NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 14: Malam Pertama dengan Aturan Baru

Ketegangan psikologis dan adu retorika di kamar nomor dua menyisakan kelelahan emosional yang luar biasa bagi Gisella.

Setelah memastikan pintu kamarnya terkunci rapat—kali ini dengan kesadaran penuh bahwa ini adalah kamarnya yang asli—dia mengganti pakaian olahraganya dengan piyama sutra longgar berwarna biru malam.

Namun, matanya menolak untuk terpejam.

Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan wajah Adrian yang menunduk di depannya, intensitas tatapan di balik kacamata perak itu, dan sensasi hangat jari pria itu di dagunya kembali hadir dengan kejelasan yang mengganggu.

"Fokus, Gisella. Jangan biarkan hormon tubuh ini mengacaukan otak profesionalmu,"

rutuknya sembari duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya sendiri.

Dia melirik ke arah meja nakas.

Di sana, di samping lampu tidur, tergeletak Buku Panduan Diet dan dokumen draf perceraian mereka yang tinggal menyisakan waktu kurang dari tiga minggu.

Lembaran kertas itu seolah menjadi pengingat dingin bahwa semua kenyamanan dan getaran asing ini memiliki tanggal kedaluwarsa yang nyata.

"Tok, tok, tok."

Ketukan pelan namun tegas di pintu kamarnya memecah keheningan malam yang larut. Gisella tersentak.

Dia melirik jam dinding—pukul sebelas lewat empat puluh lima menit malam.

"Siapa?"

tanya Gisella, meskipun di dalam hatinya dia sudah tahu persis siapa satu-satunya orang di rumah ini yang memiliki keberanian untuk mengetuk pintunya selarut ini.

"Ini aku. Buka pintunya, Gisella,"

terdengar suara bariton Adrian dari balik pintu, terdengar rendah namun membawa otoritas yang tidak bisa dibantah.

Gisella mengembuskan napas panjang, merapikan piyamanya sekilas, lalu berjalan membuka pintu.

Begitu daun pintu terbuka, sosok tinggi Adrian langsung mendominasi pandangannya.

Pria itu sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaus rumahan berwarna abu-abu gelap dan celana kain hitam panjang.

Rambutnya yang biasa disisir rapi kini jatuh berantakan di dahinya tanpa minyak rambut, memberikan kesan kasual yang justru membuatnya tampak beberapa tahun lebih muda.

Di tangannya, Adrian membawa sebuah papan kayu kecil dengan beberapa lembar kertas di atasnya, lengkap dengan sebatang pena mekanik.

"Ada apa lagi, Profesor? Bukankah kita sudah menyelesaikan diskusi emosional kita satu jam yang lalu?"

tanya Gisella, mencoba memasang wajah sedatar mungkin.

"Kita sudah menyelesaikan diskusi emosional, tapi kita belum menyusun protokol operasional yang jelas untuk sisa waktu tiga minggu kita,"

jawab Adrian dengan ekspresi yang sangat serius, seolah-olah dia sedang bersiap menandatangani kontrak riset bernilai miliaran dengan dewan universitas.

"Boleh aku masuk? Ini demi efisiensi agar kita tidak perlu berteriak di koridor."

Gisella ragu sejenak, namun melihat ekspresi kaku Adrian yang kembali ke mode "ilmuwan murni", dia akhirnya bergeser dan memberi jalan.

"Masuklah. Tapi jangan dekat-dekat dengan ranjangku."

Adrian melangkah masuk, mengabaikan sindiran Gisella.

 Dia menarik kursi meja rias yang tadi diduduki Gisella, memutarnya menghadap ke arah ranjang, lalu duduk di sana dengan santai namun tegap.

Dia meletakkan papan jepitnya di atas lutut.

Gisella memilih untuk duduk di tepi ranjangnya, melipat kedua kakinya, dan menyilangkan tangan di depan dada.

 "Jadi, protokol apa yang ingin kau susun selarut ini?"

