticia. Namun untuk hal yang satu ini, Max akan menyimpannya sendiri sampai sang istri mengingatnya.
“Duduklah dan makan, sebelum Mommy datang!” Max bahkan menarikkan kursi untuk Leticia duduk.
Perlakuan pria itu benar-benar berbeda dengan Ashvin yang selama ini tidak menarikkan kursi untuknya. Sehingga jantung Leticia tanpa sadar berdetak kencang, karena baru pertama kali mendapatkan perhatian seperti ini dari orang asing yang berstatus sebagai suaminya selama enam bulan ke depan.
Max mengambilkannya daging dan memotong-motong daging tersebut, sebelum diserahkan kepada Leticia.
“Makanlah! Nikmati semua makanan ini!” Kata pria itu dengan tatapan datarnya, bahkan tidak ada senyuman di wajahnya.
Meskipun Max sangat minim ekspresi, tetapi saja perlakuan pria itu berbanding terbalik dengan wajah yang tampan dan sekaligus menyeramkan itu.
Lama-lama aku bisa jatuh hati kepadanya, batin Leticia sambil mencuri-curi pandang ke arah sang suami.
Namun Leticia tidak boleh luluh dengan mudah, karena ia belum mengenal Max lebih dalam… bahkan belum mengetahui seperti apa kehidupan Max yang sebenarnya.
Lagipula, Leticia masih ingin fokus dengan balas dendamnya. Meskipun di surat perjanjian, Leticia harus mulai membuka hati dan belajar mencintai Max selama enam bulan ke depan.
“Apa makanannya tidak enak?” Tanya Max yang membuat Leticia tersadar dari lamunannya.
“Tidak, makannya sangat enak,” ucap Leticia yang kembali menyantap daging yang sudah dipotongkan oleh suaminya.
Leticia memejamkan matanya, meresapi rasa nikmat dari daging yang meleleh di dalam mulutnya. Sebelumnya, ia hanya bisa makan makanan enak saat toko kue sedang ramai pembeli.
Leticia memiliki toko kue yang dibangun bersama sahabatnya, dan dari sanalah Leticia bisa bertahan hidup… meskipun dirinya sangat ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tetapi uang tabungannya tidak cukup dan hanya mampu untuk membangun toko kue.
“Aku hampir lupa. Apa kau ingin melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan?” Pertanyaan itu membuat Leticia menatap sang suami.
Mata hijau Leticia tampak berbinar, tetapi hanya sebentar… karena ia sadar dengan posisinya saat ini.
“Pilihlah universitas yang kau inginkan, jurusannya juga. Aku akan menyuruh Elion untuk menyiapkan semuanya,” ujar Max sambil menggegam tangan sang istri.
“Kak Max terlalu banyak menolongku, aku jadi bingung harus membalasnya dengan apa?” Kekeh Leticia yang benar-benar merasa tidak enak kepada suaminya.
“Yang aku inginkan darimu adalah hatimu, Leticia…”
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️