NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 – Penjaga yang Terbangun

Keheningan telah menyelimuti Hutan Ilusi, namun keheningan yang tercipta bukan keheningan yang menenangkan, melainkan keheningan yang membuat setiap tarikan napas terasa begitu berat.

Kabut hitam berputar perlahan di sekitar makhluk raksasa itu, kabut tersebut menutupi sebagian tubuhnya hingga hanya sepasang mata merah yang menyala seperti bara api di tengah kegelapan. Tubuhnya menjulang jauh di atas pepohonan, sementara tanduk hitam yang melengkung di kepalanya tampak seperti dua cabang pohon mati yang menusuk langit.

Di hadapannya, Orion berdiri tegak dengan pedang panjang berukir rasi bintang yang telah terhunus. Tatapan pria itu tetap tenang, namun Aurelia dapat melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Orion, ia sedang bersiap bertarung dengan sungguh-sungguh.

“Bawa mereka keluar.” Suara Orion terdengar rendah tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. “Aku akan menahan makhluk ini untuk mengulur waktu.” Sambungnya lagi. Sedangkan Caelum yang berdiri beberapa langkah dari Aurelia, hanya menghembuskan napas pelan.

“Kau masih saja keras kepala seperti dulu.” Ucap Caelum yang tidak mendapat jawaban dari Orion.

Kini, pedang Orion mulai terangkat. Ukiran rasi bintang di sepanjang bilahnya mulai memancarkan cahaya keperakan yang lembut, lalu semakin terang hingga membentuk garis-garis cahaya yang mengalir seperti sungai di permukaan logam, dan hal tersebut membuat Aurelia mengerutkan dahi. Cahaya pedang itu sangat mirip dengan cahaya Astralis.

“Relia.” Suara Lyra membuyarkan lamunannya. “Kita harus pergi.” Pungkasnya lagi yang membuat Aurelia menoleh.

Dua murid tingkat tiga yang sejak tadi bersama mereka sudah mulai mundur. Wajah mereka sama pucatnya, sementara tangan yang menggenggam tongkat sihir tampak sedikit gemetar. Tidak ada satu pun dari mereka yang cukup bodoh untuk tetap berada disana.

Sedangkan Aurelia, kakinya tampak tidak bergerak, tatapannya terus tertuju pada makhluk raksasa dihadapannya dan tepat pada saat itulah, makhluk tersebut kembali membuka mulutnya.

“A..stra..lis..” suara beratnya bergema memenuhi seluruh hutan. Setiap katanya terdengar patah-patah, seolah lidahnya telah lama lupa bagaimana cara berbicara.

Kini, tatapan makhluk itu tidak lagi tertuju pada tongkat yang berada di tangan Aurelia, melainkan pada dirinya. Tubuh Aurelia seketika membeku, karena entah kenapa, dibalik sorot mata merah itu, ia tidak hanya melihat amarah, namun ada pula kesedihan yang terselip disana, kesedihan yang begitu dalam hingga membuat dadanya ikut terasa sesak.

“Pergi.” Nada suara Orion terdengar meninggi hingga memecah keheningan dan detik berikutnya tubuh pria itu melesat secepat kilat.

CRAAANG!

Pedangnya bertemu dengan lengan raksasa makhluk itu, hingga goresan yang diciptakan Orion memercikkan cahaya putih yang menerangi seluruh hutan. Gelombang sihir yang tercipta begitu kuat hingga pepohonan di sekitar mereka bergoyang hebat.

Makhluk itu mundur setengah langkah, namun itu hanya sesaat. Kemudian ia mengayunkan lengannya yang lain dan membuat Orion melompat untuk menghindarinya, lalu ia pun mendarat ringan di atas salah satu batang pohon yang tumbang.

“Masih sekuat ini,” gumamnya pelan.

Makhluk itu kembali meraung dengan keras. Puluhan akar hitam kembali muncul dari dalam tanah dan melesat ke segala arah seperti ular raksasa, Orion pun mengangkat pedangnya lagi.

“Stella Aegis.” Lingkaran cahaya berbentuk rasi bintang muncul dihadapannya. Begitu akar-akar itu menghantam perisai tersebut, suara dentuman keras menggema ke seluruh hutan. Namun, perisai itu tidak retak sedikit pun.

Aurelia menatapnya dengan mata membulat, ia belum pernah melihat sihir seperti itu. Menurut Aurelia, sihir Orion berbeda, tidak seperti sihir elemen yang di ajarkan di akademi. Sihir Orion tidak menyerupai sihir cahaya, karena sihir itu seolah berasal dari langit malam dan dari bintang-bintang itu sendiri.

Di luar Arena Celestia, seluruh professor mendadak berdiri bersamaan. Krsistal-kristal pemantau mulai berkedip liar, beberapa bahkan pecah menjadi serpihan kecil tanpa sebab dan membuat professor Cedric langsung melangkah maju.

“Ada sesuatu di dalam.” Professor Elowen menggenggam tongkatnya erat.

“Itu bukanlah gangguan biasa.” Sahut satu professor yang lain.

Kepala Akademi pun mengangkat tangan dan mengisyaratkan agar percakapan mereka untuk berhenti disana. Kini, tatapannya tidak lagi tertuju pada cermih sihir, melainkan pada langit hari itu. Awan gelap perlahan berkumpul tepat di atas Hutan Ilusi, sebuah fenomena yang sama seperti saat Meteor Astralis terlihat beberapa malam lalu.

