Jangan lupa membaca Menikahi Pria Tua agar alur cerita lebih mudah dipahami ya. 😘💕
Odet Alesha, gadis mungil berwajah baby face yang dijuluki Queen of Game, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah karena satu malam yang penuh kekacauan.
Alexandre Mahendra, CEO muda di balik perusahaan gaming terbesar, dikenal dingin, sempurna, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajamnya, tersimpan luka mendalam akibat cinta pertama yang memilih kakaknya sendiri.
Sebuah kesalahan di acara anniversary Mommy Keyna dan Daddy Devan membuat mereka terikat dalam pernikahan yang tak pernah diinginkan.
Di antara pertengkaran, rasa benci, dan luka masa lalu, benih-benih cinta perlahan tumbuh. Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, keduanya harus memilih...
Mempertahankan cinta yang telah diperjuangkan... atau melepaskan orang yang akhirnya menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Lima menit berlalu, Odet masih terisak menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sementara seseorang di sampingnya hanya bisa diam dan sesekali memberikan beberapa lembar tisu kepadanya.
Saat Odet sedang duduk sendiri di taman, ternyata Kenzi melihat wanita itu dari kejauhan. Tentu saja pria itu merasa penasaran lalu mendekat perlahan. Namun baru saja Kenzi menyapa, Odet malah menangis seperti anak kecil.
Padahal empat bulan lalu Odet masih terlihat begitu tegar. Walaupun Kenzi dapat melihat luka di balik matanya, namun kali ini ia benar-benar melihat betapa hancurnya wanita itu.
“ Apa kau tidak bahagia dengan pernikahanmu?” tanya Kenzi pelan.
Odet langsung menggeleng cepat.
“ Aku hanya sedang meratapi nasibku, Kenzi,” jawab Odet lirih sambil menatap sendu pria yang dulu pernah ia tolak mentah-mentah.
Kini pria itu justru melihat dirinya dalam keadaan selemah ini.
Kenzi kembali mengambil beberapa lembar tisu lalu memberikannya kepada Odet.
“ Aku pikir kau sekuat itu. Ternyata kau masih saja lemah. Padahal aku lebih menyukai dirimu yang kuat,” ucap Kenzi sambil tersenyum kecil dan mengusap lembut kepala Odet.
Namun seketika Odet menepis tangan pria itu.
“ Apa mau kutonjok?” ancam Odet.
Mendengar itu, Kenzi malah tertawa kecil.
“ Kau ternyata tidak berubah. Kau tetap Odet yang aku kenal. Manis dan cantik,” puji Kenzi tulus.
“ Kau terlalu banyak memujiku,” balas Odet yang perlahan mulai menenangkan perasaannya.
“ Aku tidak memuji. Aku hanya mengatakan fakta,” ujar Kenzi sambil menatap serius ke arah Odet.
“ Dari pertama kali kita bertemu sampai sekarang… aku tetap menempatkan cintaku padamu.”
Mendengar ucapan itu, Odet hanya tersenyum kecut lalu menarik napas panjang.
“ Sebaiknya carilah wanita lain. Aku sudah memiliki suami… dan aku mencintainya, Kenzi,” ucap Odet jujur.
“ Selama hidupku, baru kali ini aku mencintai seorang pria sedalam ini.”
Kenzi dapat melihat ketulusan itu dari mata Odet.
Seolah seluruh hidup wanita itu telah ia serahkan kepada pria yang bahkan belum tentu melihat keberadaannya.
“ Aku gagal lagi mendapatkanmu,” ucap Kenzi lirih sambil berdiri.
Sebenarnya dadanya terasa sangat sesak mendengar semua penuturan Odet.
Sampai kapan pun, dirinya hanya akan menjadi teman bagi wanita itu.
“ Katakan pada suamimu, jika dia terus menyakitimu seperti ini… maka aku akan datang menculikmu dan membawamu pergi jauh darinya,” ucap Kenzi sambil tersenyum manis.
“ Berhenti berbicara konyol, Kenzi,” balas Odet sambil tersenyum tipis.
