Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Hari kembali berganti, menyambut pagi yang begitu menyejukkan. Embun masih bergelayut di kelopak mawar, menetes perlahan ke tanah yang basah. Daun-daun berkilau diterpa cahaya mentari yang baru muncul dari ufuk timur, seolah menyanyikan lagu kesegaran. Udara pagi yang jernih menebar kesejukan, membuat siapa pun yang menghirupnya merasa damai.
Di antara hamparan bunga mawar yang mekar, tampak Alma mengenakan pakaian berkebun sederhana berwarna krem. Rambut hitamnya diikat longgar, beberapa helai jatuh menghiasi wajahnya yang pucat namun menawan. Dengan gerakan penuh ketelitian, ia memetik satu per satu tangkai mawar, lalu menaruhnya ke dalam keranjang anyaman yang selalu dibawanya. Setiap sentuhan jemarinya begitu lembut, seolah ia tidak ingin menyakiti bunga sekecil apa pun.
Tak lama kemudian, langkah tenang terdengar dari arah belakang. Jean, sang pelayan setia, mendekat dengan sikap sopan. Wajahnya teduh, namun mata itu menyimpan sesuatu yang jelas bukan sekadar kabar biasa. Ia berhenti tepat di samping Alma, lalu membungkukkan tubuh sedikit sebelum berbisik di telinga tuannya.
"Sepertinya dia sudah mulai bergerak, Nona," ucap Jean lirih.
Gerakan tangan Alma terhenti. Sejenak ia menunduk, lalu perlahan tersenyum samar. Senyum itu tipis, nyaris tak terbaca, namun ada kilatan arti yang dalam di baliknya. Ia menghela napas kecil sebelum menjawab dengan suara tenang.
"Jadi benar... kejadian kemarin benar-benar menginjak harga dirinya," ucap Alma. Ia menoleh sebentar, tatapannya mengarah pada mawar merah yang baru saja ia petik. "Aku menduga dia tidak akan tinggal diam."
Jean mengerutkan alis. "Apakah Nona tidak berniat melakukan Sesuatu?"
Alma menoleh ke arahnya, lalu menggeleng perlahan. Senyumnya semakin jelas, bukan senyum bahagia, melainkan senyum penuh ironi.
"Untuk apa?" jawabnya singkat. "Mereka berdua memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Si pelayan setia dan tuannya yang mulia... kisah lama yang berulang. Aku hanya ingin melihat bagaimana mereka melakukannya kali ini. Apakah akan sama seperti dulu, atau justru berbeda?"
Jean menatapnya dalam diam. Ia mengenal baik nona mudanya, dan setiap kali senyum itu muncul, berarti ada sesuatu yang jauh lebih rumit di balik pikirannya. "Namun, jika semuanya kembali terulang sesuai apa yang nona katakan, dengan cara yang sama... bukankah itu akan menyakiti Nona lagi?"
Alma tertawa pelan, tawanya dingin namun menawan. "Jean. Luka yang sama tidak akan terasa jika seseorang sudah mati rasa, bukan?"
Jean terdiam, tidak tahu harus membantah atau menyetujui. Ia hanya bisa menunduk, menyembunyikan kegelisahan yang kian menumpuk.
Di sisi lain, dari balkon lantai dua mansion itu, Arthur berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pagar besi berukir. Pandangan matanya tajam, tak lepas sedikit pun dari gerak-gerik putrinya. Ia menyaksikan Alma berbicara dengan Jean, melihat bagaimana senyum samar itu muncul, dan mendengar potongan suara yang terbawa angin pagi.
Arthur menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. "Alma..." gumamnya lirih. "Apa yang harus ayah lakukan?"
Ia menoleh ke arah dalam ruangan, lalu melangkah masuk dengan raut wajah penuh keraguan. Ia tahu Jean selalu berada di sisi putrinya, selalu setia menjaga dan melayani. Namun, ucapan mereka berdua kali ini terdengar berbeda, seakan mengandung rahasia yang tidak ia pahami.
🥀🥀🥀
Langkah kaki Arthur terdengar tenang ketika ia menuruni anak tangga menuju lantai satu. Di ujung lorong, ia melihat sosok pria berperawakan tegap, Jean, baru saja memasuki ruang utama.
"Jean," ucap Arthur, suaranya berat namun terkontrol. Tatapannya dalam, seakan mengandung maksud yang lebih dari sekadar sapaan.
Pria itu segera berdiri tegak dan menundukkan kepala penuh hormat.
