NovelToon NovelToon
Ruang Teduh Untuk Arkan

Ruang Teduh Untuk Arkan

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:286k
Nilai: 5
Nama Author: sakabiya

Dalam setiap perceraian, korban paling nyata adalah anak. memiliki orang tua yang tidak pernah harmonis adalah pukulan telak untuk seorang anak yang sudah mulai mengerti arti sebuah keluarga, itulah yang dialami Arkana.

Diusia remaja yang butuh perhatian penuh dan bimbingan untuk menentukan jati diri, Arkan malah mengalami keterpurukan atas perceraian kedua orangtuanya. dia tidak menemukan kehangatan dan dia selalu mencari perhatian dengan cara brutalnya.

Mungkinkah akan ada ruang teduh untuknya merasakan kehangatan ??
Bisakah dia melewati masa transisinya dengan baik ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sakabiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malaikat Tak Bersayap

Arkan malah mengajak Nina menepi di sebuah tempat, Arkan membawa Nina ke sebuah court basket di pusat kota. Tempat itu sepi, hanya ada mereka berdua. Mereka duduk di bench di pinggir lapangan.

Nina hanya menunduk lugu, dia malu dengan tatapan Arkan yang seolah-olah menghakiminya. Arkan mungkin merasa kesal karena Nina menyembunyikan kesusahannya. Sepertinya Arkan memang sudah sangat peduli pada Nina, dia tidak mau Nina merasa kesulitan lagi.

"Seharusnya lo hubungi gue!" kata Arkan tegas.

"Ini masalah keluarga gue kok, lo gak usah cemas," sahut Nina yang masih berusaha menghindari pandangan Arkan.

"Oke, gue gak peduli sama mereka tapi gue peduli sama lo!" tegaskan Arkan lagi, kata terakhir yang Arkan ucapkan membuat hati Nina bergetar.

"Mulai sekarang kalau lo butuh sesuatu, bilang aja ke gue!" kata Arkan lalu dia pergi memainkan bola basketnya, dia berlatih sendiri men-drible bola mengitari lapangan. Nina hanya melirik kearahnya sesekali. Nina cukup shock dengan perubahan drastis yang Arkan tunjukan.

"Ar!" panggil Nina, Arkan berhenti sejenak.

"Gue harus pulang!" tambahnya berseru.

Arkan kembali berjalan menghampiri Nina di pinggir lapangan. Dia ambil beberapa lembar uang dari tasnya lalu menyodorkannya ke arah Nina yang tak bisa berkata-kata lagi.

"Nanti gue tambahin!" kata Arkan, Nina malah menangis terharu. Dia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya, dia merasa malu terhadap Arkan. Beberapa hari terakhir dia sudah sangat banyak membantunya.

"Kenapa?" tanya Arkan heran.

"Kenapa gue selalu jadi benalu? Kenapa gue selalu menyusahkan orang lain! Hiks..." jawab Nina di antara isak tangisnya yang semakin pecah.

"Udah, ambil ini!" kata Arkan lalu semakin mendekatkan uang itu kearah Nina, dia sebenarnya terharu juga melihat tangisan Nina tapi dia tak mau ikut larut dalam suasana yang berubah mengharu biru itu.

"Udah berapa banyak uang jajan lo yang gue pake, bagaimana bisa gue membalasnya nanti, hiks..." ujarnya dan belum berhenti menangis seperti anak kecil, Arkan tersenyum.

"Apa yang sudah dan akan gue lakukan nanti, gak akan sebanding dengan motivasi yang sudah lo kasih ke gue! Lo sudah mengajarkan gue banyak hal!" kata Arkan, Nara membuka tangannya lalu mencoba menyeka air matanya.

"Apa yang ayah lo berikan, itu sudah lebih dari cukup!" kata Nina.

"Gak akan pernah cukup! Ayah seharusnya berlutut di kaki lo, karena lo sudah menyelamatkan anaknya dari jurang kehancuran!"

Nina kembali menyeka air matanya, dia tidak ingin terlihat cengeng lagi. Dan Ibu pasti sudah menunggunya di rumah, Nina tak ingin berlarut-larut lagi. Dia bangkit dari duduknya.

Arkan menyelipkan uang itu langsung ke tangan Nina.

"Gue senang kalau uang itu bisa membantu lo!" kata Arkan lalu dia masukan lagi bolanya ke tasnya dan dia bersiap untuk pergi.

"Makasih banyak ya! Kalau gue sudah sukses nanti, gue akan balas semuanya!" kata Nina bertekad. Arkan menyahutnya dengan anggukan.

***

Semalaman Nina tak bisa tidur, dia terus memikirkan Arkan yang sudah banyak membantunya akhir-akhir ini. Nina ingat betul bagaimana hari pertama dia menenemani Arkan belajar, Arkan benar-benar seperti monster buas yang menakutkan tapi setelah dia keluar dari panti rehab, Arkan berubah jadi malaikat tak bersayap.

