Sakit hati dengan mantan pacar membuat Adrian gelap mata, dia memilih jalan hitam untuk menghancurkan hidup mantan kekasihnya, Alyn berjuang melepaskan jerat ilmu hitam yang menghantui hidupnya.
Setelah gagal menguasai jiwa Alyn, guna-guna itu berbalik menyerang Adrian, Akankah Adrian bisa lepas dari jerat guna-guna kirimannya sendiri, bagaimana dia terbebas dari karma masa lalunya yang kelam.
Banyak hati yang terluka akibat ulah Adrian, dan penyesalan selalu hadir saat semua sudah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiens K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Yang Berbeda
Adrian kembali menemui Mita di hotel, dia pamit pada mamanya pergi mengambil barang untuk acara nikahan, ke dua orang tua Adrian tidak menaruh curiga sedikitpun dengan sikap Adrian.
Mita senang saat Adrian mendatanginya, walau hanya sebentar. Sikap Adrian juga kembali seperti dulu menuruti semua keinginannya.
"Sayang, habis menikah kamu gak mau balik sama aku?" tanya Mita sambil membelai kepala Adrian yang sedang tidur di pangkuannya.
"Hmm, aku akan menyusulmu, kamu sabar ya," balas Adrian.
"Iya, aku percaya kamu pasti menemuiku. Aku sudah beli rumah baru, pulang dari sini aku langsung pindah dari tempat kosku. Nanti kamu kabari aku ya," tutur Mita pada Adrian.
"Baiklah, aku pulang dulu ya. Besok apa kamu mau datang di pestaku?" Andrian mengenakan pakaiannya yang berserak di lantai.
"Tentu dong, nggak apa-apa kan?" tanya Mita dia bergayut manja di pelukan Adrian.
"Asal kamu nggak cemburu," jawab Adrian.
Mita menggeleng dan mendaratkan ciumannya, Adrian membalas ciuman Mita, lalu meninggalkan hotel kembali ke rumahnya. Sebelum pulang dia mampir ke mini market membeli sesuatu untuk dibawa pulang agar tak ada yang curiga.
Sedang asik memilih barang, seseorang menepuk pundak Adrian dari belakang. Adrian menoleh dan mendapati Bimo berdiri di belakangnya.
"Bimo!! apa kabar?" sapa Adrian ramah.
"Baik, ku pikir kamu gak ada di sini?" balas Bimo.
"Aku, ng ... aku besok mau menikah. Makanya aku ada di rumah," terang Adrian.
"Oh kamu mau menikah, selamat ya," Bimo memberi ucapan selamat pada Adrian.
"Yah, sudah belum? anakmu rewel nih," Putri yang sedang menggendong putranya mencari Bimo.
Melihat Bimo bersama Adrian, wajah Putri membuang muka. Bimo mengambil anaknya dari gendongan Putri, dan menyuruh Putri membayar belanjaan di kasir.
"Kalian?" Adrian menatap anak kecil dalam dekapan Bimo.
Bimo hanya tersenyum melihat Adrian yang mulai salah tingkah, setelah Putri selesai membayar belanjaan dia menunggu di luar. Bimo berpamitan pada Adrian dan menemui istrinya di luar.
Adrian memperhatikan Bimo yang sedang berdebat dengan Putri dari kaca, mereka terlihat sedang adu mulut, Putri tak senang Bimo berakrab ria dengan Adrian, sampai hari ini wanita itu sangat membenci Adrian.
"Jangan marah, Ayah nggak sengaja ketemu dia," bujuk Bimo.
"Bunda nggak suka Yah, ngapain sih baik-baik sama ibl*s kayak dia!!" gerutu Putri.
Mereka pun pulang dan Adrian memperhatikan dari dalam mini market, setelah Bimo dan Putri pergi Adrian langsung ke kasir membayar belanjaannya lalu pulang ke rumah.
Ada rasa cemburu melihat Bimo dan Putri bahagia, sepertinya hidup mereka sangat sempurna. Apakah dia bisa seperti Bimo dan Putri sedang saat ini di hatinya malah ada Mita, sedangkan dia menikah dengan Menik.
***
Malam hari sebelum ijab, Adrian tidur di kamarnya, Menik juga berbaring di sisinya. Biasanya Adrian tak membiarkan Menik tidur dengan lelap sebelum dia menuntaskan hasratnya, kali ini dia tidur lebih dulu dan menik gelisah di sampingnya.
