NovelToon NovelToon
Fool Again

Fool Again

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Balas Dendam / Badboy
Popularitas:102.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Herma Wong

Keuntungan menikahi sahabat sendiri :
1. Lebih tahan lama (atau meminimalisir perceraian)
2. Lebih rukun (atau saling menerima dan mengerti satu sama lain)
3. Sudah ada dasar perasaan (dari Friendzone menjadi pasangan hidup)
4. Tidak perlu berpura pura (atau lebih apa adanya)

Kenyataanku sama sekali berbeda dengan penelitian hebat dari para peneliti di luar sana. Aku kacau, bimbang dan kehilangan arah dalam pernikahan ini. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai mencintai sahabatku sendiri. Apakah sejak dia mencuri ciuman pertamaku atau sejak kita menghabiskan malam pertama bersama?

Entahlah.

Yang jelas, Aku mencintainya. Ah, kami juga dikaruniai satu buah hati yang mungil. Sejenak, rumah tangga ini terlihat normal seperti rumah tangga pada umumnya. Namun, apakah itu akan kelihatan sama lagi setelah aku bilang dia tidak mencintaiku? Bahwa dia memiliki trauma masa lalu yang membuatnya menjadi sosok misterius? Apakah kita bisa melaluinya bersama? Apakah akan ada masa depan bagi kami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herma Wong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghilang

Satu bulan telah berlalu sejak pemakaman Yuriska. William kembali bekerja hanya sehari setelah proses

pemakaman Yuriska. Ia hampir selalu pergi sebelum aku terbangun dan kembali setelah Camilla dan aku tertidur. Ia benar benar bertransformasi menjadi workaholic akut. Aku sadar William masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka hatinya namun melihatnya yang menghindariku seperti itu membuatku sedih dan kecewa. Aku bahkan tidak memiliki kesempatan mengabari kehamilanku dan jujur… sikap William membuatku semakin ragu mengabarkan kehamilanku

Bagaimana jika berita kehamilanku membuatnya shock? Ia mungkin masih belum siap menerima kehadiran ‘orang baru’ setelah kematian orang yang paling ia kasihi. Gagasan ini membuatku mati kutuk

Aku sengaja bangun lebih awal dua jam di hari minggu. Tanpa menunda lebih lama, aku berjalan menuju kamar tamu. Semula aku ragu membuka pintu kamar William namun aku memutuskan membukanya apalagi setelah menyadari pintunya tidak dikunci

William mematikan lampu kamar. Aku bahkan perlu ekstra hati hati untuk menemukan saklar lampu agar tidak membangunkan William. Fiuhh, akhirnya aku berhasil menyalakan lampu kecil di dekat televisi. Aku tidak yakin apakah pilihanku masuk ke dalam kamarnya merupakan keputusan yang benar karena pada detik berikutnya penampakan kamar itu membuatku tidak berkutik

Jendela kamarnya terbuka. Disisi kanan nakas meja terdapat dua botol alcohol yang telah habis sementara di kasur William berserakkan foto kebersamaan William dan Yuriska yang belum pernah kulihat sebelumnya. Beberapa foto tersebut menunjukkan bahwa mereka hampir mengelilingi seluruh benua

Air mataku jatuh pada detik berikutnya. Aku tahu.. aku sadar betul bahwa William masih berkabung. Ia mungkin masih dalam masa transisi namun entah mengapa aku tidak bisa menahan rasa sakit di hatiku. Ia kelihatan begitu hancur. Lihat bagaimana ia kehilangan berat badan. Kupikir Ia mungkin kehilangan lima sampai enam kilo hanya dalam satu bulan. Wajahnya kelihatan pucat dan letih. Apakah ini adalah efek samping usai kematian seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya atau… seseorang yang mungkin masih memegang peran penting dalam hidupnya?

Alarm William bunyi mendadak. Ia menggerakan tubuhnya. Huh, ini bahaya. Bagaimana jika William menyadari

keberadaanku? Aku bergegas membalikkan badanku, berencana untuk segera melarikan diri namun William lebih dahulu menyadari keberadaanku. Ia berdeham pelan

“Kattie?” panggil William dengan suara seraknya selepas bangun tidur

Huh!

Aku menyeka air mataku sambil memaksakan senyum tipis. Aku harus bersikap normal. Harus!

Aku membalikkan badanku sambil melambaikan tanganku,“Hi!”

William mengucek kedua matanya sambil melirik alarm nya di nakas meja. Ia kemudian menatapku lagi dengan gelagapan pada detik selanjutnya. Mungkin ia baru benar benar menyadari aku sedang berada di kamarnya. Ia berusaha menutup foto foto tersebut menggunakan selimut sambil bertanya,“Kenapa kamu bangun begitu cepat? Ada apa?”

