Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : LANGKAH KELIRU SANG PENGAWAL
Sejak insiden di koridor lantai dua, Julian mulai menunjukkan ketertarikannya.
Setiap kali ada kesempatan, Julian akan memastikan dirinya berada di dekat Elara. Di ruang makan, di ruang tengah, hingga di koridor-koridor panjang kediaman Ouroboros, sepasang mata Julian yang tajam di balik kacamata selalu bergerak mengikuti ke mana pun Elara berada.
Ia mulai memperhatikan detail-detail kecil yang diabaikan orang lain, bagaimana Elara menyesap tehnya tepat tiga kali sebelum meletakkan cangkir, bagaimana jemarinya mengetuk meja saat berpikir, hingga bagaimana ekspresi wanita itu ketika ia tidak menyukai sebuah laporan.
Dan semua perhatian yang intens itu tidak luput dari pengawasan satu orang.
Dante.
Bagi Dante, keberadaan Julian di sekitar Elara kini sudah seperti jelaga yang mengotori kain putih. Setiap kali Julian melayangkan tatapan penuh arti atau sengaja melangkah terlalu dekat dengan Elara, rahang Dante akan mengeras. Rasa muak berkumpul di dadanya, terasa lebih panas daripada amarah biasa.
Sore itu, di perpustakaan kediaman yang sunyi, Elara sedang duduk di balik meja kayu besar, memeriksa laporan logistik wilayah barat yang baru. Dante berdiri di sudut ruangan, tangannya bertumpu di atas sabuk kulit tempat senjatanya berada.
Pintu perpustakaan terbuka. Julian melangkah masuk dengan santai, membawa sebuah map kulit tipis.
"Nona Elara," sapa Julian, suaranya sengaja direndahkan. "Saya membawakan beberapa revisi untuk enkripsi jalur maritim. Tapi tampaknya, Anda terlihat sedikit lelah sore ini."
Julian melangkah mendekat. Ia meletakkan map itu di atas meja, lalu alih-alih mundur, ia justru menumpu kedua tangannya di tepi meja, menunduk sedikit untuk menatap langsung mata Elara.
"Warna teh Anda sudah terlalu pekat, dan Anda belum menyentuh biskuit herbal Anda sejak satu jam lalu," bisik Julian dengan senyum tipis yang terkesan sangat perhatian. "Sebagai konsultan, saya menyarankan Anda untuk beristirahat."
Dari sudut ruangan, Dante melangkah. Tubuhnya yang besar dan tegap langsung mengambil posisi di antara Julian dan meja Elara.
"Waktu Anda sudah habis, Tuan Julian," suara Dante terdengar rendah. Matanya menatap Julian dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan. "Nona Elara tidak membutuhkan penilaian personal dari seorang pekerja lepas."
Julian perlahan menegakkan tubuhnya, melipat tangan di dada sembari menatap Dante dengan tatapan mengejek. Ia sangat menikmati bagaimana ia berhasil memancing emosi Dante.
"Saya hanya mengkhawatirkan kesehatan atasan saya, Dante. Apakah itu juga dilarang?" tanya Julian, nada suaranya terdengar sangat tenang namun memprovokasi. "Atau... kau hanya merasa terancam karena ada orang lain yang bisa membaca kebutuhan Nonamu lebih baik darimu?"
Tangan Dante bergerak cepat, mencengkeram kerah kemeja Julian dengan satu tangan, mengangkat tubuh pria itu hingga ujung sepatunya nyaris terangkat dari lantai.
"Sekali lagi kau melempar pandangan menjijikkanmu padanya," desis Dante tepat di depan wajah Julian, "aku sendiri yang akan memastikan lidah dan matamu membusuk di tempat sampah."
Julian tidak terlihat takut. Jantungnya berdegup kencang karena adrenalin, namun senyum miringnya justru semakin melebar. Ia tahu ia menang di babak psikologis ini. Dante telah kehilangan kendali dirinya.
"Dante. Lepaskan."
Satu instruksi datar dari balik meja langsung memecah ketegangan itu.
Dante menoleh sekilas ke arah Elara, melihat mata wanita itu yang menatapnya dengan peringatan yang tajam.
Dengan perlahan, Dante membuka cengkeramannya, mengempaskan Julian mundur. Dante kembali melangkah mundur, berdiri di belakang kursi Elara, meskipun napasnya masih memburu menahan amarah yang bergejolak.
Julian merapikan kerahnya yang kusut dengan santai, lalu membungkuk hormat kepada Elara. "Terima kasih, Nona Elara. Dokumennya saya tinggalkan di sini. Selamat sore."
Julian berbalik dan melangkah keluar dari perpustakaan dengan senyum kemenangan yang tertoreh jelas di wajahnya. Ia telah menemukan celah itu. Dante yang selalu tenang, ternyata bisa menjadi sangat rapuh dan impulsif hanya dengan sedikit provokasi yang melibatkan Elara.
Begitu pintu tertutup rapat, keheningan kembali menguasai perpustakaan.
Elara memutar kursinya, menghadap langsung ke arah Dante yang masih berdiri kaku dengan kepalan tangan.
"Kau membiarkan dirimu dikendalikan oleh emosi, Dante," ucap Elara, suaranya dingin namun ada nada kekecewaan yang tersamar di sana. "Itu adalah reaksi paling bodoh yang pernah kau perlihatkan di hadapanku."
"Maafkan aku, Elara..." suara Dante parau, dipenuhi rasa frustrasi. "Pria itu... tatapannya pada Anda. Cara dia memandang Anda... saya tidak bisa membiarkan bajingan seperti dia berpikir bahwa dia memiliki hak untuk memperhatikan Anda sedalam itu. Saya muak melihatnya berada di dekat Anda."
Elara menatap kepala Dante yang tertunduk.
"Julian hanyalah bidak yang sedang mencoba bermain catur di rumah kita, Dante," bisik Elara. "Dia memperhatikan setiap gerak-gerikku karena dia pikir itu adalah kelemahanku. Dan kau baru saja memberitahunya dengan jelas di mana letak kelemahanmu yang sesungguhnya."
Dante menatap mata Elara, "Maafkan aku. Elara."
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..