"Mau menemaniku minum kopi di taman?" lanjut Arthur, nadanya ringan namun sarat wibawa.
Jean tertegun sesaat. Ada getaran halus dalam hatinya, entah karena terkejut atau karena ia jarang mendapat undangan pribadi semacam itu. Namun pada akhirnya, ia mengangguk sopan. "Dengan senang hati, Tuan."
Keduanya berjalan melewati lorong panjang yang dikelilingi kaca besar, menyingkap pemandangan taman belakang. Di sana, sebuah gazebo kokoh berdiri di antara pepohonan rindang. Arthur melangkah lebih dulu, dan Jean mengikutinya dengan langkah yang teratur, nyaris tanpa suara.
Di gazebo, Herald sudah menyiapkan teko kopi porselen beserta dua cangkir halus berukir emas. Herald menuangkan kopi hitam pekat ke dalam cangkir Arthur, lalu ke cangkir Jean. Aroma kopi segera menyebar, bercampur dengan wangi bunga yang masih basah embun. Setelah tugasnya selesai, Herald mundur dengan penuh hormat, meninggalkan kedua pria itu dalam keheningan yang sarat makna.
Arthur menyeruput kopi perlahan, menikmati kehangatan yang merambat dari lidah hingga ke dadanya. Matanya sedikit menyipit, seolah ingin mengabadikan momen itu. "Bukankah terasa nyaman, Jean? Menghirup udara pagi sambil menikmati secangkir kopi. Tenang, sederhana, dan menenangkan jiwa."
Jean mengangkat cangkirnya, mengikuti. Ia meneguk sedikit kopi, lalu tersenyum tipis. "Benar sekali, Tuan. Kesederhanaan semacam ini justru sering kali yang paling berharga."
Arthur meletakkan kembali cangkir porselen itu di atas meja kayu berukir. Ia menatap Jean dengan sorot mata tajam yang penuh pengamatan, seakan hendak menelanjangi seluruh isi kepalanya. "Sebelum melanjutkan pembicaraan, aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku. Kau selalu berada di sisi Alma, memastikan keselamatannya. Itu lebih dari cukup untuk seorang ayah."
Jean menunduk sopan. "Itu adalah tugasku, Tuan. Selama hidupku diberikan untuk keluarga Morrison, aku akan menjalaninya tanpa ragu."
Arthur menautkan jemarinya di atas meja, suaranya pelan namun penuh tekanan. "Ya, tentu saja. Tetapi ada sesuatu yang mengusik pikiranku, Jean. Sesuatu yang tidak bisa kuabaikan begitu saja."
Jean mengangkat kepalanya, masih menjaga ekspresi tenang. "Jika Tuan berkenan, silakan sampaikan."
Arthur mencondongkan tubuhnya sedikit, sorot matanya semakin menusuk. "Aku tahu kau pria yang cerdas, Jean. Karena itu aku tenang mempercayakan keselamatan putriku padamu. Namun, selain menjalankan perintahku, apakah Alma pernah meminta sesuatu darimu? Katakanlah... memburu seseorang?"
Sejenak, jantung Jean berdetak lebih cepat. Pertanyaan itu menusuk langsung ke inti rahasia yang selama ini ia simpan. Namun wajahnya tetap datar, seakan tak tergoyahkan. "Tidak, Tuan. Tugas saya hanyalah memastikan keselamatan Nona Alma. Tidak lebih, tidak kurang."
Arthur mengangkat alisnya. Senyuman samar terlukis di bibirnya, namun bukan senyum kebahagiaan. Melainkan senyum penuh makna. "Benarkah? Bahkan setelah beberapa siswa dari Athena dilaporkan menghilang secara misterius? Kau yakin tak ada kaitannya dengan Alma?"
Jean merasakan darahnya berdesir. Ia tahu, Arthur bukan sekadar melempar dugaan kosong. Lelaki itu sudah mencium kebenaran. Jean akhirnya menghela napas pelan, lalu berkata dengan suara dalam, "Tuan, memang benar keluarga Morrison yang mempekerjakan saya. Namun izinkan saya menegaskan, kesetiaan saya sepenuhnya untuk Nona Alma. Semua pertanyaan yang Tuan ajukan... saya tidak berhak menjawabnya."
Keheningan sejenak menyelimuti gazebo. Suara burung pun terdengar sayup, seakan enggan mengganggu suasana tegang itu. Arthur menatapnya lama, kemudian meneguk kopi sekali lagi. "Kesetiaanmu pada putriku memang tidak perlu diragukan. Tapi justru itu yang membuatku resah, Jean. Aku sendiri tidak tahu, harus bersyukur atau khawatir."