“Aku pikir ingin mempersiapkan sarapan untukmu. Tapi aku mau memastikan apakah kamu masih ada di rumah,” kilahku

“Ah, sorry,Kat. Sepertinya untuk sementara waktu aku tidak akan sempat ikut sarapan. Aku sedang sibuk handle beberapa project penting perusahaan dan pasti akan lembur terus,”

Entah mengapa firasatku mengatakan William sedang berbohong

“Ah, benarkah? Apakah kamu bahkan akan lembur di hari minggu?”

“Setiap hari,Kattie. Maaf. Kamu…tidak marah kan?”

Aku tidak langsung menjawab. Marah? Tidak.. aku tidak marah. Apakah aku bahkan punya hak untuk marah? Aku hanya merasa… kecewa. Ini tidak adil. Bukankah kita sudah sepakat untuk mengusahakan hubungan ini? Mengapa ia tidak mau membagi sedikit rasa sakitnya padaku? Kita bisa menjalaninya bersama-sama, bukan?

“Apakah kamu juga tidak akan punya waktu minggu depan?” tanyaku yang langsung dibalas anggukan kepala oleh William

“Apakah kamu akan sibuk dua minggu depan lagi?”

William mengangguk. Aku berusaha tersenyum kemudian kembali melanjut,“Kalau bulan depan? Apakah kamu akan sibuk sampai itu?”

William tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu tarikan napas sebelum menjawab,“Kupikir aku akan sangat sibuk sampai waktu yang tidak ditentukan. Tiga atau empat bulan lagi mungkin?”

Aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak tertawa getir. Kejam.. kejam kamu,William. Apakah aku hanya perlu memberitahu kehamilanku saat anak ini lahir? Aku mengepalkan jemariku, mencoba untuk menahan perasaan dan raut wajahku dihadapan William

“Ah.. I see.. jadi kamu tidak akan ada waktu untuk kami sampai beberapa bulan kedepan?”

Aku sengaja menanyakannya sekali lagi. Sebenarnya.. aku hanya ingin berharap William menyadari kegelisahanku atau setidaknya memberikan waktunya hari ini saja untuk Camilla dan aku namun rupanya kami memang masih menempati urutan terakhir dalam hidup William. Aku tersenyum getir ketika William mengangguk dengan pasrah. Huh, ini sangat menyakitkan namun aku masih harus berpura pura tersenyum dihadapan William

Aku melipat rambutku ke belakang telinga sambil berjalan menutup jendela kamar William. Ketika membelakanginya seperti ini, aku bergegas menarik napas kuat, mencoba menguatkan diriku sebelum kembali menatap William

“Kamu akan berangkat ke kantor jam lima kan? Ini masih jam tiga. Apakah artinya aku masih boleh menyiapkan sarapan untukmu?”

“Kattie….,aku…,”

William kelihatan ingin menolak namun ia mungkin segan menolaknya. Ia pada akhirnya menganggukan kepalanya, yang justru jantungku bak teremas. Bahkan sulit baginya untuk menerima sarapan buatanku apalagi jika aku memaksanya untuk memberi sedikit waktunya bagi kami. Ironis. Mengapa aku merasa seperti ini lagi? Perasaan familiar yang penuh duka, rasa sakit hati, insecure dan takut? Mengapa harus ini setelah waktu yang kami habiskan bersama sebelum Yuriska meninggal?

“Aku mau masak nasi goreng dan omellete. Kamu.. ngga keberatan kan?” tanyaku dengan

nada suara bergemetar tanpa kusadari. ****! Aku berusaha menyamarkannya dengan tawa canggung setelah itu

“Anything is fine,” jawab William sambil bangkit dari kasurnya

Ia kelihatan ingin berjalan mendekatiku. Namun aku tidak tahu mengapa aku langsung berjalan menjauhinya. Aku bergegas berjalan mendekati pintu. Sikapku yang diluar ekspetasiku membuatku sesak. Tragis.. mungkin hubungan kami akan berakhir seperti dulu lagi

“Ah, okay. Aku akan mempersiapkannya sekarang. Bagaimana dengan jus jeruk?”

“Boleh. Apapun itu,”

“Oh okay. Mm, apakah aku perlu membuang itu?”

