NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Puing-Puing Kebenaran dan Pilihan Terakhir

Suasana di dalam ruko kecil itu seketika membeku pasca-ledakan kebenaran yang dilontarkan oleh Clarissa. Pekikan histeris Viona Adeline yang terdengar pilu seakan menyayat dinding-dinding kayu bangunan sederhana tersebut. Wanita itu bersimpuh di lantai marmer yang dingin, menangis sejadi-jadinya sambil mendekap erat perutnya yang kian membuncit. Janin berusia empat bulan di dalam rahimnya menjadi satu-satunya alasan mengapa Viona masih berusaha mempertahankan kesadarannya yang nyaris runtuh.

Di depannya, Arkan Mahendra berdiri terpaku bagai patung bernyawa. Proporsi tubuh atletisnya setinggi 187 cm yang biasanya memancarkan aura dominan dan mengintimidasi, kini tampak rapuh dan goyah. Rahang tegasnya bergetar hebat, dan sepasang mata hitam kelam yang biasanya sedingin es kini memancarkan badai keputusasaan, penyesalan, dan kehancuran yang mutlak.

Fakta bahwa ayah kandungnya sendiri, Tuan Besar Mahendra, adalah dalang utama di balik penjebakan, korupsi palsu, hingga kematian tragis ayah Viona, benar-benar meremukkan ego sang CEO hingga ke kepingan terkecil. Hubungan kontrak yang selama ini ia bangun untuk melindunginya, ternyata bermula dari konspirasi berdarah keluarganya sendiri.

"Bagaimana, Arkan? Sakit, bukan?" Clarissa melangkah maju setapak, senyuman kepuasan yang dingin terukir jelas di wajah cantiknya yang angkuh. Wanita konglomerat itu menatap Arkan dan Viona bergantian dengan pandangan penuh kemenangan. "Selama ini kau mengira kau adalah penyelamat jalang kecil ini. Tapi kenyataannya, kau hanyalah pion yang meneruskan siksaan ayahmu pada keluarga Adeline. Darah pembunuh mengalir di tubuhmu, Arkan!"

"Cukup, Clarissa! Tutup mulutmu!" bentak Arkan dengan suara bariton yang bergetar rendah karena menahan amarah yang luar biasa pekat. Aura di sekitar pria itu mendadak turun drastis, berubah menjadi sangat kejam dan haus darah. Tatapan matanya mengunci Clarissa dengan kilat kebencian yang mematikan. "Kau tahu segalanya tapi sengaja menyembunyikannya demi mengikatku dalam transaksi bisnis sialan ini!"

"Tentu saja," sahut Clarissa tanpa rasa takut, melirik dua pria asing bersenjata di belakangnya. "Tapi semua sudah terlambat. Jalang itu sudah tahu kebenarannya, dan dia tidak akan pernah sudi melihat wajahmu lagi. Sekarang, pilihannya ada di tanganmu, Arkan. Kembali ke Jakarta bersamaku untuk meresmikan pertunangan kita, atau aku akan memastikan wanita ini dan anak haram di rahimnya menghilang dari dunia ini selamanya!"

Mendengar ancaman pembunuhan yang ditujukan pada Viona dan calon anaknya, insting posesif dan protektif Arkan langsung menyala hebat. Tanpa memedulikan egonya yang hancur, Arkan berbalik dengan cepat dan berlutut di depan Viona. Pria itu meraih kedua telapak tangan Viona yang dingin dan bergetar, menggenggamnya dengan begitu erat seolah takut wanita itu akan menguap jika ia melepaskannya.

"Viona... demi Tuhan, tatap aku, Viona..." bisik Arkan dengan suara yang parau dan sarat akan kecemasan mendalam. Air mata yang tidak pernah runtuh sejak ia dewasa, kini mengambang di pelupuk mata kelam sang CEO. "Aku tidak tahu apa-apa tentang rencana busuk Ayah. Aku bersumpah demi nyawaku, aku mengikatmu dalam kontrak semata-mata karena aku ingin melindungimu setelah dewan direksi mulai mengendus kasus ini. Aku mencintaimu, Viona... Aku mencintai anak kita..."

Viona mendongak perlahan, menatap wajah Arkan dari balik kabut air matanya. Penderitaan emosional atau angst yang ia rasakan telah mencapai batas maksimal. Di satu sisi, buku harian ayahnya membuktikan bahwa Arkan bertindak sebagai pelindung. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa Arkan adalah putra dari pria yang mendorong ayahnya menuju kematian tragis membuat dadanya terasa bagai dihantam godam besar. Rasa bersalah, cinta, dan benci bercampur aduk menjadi racun yang mematikan di dalam hatinya.