Tak ada pelukan dan ciuman mesra, Adrian kehilangan nafsunya saat bersama dengan Menik. Dia hanya ingin bercinta dengan Mita. Hanya wanita itu yang saat ini berada di kepalanya.
Pagi hari Menik bangun setelah membersihkan diri dia pergi ke dapur menemui ibunya yang sudah berkutat dengan memasak. Dia menyiapkan kopi untuk Adrian, mama Adrian menyuruh Menik sarapan karena sebentar lagi perias akan datang untuk mendandaninya.
"Kamu makan dulu sebelum dirias, nanti gak bisa majan loh," mama Adrian mengambil piring dan menyiapkan makan untuk menantunya.
Perias yang akan mendandani Menik sudah datang, setelah selesai makan Menik langsung dirias wajahnya, sedangkan Adrian masih bermalasan di kamarnya.
"Adrian, bangun dan cepat mandi, kamu mau ijab jam sepuluh nanti," mama Adrian ke kamar dan membangunkan Adrian.
"Hmm masih lama Mah," Adrian menggeliatkan badannya.
"Lama apa, ini sudah setengah delapan," mama Adrian menarik selimut yang menutupi tubuh Adrian.
"Iya, iya," Adrian pun bangkit dengan rasa malas di bergegas ke kamar mandi.
Dia bergegas keluar setelah mandi, melihat Menik yang sedang dirias. Adrian pergi ke ruang makan, papa dan mamanya juga mertuanya sedang berkumpul, dia pun ikut sarapan.
"Menik sudah makan Mah?" tanya Adrian pada mamanya.
"Sudah, tadi sebelum dirias mama suruh dia makan dulu, ayo kamu sarapan juga. Habis ini kamu siap-siap," perintah mama Adrian, dia pun mengambil makan dan sarapan bersama.
Usai sarapan Adrian teringat Mita dan ingin menemuinya, namun waktu tidak memungkinkan untuk pergi ke hotel menemuinya. Dia gelisah dan mondar-mandir di ruang tamu, rasa ingin bertemu dengan Mita sungguh menggebu.
"Ada apa Kak?" sapa Andi yang melihat kakanya gelisah.
"Ngg ... nggak ada aku cuma sedang gugup saja," jawab Adrian bohong.
"Elah, ini kan cuma ngulang aja, masa masih gugup juga," Andi tertawa terkekeh melihat tingkah kakaknya yang gugup menghadapi pernikahannya.
"Ya begitulah," saut Adrian.
Menik sudah selesai dirias, Adrian dipanggil oleh mamanya agar segera berganti baju, dia masuk ke kamar dan mendapati Menik sedang duduk dengan dandanan pengantin adat jawa.
Adrian hanya tersenyum melihat Menik yang sudah tampil beda, dia mengambil baju yang sudah dipersiapkan untuknya, dan berganti di depan istrinya.
"Kakak kenapa, sepertinya sedang banyak masalah?" tanya Menik melihat sikap Adrian yang berbeda.
"Hmm, aku lagi capek saja Menik," jawab Adrian tanpa melihat wajah istrinya.
"Nanti habis acara aku pijitin ya," tawar Menik.
"Nggak usah kamu juga pasti capek, nanti Kakak pergi pijit saja. Yuk kita keluar," ajak Adrian.
Menik tersenyum dan berjalan di belakang Adrian, beberapa saat menunggu, acara ijab pun dimulai, Adrian dengan lancar mengucapkan ikrar dan janji setia.
Usai ijab Adrian dan Menik duduk dipelaminan, tamu juga mulai berdatangan, demikian juga Mita dia datang membawa kado besar, setelah menyalami dan memberi salam pada mempelai, Mita duduk di kursi tamu ditemani Andi adik Adrian.
Mata Adrian bahkan tak pernah lepas dari wajah Mita, dia selalu memandang gerak-gerik wanita itu, tanpa melirik ke arah Menik yang ada di sampingnya.
"Kak Mita di sini saja, nanti ku antar ke hotel," tawar Andi.
"Iya Ndi, kamu gak sibuk?" tanya Mita.
"He he kan tuan rumah, bebas dong," kelakar Andi.
"Ok, lagian Kakak bosan di hotel sendiri," balas Mita sambil mengerling pada Andi.
Andi merasa nyaman berada di sisi Mita, tidak seperti dulu saat Mita datang pertama kali, dia merasa ada sesuatu yang berbeda, Mita sangat menyenangkan dan terlihat sangat cantik.