Aku menunjuk dua botol alcohol William yang membuat William tersenyum kikuk. Ia menggelengkan kepalanya kemudian bergegas menaruh dua botol itu kedalam kemasan

“Kattie, aku mungkin akan free beberapa jam di minggu depan. Kamu mau jalan jalan kemana nanti?” tanya William setelah meletakannya di tong sampah kamar

Aku tidak tahu mengapa aku menggelengkan kepalaku pada detik berikutnya tanpa banyak berpikir. Apakah ia merasa tidak nyaman karena aku seolah menuntut waktu darinya? Apakah karena itu dia menawarkan beberapa jam dari waktunya itu padaku? Huh, sejak kapan aku kembali menjadi semenyedihkan ini lagi? Aku mengigit bibirku cukup keras, mencoba menahan air mataku. Aku tidak boleh menangis. Oke?! Aku tidak boleh menangis kalau aku tidak ingin kelihatan super tolol di hadapan William saat ini

“Aku baru ingat aku ada janji dengan Karen minggu depan. Dia ingin membahas tentang rencana masa

depannya dengan pacarnya. Mereka berencana menikah,” ucapku berusaha terdengar menyakinkan

William hanya mengangguk ria tanpa berniat menanyakan kapan aku punya waktu luang lain. Sikap sederhana yang tidak berhenti menolerkan luka di relung hatiku

“Aku.. mungkin akan dinas juga dalam bulan ini,” ucap William hati hati. Tatapannya yang penuh kehati-hatian juga membuatku menghela napas pelan. Mengapa William membuatnya begitu ketara sih? Dia ingin jarak diantara kami bukan? Huh?

“Kemana?”

“Tokyo dan Bali. Bulan depan mungkin aku akan dinas ke Brunei dan Vietnam,”

“Wah, kamu benar benar orang sibuk. Aku tidak tahu kamu sesibuk ini sebelumnya,”

Aku menyindir dengan halus sambil tertawa kecil. Kuharap sedikitnya William mengerti namun aku malah menemukannya tersenyum tipis sambil membalas,“Aku akan meminta dinaikan gaji 2x lipat bulan ini sebagai gantinya,”

Aku tahu William bercanda. Ia ingin mencairkan situasi ini namun… aku sudah terlanjur jatuh ke dalam perasaan familiar ini lagi. Aku memutar mataku sambil menghembuskan napas pelan. Sebenarnya aku agak ragu mengungkapkan ide gila yang telah kupikirkan selama beberapa hari terakhir ini. Aku bahkan masih mempertanyakannya pada diriku sendiri hingga detik ini.. apakah aku boleh mengajukan ide gila ini pada William? Namun.. melihat sikapnya hari ini membuatku memberanikan diri mengambil keputusan ini

“William…,”

William mengangguk, menungguku ucapanku. Ia mengambil satu langkah mendekat. Kedua tangannya berada dalam saku celana. Tatapan dan penampilannya yang acak-acakan berusaha kunikmati pada detik ini sebelum aku…

“Aku akan tinggal di rumah mama selama beberapa waktu,” lanjutku membuat William tertegun. Ia kelihatan terkejut dan tidak menyangka ide gilaku ini

Aku melanjut,“Aku menyadari bahwa kamu butuh ruang dan waktu sendiri. Aku tidak mau kamu buru buru bangun lebih awal dan pulang larut hanya demi menghindari keberadaanku,”

William mengerjapkan matanya tidak percaya. Ia kelihatan gugup

“Kamu tahu… kamu hanya perlu memberitahuku untuk pergi. Kamu tidak perlu membuatnya begitu nyata,” lanjutku sambil berusaha tertawa namun… gagal

William menggelengkan kepalanya. Pada detik berikutnya aku telah menemukannya mengengam pergelangan tanganku. Tatapannya yang penuh kekhawatiran itu berusaha kuabaikan sepenuhnya

“Kat, kamu ngga serius kan? Kamu…,”

“Aku serius,William,”

William mulai kelihatan gelagapan. Ia berusaha membujukku dengan berkata,“Kat, maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu merasakan seperti itu. Aku memang memiliki beberapa project penting di kantor. Aku janji aku akan menyisihkan waktu untuk kalian,hm?”

“Kita butuh waktu dan ruang. Aku tidak mau menyiksamu lebih lama lagi…,”

“Kamu nggak menyiksaku,Kattie. Percayalah. Kamu…,”

“Maaf, William. Keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap membawa Camilla mengungsi ke rumah orang tuaku. Dan.. kuharap kamu tidak menjemput kami lagi. Tidak sampai kamu benar-benar…sudah selesai healing dengan masa lalu kamu,”

William mengacak rambutnya frustasi. Mungkin ia tidak menyangka aku akan mengambil jalan ini. Ia menatapku dengan tidak percaya. Pada detik berikutnya aku menemukan sorot terluka yang terpancar di matanya

“Apakah kalian akan meninggalkanku juga?”

Aku berusaha menahan air mataku, sungguh. Namun aku tidak tahu mengapa bulir mata itu masih jatuh. Sialan… aku menyekanya namun air mata itu jatuh lagi

“Kami tidak meninggalkanmu,William. Kami hanya memberimu waktu untuk pulih,”

“Kamu bohong!”

