Kehidupan Kania yang tenang tiba2 harus berubah saat situasi mengharuskannya berperan sebagai orang lain.
Mendapatkan cinta dari pria asing saat dia tidak menginginkannya.
Namun Kania harus melepas cinta itu saat dia benar2 bisa membuka hatinya.
Akankah Kania bertahan dengan peran barunya, ataukah dia harus kembali pada kehidupannya yang tenang sebelum dia bertemu dengan pria asing itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemanasan
Suasana hikmat dan kekeluargaan begitu terasa di dalam ruangan ini, acara akad nikah yang akan dilaksanakan memang hanya mengundang keluarga inti dari kedua belah pihak saja.
Sementara tamu yang lain akan di sambut pada saat acara resepsi yang akan diadakan setelah akad nikah nanti.
Langkah demi langkah kian terasa begitu berat, saat mendekati Daniel sang pengantin pria yang sudah menunggu kehadirannya.
Dengan penampilan yang semakin memperlihatkan ketampanan dan kegagahannya, Daniel melemparkan senyuman pada Kania.
Menyambut pengantinnya dengan perasaan bahagia.
Bahkan rasa gugup yang menyelimutinya seketika menghilang begitu menyadari kehadiaran wanita itu.
Kania melemparkan senyuman pada semua orang yang ada di sana, menutupi kesedihan dengan wajah yang di buat ceria, meski tak ada kebahagiaan sedikit pun, hanya rasa takut dan gugup yang bercampur, hingga membuat tubuh Kania seolah melangkah tanpa jiwa.
Daniel semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan acara akad nikah.
Tidak ingin membuang banyak waktu untuk segera menjadikan wanita yang berjalan anggun kearahnya ini segera sah menjadi istrinya.
Kania duduk di samping Daniel, mereka saling bertukar pandangan, melempar senyuman dan bersiap untuk memulai lembaran baru dalam hidup mereka.
Acara pun dimulai, dengan pak Dedi yang langsung menjadi wali nikah.
Suasana menjadi hening saat semua orang yang ada di ruangan mendengarkan secara seksama ijab qabul yang Daniel ucapakan dengan lantang dan tanpa ada kesalahan.
Berganti dengan suasana riuh dan haru saat para saksi menyatakan mereka akhirnya sah menjadi pasangan suami istri dimata agama dan negara.
Lembaran hidup baru Kania pun dimulai.
Dalam sekejab statusnya kini berubah, kini dia adalah seorang istri dari Daniel Putra Atmaja.
Setelah ijab qabul selesai, pasangan itu kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
"Apa kamu bahagia? Daniel melingkarkan tangannya di perut Kania, mendaratkan kecupan dipipi wanita itu dengan penuh kelembutan dari arah belakang.
Tersentak kecil Kania mendapati tangan kokoh itu mendekapnya begitu erat.
Masih ada waktu beberapa jam lagi bagi mereka untuk melanjutkan ke acara resepsi.
Dan kini mereka berdua berada di dalam kamar pengantin, mengambil jedah waktu untuk beristirahat sejenak.
"Kenapa kamu tidak menjawabku sayang? gemas tidak mendapatkan jawaban, pria ini membalik tubuh istrinya agar berdiri menghadapanya.
Tersenyum bahagia melihat wajah Kania yang menunduk malu2, Daniel mengangkat dagu istrinya perlahan.
Mengamati kedua mata Kania yang ternyata berkaca2.
"Apa kamu menangis sayang? tanya Daniel tak menyangka melihat air mata yang kini menggenangi kedua mata istrinya.
"Maaf, ini hanya air mata bahagia" Kania berujar sambil mencoba mengalihkan pandangan.
Tak sanggup rasanya untuk memandang Daniel dihadapannya.
"Kamu itu semakin menggemaskan saja sayang" Daniel menarik kedua bahu Kania, membawa wanita itu masuk lebih dalam kedalam pelukannya.
"Aku juga benar2 bahagia saat ini, setelah menunggu waktu cukup lama akhirnya kita bisa mewujudkan mimpi kita untuk menikah" Daniel mengeratkan pelukannya.
Mendesah pelan pria itu " Apa kamu tidak merasa gerah sayang? aku rasa mandi bersama akan terasa menyenangkan sebagai pemanasan malam pertama kita" ujar Daniel sambil tersenyum penuh makna.
Pikiran liarnya mulai menguasai semenjak tubuh Kania berada dalam pelukannya, mencium aroma dari tubuh istrinya semakin membuatnya tak dapat lagi menahan untuk mencuri start malam pertama yang Daniel impikan selama ini.
