Sebuah kisah tentang senja, ketulusan, dan penghianatan. Kebohongan mampu tercipta di depan siapa saja, tapi hati adalah cermin kejujuran. Membohongi hati adalah usaha terkonyol yang membutuhkan ekstra tenaga dan perjuangan.
Viola, seorang gadis yang kehilangan ingatannya dan diselamatkan oleh seorang bernama Sean. Ketika seberkas ingatan mampu ia ingat, isinya adalah sebuah kenangan paling menyakitkan dalam hidupnya. Ia telah dikhianati oleh tunangan dan sahabatnya sendiri. Sebuah rasa sakit dan kecewa yang dalam, menyelinap dalam hati Viola, membuatnya ingin berjuang untuk menjadi sosok yang kuat. Sebuah hati yang terluka, yang berharap suatu saat menemukan ketulusan dan cinta.
"Sepotong hati diujung senja adalah hatiku yang menyimpan segala rasa. Rasa yang tak mampu kuungkap terkurung dalam bisu jiwa. Hanya isyarat yang terlaku oleh tubuh yang rapuh. Berharap kasihmu berlabuh memberi segenap kedamaian yang teduh."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namaku ...
Wanita bisa memperdaya laki-laki karena kecantikannya, tetapi laki-laki bisa membuat wanita bertekuk lutut dengan harta dan tahta. Begitu semboyan yang selalu dipegang Simons. Bagi Simons, selama ada uang di tangannya, maka mengejar wanita bukan hal yang sulit baginya.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" Selidik Leon.
"Rencana? Kak Zi sudah mengatur alurnya, aku tinggal mengikutinya saja. Aku tak punya rencana tersendiri." Simons meneguk minumannya setelah memandang Leon.
"Kak Zi dan Sean belum kembali, bukan?" Ken menggangkat satu alisnya. Heran.
"Mereka tidak akan kembali sebelum rubah kecil itu datang ke rumah besar dan berhadapan dengan Viola. Sepertinya itu sudah direncanakan Kak Zi dan Sean. Setelah itu, dengan sedikit pancingan rubah itu pasti akan datang padaku." Simons sangat yakin dengan ucapannya.
"Jika prediksimu benar, maka sebaiknya kau memberi sedikit kelonggaran untuk Viola besok." Jordan melirik Lucas yang dari tadi diam.
Tak ada reaksi dan jawaban dari Lucas. Ia masih menikmati minumanya, seakan tak mau terlibat dengan perbincangan teman-temannya.
"Yang mulia, apa Anda bisa sedikit simpatik pada kami dan mendengar kami? Atau mungkin nanti jika kau terkena masalah kami juga cukup jadi penonton yang menyorakimu?" Leon menggoda Lucas.
Lucas mengeluarkan tatapan dinginnya pada Leon.
"Sepertinya ada yang ingin memotong lehermu dengan tatapan dinginnya, kawan ... hahaha ...." Jordan meledek Lucas dan Leon. Lucas membuang muka.
"Haish .... Ayolah kawan, kenapa kalian berdua membangunkan harimau yang sedang tidur? Jika dia mengamuk nanti bisa melukai pria lemah dan penyayang sepertiku. Bagaimana kalian akan bertanggung jawab nanti?" Ken ikut nimbrung, ikut menggoda Lucas.
"Cih, kalian seperti beo yang berisik." Lucas akhirnya terpancing.
"Aku kira kau sudah kehilangan suara, ternyata pita suaramu masih berfungsi dengan baik, ya?" Simons mengedipkan satu matanya pada Lucas.
"Kau menjijikan! Nada Lucas mulai meninggi. "Suruh Lilian menjemput dia ke kantor ketika jam makan siang! Ada baiknya Lilian berada di rumah itu untuk bejaga-jaga." Lucas bangkit, berjalan meninggalkan teman-temannya.
"Tumben sarannya bagus," celetuk Ken.
"Baiklah, akan kuberi tahu Lilian nanti. Aku jalan duluan. Malam ini aku yang bayar." Leon beranjak menuju kasir kemudian meninggalkan cafe.
"Mereka berdua selalu seenaknya." Ken menghabiskan minumannya.
"Sudahlah, lebih baik kita pergi bersenang-senang setelah ini." Usul Jordan.
"Ide yang bagus. Tapi hubungi dulu anak buahmu dan suruh kirim sedikit "berlian" ke tempatku. Aku butuh umpan
kecil untuk rubah kecil itu." Simons tersenyum licik.
