follow Ig @rii.ena
Bastian melotot membaca surat yang ada di tangannya, surat cinta yang di terimanya dari anak perempuan berusia dua belas tahun, surat cinta.
" Cih."
Ucapnya jijik.
Bastian melemparkan begitu saja kertas merah jambu itu dilantai, lalu dengan menggunakan sapu dan sekop sampah, Bastian membuangnya ke dalam tong sampah.
Sepuluh tahun setelahnya, Malam setelah mereka menikah, Bastian baru tahu jika perempuan yang baru dinikahinya adalah bocah yang pernah menulis surat cinta padanya.
Apakah Bastian akan menceraikan Istrinya malam itu juga atau Bastian tetap melanjutkan pernikahan itu, secara Bastian sudah tiga kali gagal menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kedatangan Om Joko
Amel benar-benar bosan sudah lima hari cuma dirumah saja, gak ada yang bisa diajaknya ngobrol selain menunggu Bastian pulang dari kampus.
Ngobrol bareng ibu-ibu kompleks ? Hampir setiap pagi ketemu, ngobrol macem-macem terutama ya ngomongin harga-harga sembako yang gak ada turunnya.
Amel mah sudah hapal.
Dari ketika tinggal berdua dengan neneknya, setelahnya ngekost mencari peruntungan melamar kerja kesana kemari, sampai akhirnya berakhir di lamar Bastian, aseek.
Soal harga sembako dari zaman bang, eh Om Iwan fals nyanyi lagu yang judulnya, nama anaknya yang sudah meninggal itu ? Yang salah satu bait-nya, BBM naik tinggi susu tak terbeli, orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi.
Kalau BBM naik, semua kan ikut naik.
Tuh buktinya, Bastian juga ikut naik sampai Amel loyo, hihihi.
Kalau di rumah Om Joko kan Amel gak kesepian, ada Carla yang lumayan cerewet kaya' Om Joko, ada Alif yang bisa di uyel-uyel dan yang pastinya ada Om Joko yang bisa diajak ngomong macem-macem tidak ketinggalan Tante Widuri yang selalu jadi penengah.
Aaaah, Amel rindu mereka tapi gak boleh keluar sama Bastian.
Mas Bas kejaaaammm.
Amel memukuli batal kursi saking bosannya.
Mau mengerjakan pekerjaan rumah, semua sudah beres, lah kamar cuma dua, satu kamar Bastian dan Amel. Satunya masih kosong, mungkin untuk anak mereka yang masih dalam proses pembuatan.
Ruang tamu yang gak pernah ada tamu kecuali kedua orang tua Bastian yang datang tadi malam, ruang keluarga yang merangkap untuk nonton TV. Sekarang justru Amel yang mengacak-acak sendiri, meja makan dan dapur ? Semua sudah beres.
Pakaian juga masih tergantung indah di jemuran sembari melambai-lambai tertiup angin.
" Assalamualaikum "
Amel celingukan.
Kaya' ada yang ngucapin salam
" Assalamualaikum, Melll "
Amel melongokkan kepalanya ke luar pagar.
Eh, bener ada tamu
Amel segera berlari ke luar.
" Alif, Carla, kakak rinduuu...."
Amel segera membuka pagar rumah, mencubit pipi Carla yang cubby dan menciumi pipi Alif seraya mengambil dari gendongan Tante Widuri.
" Mel, jawab dulu sama dari kami "
Tegur Om Joko sambil memasukkan sepeda motornya ke dalam halaman rumah.
" Wa'alaykumussalam, ayo-ayo masuk ! "
Amel membuatkan minuman dan mengeluarkan semua camilan.
" Diminum, Om, Tante, pasti haus kan ? "
" Gak perlu pakai di suruh dah Mel, kaya' gak tahu Om aja "
Om Joko meneguk habis minuman dalam gelasnya, untung Amel membuat air jeruk kasturi-nya satu teko besar, terserah Om Joko kalau mau menghabiskannya, paling juga kembung.
" Eh, tumben main ke mari ? Pada kangen sama aku ya ? "
" Kamu, apa yang dikangenin Mel ? Eh, sebenanya iya sih, gak ada teman Om berdebat. Nah kalau istri Om tercinta ini, tau sendiri. Ngomong gak boleh kenceng-kenceng takut tidur Alif terganggu "
Tante Widuri cuma mesem saja.
Terlihat Om Joko melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya.
" Nunggu siapa Om ? Mas Bas ? Dia pulangnya menjelang ashar, ini Dzuhur saja belum masuk "
" Sudah janji sama Bastian "
" Hah ? Janji ngapain ? Gak selingkuh kan ? Jangan dong Om ! Sama tega sama ponakan sendiri "
Tante Widuri terkekeh.
