Tok ... tok ... tok ...
Apa yang akan kalian lakukan jika ada yang mengetuk pintu utama rumah kalian malam-malam? Membiarkannya atau beranjak untuk membukanya. Saranku lebih baik kalian acuhkan saja daripada membukanya. Aku tidak mau kejadian yang kualami terjadi pada kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Nyonya Nia sedang menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk ritual pengusiran jiwa malam nanti.
Dia sedang memasukan garam ke dalam kendi lalu menutupnya dengan kain, membungkus garam dengan kain putih, dan memasukkan air yang sudah dimantrai ke dalam botol. Tak lupa, setangkai daun kelor yang baru dia dapat tadi pagi.
"Nek, maaf Mia terlambat," ujarnya dengan napas terengah.
Gadis itu segera menghampiri Nyonya Nia yang sedang duduk di kursi. Nyonya Nia tersenyum melihat Mia akhirnya datang. Dia sempat khawatir tadi kalau gadis itu tidak bisa datang karena kondisinya.
"Akhirnya kamu datang juga, nenek kira kamu tidak akan bisa datang," ujarnya lega.
"Aku kabur dari rumah sakit," ungkapnya sambil menyengir dan menggaruk bagian belakang lehernya.
"Kenapa kabur? Harusnya kamu meminta izin pada kedua orangtuamu."
"Mereka tidak akan mengizinkanku," ungkapnya memelas.
Nyonya Nia menghela napas pelan. "Kalau begitu, kau masukkan bahan-bahan ini ke dalam tas itu," pintanya sambil menunjuk tas kain yang tergantung di dinding.
"Baiklah." Mia segera mengambil tas itu, lalu duduk di kursi kosong di hadapan Nyonya Nia dan mulai memasukkan bahan-bahannya.
"Nek, bawang putih juga?" tanyanya sambil menggenggam bawah putih di tangan kanannya.
"Jangan, itu untuk memasak besok," jelas Nyonya Nia.
Kini dia sedang mencuci keris di tangannya dalam baskom. Bisa dibilang sedang dimandikan.
"Ooh, maaf," ujar Mia lalu menyimpan bawang itu kembali.
"Lagipula sosok itu bukan vampir," gumamnya memberi tahu.
"Memang di dunia ini ada vampir?" tanya Mia tidak percaya.
"Ada saja, jika jiwa itu bekerja sama dengan siluman," jawab Nyonya Nia.
"Aku baru tahu."
"Sosok yang merasuki temanmu itu, dia jiwa yang lupa siapa dirinya."
Mia menatap Nyonya Nia bingung. Dia tidak mengerti yang dikatakan wanita itu padanya. "Maksud nenek?"
"Jiwanya direnggut paksa oleh makhluk dari dunia lain."
"Aku masih belum mengerti."
"Dulu dia manusia biasa seperti kita, tapi karena kesalahan yang tak sengaja dia buat, jiwa nya jadi terjebak di alam lain."
Aku tetap belum mengerti, batin Mia menangis.
"Nanti saat kau membawa temanmu kembali, jangan membuat kesalahan yang sama seperti sosok itu," ucapnya menasehati.
"Baik, Nek." Mia menganggukkan kepalanya pura-pura mengerti, padahal dia sama sekali tidak mengerti. Yang dia tahu hanya Ahra dirasuki oleh hantu. Itu saja!
"Ayo cepat! Hari sudah malam, bulan purnama sudah terlihat."
Nyonya Nia memasukkan kerisnya ke dalam tas kain itu, setelah selesai mencuci, memandikan, atau mensucikan keris itu.
"Bukankah nenek bilang makhluk sepertinya akan menjadi lemah saat bulan purnama?" heran Mia.
"Justru karena itu, dia akan menjadi lebih gila," jelasnya dengan sedikit penekanan. "Dia akan kehausan, bahkan kelaparan," lanjutnya.
"Apa yang dia minum dan dia makan?"
"Darah manusia dan jiwa orang-orang."
"Bukankah itu terdengar seperti vampir?"
"Vampir itu rakus, sedangkan dia masih ada akal untuk memilih korbannya."
"Lalu--"
"Sudahlah jangan bertanya dulu," pinta Nyonya Nia. "Sebaiknya kita segera bertemu dengan Ahra."
Nyonya Nia langsung beranjak pergi meninggalkan Mia yang masih duduk di kursi. Mia segera menyusul keluar dari gudang itu.
Gadis itu terlalu banyak bicara, batin Nyonya Nia sedikit mengeluh.