"Ma..maksudnya a..apa ? ujar Kania melepaskan pelukan, mundur selangkah untuk memberi jarak saat tubuhnya seketika menggigil mendengar Daniel menyinggung soal malam pertama mereka.
Dengan senyuman nakal Daniel melangkah lebih lebar, meraih pinggang Kania untuk kembali menempel padanya.
"Aku menginginkannya sayang, sekarang" bisik Daniel tepat di telinga istrinya.
Mengucapkannya dengan nada yang sensual, Daniel sengaja mencuri beberapa kecupan disana.
Membuat Kania semakin mati langkah, tubuhnya membeku merasakan hembusan nafas Daniel bersamaan kecupan yang mendarat tiba2 di permukaan lehernya.
"Ki..kita harus bersiap untuk acara resepsi" ucap Kania terbata, ini sungguh di luar kuasanya, wanita ini lupa dengan poin penting ini.
Malam pertama, sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dan bagaimana Kania dapat menghindari hal itu.
Bagaimanapun juga kini mereka adalah sepasang suami istri, dan merupakan kewajiban baginya untuk melayani dan memenuhi permintaan Daniel.
"Masih ada waktu untuk itu sayang, bagaimana? kamu mau kan? bujuk Daniel tak menyerah.
"Ta..tapi kita bisa melakukannya nanti, kenapa harus terburu2" Kania menelan salivanya dengan berat, membayangkannya saja sudah sangat mengerikan baginya.
Daniel melihat jam di tangannya, melirik Kania kemudian dengan senyum menggoda.
"Hanya pemanasan sayang, aku jamin tidak akan lama" sesaat kemudian Daniel telah berhasil membopong tubuh Kania memasuki kamar mandi.
Kania menjerit kecil, berusaha mencari cara untuk lepas dari pria yang sudah diselimuti gairah dan keinginan untuk menelannya saat ini.
"Turunkan aku Daniel, ba..bagaimana kalau nanti ada yang datang" ujar Kania mencari alasan.
Daniel menurunkan tubuh istrinya, dan memastikan pintu kamar mandi mereka sudah terkunci dengan baik.
"Tidak akan ada yang datang kemari sayang" Daniel mulai membuka pakaiannya satu persatu di depan Kania.
Sontak wanita itu membalikan tubuhnya, hanya melihat dada itu tanpa sehelai benang saja sudah membuat darahnya berdesir. Jadi bagaimana bisa dia melihat Daniel yang tanpa rasa malu melucuti semua pakaiannya.
"Jangan menghindar sayang, cepat atau lambat kamu juga akan segera melihatnya" ucap Daniel sambil berjalan mendekat.
Memeluk tubuh Kania dari belakang dengan tubuh polosnya, Daniel menggerakan tangannya meraih satu persatu kancing kebaya yang masih melekat di tubuh Kania.
"Tu..tunggu,mmm...a..aku be..belum siap Daniel" gumam Kania begitu pelan, namun Daniel masih bisa mendengarnya dengan jarak mereka yang begitu dekat.
"Panggil aku dengan sebutan sayang, apa kamu lupa? bibir Daniel sudah menjelajahi telinga dan sebagian leher istrinya.
Sambil tangannya yang tak ingin berhenti bergerak, bahkan Kania tak mampu menahan gerakan Daniel yang begitu cepat hingga kini pakaian itu mulai terbuka, menyembulkan sesuatu yang masih terhalang bra berwarna merah muda.
"A..apa ki..kita harus melakukannya sekarang, bi..bisakah nanti saja sayang" Kini Kania benar2 merasakan takut yang luar biasa.
Memperlihatkan tubuhnya pada pria yang tidak dicintai meski kini Daniel adalah suaminya merupan beban besar baginya, Kania benar2 tidak siap.
"Bukankah kamu juga sudah menginginkan ini sejak lama sayang, bahkan dulu kamu selalu mendesakku agar kita melakukannya sebelum kita menikah, jadi kenapa sikapmu seperti ini sekarang" ucap Daniel sambil membalik tubuh Kania.
Dan betapa Daniel merasa semakin gemas saat melihat istrinya yang menutup rapat kedua matanya.
"Ayolah sayang, tidak ada hal yang menakutkan disini" bujuk Daniel agar Kania mau membuka mata dan menatapnya.
"Ta..tapi aku.." ucapan itu terhenti saat Daniel membungkam bibir Kania dengan bibirnya, mendesak agar Kania memberikan celah dan membiarkan Daniel memainkan lidahnya disana.
Daniel berpikir Kania begitu kaku tak seperti biasanya yang selalu bersikap lincah saat mereka berpagutan.
