Terlahir dari rahim seorang wanita yang mendapat julukan sebagai pelakor atau orang ketiga bukan kemauan Kanza Qiara Mecca. Gadis cantik yang kini sudah menjadi piatu sejak usia nya tiga bulan itu harus menanggung keras nya hidup di keluarga orang yang telah ibu hancurkan. Setiap hari dia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari ibu dan kakak tiri nya. Sosok ayah yang selama ini diaharapkan pun tidak bisa melakukan apa pun melihat hal itu.
Penderitaan Kanza tidak berhenti di situ saja, sebulan sebelum pernikahan sang kakak justru dia mendapati dirinya berada dalam satu kamar dengan calon kakak ipar nya dan hal itu membuat dia harus terjebak dalam sebuah ikatan pernikahan tanpa cinta dengan sosok pria angkuh, dingin dan arogan Kenan Diyaksa.
Bagaimanakah kehidupan Kanza setelah mendapat gelar seorang istri dari calon kakak ipar nya? Apakah kebahagiaan yang selama ini dia harapkan akan dia raih?
Yuk….kepoin karya baru author “ Ikatan Tanpa Cinta “happy reading gaes😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny.Irawana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7 ART serasa Ibu Kandung
"Kok sepi banget Bi, pada kemana?" tanya Kanza setelah menyelesaikan pekerjaan rumah seperti biasa dia lakukan setelah dia makan di rumah Baskoro.
"Lha neng Kanza ngga di beritahu ma tuan Baskoro dan Nyonya Ratih kalau hari ini mereka pergi ke Bali? Kata nya pada mau refreshing gitu Neng setelah huru hara kemarin ", jawab Bi Sum dengan nada yang pelan di akhir kalimat nya.
Kanza sendiri hanya manggut-manggut tanpa berkomentar. Mana mau mereka ngasih tahu untuk hal itu, apalagi huru hara yang di maksud ada kaitan nya dengan Kanza. Selama dia tinggal di sana belum pernah sekali pun Kanza diajak jalan - jalan dan Kanza pun sudah tidak pernah mengharapkan hal itu.
Dulu sewaktu dia masih SD selalu merengek jika Baskoro dan Ratih hanya mengajak Arabella pergi jalan - jalan, namun setelah dia tahu siapa diri nya di keluarga itu semenjak itu lah dia tidak pernah mengharapkan apa pun dari keluarga itu. Cukup tahu diri saja bagi Kanza.
"Mas Kenan juga sudah tidak ada di sini, apa dia ikut ke Bali juga? Ah.... terserah lah, emang aku pikirin," ucap Kanza pada diri nya sendiri.
Karena hari sudah mulai sore, Kanza memutuskan untuk pulang ke rumah Kenan. Gadis itu sudah menyusun banyak rencana malam hari nanti, salah satu mencari beberapa lowongan pekerjaan lewat internet dan menyiapkan segala berkas yang akan di butuhkan untuk melengkapi persyaratan untuk melamar pekerjaan.
Baru saja gadis itu ingin melangkah keluar dari rumah Baskoro, dari dalam rumah terdengar suara teriakan Bi Sum. Wanita paruh bayah itu berjalan tergopoh - gopoh sambil membawa sebuah rantang susun ke arah Kanza.
"Neng Kanza tunggu sebentar, ini ada makanan untuk Neng Kanza untuk makan malam nanti. Apapun yang terjadi pada neng Kanza sekarang, bibi harap neng Kanza tetap kuat, sabar dan selalu ceria. Bibi yakin suatu saat nanti kebahagiaan yang selama ini neng Kanza harapkan akan terwujud ", ucap Bi Sum dengan mata yang berkaca - kaca.
Wanita itu adalah saksi hidup penderitaan Kanza selama ini, dan wanita itu lah orang yang paling tulus menyayangi Kanza selama ini.
"Makasih Bi, Kanza tidak tahu jadi seperti apa jika tidak ada Bi Sum dalam kehidupan Kanza selama ini".
Tangis Kanza langsung pecah ketika memeluk asisten rumah tangga papa nya itu.
"Kanza pamit ya Bi, doain Kanza supaya besok segera dapat pekerjaan biar Kanza bisa beliin bibi kue pukis kesukaan Bibi," kata Kanza sambil bercanda di akhir kalimat nya.
Bi Sum tersenyum lembut," pasti neng, tanpa neng Kanza suruh Bibi selalu mendoakan neng Kanza".
"Makasih ya Bi, kalau begitu Kanza pamit dulu.. Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam, hati - hati ya neng".
Kanza hanya tersenyum sambil melambaikan tangan nya ke arah Bi Sum. Karena hari sudah mulai gelap, maka Kanza memutuskan untuk pesan ojek online biar cepat sampai di rumah Kenan.
Saat Kanza sedang berdiri di pinggir jalan menunggu ojek pesanan nya, tiba - tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan nya. Kaca mobil itu terbuka dan nampak lah sosok laki - laki yang sangat dia kenal.
"Masuk, bentar lagi gelap !" ucap laki - laki itu.
