Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intrik di Atas Penthouse
"Ini adalah penghinaan terbesar untuk nama besar keluarga Fynezayn di Asia Tenggara!"
Suara bentakan bariton yang menggelegar itu memecah kesunyian malam di dalam ruang makan utama. Di lantai teratas penthouse mewah kawasan Jakarta Pusat, Viktor Fynezayn menghempaskan gelas kristal berisi wine merah mahal ke atas lantai marmer hitam dengan kekuatan penuh. Gelas itu hancur berkeping-keping. Serpihannya menciptakan cipratan cairan merah pekat yang mengalir menyerupai genangan darah segar di bawah pantulan lampu gantung kristal raksasa. Napas pria paruh baya bertubuh kekar itu memburu, sementara sepasang mata birunya yang sedingin es di kutub memancarkan amarah tirani yang murni—khas seorang kepala kartel mafia Eropa Timur.
Miya Fynezayn berdiri mematung di dekat jendela kaca besar setinggi langit-langit. Dia sama sekali tidak terkejut atau berkedip melihat ledakan kemarahan ayahnya. Waktu telah menunjukkan pukul tiga dini hari. Tubuh rampingnya yang memiliki proporsi sempurna kini dibalut oleh gaun tidur sutra tipis berwarna hitam pekat yang menjuntai indah hingga menyentuh mata kaki.
Rambut pirang ikalnya yang berkilau keemasan dibiarkan terurai bebas, sebagian helainya bergoyang perlahan ditiup embusan angin dingin dari mesin pendingin ruangan. Kulitnya yang putih bersih tanpa cela tampak kontras dalam balutan gaun tidur tersebut. Meski demikian, pergelangan tangan kirinya masih menyisakan bekas rona kemerahan yang samar akibat gesekan besi borgol di dalam palka kapal kargo beberapa jam yang lalu.
"Gue gak apa-apa, Father," ucap Miya dengan logat asingnya yang mendadak mengeras. Dia menatap dingin ke arah pantulan bayangan dirinya sendiri di permukaan kaca jendela yang gelap.
"Bajingan-bajingan dari Kartel Utara itu sudah dilumpuhkan sepenuhnya oleh pasukan inti Breynerlanz sebelum mereka sempat menyentuh barang-barang gue. Mereka cuma segerombolan tentara bayaran amatir yang salah menghitung target operasi lapangan." Perpaduan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang digunakan Miya terdengar begitu dinamis, menunjukkan wibawa seorang pewaris tunggal yang dididik di lingkungan keras sejak kecil.
Elena, ibu Miya, melangkah mendekat dengan keanggunan seorang mantan balerina kelas atas. Wajah kaukasiannya yang cantik tampak dipenuhi kecemasan mendalam saat dia meraih jemari halus putrinya. Dia mengusap lembut bekas kemerahan di pergelangan tangan Miya dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana bisa mereka salah menghitung target operasional, Miya? Jaringan intelijen siber kita yang berada di Eropa tidak pernah meleset dalam memetakan posisi musuh seburuk ini. Ini aneh."
"Sistem siber sekolah baru itu mengunci enam data murid perempuan sekaligus di kelas X-A, Mother," jelas Miya. Suaranya terdengar datar namun sarat akan analisis taktis yang presisi.
Dia membalikkan tubuhnya perlahan, lalu melangkah dengan keanggunan seorang bangsawan malam mendekati meja makan marmer yang panjang. "Para penculik itu panik ketika mendapati peladen data siber SMA Garuda Bangsa dilindungi oleh protokol militer tingkat sembilan yang dinamis. Karena mereka tidak bisa membedakan mana wajah asli dari anak pasangan pembunuh bayaran independen yang menjadi target asli mereka, akhirnya mereka mengambil keputusan nekat untuk menyapu bersih seluruh barisan belakang dan lajur tengah kelas."
