Ini kisah fiktif. Berlatar belakang jaman keraton Mataram Islam. Selain para pendekar di lingkungan keraton, sebenarnya banyak pendekar sakti yang tidak mau berhubungan dengan keraton. Salah satunya Lintang Rahina, pendekar muda yang sakti namun tidak mau berurusan terlalu jauh dengan keraton.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 080818, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meningkatkan Tenaga Dalam II
"Cukup anak muda," kata Ki Ageng Arisboyo.
"Kalau boleh aku tahu, siapa namamu dan dari mana asalmu anak muda ?" tanya Ki Ageng Arisboyo.
"Saya Lintang Rahina, Ki. Saya berasal dari gunung Merbabu, cucu dan sekaligus murid dari Ki Penahun," jawab Lintang Rahina.
"Penahun ? Ha ha ha ha......sudah aku duga. Aku seperti kenal ilmu tangan kosongmu," kata Ki Ageng Arisboyo sambil tertawa.
"Kenalkan, aku Ki Ageng Arisboyo, kakekmu pasti kenal, kalau belum pikun ha ha ha....Itu cucuku satu satunya. Namanya Sekar Ayu Ningrum. Awas.....kamu harus hati hati padanya, dia sangat galak ha ha ha...." sambung Ki Ageng Arisboyo.
Mendengar kata kata kakeknya, Sekar Ayu Ningrum hanya bisa melotot matanya dan memonyongkan bibirnya.
"Kamu hendak kemana dan kenapa bisa sampai di pesisir Parangtritis ini ?" tanya Ki Ageng Arisboyo lagi.
"Saya mengembara tidak tentu arah Ki. Saya kesini karena penasaran mendengar seperti ada suara pertempuran. Ternyata adik Sekar yang sedang berlatih," jawab Lintang Rahina.
"Terus malam ini kamu mau kemana ?" tanya Ki Ageng Arisboyo lagi.
"Tidak tahu Ki. Mungkin menunggu datangnya pagi di pantai atau di atas tebing itu," jawab Lintang.
"Ha ha ha ha....Baiklah. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut pulang ke rumahku. Kita ngobrol sambil menunggu pagi," ajak Ki Ageng Arisboyo.
"Terimakasih Ki. Saya menunggu di tebing saja," Jawab Lintang.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Besok pagi kita bertemu lagi. Ayo nduk, Sekar, kita pulang dulu. Sampai ketemu lagi esok pagi anak muda," kata Ki Ageng Arisboyo yang karena sangat tinggi ilmu meringankan tubuhnya, sehingga nampak seperti menghilang.
"Permisi," pamit Sekar Ayu Ningrum yang langsung melesat menyusul kakeknya.
Tinggalah Lintang Rahina sendirian. Setelah beberapa saat terdiam sambil memandangi pantai, kemudian Lintang Rahina dengan cepat melesat ke arah tebing. Sesampainya di tebing, Lintang Rahina mencari tempat yang nyaman untuk menggelar alas untuk bersila.
Lintang Rahina duduk bersila sambil memandang datangnya ombak yang tiada habisnya.
Tiba tiba Lintang Rahina tersenyum sendiri teringat kejadian tadi. Yang dituduh mengintip sampai melakukan pertempuran dengan seorang gadis dan juga dengan kakeknya. Lintang Rahina juga baru menyadari, betapa cantiknya gadis tadi dengan pakaian bergaya pendekar wanita. Tetapi dengan segera Lintang Rahina menepis bayangan dan ingatan tentang gadis tadi dengan segera memejamkan matanya untuk bersemedi.
Tidak lama kemudian Lintang Rahina tenggelam dalam istirahatnya dengan bersila semedi.
Walaupun tidak terluka, tetapi Lintang Rahina merasa lelah setelah mengeluarkan tenaga dalam yang lumayan banyak.
Sehingga dengan duduk bersila beristirahat, Lintang Rahina yakin besok pagi tenaganya akan pulih kembali.
--- 0 ---
Menjelang pagi, walaupun matahari belum menjatuhkan sinarnya ke bumi, tetapi langit sudah tampak terang.
Lintang Rahina tampak sudah berdiri di tepi pantai. Kakinya kadang terkena aliran ombak sampai dengan mata kaki.
Pandang matanya tajam menatap ke arah lautan lepas. Sejenak, Lintang Rahina tenggelam dalam suasana.
Lintang Rahina selalu merasakan kedamaian saat berada di pantai, memandang datangnya ombak yang silih berganti tak pernah putus. Dan hembusan angin yang menggoda telinga seolah olah mengajak bercengkerama.
Suasana damai pun selalu Lintang Rahina dapatkan, tatkala diajak eyangnya ke puncak gunung. Memandang lembah yang jauh di bawahnya. Dengan angin yang berhembus, membelai lembut daun daun cemara.
