Arum memutuskan berhijrah, hidup dengan syari'at agamanya. Namun bukan hijrah namanya bila tanpa rintangan, suami yang dicintainya pergi untuk selamanya, berjuang keras menghidupi anaknya. Dan suatu ketika dia dikhitbah untuk menjadi madu. Bagaimakah ceritanya? Sanggupkah Arum menjadi madu?
Ini hanya fiksi ya, tidak ada kaitannya dengan cerita hidup siapapun. Happy reading 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemanimu
"Telepon dari siapa tadi?" tanya Ammar sambil masuk mobil dan duduk di bangku pengemudi.
"Dari Mba Fitri Mas," jawab Arum sambil menaruh HP nya dalam tas kembali.
"Apa katanya?" tanya Ammar lagi dan menjalankan mobilnya.
"Ya intinya sih, kita diminta Mba Fitri gak nunda kehamilan, katanya Mas pengen punya banyak anak ya," jawab Arum.
"Hmmh.." Ammar menghela nafas.
"Trus kita gimana Mas?" tanya Arum.
"Kita kan sepakat menunda kehamilan kamu, biar fokus ke pengobatan Fitri, tapi Fitri mintanya gitu, sekarang juga jarang perdarahan banyak dan mendapat transfusi darah, dia juga sudah jarang pakai kursi roda, dalam artian Alhamdulillah semakin membaik, dan semoga terus membaik, jadi kita ikutin saja maunya," kata Ammar. Arum hanya mengangguk.
"Kamu siap hamil lagi? Hamilnya Rayhan dulu gak ada masalah kan?" tanya Ammar.
"Iya Mas Alhamdulillah gak masalah, cuman ngalem dan banyak maunya, aku nanti takut mas kerepotan," jawab Arum.
"Kita pasrahkan saja sama Allah, Bismillah, semoga dimudahkan Allah semuanya, prosesnya, hamilnya, lahirannya, membesarkannya, aamiin," kata Ammar penuh harap.
"Aamiin aamiin Allahumma aamiin," Arum mengamini.
*****
Esok paginya Ammar tetap pergi ke kantor seperti biasa, nanti sore baru mereka berangkat ke luar kota.
"Aku berangkat dulu Dik, in syaa Allah nanti pulang cepat, jam tiga kita berangkat ke stasiun, jam empat sore in syaa Allah keretanya berangkat, kamu siap-siap ya, jangan capek-capek juga," pesan Ammar.
"Baik Mas," jawab Arum sambil mencium tangan Ammar.
"Mas berangkat dulu ya, Assalamualaikum," pamit Ammar sambil naik motornya.
"Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Arum sambil melambaikan tangannya.
Ketika Ammar sudah tak terlihat lagi di pandangan Arum, Arum segera menutup pagar, dan masuk ke dalam rumah, dia mencuci pakaian dalam yang dibelinya kemarin, dan mempersiapkan keperluan mereka untuk ke luar kota.
Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Arum istirahat di kamarnya, dia mengirim pesan kepada ibunya juga mantan mertuanya dimana Rayhan sedang liburan di sana. Mengabarkan bahwa ia akan keluar kota selama tiga hari. Arum menaruh HP nya dan tertidur sebentar.
Arum membuka matanya mendengar adzan Dhuhur berkumandang, dia segera mengambil wudhu dan sholat Dhuhur. Setelah itu dia makan siang, dia habiskan semua masakannya, dan mencuci semua cucian piring yang ada. Karena akan ditinggal pergi, dia memastikan tidak ada piring kotor tersisa.
HP Arum berbunyi, di layarnya tertulis Zaujy (suami) memanggil. Arum segera mengangkatnya.
"Halo Mas, Assalamualaikum," ucap Arum.
"Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Ammar.
"Mas sudah makan? Ada apa Mas?" Tanya Arum.
"Mas sudah makan, kamu lagi ngapain? sudah makan belum?" Ammar bertanya balik.
"Alhamdulillah aku juga sudah makan, ini mau ke atas ngangkat jemuran, trus mandi dan siap-siap, ada apa sih Mas?" tanya Arum masih belum mengerti, tidak seperti biasanya Ammar telepon di tengah pekerjaannya.
"Kangen aja sama kamu," kata Ammar.
"Lha tadi kan baru ketemu, sebentar blagi mas juga pulang kan?" tanya Arum.
"Iya, mas cuma khawatir, kamu kan sendirian di rumah, ya udah lanjutin aja, in syaa Allah sejam lagi mas nyampe rumah," kata Ammar mengakhirinya.