Namun Daniel tetap menikmatinya, menuntun gerakan lidahnya selembut mungkin agar Kania merasa nyaman dan mulai menikmati aktifitas ini.
Masih dengan bibir yang saling bertaut, tangan Daniel mulai menjelajahi tiap jengkal tubuh Kania.
Menyingkap perlahan pakaian Kania yang telah terbuka, mencampakannya dengan sembarangan.
Kania terengah, dadanya bergerak naik turun saat mereka harus berbagi udara.
"Tarik nafasmu sayang" ujar Daniel tersenyum puas melihat istrinya yang kewalahan mengimbangi decapan dan pagutannya.
Namun Kania masih belum berani membuka matanya, menyadari pakaiannya telah tersingkap dan hanya menyisakan pakaian dalam.
Wanita ini hanya bisa menyilangkan kedua tangannya menutupi daerah sensitifnya.
Meski usahanya percuma, karena Daniel sudah lebih dulu melihat tubuh istrinya yang putih mulus.
Dengan lekukan dan belahan dada yang kian menggoda hasratnya sebagai pria.
"Ayo sayang" Daniel menuntun Kania memasuki buth up yang sudah dipenuhi kelopak mawar, sungguh suasana yang romantis.
Ingin rasanya Kania menjerit dan menangis saat ini, namun ketidak berdayaan mengingat status mereka sebagai sepasang suami istri, membuat Kania tak punya alasan untuk menolak semua perlakuan Daniel.
"Nikmatilah, aku akan menggosok punggungmu" bisik Daniel sambil membuka pengait bra yang masih melekat.
Kania kembali tersentak, saat jemari Daniel menyentuh punggungnya.
Membelai secara perlahan, memberikan sensasi aneh dan menggelikan di sekujur tubuh Kania.
Dengan posisi tubuh Kania yang ada didepannya, Daniel dengan bebas menatap punggung putih mulus itu, mendaratkan beberapa ciuman disana, jemarinya semakin bergerak liar ke bagian depan tubuh Kania.
"Sa..sayang ka..kamu mau apa? ucap Kania terbata saat tangan Daniel menangkub sempurna di dadanya.
Merem4s dengan gerakan selembut mungkin, Daniel ingin bermain lebih lama disana, mengacuhkan pertanyaan istrinya, tangannya terus bergerak tak mau kalah dengan bibirnya yang terus menyapu leher jenjang Kania, bahkan tanpa sadar meninggalkan bekas kemerahan disana.
Sentuhan demi sentuhan yang Daniel berikan membuat Kania turut larut dalam buaian.
Ketakutan dan rasa gugupnya menguap begitu saja.
Tubuhnya kian bergetar bersamaan dengan tangan Daniel yang kian merambat ke daerah sensitifnya, menyusup masuk kedalam kain tipis yang masih tersisa disana.
"Ahhh..Danieel" Bahkan Kania harus mengutuki kebodohannya saat tanpa sadar desahan itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Dengan kesadaran yang masih tersisa Kania berusaha menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Jangan di tahan sayang, nikmatilah" bisik Daniel lagi disela aktifitasnya yang menyesap lembut setiap jengkal punggung Kania.
Merasakan daerah hangat yang semakin lembab dibawah sana dengan sentuhan jarinya, Daniel tau betul Kania kini menginginkannya, menuntaskan rasa bergelora yang semakin menyiksa jiwa.
"Danieeel" Kania kembali menyebut nama suaminya di sisa2 kesadarannya.
Tubuhnya menggeliat dan menggelinjang hebat bersamaan dengan sesuatu yang terdorong keluar dari daerah intinya.
Rasa luar biasa nikmat yang belum pernah wanita ini rasakan sebelumnya, dan kini Kania telah ada disana, di puncak dari segala rasa dalam tubuhnya yang semakin membuncah.
Meski hati dan pikirannya terus menolak, namun tubuhnya bereaksi lain saat Daniel berhasil mendominasi pergerakannya.
"Bagaimana, apa kamu menyukainya hmm, Itu hanya pemanasan sayang, karena aku akan memberikan yang jauh lebih nikmat nanti" bisik Daniel tepat di telinga kanan Kania.
Masih dengan nafas yang terengah,Kania menunduk malu mendapati tubuhnya begitu menikmati permainan Daniel, pria yang kini menjadi suaminya tanpa rasa cinta.
Namun Kania sadar pesona suaminya yang sangat luar biasa telah berhasil meruntuhkan harga dirinya, meluluh lantakan hatinya yang terus memberontak meski tubuhnya malah bertindak sebaliknya.