“ Aku serius. Kalau suatu hari nanti kau tidak memiliki tempat untuk pulang… ingatlah aku, Odet. Aku akan selalu membuka pintu untukmu kapan pun kau mencariku.”
Ucapan Kenzi membuat Odet terdiam sejenak. Tatapannya bertemu dengan mata pria yang kini berdiri di hadapannya.
“ Apa kau ingin pulang? Biar kuantar,” tawar Kenzi lembut.
Namun mendengar kata pulang, semua rasa lelah yang sempat hilang dari hati Odet seketika kembali membebani dirinya.
Lelah menghadapi sikap Alex.
Lelah berpura-pura bahagia di depan semua orang.
Dan entah sampai kapan semua ini akan berakhir.
“ Terima kasih, Kenzi. Aku akan memanggil taksi saja,” ucap Odet sambil berdiri.
Wanita itu lalu pergi meninggalkan Kenzi begitu saja. Sementara Kenzi hanya bisa menatap punggung wanita yang selama ini mengambil seluruh hatinya.
“ Sebesar apa beban yang kau tanggung di keluarga Mahendra sampai tangisanmu terdengar sesakit itu?” gumam Kenzi lirih.
✨✨✨✨
Sepanjang perjalanan pulang, Odet hanya menatap keluar jendela mobil. Gedung-gedung pencakar langit terlihat begitu megah, namun tidak mampu menghilangkan kesedihan di matanya.
Odet memejamkan matanya perlahan untuk menenangkan perasaannya. Namun tanpa sadar air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
Beberapa menit kemudian, tangisnya pecah lagi. Membayangkan semua hal yang akan terjadi di masa depan membuat dadanya terasa semakin sesak.
“ Aku harus kuat. Aku yang memulai perasaan ini… maka aku juga yang harus menanggung semuanya,” lirih Odet.
Hampir satu jam perjalanan akhirnya Odet tiba di mansion utama. Saat memasuki rumah, Odet melihat Keyla dan Adytia sedang berbicara serius bersama Mommy Keyna dan Papa Devan.
“ Odet,” panggil Mommy Keyna lembut.
“ Iya, Mommy,” sahut Odet sambil berjalan mendekat lalu duduk di samping wanita itu.
“ Kamu habis dari mana saja, Sayang?” tanya Mommy Keyna sambil mengusap kepala Odet penuh kasih sayang.
“ Aku habis dari taman, Mom,” jawab Odet.
“ Kamu pergi sendiri?” tanya Keyla yang sejak tadi memperhatikan.
Odet mengangguk sambil tersenyum kecil.
“ Odet, apa kamu baik-baik saja? Matamu terlihat sembab,” tanya Mommy Keyna khawatir.
“ Enggak apa-apa, Mom. Tadi aku sempat mampir ke panti asuhan. Aku kangen Ibu Elma, jadi kami sempat menangis karena sudah lama tidak bertemu,” jelas Odet mencari alasan.
“ Oh iya, Odet! Aku ingin menunjukkan sesuatu,” ujar Keyla antusias.
Wanita itu lalu mengambil sebuah benda dari dalam tasnya dan menunjukkannya kepada Odet.
Mata Odet langsung membesar.
“ Kak Keyla hamil?!”
Odet spontan menutup mulutnya lalu langsung memeluk Keyla erat.
“ Selamat ya, Kak! Ya ampun, aku bahagia sekali. Akhirnya aku punya keponakan!” ucap Odet tulus.
Namun seketika pandangannya tertuju pada sosok pria yang berdiri di ambang pintu dengan wajah datarnya.
“ Alex…” gumam Odet pelan.
“ Alex, kau baru tiba? Sini, Papa ingin memberitahukan kabar bahagia,” ucap Papa Devan.
Langkah Alex terasa begitu berat.
Namun pria itu tetap berjalan mendekat seolah semuanya baik-baik saja.
“ Aku sudah mendengarnya. Kak Adytia… Kak Keyla, selamat atas kehamilannya,” ucap Alex sambil memeluk Adytia erat.
Di balik wajah dinginnya, rasa sayang Alex kepada kakaknya ternyata jauh lebih besar dari apa pun.
“ Apa dia akan baik-baik saja?” batin Odet khawatir.