"Tidak masalah," jawab Jordan.
* * *
Akhir pekan tanpa Kak Sean dan Kak Zi ternyata membuatku jenuh dan kesepian. Hari ini lumayan bisa melepas jenuh, bisa pergi ke kantor, setidaknya bisa bertemu dengan Rebeca dan Calvin, meski juga harus menghadapi Kak Lucas yang dingin.
"Rebeca, ini berkas untuk pertemuan usai makan siang nanti. Lihatlah, apa aku sudah mengerjakan dengan benar?"
Rebeca melihat berkas yang aku berikan. "Iya, sudah benar seperti ini. Sepertinya kau sangat cepat belajar dan beradaptasi. Ini bagus untukmu."
"Semua karena bantuanmu. Aku harus banyak berterima kasih padamu." Aku tersenyum.
"Kau tidak perlu sungkan padaku. Kita kan teman." Rebeca terlihat tulus. Kami tersenyum bersama.
"Viola ... kejutan ...." Lilian tiba-tiba hadir. Mengejutkanku dan Rebeca.
"Lilian, kau di sini?"
"Selamat siang, Nona Lilian."
"Selamat siang, Rebeca."
"Kau ingin ketemu Kak Lucas?" tanyaku.
"Tidak," jawab Lilian singkat.
"Lalu, untuk apa kau ke sini?"
"Tentu saja untuk mencarimu. Hari ini kita akan bersenang-senang." Senyum Lilian penuh misteri.
"Bersenang-senang? Tapi aku masih ada pekerjaan. Tuan Lucas tidak akan mengijinkanku."
"Pergilah bersama Lilian. Hari ini kau boleh pulang cepat. Rebeca, kau ikut denganku, bawa sekalian berkas untuk pertemuan nanti." Lucas berjalan diikuti Calvin.
"Baik, Tuan Lucas." Rebeca bergegas menyusul langkah Lucas dan Calvin.
"Terima kasih, Kak Lucas." Lilian kegirangan.
Aku masih terbengong. Belum mengerti dengan apa yang terjadi. Kak Lucas mengijinkanku pulang cepat? Ada apa sebenarnya?
"Vio, ayo kita pergi?" Lilian menarik tanganku.
"Sebentar, sebenarnya ada apa ini? Kita mau ke mana?"
"Kita pulang, sepertinya akan ada tamu spesial. Kau harus menyambutnya."
"Tamu? Siapa?"
"Kau terlalu banyak tanya, Vio ... aku jelaskan nanti di jalan. Akan ada pertunjukan menarik, ayo cepat ...." Lilian kembali menarik tanganku, berjalan menuju lift.
"Iya... iya... Pelan sedikit jalannya."
* * *
Sean, kau benar-benar keterlaluan. Kemarin tidak menjemputku di bandara. Dua hari ini juga mengabaikanku. Semua panggilan dan pesanku tak kau balas! Monic semakin uring-uringan.
Ting tong... Bel apartemen Monic berbunyi.
"Siapa?" Monic mengintip dari lubang pintu.
"Ada paket untuk Anda, Nona."
Monic membuka pintu. "Dari siapa?"
"Ini ada kartunya, Nona. Silahkan tanda tangan juga di sini."
Dari Sean. Monic terlihat senang. Ia langsung menandatangani tanda terima paket.
"Terima kasih, Nona. Saya permisi."
Monic menggangguk. Membawa peket masuk dan menutup pintu. Dengan tidak sabar dia membuka paket yang dikirim Sean. Monic terpesona melihat lukisannya.
Ah, aku memang cantik. Monic mengomentari lukisan dirinya yang dibuat Sean.
"Jadi rupanya dia menghindariku karena ingin memberiku kejutan ini? Baiklah, sayang ... akan kuberi kejutan manis juga untukmu. Kau pasti sedang di rumah sekarang, jika kau tidak mau ke sini, tentu aku yang akan ke sana." Monic bicara pada lukisannya dan tersenyum penuh arti.
* * *
"Apa kau yakin wanita itu akan datang sore ini?" Aku bertanya pada Lilian, tidak yakin dengan apa yang dia katakan.
"Semua ini sudah direncanakan Kak Zi. Kak Sean dan Kak Simons juga sudah memasang umpan. Prediksi mereka tidak akan meleset. Monic pasti akan datang."
"Sejujurnya aku agak ragu, tapi karena ini bagian dari rencana Kak Zi, aku akan melakukan sebaik mungkin."