Nina cuma senyum-senyum sendiri mengingat itu semua, sepertinya dia merasa tersanjung dengan sikap manis Arkan.

Pagi menjelang.

Ibu bisa bernafas lega lagi karena Nina sudah menyelamatkannya semalam. Dia bisa kembali memasak sarapan untuk anak-anaknya, kini Ibu tidak membedakan porsi makan Tiara dan Nina, Ibu mungkin mulai sadar kalau selama ini Nina sudah sangat membantunya.

Kriiiiing ... kriiiiiing ....

Ponsel Nina berbunyi lantang, Ibu mengerutkan dahinya, yang dia tahu kemarin Nina sudah menjualnya. Ibu memang belum tahu kalau Nina mendapatkan uang dari Arkan semalam.

"Bukannya kemarin kamu sudah jual ponsel itu?" tanya ibu heran.

"Sebentar ya Bu..." bisik Nina, dia segera angkat telphonnya sepertinya itu telphone masuk dari Arkan.

"Halo?" sapa Nina.

"Hari ini ada ulangan ya?" tanya Arkan di sebrang sana.

"Iya, ada ulangan matematika!"

"Oh, oke! 15 menit lagi gue sampai disana ya!"

"Iya..."

Nina tutup sambungan telphonenya, lalu kembali melanjutkan sarapannya. Tiara maupun Ibu menatap aneh ke arahnya.

"Hey Nina, bukannya kemarin kamu jual ponselmu itu?" tanya Ibu mengulang, Nina agak kebingungan harus jawab apa.

"M ... sebenarnya, kemarin aku gak sengaja ketemu Arkan di jalan," cerita Nina, Ibu masih menyimak sedang Tiara? Dia semakin iri dengan apa yang Nina dapatkan selama ini.

"Lalu?" desak Ibu.

"Sebenarnya dia yang pinjamkan uang yang semalam aku belanjakan!" jawabnya.

"Oh, baik juga anak itu ya," tukas Ibu.

Tiara memicingkan matanya kearah Nina.

"Aneh!" lontar Tiara kearah Nina.

"Aneh kenapa?" tanya Nina.

"Gimana bisa Arkan ataupun Vero tertarik sama lo! Secara kasat mata aja gue ini jauh lebih menarik dari lo! Lihat barang-barang yang gue pake? Semuanya mahal! Sedangkan lo? Seragam, tas dan sepatu lo cuma bekas pakai gue! Heran deh!" gerutu Tiara panjang lebar, dia benar-benar merasa jealous pada Nina.

"Oh jelas sayang, kamu jauh lebih menarik dari Nina, sudah, kamu makan lagi ya!" bujuk Ibu, dia cemas pada Tiara yang sudah jarang sekali menghabiskan makanannya akhir-akhir ini.

"Kenapa aku gak bisa semanis dia bu? Apa dulu Ibunya si Nina itu cantik?" tanya Tiara masih ketus, Ibu hanya tersenyum menanggapinya, Nina juga.

"Kamu itu manis, cantik dan menarik!"

"Bohong! Buktinya gak ada satupun cowok yang mau ngajak aku berangkat bareng! Aaaah, kesal! Andai di dunia ini gak ada elo!" Tiara meninggalkan meja makan menuju kamarnya, Ibu segera menyusulnya.

Nina hanya senyum-senyum sendiri menanggapi kecemburuan Tiara. Nina merasa ada diatas angin saat ini. Akhirnya dia bisa sedikit mengalahkan Tiara yang selama ini selalu merendahkannya.

1
erviani
telat bgd ya cek cctv nya
erviani
baru mampir . .
Nurul Azzandy
Hai Ka biya
ko tokohnya sm kaya d platform sebelah y arkana n lalina 😂
Srie Hastuti
bagus... sangat mendidik u/anak muda yg mncari jati diri
Srie Hastuti
lanjuttt Thor... sampe dewasa
Srie Hastuti
lanjut Thor... sampe mereka nikah😁
Aan Nurhasanah
lanjut donk cerita nya sampai nina &arka dewasa👍👍👍
Aan Nurhasanah
kagum sama nini saking semangat nya bujuk arka belajar& sekolah lanjut kak👍👍👍
Tri Haryani
salut banget sama tokoh Lanina, banyak pelajaran hidup bisa diambil oleh Arkan dari Lanina
Choiriyah ArBy
sampai menikah punya anak
Sri Rahayuu
bagus, menginspirasi
Lia Yulia
q mampir kak🤗
🥰Dewimitohamasreka🥰
nagis aku thor😭😭😭😭
🥰Dewimitohamasreka🥰
bab pertama meyentuh, mari lanjutkan
Leni Fatmawati Fatmawati
aku yg nangis Thor,Nina baik bngt sih km
Leni Fatmawati Fatmawati
hadeuuhh udah kaya sinetron,aku kesel author
Leni Fatmawati Fatmawati
ga kerasa mata ku berair Thor,sakit aku thor
sry rahayu
ah.... so sweet
sry rahayu
ya Allah ... terharu banget....
sry rahayu
senangnya.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!