NovelToon NovelToon
Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Chicklit / Tamat
Popularitas:269.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kim O

Ingatan akan hidup seorang wanita muda di masa lalu tiba-tiba menerpa Elena. Kisah cintanya dengan sang suami, kematian tragis mereka, hingga seucap janji yang diikrarkan sang wanita di detik-detik terakhir kematiannya, semua terekam jelas di memori gadis berusia 18 tahun itu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita itu? Dan, apa yang akan Elena lakukan saat mengetahui, bahwa suami dari wanita yang ada dalam ingatannya tersebut, adalah kakaknya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Percaya Reinkarnasi?

“Terima kasih, Mr. Evans. Maaf telah mengganggu hari libur Anda. Saya hanya tidak ingin urusan kerjasama ini terhambat, karena perjalanan bisnis lain. Karena itu, saya pikir lebih baik menyelesaikannya sekarang juga,” ujar Tuan Thomas, pemilik Two Size Entertainment, salah satu agensi hiburan paling berpengaruh di negeri ini. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Evans.

Evans menyambut uluran itu dengan senyum tipis yang penuh wibawa. “Merupakan kehormatan bagi saya bisa menjalin kerjasama dengan Anda,” ucapnya tenang, tapi sarat keramahan.

“Putra Mr. Simon memang selalu memukau, begitu pula dengan putri cantiknya,” puji Tuan Thomas sembari menepuk lengan Evans. Tatapannya lalu berpindah pada Elena yang berdiri tak jauh dari mereka.

Ia melangkah mendekat, menjabat tangan Elena dengan senyum yang hangat namun berjarak. “Selamat beraktivitas kembali, Nona Elena.”

“Terima kasih, Mr. Thomas,” balas Elena dengan nada tulus mungkin. Ia membungkukkan badannya, memberi hormat pada klien penting mereka.

Thomas tertawa kecil, kemudian undur diri. Pesawatnya akan lepas landas dalam waktu satu jam lagi. Dalam hati ia berharap banyak akan kolaborasi merrka dalam rancangan baru ponsel perusahaan tersebut, dengan salah satu *group musi*c yang berada di bawah naungannya.

Setelah memastikan tamunya benar-benar pergi, Evans menatap jam tangannya sekilas, lalu meminta Jemima untuk menjadwal ulang seluruh agenda esok hari.

“Aku ingin sedikit bersantai,” ucapnya datar.

“Oke,” sahut Elena singkat.

Pukul lima sore, ketiganya meninggalkan kantor. Jemima sempat menawarkan diri untuk mengantar Evans pulang, tapi ditolak halus oleh pria itu.

“Aku akan pulang bersama Elena,” kata Evans ringan, seperti itu adalah hal yangbiasa mereka lakukan.

Elena spontan menolak. Di luar jam kantor, ia merasa tak punya kewajiban untuk mempertahankan sikap profesionalnua. Ia butuh jarak. Ia butuh tembok tinggi agar Iris tak kembali menyusup dan mencuri dirinya.

Namun, Evans justru merebut kunci mobil dari tangan Elena dan berjalan pergi tanpa menoleh.

“Kak!” seru Elena, kesal sekaligus bingung. “Sa—sampai jumpa, Kak Jem!” tambahnya sebelum menyusul langkah pria itu.

Jemima hanya mengangguk, lalu berbalik ke arah berlawanan.

Di dalam mobil, Elena bertanya tajam, “Kenapa Kakak menolak Kak Jem dan malah menyuruhku yang mengantar?”

Evans menatap lurus ke depan. “Aku tidak suka orang asing keluar-masuk tempat tinggalku.”

“Lho, kalian sudah bekerjasama selama bertahun-tahun. Masa dia masih dianggap orang asing, sih? Atau jangan-jangan, kalian pernah menjalin hubungan dan putus di tengah jalan, ya?" terka Elena asal.