"Aturan baru untuk malam pertama dan malam-malam selanjutnya selama kita masih berada di bawah satu atap,"

ujar Adrian, mengetukkan ujung pena mekaniknya ke atas kertas dengan ritme yang teratur.

 "Setelah insiden kecelakaan hari ini, aku menyadari bahwa keberadaanmu di rumah ini memiliki dampak langsung pada stabilitas fisik dan pekerjaanku. Oleh karena itu, kita butuh aturan tertulis agar batasan kita tetap terjaga tanpa ada salah paham seperti kemarin malam."

Gisella menaikkan satu alisnya, merasa tertarik dengan cara berpikir pria ini.

 "Aturan tertulis? Silakan, sebutkan poin pertamamu, Profesor."

"Poin pertama: Manajemen Nutrisi dan Kesehatan," kata Adrian, matanya menatap tajam ke arah Gisella.

"Aku menyerahkan otoritas penuh atas dapur dan menu makananku kepadamu, seperti yang kau tawarkan semalam. Sebagai gantinya, aku akan mematuhi jam makan dan batasan gula yang kau terapkan. Namun, kau wajib menyediakan suplemen herbal dan teh krisan mint itu setiap kali aku mengalami gejala pusing akibat tekanan riset."

"Diterima. Itu mudah," sahut Gisella. "Lalu?"

"Poin kedua: Privasi dan Akses Kamar,"

lanjut Adrian, intonasi suaranya sedikit melambat, memancarkan aura intimidasi yang halus.

"Kamar nomor satu dan kamar nomor dua adalah zona otonom. Tidak ada kunjungan tanpa izin setelah pukul sepuluh malam, kecuali dalam kondisi darurat medis seperti yang terjadi di ruang kerjaku kemarin. Dan kau..."

Adrian menatap Gisella dengan tatapan menggoda yang samar,

"...wajib memeriksa ulang nomor pintu sebelum memutar kunci kamar di malam hari."

Pipi Gisella mendadak terasa hangat.

"Itu murni kesalahan teknis semata dan tidak akan pernah terjadi lagi, Adrian. Lanjutkan ke poin berikutnya."

"Poin ketiga: Interaksi Publik dan Keluarga," Adrian mencatat sesuatu di kertasnya sebelum melanjutkan.

"Di depan Ayah, Ibu, dan Valerie, kita harus menampilkan citra hubungan yang harmonis atau setidaknya membaik. Aku tidak mau Ibu mencemaskan kondisi pernikahan kita lagi, terutama setelah melihat bagaimana kau menundukkan Nyonya Eleanor sore tadi. Jadi, jika di ruang makan atau di paviliun luar aku harus melakukan kontak fisik minimal—seperti memegang tanganmu atau merangkul bahumu demi meyakinkan mereka—kau tidak boleh menghindar atau menuduhku melanggar batas."

Gisella tertegun.

Poin ketiga ini terasa seperti jebakan terselubung yang sangat halus.

Kontak fisik minimal? Di depan orang tua Adrian? Mengingat bagaimana debaran jantungnya mendadak tidak karuan hanya karena sentuhan jari, poin ini jelas merupakan ancaman besar bagi pertahanan dirinya.

"Apakah kontak fisik itu benar-benar diperlukan?" protes Gisella.

"Kita bisa berpura-pura harmonis lewat komunikasi verbal yang baik, bukan?"

"Logika sosial tidak bekerja sesederhana itu, Gisella," bantah Adrian rasional.

"Nyonya Eleanor adalah penyebar rumor terbesar di kota ini. Jika dia melihat kita bersikap kaku atau menjaga jarak terlalu jauh, dia akan langsung menyimpulkan bahwa keanggunanmu sore ini hanyalah sandiwara untuk menutupi keretakan rumah tangga kita. Kontak fisik minimal adalah penguat data yang paling valid bagi masyarakat elit."

Gisella mendengus pelan, menyadari bahwa dia kalah argumen dalam hal ini.