"Kau tidak perlu ragu, jika wanita itu macam-macam maka memukulnya juga tidak masalah. Hehehe..."
"Banarkah? Memangnya apa yang dilakukan Monic sampai Kak Zi dan Kak Sean merencakan semua ini? Apa Kak Sean tidak bisa mengajakya berpisah baik-baik?"
"Kau jangan khawatir, Monic itu wanita licik, dia perlu diberi pelajaran agar tahu diri."
Lilian melihat dari jendela, sebuah mobil baru saja memasuki gerbang rumah Zianeta.
"Rubah itu datang, bersiaplah! Aku akan mengawasi dari sini. Kau tidak perlu ragu padanya." Lilian kembali mengingatkanku.
Aku berjalan menuruni tangga menuju ruang depan. Monic sudah beradu mulut dengan Bibi Sun. Dia memaksa masuk, sementara Bibi Sun melarangnya.
"Kenapa ribut sekali, Bibi? Ada apa ini?"
"Maaf, Nona. Nona Monic memaksa masuk. Dia mencari Tuan Muda. Saya sudah katakan bahwa Tuan Muda tidak di rumah."
"Bibi Sun, boleh pergi. Biar aku yang bicara padanya."
"Baik, Nona." Bibi Sun undur diri.
"Siapa Anda, Nona? Untuk apa mencari Kak Sean?"
"Kau tidak tahu siapa aku? Aku Monic, tunangan Sean! Minggir kau, aku ingin bertemu tunanganku?"
"Maaf, Nona Monic. Anda tidak bisa masuk. Kak Sean tidak ada di rumah."
"Berani sekali kau melarangku! Memangnya siapa dirimu?" Monic membentakku.
"Siapa saya? Anda bisa mengaku sebagai tunangan Kak Sean, lalu jika saya bilang bahwa saya adiknya pasti Anda juga tidak akan percaya. Kalau begitu, bagaimana jika saya berkata bahwa saya adalah istri Kak Sean, apa Anda akan percaya?" Aku tersenyum licik.
"Lancang sekali mulutmu! Di mana Sean? Aku ingin bertemu dengannya!" Kemarahan Monic terpancing.
"Apakah tadi Anda tidak dengar? Kak Sean tidak ada, Nona!" Aku menyeringai.
"Siapa kau sebenarnya, dasar wanita jal*ng!' Monic mulai menyerangku. Ia mendorong tubuhku, memaksa masuk.
Aku manahannya, balik mendongnya dan menghadiahi sebuah tamparan untuknya.
"Kau! Beraninya kau menamparku!" Monic berteriak dan mengamuk, hendak membalasku.
Aku memegang tangan Monic erat. "Nona, dengarkan baik-baik. Namaku Viola. Aku sarankan Anda segera pergi dari sini dan akan lebih baik jika Anda tidak mencari Kak Sean lagi. Atau Anda akan lebih kecewa dan terluka!" Aku melepas tangan Monic.
"Kurang ajar kau! Sean pasti akan menendangmu keluar dari sini setelah aku bertemu dengannya!" Monic geram, menahan amarah.
"Silahkan saja, Nona. Tapi aku pastikan Kak Sean akan lebih percaya pada apa yang aku katakan. Kau yang akan segera ditendang dari kehidupan Kak Sean. Kau bahkan sudah tidak bisa masuk ke rumah ini, sementara aku diperlakukan seperti tuan putri di sini. Apa kau belum sadar kedudukanmu?" Aku tersenyum penuh kemanangan.
"Dasar ular, tunggu saja pembalasanku!" Monic pergi penuh kekesalan.
Aku tersenyum memandang kepergian Monic. Misi selesai. Batinku.
Lilian yang dari tadi mengamati dan mengambil beberapa foto dari kejahuan tertawa girang. Dia mengirim hasil "pengintaiannya" ke grup chat, memberi laporan pada Zianeta dan yang lain. Sebuah kalimat dia bubuhkan usai foto-foto yang dikirimkan. Kucing kecil telah berevolusi menjadi singa betina yang kejam dan mengalahkan rubah secara telak. Lilian jiga memberi emoji senyum penuh kemenangan.
Oh iya, ada koreksi nih thor ...
Klo minum barengan aka toast, ngomongnya "cheers" yah ....
Good Luck for your next work!!!!
Ganbatte Kudasai (頑張ってください)
Jiā Yóu 加油
Hwaiting 화이팅
Keep up the good work!!!
sehat sll thoorrr...
misssssssss....sooo muuuuccchhhhh