NovelToon NovelToon
Bos Marco

Bos Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:210.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Belinda Marchely

Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.

Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.

Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.

Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Pemberitahuan

Anetta’s POV

Ternyata yang dimaksud Marco dengan ‘sama-sama ke kantor’ itu adalah benar-benar berangkat dan masuk ke dalam kantor bersama-sama, berdua.

Tadi, aku memintanya memberhentikan mobil di depan minimarket merah dan kuning seperti hari-hari biasanya, tapi Marco bilang mulai sekarang aku tidak perlu turun di sana lagi. Aku terus bertanya kenapa, tapi dia tetap juga diam. Akhirnya aku menurut saja.

Ketika mobil sudah terparkir dengan sempurna di area parkir Mills, aku melirik Marco yang sedang mematikan semua perangkat di mobil.

“Ini benar enggak apa-apa, aku masuk sama kamu?”

“Kenapa? Kamu malu?”

“Harusnya aku yang tanya, kamu enggak malu?”

“Ini kita sedang membahas apa, sih, Sayang? Aku tidak malu sama sekali kalau harus jalan dengan kamu.”

“Iya, tapi ….”

“Kamu tidak enak dengan karyawan lainnya, begitu, kan?”

Aku tidak menjawab, tapi hatiku jelas membenarkan ucapan Marco itu.

“Setelah aku pikir-pikir, kekhawatiran kamu itu terlalu berlebihan,” katanya, “Percaya padaku, Sayang. Kita hanya perlu melakukan pekerjaan seperti biasanya. Itu saja.”

Dia memberikan usapan halus di pipiku. Rasa hangat dari kulitnya menjalar di sekujur kulit wajahku. Memberikan ketenangan dan keyakinan.

Akhirnya, setelah kemudian Marco keluar dari mobil dan melangkah memasuki gedung Mills, aku menyusulnya dari belakang. Beberapa pasang mata memang memerhatikan kedatangan kami yang tumben sekali bersamaan. Namun, selebihnya tampak tidak peduli.

Begitu sampai di meja kerjaku, Frans bersiul-siul seperti ingin menggodaku. Sambil berputar-putar di atas kursi kerjanya, dia memainkan pena di tangan.

Lalu, Lana mendekat. “Jadi hari ini kamu berangkat sama Bos Marco, Netta?” tanyanya.

Aku masih sibuk menghidupkan perangkat listrik di mejaku, sebelum menjawab, “Iya.”

“Jadi udah go public, nih?” tanyanya lagi.

Belum sempat aku menjawab pertanyaan Lana yang terakhir itu, terdengar suara Digo menyahut dari mejanya.

“Hebat, ya, anak baru udah bisa gaet bos!”

Kata-kata lelaki itu membuatku mengernyit. Aku tidak menyangka seorang Digo akan berkomentar seperti itu.

“Kamu mau gaet Bos Marco? Kenapa enggak dari dulu aja?” Lana menggeram.

“Apa maksud lo, ngomong kayak gitu?” Digo tersulut emosi mendengar pertanyaan Lana.

“Mulut kamu, tuh, kayak emak-emak yang suka gibah, tau enggak? Kamu cemburu lihat Netta dekat sama Bos Marco?”

“Ngapain gue cemburu? Gue cuma heran aja, seorang anak baru bisa dekat sama bos, tuh, ada maksud apa, ya?”

“Maksud seperti apa yang kamu pikirkan, Digo?”

Suara itu, suara Marco, mengagetkan kami semua yang berada di ruangan Creative. Entah sejak kapan dia berada di dekat kami. Aku bahkan tidak mendengar suara pintu ruangannya terbuka tadi.

Aku meliriknya yang sedang bersedekap. Dia menatap lurus pada Digo, arsitek senior yang dulu pernah beradu argumen dengannya saat membahas masalah tender Graha Cipta.

Digo bergeming, tak bersuara, tetapi air mukanya tegang dengan tatapan mata lurus ke permukaan meja kerjanya sendiri.

“Apa yang kamu pikirkan tentang Anetta, Digo? Ada apa dengan status anak baru?” tanyanya sekali lagi. Kali ini lebih tajam.

“Bbu, bukan apa-apa, Pak.” Hanya kalimat cemen itu yang keluar dari bibir Digo.

Aku sendiri menggelengkan kepala melihat sikapnya yang seperti itu. Selalu besar mulut di awal, tapi ciut ketika sudah ditegur. Apanya yang senior, huh?

“Kalian semua, dengar baik-baik!” Marco mengubah sikap tangannya, dari bersedekap menjadi lebih santai. Dia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya, kemudian bersandar sedikit pada meja kerja Frans.

“Saya tidak pernah membeda-bedakan status karyawan di sini. Tidak ada yang namanya ‘anak baru’ atau ‘anak lama’. Istilah apa itu? Jangan pula kalian sombong dengan status senior kalian. Di sini tidak mengenal adanya senioritas. Silahkan kalian bekerja dengan penuh semangat dan tanggung jawab, maka kalian akan mendapatkan penghargaan yang setimpal.”

Kata-kata itu terdengar sangat tegas dan tajam mengena.

“Maafkan, saya, Pak,” lirih Digo akhirnya.

“Kamu tidak perlu meminta maaf pada saya.” Marco mengedikkan dagu ke arahku.

“Netta, maaf," ucap Digo, lirih.

Aku hanya menganggukkan kepala lambat-lambat.