“Sebenarnya aku ingin berada disisimu. Aku ingin kamu membagi separuh rasa sakit dan sedihmu padaku. Kita bisa menjalaninya bersama-sama namun.. sepertinya kamu\ lupa bahwa aku ada disini. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri…,”

William mengumpat kali ini. Ia mengumpat terhadap dirinya sendiri. Ia menatapku dengan kedua mata memerah. Namun tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatiku. Ini akan menjadi bagian dalam hidupku. Aku tahu ini akan menyedihkan. Aku mungkin akan sedikit lebih merindukannya dari biasanya, keinginan untuk bertemu dan

berkomunikasi dengannya mungkin akan menjadi sedikit lebih banyak, kerinduan akan moment bersama kami mungkin akan menjadi sedikit lebih besar dari sebelumnya namun aku harus mengambil resiko atas hubungan kami

Aku memberinya waktu untuk berdamai dengan masa lalu dengan harapan kami akan memiliki hubungan yang lebih stabil kedepannya. Semoga saja aku benar. Dan..jikalau ini gagal… mungkin takdir kami hanya akan berakhir disini. Pada akhirnya.. kami akan game over bukan?

“Kattie, maaf… Aku tahu aku begitu egois tapi… bisakah kamu menunggu? Aku masih butuh waktu,”

“Aku akan tetap menunggumu,William. Aku akan menunggumu di tempat lain. Maaf, aku tidak menginginkan persetujuanmu. Aku akan pergi hari ini meski kamu tidak setuju sekalipun,”

William mengusap wajahnya frustasi. Ia hanya dapat melihatku dengan tatapan lemah dan tidak berdaya. Aku berusaha tersenyum. Aku mengambil satu langkah mundur,“Aku akan menyiapkan sarapanmu dulu,”

William meraih pergelangan tanganku saat aku telah mencapai pinggir pintu. Ia tidak mengutarakan apapun namun aku tahu ia berharap aku mengubah pikiranku. Aku hanya dapat tersenyum sambil menarik tangannya menjauh. Aku tidak tahu bagaimana tampilan luarku saat ini. Aku mencoba untuk tersenyum namun sulit.

Aku tidak mau menangis namun kedua mataku berkaca-kaca terus. Jemari tanganku juga mendingin

“Kat, please….,”

Aku menggelengkan kepalaku tegas,“Jawabanku masih sama. Aku akan tetap menunggumu di tempat lain. Tapi.. jangan membuatku menunggu terlalu lama. Kamu tahu menunggu itu tidak enak kan?”

Perkataanku mengakhiri pembicaraan kami hari ini. Tidak ada kecupan manis atau pelukan hangat. Tidak ada lambaian tangan serta perkataan manis lainnya. Aku meninggalkan William dengan kedua mata berkaca-kaca sementara ia hanya berdiri disana sampai aku benar benar menutup pintu kamarnya. Aku membiarkan air mataku jatuh sambil menatap gagang pintu kamar William dengan perasaan terluka. Jujur.. aku tidak tahu dan tidak berani menebak kapan kami akan bertemu lagi atau kapan William akan benar benar berhasil mengatasi masa lalunya. Hal yang dapat kulakukan hanya menatap gagang pintu kamarnya sambil menangis dalam diam

Sampai bertemu hingga suatu hari lagi nanti,William.

***

1
Wardah Mtr
si Katty terlalu lemah , cepetnya Nerima liam padahal dah di tinggal 1 tahun tanpa ada kabar sama sekali
Popi Noviani
apakah othornya sedang semedi? up dong atau klo pindah kasih tau dong pindah kemana
Popi Noviani
wajar kattie penuh curiga sm william...kattie sudah terluka terlalu dalam...bukannya wajar melindungi dirinya dari sakit yg lebih parah?
yaniDanang: yuk kak mampir jg, Mantan Suami klik profil🙏😘
total 1 replies
Nur Hamidah
min where are you 😭
kiri_kanan
thanks thor udah bikin aku nagis bombay..😭😭😭
kiri_kanan
nyesek bngt baca novel ini....tp aku suka ceritanya...
Itang Fadlisyuslin
suka sama jalan ceritanya
Itang Fadlisyuslin
cerita kaleidoscopic di lanjutkan juga di sini @hermawong....terimaksih cerita fool again di sini
Fitri Ristina
thor.....kami pembacamu masih nunggu lanjutannya lho...
Abdillah 104
mana ini kelanjutannya author... please please please up dong 💪
Natt
:')))
Adam Handoko
kok sampe skrng gk da kelanjutannya thorr
Ian.antari
nunggu update an 🤭🤭
Natt
authornya kebiasaan ngilang
Nanci Hina
yach..aku sllu nunggu upnya lho thor
Muh fail bahali Tharggeett
hmmmm kangen🥰 ka kapan update lagi
Devy
up lagi dong Thor... udah nungguin banggeeeetttt...
Kundari
by kattie hmmttttt
Nur Hamidah
hi kak, ??
vina nissah
kapan update lagi ya kak? kangen sama kattie and William
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!