Jean tetap menunduk, menahan segala kegelisahan yang berusaha menyeruak.
Tiba-tiba Arthur menambahkan dengan nada lirih namun jelas terdengar, "Di villa itu... apakah ada boneka yang Alma buat?"
Pertanyaan itu membuat udara pagi seketika terasa membeku. Jean merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Tangannya mengepal di atas pahanya, tetapi wajahnya masih berusaha tetap tenang.
Arthur tersenyum samar, namun tatapannya dingin. "Tidak perlu khawatir, Jean. Aku terlalu mengenal putriku. Tidak mungkin aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan. Kau boleh pergi."
Jean menunduk dalam-dalam, lalu berdiri. "Terima kasih, Tuan." Suaranya tegas meski hatinya penuh gejolak. Ia membungkuk hormat sebelum melangkah keluar dari gazebo.
Di jalan setapak menuju villa utama, Jean berpapasan dengan Isabella. Wanita itu tampak anggun dalam gaun pagi berwarna pastel. Jean memberi salam sopan, dan Isabella membalas dengan senyuman ramah.
Setelah Jean berlalu, Isabella melangkah masuk ke gazebo dan duduk di kursi yang baru saja diduduki Jean. Ia memandang Arthur dengan sorot penuh tanya. "Apa yang kalian bicarakan tadi? Tampak begitu serius."
Arthur tersenyum tipis, menutupi gejolak pikirannya. "Tidak ada yang penting. Hanya percakapan ringan... menanyakan beberapa hal sepele."
Isabella menatapnya sejenak, lalu mengangguk. Ia tahu, ada hal-hal yang memang tidak layak ia campuri. Terutama urusan yang berkaitan dengan kepala keluarga dan rahasia dalam keluarga Morrison.
Arthur kembali mengangkat cangkirnya, menyesap sisa kopi yang mulai dingin. Namun pikirannya melayang jauh. Senyum samar di wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegundahan yang menghantam dadanya.
Meskipun Alisha datang kembali, pikirnya, semuanya sudah terlambat.
Apa kondisi Alma bisa disembuhkan atau tidak... itu kini bukan lagi urusan manusia. Semuanya sudah bergantung pada takdir.
🥀🥀🥀
Bandara internasional itu ramai oleh lalu-lalang para penumpang yang baru saja tiba dari berbagai negara. Suara roda koper beradu dengan lantai marmer, seruan orang-orang yang mencari keluarganya, serta aroma kopi dari gerai-gerai yang berjajar di sekitar area kedatangan, membentuk suasana khas pertemuan dan perpisahan.
Di antara kerumunan itu, seorang wanita berambut panjang bergelombang berwarna cokelat keemasan melangkah cepat sambil tersenyum lebar. Dia adalah Alisha, wanita eksentrik yang selama bertahun-tahun lebih memilih hidup berpindah-pindah negara dibandingkan menetap di tanah kelahirannya. Begitu matanya menangkap sosok pemuda jangkung yang berdiri agak menjauh sambil menyandarkan tubuh pada troli koper, ia berlari kecil penuh antusias.
"Theo, keponakan manisku!" serunya dengan nada penuh kerinduan, kemudian langsung meraih tubuh pemuda itu ke dalam pelukan. Tidak berhenti sampai di situ, ia mengecup pipinya berkali-kali, seolah Theo masih bocah lima tahun yang dulu selalu menempel padanya.
Seketika ekspresi Theo mengeras. Ia buru-buru melepaskan diri dari dekapan sang tante, lalu mengusap pipinya dengan ekspresi jijik yang sama sekali tidak ia sembunyikan.
"Seperti dugaanku," gumamnya datar. "Bertahun-tahun tidak bertemu, ternyata Tante masih saja sama. Terlalu... anarkis."
Alisha sontak menegakkan tubuhnya, menyipitkan mata seolah baru saja dihina dengan kejam. "Hei! Kau ini, Theo. Bukankah seharusnya kau lebih manis menyambut kepulangan tante tercintamu? Kau jauh berbeda dengan dirimu saat masih kecil. Dulu kau imut dan selalu menempel padaku. Sekarang lihatlah, dingin sekali."
Theo tidak menggubris. Dengan gerakan cekatan, ia mengambil alih koper besar milik Alisha dari troli, lalu melangkah mendahului tanpa menoleh. "Cepatlah jalan, Tante. Aku sudah cukup lama menunggu di sini, dan berdiri di bandara bukanlah kegiatanku yang menyenangkan."