Marco berdeham. “Karena kalian sudah mengetahuinya, saya dan Anetta memang memiliki hubungan spesial.” Aku bisa melihat pasang demi pasang mata melirikku dan Marco secara bergantian. “Namun, saya bisa pastikan kami akan bersikap profesional untuk urusan pekerjaan,” jelasnya.

“Pak, ada telepon dari Tuan Danias Tjiptaditama.” Olla, asisten Marco setengah berteriak dari mejanya dan memberikan informasi bahwa pemilik Graha Cipta mencari bos departemen Creative itu.

“Hold on, Olla (1)!” Marco berdiri tegak. “Saya rasa sudah cukup informasinya.” Kemudian lelaki itu berlalu meninggalkan ketegangan yang masih tersisa di ruangan Creative.

Aku mengiring tangan Lana untuk duduk. Aku sudah berusaha melupakan perkataan Digo tadi, tapi pikiranku justru melayang pada kata-kata Marco. Entahlah, aku belum bisa mencerna bagaimana perasaanku saat ini.

Kulihat Digo beranjak dari kursinya, membawa tas laptop serta sebuah map plastik. Mungkin lelaki itu akan pergi meeting.

Aku tersentak saat Lana tiba-tiba saja Lana menyentuh pundakku dengan lembut.

“Netta, enggak usah dipikirin, lagi. Si Digo itu cuma iri sama kamu. Dia dari dulu dapat proyek kecil terus, sementara kamu yang baru bisa ngerjain proyek besar macam Graha Cipta, bareng Bos Marco pula.”

Aku bertopang dagu sambil memutar-mutar pena di atas meja.

“Aku salah enggak, sih, Lan?”

“Soal?” tanya Lana yang kini sedang mengaduk-aduk segelas susu.

“Apa aku salah jatuh cinta sama Bos Marco?”

Lana meneguk habis susu yang tadi diaduknya, sebelum menjawab pertanyaanku. “Kita enggak bisa milih mau jatuh cinta ke siapa, Netta. Kamu jatuh cinta sama atasan kamu, Bos Marco. Dan, pasti bukan suatu kebetulan kalau ternyata Bos Marco juga jatuh cinta sama kamu. Lalu, di mana letak salahnya?”

“Tapi orang-orang jadi mengira aku ada maksud terselubung dengan mendekati Bos Marco ….”

“Itu hanya perasaan kamu sendiri, Netta. Cuma Digo yang mulutnya memang enggak bisa dikondisikan aja yang bilang begitu.” Lana kembali berapi-api. “Memangnya kamu merasa punya maksud terselubung ke Bos Marco?”

“Enggak!” Aku menegakkan tubuhku di kursi. Sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, aku menjawab pertanyaan Lana dengan mantap. “Aku sama sekali enggak berpikiran untuk memanfaatkan apapun dari Marco. Sejak aku masuk ke Mills juga aku berusaha mengerahkan kemampuanku untuk menyelesaikan setiap proyek yang aku pegang.”

“Terus, kenapa kamu khawatir dengan pikiran orang-orang?”

“Engh … Aku hanya merasa, kenapa aku bisa terlalu cepat jatuh cinta dengan Bos Marco ….”

“Aku kira kamu pintar, Netta. Ternyata enggak juga.” Lana menyeringai. “Memangnya kamu tahu kapan akan jatuh cinta dengan seseorang? Plis, deh, Anetta!”

Aku terkekeh. “Omong-omong, kamu minum susu? Kamu sudah …” Aku memberikan sebuah isyarat tubuh di bagian perut, sambil menatap Lana lekat-lekat.

Lana tersipu seraya mengangguk. Aku menghampirinya dan memberikan sebuah pelukan hangat. Aku turut bahagia mendengar kabar kehamilan Lana ini.

Bersamaan dengan aku yang masih memeluk erat tubuh Lana, teleponku berdering. Aku melepas pelukanku dan mengangkat panggilan tersebut.

“Anetta’s speaking. What can I do for you? (1)”

“Aku tunggu di ruanganku, Sayang.” Klik. Panggilan dimatikan.

Dasar Marco! Apanya yang profesional kalau di kantor begini dia memanggilku dengan sebutan ‘Sayang’. Untung saja di telepon, coba kalau dia keceplosan di depan karyawan lainnya. Bisa malu aku.

••••••••••

(1) Tunggu, Olla!

(2) Anetta sedang berbicara. Ada yang bisa saya bantu?

1
ein
lanjut thorrrr
ein
ahh akhirnyaaa
ein
bolehlah mereka.. hrhe
ein
asikk juga bisa temenan sama mantan hehehhhhe
ein
ngak ada percikan lagi yaa
ein
frans kamu gimana..
ein
kebetulan bangett yaa..
ein
kenapa aku ikut deg degan saat aneta pilih pilih jas yg berwarna ya 😁😁😁
ein
wahhh.. akhirnya dapat yg cocok
ein
ahh
ein
mau thorrr.

love u
ein
terima kasih author sayang

selalu ku tunggu ceritamu
ein
ahhh so sweett...
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
ein
wow kerennn thor...
ein
melelehhhhh.. terharuuu akuu
ein
suka karyamu author sayang
selalu semangat yaa
ein
halo sayang.. terharu akuu
ein
duhh penasaran saat duet nnt gimana
ein
wowww kerenn saxophone...
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍
ein
frans pilih mana.. hsyoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!