Sepanjang obrolan berlangsung, Odet terus memperhatikan Alex diam-diam.
Ia tahu pria itu sedang terluka. Dan semuanya disembunyikan di balik wajah dinginnya.
“ Kalau begitu aku istirahat dulu, Pa… Mom,” ujar Alex lalu berdiri meninggalkan mereka.
“ Mom, kalau begitu Odet juga ke kamar,” ucap Odet cepat lalu ikut mengejar langkah Alex.
“ Apa hubungan mereka mulai membaik?” tanya Papa Devan pelan.
“ Semoga saja. Mommy berharap mereka bisa menjadi seperti yang kita semua inginkan,” jawab Mommy Keyna.
“ Pasti, Mom. Odet wanita yang cantik dan tangguh. Keyla yakin Alex akan jatuh cinta padanya,” ucap Keyla sambil menggenggam tangan Mommy Keyna.
“ Terima kasih, Keyla,” ucap Mommy Keyna haru.
✨✨✨
Di dalam kamar yang kedap suara, Alex melampiaskan seluruh amarah dan kekesalannya.
Rasa kecewa pada dirinya sendiri.
Rasa sakit yang menghancurkan hatinya.
Semua itu membuat Alex kehilangan arah.
Sementara di balik pintu, Odet hanya bisa diam mendengarkan semuanya. Wanita itu tidak berani mengetuk ataupun memanggil nama Alex.
Hampir dua jam Odet tetap berdiri di depan pintu kamar.
Menunggu.
Entah sampai kapan pintu itu akan terbuka. “ Alex… sudahlah… jangan menyakiti dirimu seperti ini… hiks… hiks…” lirih Odet sambil menangis pelan.
Hatinya terasa hancur melihat kondisi Alex seperti ini.
Klek…
Pintu kamar akhirnya terbuka. Menampilkan sosok Alex yang terlihat berantakan.
Tanpa berpikir panjang, Odet langsung berlari dan memeluk tubuh pria itu erat.
“ Cukup… jangan terus memendam rasa itu,” lirih Odet sambil menatap sendu wajah Alex.
“ Cukup memandang keindahan bulan dari jauh tanpa harus memilikinya. Kau bukan untuknya… dan itu kenyataannya, Alex.”
“ Kau tidak akan pernah memahami perasaan ini,” balas Alex dingin sambil melepaskan pelukan Odet.
“ Kau tidak pernah merasakan mencintai seseorang yang tidak akan pernah bisa kau miliki.”
“ Aku pernah merasakannya,” jawab Odet pelan.
Langkah Alex langsung terhenti. Pria itu berbalik menatap Odet.
“ Jika kau pernah merasakannya… bagaimana caramu bertahan hidup sampai sekarang?” tanya Alex.
“ Ya… aku pernah merasakan itu,” jawab Odet lirih sambil menatap mata Alex.
“ Perasaan yang membuat hidupmu berantakan. Kau tahu sejak awal dia bukan milikmu… tapi hati dan ragamu tetap ingin mencintainya dan aku menerima semua itu melihatnya bahagia maka aku akan bahagia begitublah cara ku bertahan memandang nya dari jauh sudah cukup.”
“ Kapan kau merasakan semua itu?” tanya Alex lagi.
“ Ak… aku…”
Odet menggigit bibir bawahnya.
Apakah kali ini ia harus jujur tentang perasaannya sendiri?
“ Kenapa kau diam? Apa kau berbohong?”
“ Tidak! Aku pernah mencintai seseorang sebelum bertemu denganmu. Tapi aku tahu dia mencintai wanita lain,” jawab Odet akhirnya berbohong.
Alex tersenyum kecut sambil menatap Odet dari kejauhan.
“ Ternyata Tuhan mempertemukan kita hanya untuk saling menertawakan takdir yang sama,” ucap Alex lirih.
Pria itu lalu berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya.
Sementara Odet hanya menatap punggung Alex dengan mata yang perlahan kembali memanas.
“ Tuhan merampas semuanya dariku… lalu mempermainkan hatiku seperti ini. Jadi takdir mana yang sama denganmu, Alex?” batin Odet pilu.
Bersambung…
upp terus ya