"Lalu bagaimana kita menemukan Ahra?" tanya Mia bingung setelah dia berdiri tepat di samping wanita itu.
Nyonya Nia langsung menghentikan langkahnya. "Bukankah dia ada di rumahnya?"
"Tidak, dia kabur setelah melakukan kekacauan di kantor polisi."
"Kekacauan?"
"Hhm, dia membunuh semua polisi di ruang informasi."
"Ternyata dia lebih berani," gumam Nyonya Nia yang tidak terdengar oleh Mia.
"Kau tenang saja, aku yakin sosok itu akan datang menemui orang yang sering bertemu dengannya," ucapnya yakin.
"Ayo cepat!"
Mia kembali berlari menyusul Nyonya Nia yang kini sudah di depan pintu keluar. Meski kesulitan karena tubuhnya masih merasa sakit.
Mereka segera pergi ke rumah Ahra dengan mobil tetangga yang dipinjam Nyonya Nia tadi pagi. Tak lupa dia mengunci toko sebelum pergi. Di perjalanan mereka larut dalam pikiran masing-masing, sampai Mia bertanya pada Nyonya Nia karena saking penasarannya.
"Apa yang akan kita lakukan nanti?" tanya Mia penasaran.
Ini belum setengah jalan, dan dia kembali bertanya, batin Nyonya Nia meringis.
"Kita akan melakukan ritual pengusiran," jawabnya tetap fokus ke depan menatap jalanan. "Tidak seperti yang lainnya, sosok yang merasuki temanmu itu lebih berbahaya dan sulit untuk dikendalikan. Aku sudah bilang 'kan kalau dia adalah jiwa yang lupa akan dirinya. Atau lebih tepatnya jiwa yang tersesat."
"Bagaimana nenek bisa tahu?"
Mia merasa heran sejak tadi. Kenapa Nyonya Nia tahu semuanya. Tentang siapa yang merasuki Ahra, dan apa yang akan Ahra lakukan. Seolah dia sudah pernah mengalami sebelumnya.
"Karena dulu, aku juga menangani kasus yang serupa," jawabnya.
Ternyata benar, nenek memang pernah melakukan ritual pengusiran ini.
Ooh, apakah cerita itu juga benar? batin Mia menerka. Dia jadi teringat dengan omongan Ahra saat itu.
"Jadi, cerita itu benar," gumam Mia yang tak sengaja terdengar oleh Nyonya Nia.
"Cerita mana?" tanyanya penasaran.
"Ahra pernah bilang padaku, kalau pelayan di rumah teman sekelas kami dirasuki oleh sosok yang akan mengendalikan tubuh sampai mati," jawab Mia yang justru membuat Nyonya Nia terkejut, lebih ke arah khawatir dan sedikit takut. "Bahkan anehnya, teman sekelas kami tidak pernah masuk sekolah lagi."
"Seharusnya ... kau jangan menceritakan itu padaku," lirihnya.
"Memang kenapa?" tanya Mia heran.
"Tidak ada apa-apa, aku harap kau tidak melakukan kesalahan."
Nyonya Nia tidak berniat untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak mau membuat gadis itu tahu akan kebenaran yang dia sembunyikan.
"Baiklah, Mia mengerti," gumam Mia sambil mengangguk.
Aku harap malam ini tidak ada kesalahan apapun, batin Nyonya Nia.
Semoga nenek memang benar-benar bisa membawa Ahra kembali, pinta Mia memohon.
Tak sampai setengah jam, mereka sampai di halaman rumah Ahra. Mereka segera keluar dari mobil, tak lupa membawa tas kain yang berisi bahan-bahan untuk ritual pengusiran. Mereka langsung berjalan ke pintu masuk.
Nyonya Nia berharap, Ahra memang ke sini -ke rumahnya-. Dan tidak akan ada korban satu pun, lagi. Meski ada, ia memohon korban Ahra tidak tewas dan bisa diselamatkan.
"Kenapa pintu rumah Ahra terbuka?" tanya Mia heran saat dia melihat ke arah pintu rumah Ahra.
Mia langsung merasa khawatir sesuatu terjadi pada Nyonya Tiara.
"Gawat!"
Nyonya Nia langsung berlari tergopoh-gopoh, diikuti oleh Mia yang sudah berpikir ke mana-mana. Dia bahkan lupa, jika tubuhnya masih sakit.
Mereka langsung terkejut saat melihat apa yang terjadi di dalam rumah Ahra. Mia langsung berteriak dan berlari masuk ke dalam.
"Tante!"
bagus sekali ceritanya 👍
seremmm weehh tp seruu