Pelet Mita ternyata tidak hanya mengena pada Adrian tapi juga pada pria lain yang melihatnya, dia terlihat sangat mempesona di mata pria yang melihatnya. Mita merasa sangat percaya diri saat sadar pengaruh peletnya begitu kuat.
"Ndi Kakak mau pulang aja, sudah capek duduk terus dari tadi," bisik Mita pada Andi yang duduk di sampingnya.
"Sebentar aku ambil kunci mobil ya Kak," Andi mendekati papanya dan meminta kunci mobil milik papanya.
Adrian melihat Andi berjalan keluar bersama Mita, dia merasa kesal karena Mita pergi dari pestanya. Ingin mengejar namun tak mungkin dia meninggalkan pelaminan disaat tamu masih ramai di ruangan.
Mita masuk ke mobil dan duduk di depan di samping kemudi. Andi mulai menjalankan mobilnya dan mengantar Mita ke hotel. Mita mulai menggoda Andi dan memancing reaksi anak itu terhadapnya.
"Kamu nggak punya pacar Ndi?" tanya Mita.
"Mmm, punya kok Kak," jawab Andi.
"Wah pasti cantik dong pacar kamu?" pancing Mita.
"Lumayan," Andi tertawa ringan.
"Sudah ngapain aja sama pacar?" tanya Mita.
"Mmm, belum ngapa-ngapain Andi gak berani takut," jawab Andi polos.
"Wah padahal ciuman itu asik lo," goda Mita.
"Hah, takut aku Kak, takut digampar, cewekku sadis," balas Andi.
Mobil Andi memasuki halaman hotel dan Mita menawari Andi mampir ke kamarnya, awalnya Andi ragu-ragu, bujuk rayu Mita membuatnya goyah dan ikut masuk ke kamar Mita.
Di dalam kamar hotel, Mita merapatkan tubuhnya pada tubuh Andi, pria lugu itu tak bisa mengelak karna dia berdiri tepat dibelakang pintu, saat mundur tubuhnya merapat ke daun pintu hotel.
Mita mengecup bibir Andi, pria itu terbelalak terkejut karena baru pertama mendapatkan ciuman dari seorang wanita, tanpa penolakan Mita semakin berani memainkan lidahnya dan tangannya bergerilya ke seluruh tubuh Andi, membuat pria itu merinding geli.
Mita berhasil melucuti celana Andi dan menggiring pria muda itu ke atas ranjang. Pria itu mengerang saat Mita berhasil menaklukkan dirinya, Mita tersenyum nakal diatas tubuhnya yang masih menegang.
Ponsel Andi berdering, Mita turun dari tubuh Andi dan membiarkan pria itu berlari mengambil celananya di depan pintu dan menerima panggilan telpon dari seseorang.
"Iya ini sudah jalan pulang," ucap Andi berbohong, dia mematikan ponselnya dan membersihkan dirinya.
"Kak, aku pulang dulu ya, ni kak Adrian sudah nyari-nyari," ucap Andi gugup.
"Baiklah, trimakasih ya Ndi," Mita mengerling nakal, Andi tersipu malu, dia merapikan rambutnya sebelum keluar dari kamar Mita dan pulang kembali ke rumah.
Rasa geli di bawah sana masih begitu terasa, dia tak menyangka perjakanya baru saja hilang bersama Mita, tapi dia senang ternyata rasanya begitu nikmat walau dia tadi hanya menikmati saja.
Di rumah Adrian terlihat mondar-mandir di ruang tamu, menunggu ke datangan Andi, saat Andi datang dia langsung memberondong Andi dengan berbagai pertanyaan karena pergi terlalu lama. Andi beralasan kalau dia bosan dan pergi jalan-jalan.
Pesta telah usai dan kursi-kursi sudah di kemas oleh tukang tenda, Menik sudah beristirahat di kamarnya karena kelelahan. Adrian meminta kunci mobil dari tangan Andi dan beralasan mau membeli barang di luar. Dia memacu mobilnya menemui Mita, tentu saja dia sudah tidak sabar ingin menghabiskan waktu bersama wanita itu, sehari saja tak bertemu dengannya membuatnya merasa gila.
***
udh 2 karyamu yg aku baca 😁🙏🏻
semangat selalu thor.. 💪🏻😘
malang bgt nasib menik.. ortu adrian andi pasti hancur bgt, kehilangan 2 putra nya dlm waktu yg berdekatan 🥺😭
ah author bikin aku mewek aja dech 😭😭😭