"Baiklah. Kontak fisik minimal hanya di depan publik dan keluarga. Tidak ada perpanjangan fungsi di ruang pribadi."

"Tentu saja,"

balas Adrian dengan kilat misterius di matanya.

"Dan poin terakhir, Poin keempat: Rutinitas Penenang Saraf. Seperti yang kukatakan di depan piano tadi, kau wajib memainkan satu lagu klasik setiap kali aku pulang kerja pada pukul lima sore. Gelombang suara dari permainan pianomu terbukti secara empiris mampu menurunkan denyut nadi dan tekanan darahku setelah seharian berada di laboratorium."

Gisella menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya.

"Kau memasukkan rutinitas bermain piano ke dalam protokol operasional pernikahan kita?"

"Ini tentang efisiensi kerja, Gisella. Jika sarafku tenang, analisis dataku berjalan lebih cepat, dan aku bisa menyelesaikan risetku tepat waktu sebelum waktu tiga minggu kita habis,"

kilah Adrian dengan alasan ilmiah yang sangat rapi, meskipun di dalam hatinya dia hanya ingin memiliki alasan legal untuk melihat keanggunan Gisella setiap sore.

Adrian membalikkan papan jepitnya, menyodorkan pena mekanik ke arah Gisella.

"Jika kau setuju dengan keempat aturan baru ini, silakan tanda tangan di bawah sini."

Gisella bangkit dari ranjang, melangkah mendekati Adrian.

Dia mengambil pena dari tangan pria itu, memastikan kulit mereka tidak bersentuhan kali ini.

Dia membaca cepat poin-poin yang ditulis dengan tulisan tangan Adrian yang sangat rapi dan geometris di atas kertas. Semuanya tertata seperti jurnal ilmiah.

Dengan tarikan napas pendek, Gisella membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.

"Selesai,"

ucap Gisella, mengembalikan pena kepada Adrian.

"Sekarang aturan sudah ditandatangani. Kamar ini kembali menjadi zona otonom. Silakan keluar, Profesor."

Adrian berdiri dari kursinya, menjepitkan kembali kertas aturan itu ke papannya.

Dia menatap Gisella yang kini berdiri di hadapannya dengan piyama sutra yang berkilau lembut di bawah cahaya lampu tidur.

Kehadiran wanita ini di dalam kamarnya sendiri tampak begitu selaras, seolah dia memang diciptakan untuk berada di sana.

"Terima kasih atas kerja samanya, Nyonya Arthur,"

ucap Adrian, sengaja menekankan gelar pernikahan mereka yang masih sah secara hukum.

Dia berjalan menuju pintu, namun tepat sebelum membukanya, dia berbalik sekilas.

"Malam pertama dengan aturan baru dimulai detik ini. Tidurlah yang nyenyak. Dan... jangan mimpi buruk tentang jalanan maut lagi. Jalanan di depan kita sudah aman."

Setelah melemparkan kalimat yang entah mengapa terdengar sangat protektif itu, Adrian melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan perlahan.

"Ceklek."

Gisella berjalan mendekati pintu, memutar kunci internalnya, lalu menyandarkan punggungnya pada daun pintu kayu yang kokoh itu.

Dia mengembuskan napas panjang yang telah dia tahan sejak tadi.

"Malam pertama dengan aturan baru..."

 bisik Gisella pada kesunyian kamarnya.

Dia berjalan kembali ke ranjang, menjatuhkan tubuhnya di balik selimut, dan menatap langit-langit dengan senyuman tipis yang tidak bisa dia tahan.

Aturan baru itu ditujukan untuk menjaga batasan di antara mereka, namun Gisella memiliki firasat yang sangat kuat—sebuah analisis data bawah sadar yang baru—bahwa protokol operasional buatan Profesor Adrian Arthur justru akan menjadi tali tidak terlihat yang mengikat hati mereka berdua semakin erat di hari-hari mendatang.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!