Kanza masih mematung dan tidak menghiraukan apa yang laki - laki itu ucapkan.
"Kenapa dia tiba - tiba bisa muncul di depan ku, bukan nya dia tadi..."
"Ck...lama ! Ayo buruan masuk, apa yang dipikirkan lagi sih!"
"Ehm...maaf mas, aku pulang naik ojol saja".
"Bisa ngga sekali saja nurut ! Cancel ojol nya sekarang!" ucap Kenan dengan nada yang sedikit ditinggikan, bahkan tatapan pria itu pun terlihat menyeramkan saat ini seperti seorang mafia yang akan menerkam musuh nya.
Hal itu langsung membuat jari - jari Kanza langsung menekan tombol cancel pada pesanan nya. Sebenarnya Kanza merasa tidak enak pada ojol yang dia pesan, tapi bagaimana lagi tampang suami nya saat ini sangat menyeramkan, lebih seram dari tagihan paylater.
Kanza pikir Kenan ikut liburan ke Bali bareng kakak nya Arabella, nyata nya pria itu masih di sana. Entah itu disengaja atau tidak Kanza merasa aneh saja kenapa tiba - tiba Kenan bisa berada di depan nya.
"Siapa yang suruh kamu duduk di belakang !"
"Hah... itu anu Mas, aku merasa tidak pantas saja jika duduk di sebelah mas Kenan. Karena kursi itu pasti milik mba Ara," ucap Kanza sambil menggigit bibir bawah nya takut salah bicara dan membuat Kenan kesal.
"Pindah ke depan, di kira aku ini supir mu apa!"
Tidak mau berurusan panjang lebar ma Kenan lagi, akhir nya Kanza pun mengikuti apa yang Kenan ucapkan. Gadis itu saat ini duduk di samping Kenan.
"Kamu dipecat?"
"Seperti yang mas Kenan lihat".
"Bagus lah, hanya perusahaan b*doh saja yang mau menerima karyawan yang sekarang sedang viral dengan berita yang negatif", ucap Kenan tanpa ada rasa bersalah. Padahal dia sendiri juga terlibat dalam berita negatif itu, tapi sayang nya hanya Kanza yang disalahkan dan di pojok kan di setiap pemberitaan itu.
"Seperti nya kamu puas sekali mas melihat aku dipecat, ini kan yang kamu mau melihat aku menderita. Kalau itu yang kamu inginkan selamat anda menang Bapak Kenan Diyaksa!"
Setelah mengatakan hal itu Kanza memilih untuk diam, tidak ada pembicaraan apa pun lagi diantara mereka. Baik Kanza maupun Kenan tidak ada yang memulai membuka obrolan kembali.
Sampai pada titik di mana Kenan tanpa sengaja melihat telapak tangan Kanza yang terlihat memerah. Kanza memang sengaja membalikkan telapak tangan nya buka untuk mencari perhatian Kenan akan tetapi karena dia merasakan panas dan perih di telapak tangan nya itu setelah tadi mencuci pakaian Arabella. Seperti nya dia alergi dengan deterjen yang dia gunakan tadi.
"Kenapa telapak tangan Kanza sampai memerah seperti itu, apa itu gara - gara dia membereskan pekerjaan rumah tadi", batin Kenan.
Dalam hati Kenan ada rasa tidak tega saat melihat Kanza tadi kerepotan membersihkan seluruh rumah Baskoro, karena itu lah dia rela menunggu Kanza di jalan dekat rumah Baskoro setelah mengantar Arabella ke airport. Pria itu juga sampai menunda meeting nya demi untuk menunggu Kanza keluar dari rumah Baskoro.
Sesampainya di rumah, baik Kanza dan Kenan masih tidak ada percakapan apa pun. Kedua nya langsung masuk ke dalam kamar nya masing - masing.
"Alhamdulillah selesai juga, semoga dari lima perusahaan yang akan aku lamar ini ada satu yang mau menerima aku kerja di kantor nya", doa Kanza setelah menyelesaikan berkas pendaftaran nya.
Merasa perutnya sudah berdemo untuk di isi, Kanza akhir nya memutuskan untuk makan malam. Makanan yang Bi Sum bawakan tadi dengan telaten dia panas kan, setelah itu dia hidangkan di meja makan.
"Bi Sum emang the best banget pokok nya, tahu aja kalau aku lagi pengen makan telor balado ma capcay", ucap Kanza yang merasa bahagia sekali karena bisa menikmati salah satu makanan yang dia sukai. Tapi baru saja dia mau menyiapkan makanan itu ke dalam mulut nya tiba - tiba ...
"Tolong ambilkan piring untuk ku ".
Kanza sontak mendongakkan wajah nya, bahkan potongan telur balado yang hampir saja mendarat di lidah nya pun sampai terjatuh ke piring nya kembali karena terlalu kaget nya.
"Aku rasa pendengaran mu masih normal kan Kanza Qiara Mecca, jadi aku tidak akan mengulang apa yang sudah aku ucapkan tadi".
"Ah iya mas, Kanza siapkan piring nya".