Viktor Fynezayn menyipitkan mata birunya. Kemarahan di wajahnya perlahan mereda, digantikan oleh kerutan dahi yang sarat akan kalkulasi intrik politik bawah tanah. Pria itu menarik sebuah kursi makan berlapis kulit, lalu duduk dengan tegak seraya mengetuk-ngetuk jemarinya yang besar di atas meja marmer.
"Dion Breynerlanz... penguasa mafia lokal yang memegang jalur logistik pelabuhan utara itu, dia turun langsung ke lapangan menggunakan tiga helikopter militer?"
"Benar, Father," sahut Miya. Dia menarik kursi di seberang ayahnya dan duduk dengan punggung tegak lurus, menolak untuk terlihat lemah bahkan di depan orang tuanya sendiri. "Anak perempuannya yang bernama Azrint duduk tepat di barisan depan kelas gue saat jam pelajaran pertama kemarin pagi. Gadis itu sangat dimanja dan dilindungi oleh ratusan senapan di luar rumahnya. Tapi di dalam palka gelap semalam, dia punya nyali untuk memegang potongan besi tajam demi mempertahankan wilayah privasinya saat listrik dipadamkan."
"Breynerlanz sedang memamerkan taringnya di depan hidung kita," gumam Viktor. Suaranya merendah namun bergetar penuh ancaman yang pekat. "Mereka ingin menunjukkan bahwa di tanah Indonesia ini, merekalah pemilik hukum malam yang sesungguhnya."
Viktor menatap tajam putri tunggalnya. "Miya, dengarkan perintah Father dengan baik. Besok saat kamu kembali melangkah masuk ke dalam kelas X-A, pasang mata dan telinga kamu lebih lebar lagi dari biasanya. Jika data lima murid perempuan lain di kelas itu dienkripsi dengan protokol militer tingkat sembilan yang sama dengan milik kita, artinya mereka semua bukanlah anak-anak borjuis manja biasa. Mereka adalah pewaris dari organisasi bawah tanah yang kekuasaannya setara dengan dinasti kita."
Elena menghela napas lembut, menyisir helai rambut pirang ikal putrinya dengan jemari yang hangat. "Tetaplah memakai topengmu dengan rapi, Miya. Jangan memicu konflik horizontal dengan lima gadis itu untuk saat ini. Biarkan mereka mengira bahwa kamu hanyalah seorang putri ekspatriat asing yang sombong, kaya raya, berjarak, dan tidak tahu apa-apa tentang kejamnya dunia bawah tanah Indonesia. Biarkan ego mereka yang bergerak terlebih dahulu."
Miya Fynezayn mengulas senyuman sinis yang sangat menawan di sudut bibirnya yang penuh. Dia mengambil ponsel pintar miliknya dari atas meja, lalu menatap layar kaca yang menampilkan sketsa bayangan lima teman sekelasnya. Pola itu berhasil direkam oleh memori visualnya dengan sangat detail selama pertempuran di atas dek kapal kargo semalam.
"Gue tahu cara memainkan peran ini dengan sangat baik, Mother," bisik Miya dengan nada suara yang berwibawa dan penuh gairah tantangan yang berbahaya. "Gadis jalanan bernama Aleyna itu punya pukulan mentah yang sangat solid untuk mematahkan rahang orang dewasa, dan siswi kutu buku bernama Fyrline... dia menyembunyikan jarum beracun yang sangat mematikan di balik rok seragamnya."
"Pertemuan hari Selasa besok di bawah lampu kelas X-A SMA Garuda Bangsa akan menjadi panggung sandiwara yang sangat menarik," lanjut Miya. "Kita lihat saja, siapa di antara kami yang akan menjadi kelinci pertama yang topengnya pecah di depan kerumunan orang-orang dunia atas."
Di balik kemewahan penthouse yang sunyi itu, Miya mengunci rapat seluruh insting taktisnya. Dia bersiap menyambut fajar baru dengan kepalsuan yang jauh lebih sempurna.