“Mustahil.” Bisik Aldric tak percaya. “Seharusnya segelnya tidak melemah secepat ini.” Ucapan Aldric itu membuat Profesor Cedric menoleh.

“Apa maksud Anda?” Aldric tidak menjawab pertanyaan itu. Sebagai gantinya, ia mengangkat tongkat sihirnya dengan sangat tinggi.

“Lakukan evakuasi sekarang.” Perintahnya dan membuat belasan professor langsung bergerak. Saat ini mereka tidak lagi peduli pada aturan seleksi, karena keselamatan para murid jauh lebih penting dari apapun.

Sementara itu didalam hutan, Caelum memperhatikan pertarungan antara Orion dengan makhluk raksasa itu tanpa berkedip. Tatapan merahnya terus mengikuti setiap gerakan yang dilakukan Orion dalam menyerang makhluk dihadapannya.

“Masih sama,” gumamnya. “Kau selalu memilih melindungi dari pada menghancurkan.” Tuturnya yang kemudian perlahan mengangkat tangan kanannya. Kemudian lingkaran sihir berwarna merah gelap muncul di telapak tangannya. Melihat itu membuat Orion langsung berteriak spontan.

“Jangan!” Terlambat. Caelum telah menjentikkan jarinya dan puluhan rantai merah menyala melesat dari udara serta melilit kedua lengan makhluk raksasa itu. Makluk itu menggeram keras dan tubuhnya terus berusaha untuk melepaskan diri.

“Pergilah.” Teriak Caelum pada Aurelia yang berjarak tak jauh darinya. “Kami tidak bisa menahannya dalam waktu yang cukup lama.” Ujarnya lagi dan Lyra langsung menarik lengan Aurelia.

“Relia. Kita harus pergi.” Pintanya. Namun sebelum Aurelia sempat melangkah, tongkat Astralis ditangannya kembali memancarkan cahaya. Cahaya itu kini jauh lebih terang dari sebelumnya.

Kristal yang berada di ujung tongkat itu melayang perlahan dari genggamannya. Semua orang disana membeku melihat kejadian itu, termasuk dengan Orion dan juga Caelum. Cahaya putih keemasan mulai memenuhi seluruh hutan, dan ribuan partikel cahaya beterbangan di udara seperti hujan bintang.

Kini, makhluk raksasa itu mendadak berhenti meronta, mata merah menyalanya bahkan perlahan menjadi redup, ia menatap Aurelia tanpa berkedip. Lalu secara perlahan, makhluk itu berlutut di hadapan Aurelia hingga membuat seluruh hutan kembali sunyi.

Saat ini tidak ada seorang pun yang memahami apa yang baru saja terjadi dihutan tersebut. Orion sendiri yang menyaksikan itu pun tampak tidak mempercayainya. Sedangkan Caelum menatap pemandangan itu dengan sorot mata yang sangat sulit di artikan.

“Aku tahu, Astralis benar-benar telah memilihnya.” Bisik Caelum yang membuat Aurelia sendiri tidak mengerti.

Tubuh Aurelia terasa ringan, seolah ada sesuatu yang memanggilnya dari balik cahaya itu. Di dalam benaknya, sebuah bayangan mulai muncul. Langit malam dengan hamparan jutaan bintang serta sebuah istana putih yang berdiri megah di antara cahaya langit.

Di depan istana itu, berdiri seorang perempuan berambut panjang sewarna cahaya bulan, gaun putihnya berkibar diterpa angin dan di dahinya terdapat lambang Astralis yang bersinar lembut. Perempuan itu tersenyum begitu hangat dan membuat mata Aurelia memanas.

“Anakku.” Suara itu terdengar begitu jelas. Bukan dari telinga, melainkan langsung dari dalam hatinya dan Aurelia tanpa sadar melangkah satu langkah ke depan.

“Siapa?” Tanya Aurelia. Perempuan itu pun mengangkat tangannya perlahan, seolah ingin menyentuh pipi Aurelia, namun sebelum jemarinya mencapai wajah gadis itu…

Craakkk~

Bayangan tersebut pecah seperti kaca dan membuat Aurelia tersentak. Kini, pandangannya kembali ke Hutan Ilusi dengan napas yang begitu memburu, “Tadi itu apa?” Aurelia memegangi kepalanya. Namun tidak ada yang mampu menjawabnya.

Makhluk raksasa tadi yang sebelumnya berlutut tiba-tiba kembali meraung keras. Raungannya tidak terdengar karena amarah seperti sebelumnya, melainkan raungan rasa sakit, karena retakan-retakan hitam mulai muncul di seluruh tubuhnya.

Kabut gelap keluar dari setiap celah retakan itu, memenuhi udara dengan aura yang begitu pekat hingga membuat Orion terpaksa mundur beberapa langkah. Ekspresi pria itu berubah drastis.

“Bukan. Itu bukan tubuh aslinya.” Bisik Caelum dan membuat Caelum mengepalkan kedua tangannya.

“Kalau begitu, selama ini dia hanya menjadi wadah.” Kalimat yang di lontarkan oleh Caelum membuat Aurelia menoleh dengan cepat.

“Wadah?” Belum ada yang sempat menjelaskan pertanyaannya itu. Tubuh makhluk itu mendadak memancarkan cahaya hitam yang begitu terang hingga seluruh Hutan Ilusi terguncang hebat.

Dari dalam tubuh raksasa tersebut perlahan muncul sepasang mata lain, sepasang mata berwarna emas, mata yang tidak dipenuhi dengan kebencian, melainkan tatatapan yang menunjukkan sebuah permohonan untuk diselamatkan.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!