" Gak doyan Om sama Bastian, cintaku, matahari ku, lebih leziiiittttt, iya kan sayang ? "
Om Joko menowel dagu Tante Widuri yang cuma bisa memutar bola matanya malas.
" Om, lebay ah, memang matahari Om yang punya ? "
Amel mencebik.
Om Joko terkekeh.
" Enggak, gini ceritanya, ada teman Bastian yang mau pindah ke Kalimantan, mau buka hutan baru katanya sebelum Kalimantan bakalan padat penduduk, jadi dia mau duluan, takut gak kebagian tanah "
Om Joko kembali meneguk minumannya.
" Om, seriuslah ! "
" Iya iya, teman Bastian mau pindah ke Kalimantan, nah dia mau jual mobil yang sudah dipakainya selama dua tahun ini.
Lumayan Mel, harganya miring dari pasaran, lagi pula Bastian yang merekomendasikan kalau mobilnya jarang di pakai sama istrinya "
" Kenapa ? Istrinya gak bisa bawa mobil ? "
" Bisalah, kamu ada ada saja, istrinya sering sakit-sakitan."
Amel mengangguk anggukkan kepalanya.
" Katanya gak mau beli mobil ? Mau merenovasi rumah dan membuat kamar buat Alif "
" Rencana memang seperti itu, tapi kalau ngumpul di rumah mertua, cuma Om dan Tantemu yang datang naik motor. Kasihan dia dipandang iba seakan-akan hidup bersama Om, Tante menderita. padahal, iya sih "
Om Joko tergelak.
Amel dan Tante Widuri ikut terkekeh.
" Sedikit ada peningkatan-lah Mel, biar Alif dan Carla tidak kepanasan dan kehujanan kalau di bawa muter-muter sesekali.
Mobil juga gak di pakai setiap hari Mel, menghemat pengeluaran beli BBM. "
" Ya sudah, sambil nunggu Mas Bas, Om dan Tante duduk saja dulu disini ya ! Biar aku siapkan makan siang "
" Beuh, Bastian memang gak rugi dapat kamu, Mel. sudah matang jadi istri "
Puji Om Joko sembari ngemil kacang bawang.
Amel justru yang merasa beruntung mendapatkan Bastian, walaupun dulu Bastian menyakiti hatinya dengan kata-kata yang menghina fisik Amel tapi itu dulu.
Punya mertua yang baik, hidup Amel juga tidak kekurangan. Soal Bastian yang belum cinta menurut Amel, itu gak masalah. Lama-lama nanti Bastian juga akan jatuh cinta, apalagi kalau sudah punya anak.
Amel yang semula hanya menyiapkan makanan untuk dia berdua dengan Bastian, menambah menu sedikit karena kedatangan Om Joko dan Tante Widuri.
Menjelang Dzuhur, Bastian pulang dengan temannya yang akan menjual mobil pada Om Joko.
Jadilah suasana makan siang di rumah Bastian cukup ramai.
Transaksi lumayan lancar dan Om Joko bisa langsung membawa pulang mobilnya.
Tapi karena Om Joko bawa motor, jadilah Om Joko tetap bawa motor dan yang jual mobil mengikuti Om Joko dari belakang.
Pemilik mobil yang lama sudah nawarin agar Tante Widuri dan kedua anaknya naik bersama dirinya di dalam mobil, tapi Tante Widuri tidak mau, kata Carla takut di culik.
" Tuh, istri Om kamu saja gak mau bareng laki-laki lain, padahal sudah punya anak dua dan sama anaknya juga, nah kamu ? "
Keduanya masih berdiri di depan pintu pagar melihat Om Joko dan yang lainnya pulang.
" Mas, aku kan sudah minta maaf "
" Iya, supaya kamu jangan ngulangin lagi "
Amel dan Bastian mengunci pagar rumah, karena keduanya tidak berniat untuk kemana mana lagi.
Masuk ke dalam rumah juga langsung mengunci pintu, padahal masih sore sudah di kunci saja semua.
" Mel "
" Hemm "
" Sekarang kamu yang menunjukkan keahlian-mu ? "
" Keahlian apa ? "
" Yang kita bicarakan tadi pagi, membuktikan apa yang kamu tonton itu, apalagi ? Mas jadi gak sabar "
Bastian tersenyum nakal.
Amel nyengir.
Bastian segera menarik tangan Amel dan membawanya menuju ke kamar.
" Mas, jangan sekarang ! Masih sore, aku malu. Nanti malam saja ya ? Sekarang aku mau membereskan meja makan dan dapur "
Bastian melepaskan pegangan tangannya.
" Ya sudah, nanti malam "
Bastian menegaskan.
Amel gegas meninggalkan kamar, jantungnya deg-deg'an.
Apa bisa aku melakukannya ? Ya ampun malunya
Amel menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menutup mukanya dengan telapak tangan.
...****************...