"Baik Mas, hati-hati di jalan ya," ucap Arum.
Setelah mengakhiri panggilan telepon itu, Arum segera naik ke atas mengangkat jemuran dan melipatnya. Setelah selesai dia segera turun ke bawah dan mandi.
Arum keluar dari kamar mandi memakai handuk kimono dan membungkus rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Dia terkejut melihat Ammar sudah duduk di atas tempat tidurnya.
"Mas, sudah pulang," kata Arum.
"Iya, Mas kok capek banget ya," kata Ammar dengan muka kusut karena merasa kelelahan dengan pekerjaannya.
"Mas mandi ya, biar segar lagi, trus kita berangkat, sudah jam dua lebih ini," kata Arum.
"Iya Dik," Ammar setuju, dan ia segera bangkit dari tempat tidur. Arum mendekatinya, membantu melepaskan kancing kemeja kerjanya.
"Terimakasih sayang," ucap Ammar sambil mencium kening Arum, dan segera masuk ke kamar mandi.
Arum segera menyiapkan pakaian ganti untuk Ammar. Meletakkannya di atas tempat tidur seperti biasa, dan dia juga berpakaian. Arum mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Pandangannya terhenti pada goodybag hitam di samping meja rias. Di dalamnya ada beberapa toples kukis dan beberapa minuman botolan.
"Buat apa ini," gumamnya sendiri.
Tak lama kemudian Ammar yang selesai mandi keluar dari kamar mandi. Dia meraih pakaian yang telah disiapkan Arum dan memakainya.
"Mas, ini ada kukis sama minuman buat siapa?" tanya Arum.
"Iya tadi Mas mampir toko bakery beli camilan buat kamu, Mas takut kamu bosen di kamar sendirian pas Mas tinggal seminar dan workshop," jawab Ammar.
"Oh, Maa syaa Allah, segitunya Mas mikirin aku," kata Arum sambil tersipu.
"Mas cuma pengen kamu nyaman aja nemenin Mas," kata Ammar.
Mereka selesai bersiap-siap, dan segera berangkat menuju stasiun dengan memesan taksi online sebelumnya.
Sesampainya di stasiun, mereka menunggu kereta di lobby. Mereka berdua duduk bersebelahan. Ammar merogoh HP yang bergetar di saku jaketnya, dan melihat siapa yang meneleponnya.
"Hmm, Fitri telpon, sebentar ya Dik, aku angkat dulu," kata Ammar sambil berdiri dan berjalan keluar lobby. Arum hanya memandang punggung suaminya yang ada di luar. Sejenak kemudian Ammar kembali masuk dan duduk di samping Arum.
"Maaf ya Dik," ucap Ammar merasa tidak enak.
"Kenapa minta maaf Mas?" tanya Arum merasa aneh dengan sikap Ammar.
"Kamu gak cemburu aku terima telepon dari Fitri?" tanya Ammar memastikan.
"Mas, mba Fitri itu istri sah Mas juga, lagian sebelum menikah dengan aku, Mas sudah punya mba Fitri. Dan kita pun tinggalnya gak satu rumah, dan maaf bukannya sombong, keadaan aku saat ini jauh lebih bisa merawat dan melayani Mas. Tetapi meskipun begitu, aku tetap berharap mba Fitri bisa sehat lagi dan bisa melayani Mas sepenuhnya." ucap Arum.
"Kalau misal kalian sama-sama sehat, kamu gak cemburu gitu saat aku bersama Fitri? Dan apa kamu gak takut, kalau waktu bersamamu aku memikirkannya?" tanya Ammar.
"Aku sih belum tau Mas, Mas sendiri gimana? Waktu memberikan hak ku, Mas ingat mba Fitri gak?" tanya Arum balik.
"Hmm... Kok sepertinya gak ya Dik, apa aku keterlaluan ya Dik? Sampai melupakan Fitri waktu kita bersama," kata Ammar sambil merasa bersalah.
Arum tersenyum, dan memegang tangan Ammar.
"Mas, itu bukan keterlaluan, tapi fitrah lelaki, ia berapapun istri Mas, Mas akan fokus pada satu orang itu ketika bersamanya," kata Arum.
"Jadi gak papa nih Mas nikah lagi?" tanya Ammar sambil menggoda Arum.
"Hmm ... Aku, gak tau ah, yuk masuk kereta kita sudah datang," kata Arum sambil menarik tangan Ammar hingga bangkit dari duduknya.
jangan lupa mampir ya ukh di karyaku juga ya, dan beri dukungan. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman/Smile/
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bisa berbagi....
sukses
semangat
mksh
mantap