Evans menoleh. Tatapannya menyelidik, bukan sebagai kakak, melainkan seperti pria yang tak tahu harus bersikap bagaimana pada perempuan yang seolah terlalu jauh, tapi terasa begitu dekat.

Menyadari kebodohannya, Elena lantas memalingkan wajah. Malu.

“Jemima bukan orang asing. Dia sudah seperti saudaraku sendiri. Namun, berarti dia bisa mencampuri segala urusanku.”

Setelah kalimat itu, mobil tenggelam dalam sunyi. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Elena berusaha mengatur detak jantungnya yang tak menentu. Sementara Evans ... tak bisa berhenti bertanya pada dirinya sendiri, mengapa sikap adiknya tampak begitu asing, tapi juga akrab dalam cara yang tak bisa ia pahami.

"Mungkin hanya perasaanku saja," batinnya.

...***...

Sebelum tiba di apartemen, Evans membelokkan mobil Elena ke sebuah supermarket terlebih dahulu. “Mumpung sedang di luar. Kuharap, kamu tidak keberatan,” katanya datar.

“Keberatan pun percuma. Kakak yang menyetir, kan?” Elena menatap sinis.

Evans hanya tersenyum simpul, seperti biasa memilih untuk tidak menanggapi sikap ketus sang adik.

Selama berbelanja, Elena tak henti-hentinya menatap sinis setiap perempuan yang mencoba mendekati Evans. Bahkan, ia terang-terangan mengusir salah satu dari mereka yang hendak meminta nomor teleponnya, dengan bersikap layaknya seorang kekasih.

“Aku tak tahu, kamu ternyata bisa bersikap semenyebalkan ini. Kalau terus begini, bisa-bisa aku tidak akan pernah menikah, dan kamu tidak akan pernah punya kakak ipar!” celetuk Evans.

“Jangan terlalu percaya diri, aku hanya muak melihat wajah genit mereka! Lakukan saja apapun yang kau mau, tapi saat tidak di dekatku!” balas Elena ketus lalu pergi meninggal Evans.

Evans menghela napas panjang. Ia mengangkat bahu, satu-satunya bentuk apatis yang masih bisa ia pertahankan hari itu.

Sesampainya di apartemen, Elena tidak langsung pulang. Evans mengajaknya makan malam lebih dulu.

Evans juga meminjamkan kaus dan celana untuk Elena. Gadis itu tampak tidak nyaman karena telah mengenakan pakaian kerjanya seharian.

Setelah mandi, Elena langsung menuju dapur. Evans terkejut saat melihat tubuh kecil itu tenggelam dalam piyamanya. Elena bahkan sampai harus menggulung lengan bajunya agar terasa lebih nyaman.

Evans tertawa kecil, lalu membantu menggulung lengan baju itu serapi mungkin.

“Tidak ada baju lain? Baru kali ini aku melihat perempuan, diberi piyama oleh pria! Biasanya, mereka diberi kaos pendek yang manis supaya tampak mungil dan seksi!” protes Elena.

Evans menjentik kening gadis itu. “Kalau kekasihku, mungkin. Tapi kau bukan.”

Elena tersenyum pahit. Kalau saja ia tahu, bahwa Elena bukan hanya sekadar sang kekasih di masa lalu.

Setengah jam kemudian, mereka duduk tenang di meja makan untuk menikmati hidangan yang dibuat Evans.

“Kak?” panggil Elena di sela-sela makan mereka. Nadanya terdengar ragu, tapi juga penuh keinginan.

Evans menoleh. “Ya?”

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya gadis itu dengan mata penuh selidik.

“Silakan.” Evans menyeruput pastanya, lalu mengalihkan pandangan pada sang adik yang kini terlihat sangat serius.

“Kakak percaya reinkarnasi?” Elena dengan nada nyaris berbisik dan penuh keraguan, kembali bersuara.

Omong-omong soal reinkarnasi, gadis itu sudah memberitahukan segalanya pada Jenny, sang sahabat. Awalnya Jenny menentang keras cerita Elena yanh terdengar mustahil. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari bahwa ada satu sisi yang lain, yang kini bersemayam dalam tubuh sahabatnya.