"Bagaimana... bagaimana bisa aku menatapmu tanpa mengingat kematian Ayah, Arkan?" lirih Viona dengan suara sepelan bisikan yang sarat akan kerapuhan. Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Arkan, menciptakan jarak tak kasat mata yang menghancurkan hati sang CEO. "Setiap kali aku melihat wajahmu, aku akan teringat bahwa darah pembunuh mengalir di rahimku..."

Kata-kata Viona laksana belati yang menghunjam tepat di ulu hati Arkan. Penyesalan sang CEO (CEO's regret) kini benar-benar terasa bagai neraka jahanam. Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.

Namun, sebelum drama emosional itu berlanjut, Clarissa memberikan isyarat kepada salah satu pengawalnya. Pria berbadan kekar itu melangkah maju dan mengokang senjata apinya, mengarahkannya tepat ke arah Viona.

Klik.

"Waktumu habis, Arkan. Berdiri dan ikut aku, atau biarkan peluru ini menembus kepala jalangmu!" pekik Clarissa dengan mata yang berkilat gila akibat cemburu dan dendam yang membakar kewarasannya.

Melihat moncong senjata mengarah pada Viona, Arkan tidak berpikir dua kali. Sifat dominan dan protektifnya bangkit seketika. Arkan langsung berdiri dan pasang badan, memposisikan tubuh tegapnya tepat di depan Viona, memblokir seluruh jalur tembakan dengan tubuhnya sendiri. Tim keamanan privat Arkan yang berada di luar ruko langsung merangsek masuk dengan senjata siap tembak, menciptakan situasi kecemasan konstan yang siap meledak menjadi baku tembak.

"Jika kau berani menyentuhnya seujung kuku pun, Clarissa... aku pastikan kau tidak akan pernah keluar dari kota ini dalam keadaan hidup," desis Arkan dengan suara bariton yang sedingin es dan sarat akan ancaman mutlak.

Di tengah kebuntuan yang menegangkan itu, sebuah plot twist lain yang teramat gelap kembali terkuak dari bibir Clarissa. Wanita itu tertawa sinis, tidak gentar sedikit pun dengan kepungan tim militer privat Arkan.

"Kau pikir tim keamananmu bisa menyelamatkannya, Arkan?" Clarissa mengeluarkan sebuah alat pemicu kecil dari tas mewahnya. "Ayahmu, Tuan Besar Mahendra, sudah tahu kalau kau melacak keberadaan wanita ini. Beliau tahu kau membatalkan transaksi bisnis demi jalang ini. Dan tebak apa? Ayahmu sendiri yang memerintahkan orang-orangku untuk memasang bom waktu di klinik tempat ibu Viona dirawat dan di bawah lantai ruko ini! Ayahmu ingin melenyapkan Viona dan ibunya agar rahasia masa lalunya terkubur selamanya! Beliau bahkan tidak peduli kalau kau ikut mati di sini, Arkan! Bagi ayahmu, nama baik Mahendra Group adalah segalanya!"

Duar!

Sebuah ledakan kecil terdengar dari arah klinik yang berjarak beberapa ratus meter dari ruko, disusul oleh suara sirene yang mulai meraung di kejauhan. Wajah Viona seketika memucat tanpa menyisakan darah saat menyadari ibunya berada di klinik tersebut.

"Ibu...!" pekik Viona histeris, mencoba berdiri namun tubuhnya yang lemas membuatnya kembali terjatuh.

Arkan tidak membuang waktu lagi. Sifat posesifnya berganti menjadi aksi heroik yang nekat. Ia berbalik, langsung mengangkat tubuh ramping Viona ke dalam gendongannya secara paksa, mengabaikan segala protokol keamanan.

"Serang mereka! Amankan area!" perintah Arkan mutlak kepada tim privatnya saat tembakan pertama mulai meletus di pekarangan ruko.

Arkan berlari kencang menerobos koridor luar sambil mendekap erat Viona yang menangis histeris di dadanya. Pria itu menggunakan tubuh atletisnya sebagai tameng hidup demi melindungi Viona dan janin di rahimnya dari pecahan kaca dan peluru yang mulai berterbangan. Badai bahaya dan konspirasi busuk keluarga Mahendra kini benar-benar mengancam nyawa mereka berdua, memaksa sang CEO posesif dan wanita pelariannya bertaruh nyawa di batas keputusasaan.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!