Sampai kemudian Lintang Rahina mendengar suara wanita di belakangnya.
"Kakang Lintang, ditunggu kakek di rumah," teriak Sekar Ayu Ningrum nyaring.
Lintang Rahina yang kaget karena asyik menikmati suasana pantai sampai tidak mendengar kehadiran orang lain di dekatnya.
"E e e.... iya .... adik....Se...sekar. Saya segera kesana," jawab Lintang dengan gugup.
Sekar Ayu Ningrum yang masih di belakang Lintang Rahina dalam jarak sepuluh meteran, sebenarnya diam diam merasa kagum pada Lintang Rahina.
Ilmunya tinggi, mampu mengimbanginya bahkan mungkin bisa mengalahkannya. Wajahnya tampan dengan sorot mata serius. Badannya tegap. Dan keihatannya baik, dalam artian bukan orang jahat.
"Adik Sekar......adik Sekar.....kenapa masih di sini ? Saya kira sudah pulang duluan," tanya Lintang Rahina mengagetkan Sekar Ayu Ningrum karena tiba tiba berada di dekatnya.
"Eh...e e e...anu...kalau saya tinggal, kakang Lintang tidak tahu rumah kakek," jawab Sekar Ayu Ningrum sambil segera membalikkan badan dan kemudian melesat pergi dari hadapan Lintang Rahina.
Mau tidak mau akhirnya Lintang Rahina segera ikut melesat meninggalkan pantai, mengikuti Sekar Ayu Ningrum.
Sebentar saja mereka sampai di rumah Ki Ageng Arisboyo yang memang tidak terlalu jauh dari pantai Parangtritis.
Ternyata Ki Ageng Arisboyo sudah menunggu sambil duduk di teras.
Segera saja Lintang Rahina mendekat ke Tempat Ki Ageng Arisboyo.
"Maaf, membuat Ki Ageng menunggu," ucap Lintang Rahina meminta maaf.
"He he he he.....tidak apa apa. Aku juga baru saja duduk," jawab Ki Ageng Arisboyo sambil tertawa.
"Duduklah Lintang. Ada beberapa hal yang ingin kakek tanyakan padamu," kata K Ageng Arisboyo lagi.
Lintang Rahina hanya mengangguk mendengar perkataan Ki Ageng Arisboyo.
"Lintang, yang tinggal bersama kakekmu, Ki Penahun, hanya kamu ?" tanya Ki Ageng Arisboyo.
"Iya Ki. Karena hanya saya cucunya, tidak ada yang lain lagi," jawab Lintang Rahina.
"Maukah kamu belajar mengendalikan dan mengolah tenaga dalam agar lebih sempurna lagi ?" tanya Ki Ageng Arisboyo.
"Kalau Ki Ageng berkenan, saya bersedia Ki," jawab Lintang Rahina.
"Baiklah. Dalam beberapa hari kamu tinggal di sini dulu. Sekarang kita masuk, kita sarapan dulu. Sudah disiapkan oleh cucuku," kata Ki Ageng Arisboyo sambil beranjak masuk ke rumah.
Lintang Rahina hanya bisa mengikuti Ki Ageng Arisboyo masuk ke rumah. Pikirannya penuh dengan rasa penasaran tentang mengendalikan dan mengendalikan tenaga dalam yang lebih sempurna lagi.
Kemudian, dalam beberapa minggu, selama di rumah Ki Ageng Arisboyo, selain dilatih oleh Ki Ageng Arisboyo, Lintang Rahina juga sering berlatih tanding dengan Sekar Ayu Ningrum. Terkadang, Lintang Rahina juga memberi masukan pada Sekar Ayu Ningrum, sehingga Sekar Ayu Ningrum pun juga mengalami peningkatan yang pesat pada penguasaan dan pemahaman ilmu silat dan tenaga dalamnya.
Mereka berlatih tidak hanya di halaman rumah. Terkadang Ki Ageng Arisboyo mengajak berlatih di pantai, kadang juga berlatih di atas tebing. Waktu latihan pun juga menyesuaikan kebutuhan. Kadang pagi pagi sekali, kadang di siang hari saat terik teriknya, kadang malam hari. Karena memang tujuan latihan mereka untuk melatih mengendalikan tenaga dalam mereka. Selain itu juga melatih menyerap energi alam untuk kemudian dirubah menjadi tenaga dalam.
Seperti halnya pada suatu pagi buta. Lintang Rahina sedang mendapatkan arahan dan petunjuk dari Ki Ageng Arisboyo.
"Lintang, coba perhatikan dan berusaha kamu pahami, perbedaan cara mengolah dan menyalurkan tenaga dalam menjadi energi pukulan," Kata Ki Ageng Arisboyo sambil memberikan contoh gerakannya.
\_\_\_ 0 \_\_\_