Terlebih, Elena banyak menceritakan sejarah Kerajaan Oswald yang tidak pernah diketahui orang.

Evans mengaduk pastanya sebentar lalu menjawab pertanyaan tersebut dengan datar. “Tidak! Memangnya kenapa? Kamu percaya?”

Elena mengangguk kecil. “Sangat! Kenapa Kakak tidak percaya?”

Evans menarik napasnya sekali, sembari berpikir. “Aku hidup berdasarkan realitas. Reinkarnasi, hantu, semua itu hanya mitos bagiku.”

Elena terdiam. Ia menelan kekecewaan dalam diam.

“Kamu sendiri, kenapa percaya?” Evans kini balik bertanya.

“Aku tak bisa menjelaskan. Tapi, bukankah lucu jika kita bisa tahu, siapa diri kita di masa lalu? Mungkin saja di masa lalu aku adalah seorang putri kerajaan yang sangat cantik!” serunya percaya diri.

Evans terkekeh.

“Aku, si putri kerajaan memilih kabur dari rumah karena enggan dijodohkan dengan seorang pria dari kerajaan lain. Tanpa diketahui siapa pun, aku diam-diam menjalin hubungan dengan rakyat biasa yang berprofesi sebagai pemburu. Aku merelakan gelar kehormatan hanya untuk hidup sederhana bersama dengannya, dan bekerja sebagai pemetik buah. Lalu Kakak terlahir sebagai seorang panglima perang tertinggi, tapi salah sa—".”

“Kamu seharusnya ambil jurusan sastra!" celetuk Evans tiba-tiba.

Elena lantas mengerutkan keningnya. “Kenapa?”

“Ceritamu bagus. Kamu cocok jadi penulis novel.”

Elena mendadak bungkam. Ia menyuap seluruh pastanya dalam satu gerakan cepat dengan wajah ketus dan tidak bersahabat.

1
MamDeyh
Gk paham knp Elena dibenci Evan
Nayla Nazafarin
bukannya tidak mendukung El..tp bca smpai sini dominan El yg gigih memperjuangkan janjinya di masa lalu..
Nayla Nazafarin
Evans..penakut sekali kau..
Thia Alyfia
cerita yg bagus bgt thor beneran menguras emosi&air mata bgt😭😭😭, moga adza ada cerita lanjutan season 2 ttg elena&leon
Darna Syukaira
Luar biasa
Nor Rahma Setyawan
bagus sekali
Hiatus: trmksh kk sdh mampir😍🤗😘❤️❤️
total 1 replies
Sinta Safira
mantaaaappp....
Hiatus: trmksh kk sdh bersedia mampir😭😍😘❤️❤️❤️
total 1 replies
Hiatus
❤️❤️❤️
ZhieLaa
kisah Elena dimasa lampau
ZhieLaa
aaah jadi kangen pariwisata jaman sekolah 😄
ZhieLaa
ooohhh terjawab sudah mereka bukan saudara kandung.
Hiatus: xixixi iya ka
total 1 replies
ZhieLaa
hahaha
ZhieLaa
mereka ini saudara Kandung bukan sih 😌
ZhieLaa
dikejauhan ada seseorang melihat mereka tanpa ekspresi 😂😂
ZhieLaa
kabuuuurr 😁
ZhieLaa
hobinya ketiduran 😂
ZhieLaa
masa lalu kah ini ??? ato di dunia berbeda ??
ZhieLaa: waAaah makin penasaran,,,suka kalo ada unsur fantasi2 nya 😍
total 2 replies
ZhieLaa
hibernasinya kurang jauh sekalian ke kutub utara 😂
Hiatus: 😂😂😂😂😂
total 1 replies
ZhieLaa
wkwkwkwkw tertidur dlm kelas
Hiatus: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
ZhieLaa
baru mampir di karya ini 😍
ZhieLaa: 😍 siaaap
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!