"Ya ampun... lihatlah kelakuan anak ini," keluh Alisha sambil menghela napas panjang, namun tetap mengikuti langkah keponakannya.
Tak lama, keduanya sudah masuk ke dalam mobil hitam yang dikendarai oleh Theo. Begitu mesin menyala dan mobil mulai meninggalkan area bandara, hening beberapa saat menemani perjalanan mereka. Barulah di tengah jalan, Theo membuka percakapan dengan nada setengah mengejek.
"Jadi, Tante, mengapa tiba-tiba memutuskan pulang setelah sekian lama? Bukankah selama ini Tante selalu lebih senang berkelana ke berbagai negara? Hidup seperti... hm, Sungokong dan kawan-kawannya yang mencari kitab suci."
Alisha yang sedang sibuk membuka botol minum mendadak menoleh cepat, menatap Theo dengan tidak percaya. "Apa? Kau barusan menyamakan Tante dengan seekor kera?"
"Sedikit mirip," jawab Theo dingin, tanpa ekspresi.
"Tega sekali kau pada tante sendiri," desis Alisha sambil memutar bola matanya. Ia kemudian bersandar ke kursi, menahan senyum kecil di bibirnya. "Kalau kau benar-benar ingin tahu, alasan kepulanganku kali ini sederhana saja. Aku merindukan... gadis kecilku."
Theo sempat menoleh sekilas, alisnya terangkat curiga. "Gadis kecil? Jadi, Tante menyembunyikan seorang anak haram di luar? Bertahun-tahun tidak menikah, ternyata diam-diam sudah punya putri. Wah, kakek pasti akan sangat senang mendengar kabar ini. Bahkan mungkin..."
"Dasar mulutmu itu!" Alisha nyaris menepuk kepala Theo jika saja mereka tidak sedang menyetir. "Kau mengira tantemu ini wanita macam apa, hah?"
Theo menanggapi dengan nada datar, "Seorang wanita yang selalu kabur dari rumah agar tidak dijodohkan, lalu memilih hidup berpindah-pindah dan tak pernah pulang. Itu fakta yang semua orang tahu."
Alisha mendengus. "Mulutmu memang selalu setajam belati. Tapi kali ini aku berkata jujur, Theo. Aku pulang karena ingin menemui gadis kecilku. Kau mungkin pernah mendengar namanya. Dia bersekolah di tempat yang sama denganmu."
Theo menahan napas sesaat. "Athena itu luas, Tante. Tidak hanya ada satu atau dua orang di sana. Jadi siapa nama gadis yang kau maksud?"
"Namanya Alma," jawab Alisha mantap.
Theo spontan menoleh sekilas, sedikit terkejut. "Alma?" gumamnya dalam hati. Nama itu begitu familiar, sebab memang sudah beberapa kali ia dengar di lingkaran sekolah.
"Kau mengenalnya?" tanya Alisha, kali ini dengan nada penuh antusias. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah.
Theo menghela napas, lalu menjawab sekenanya. "Aku hanya pernah mendengar namanya. Dia putri keluarga Morrison, bukan? Belakangan ini cukup jadi pembicaraan di sekolah karena memilih berada di kelas kasta biasa. Tapi itu saja. Aku tidak tahu bagaimana sikap atau perilakunya di sekolah."
Alisha mendengarkan dengan penuh minat, meski jawaban Theo terasa hambar. "Oh, begitu ya..." gumamnya sambil menyandarkan kepala pada jendela mobil. "Ternyata gadis kecilku benar-benar menarik perhatian banyak orang."
Theo meliriknya sekilas dengan pandangan malas. "Jangan terlalu berharap banyak dari aku, Tante. Kehidupan sosialku minim, jadi jangan harap aku bisa memberimu laporan detail tentang siapa pun."
Alisha menepuk keningnya sambil berdecak. "Astaga, apa yang bisa kuharapkan dari keponakanku ini? Hidupmu terlalu membosankan. Kalau dulu kau masih anak-anak, aku bisa memaksamu ikut serta dalam petualanganku. Sekarang, bahkan obrolan sederhana saja sudah membuatmu tampak bosan setengah mati."
Theo tidak menanggapi, hanya menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Mobil melaju mulus di jalan raya. Namun, di balik keheningan yang kembali tercipta, pikirannya justru disibukkan oleh satu nama. Alma.
Ia tidak bisa menampik rasa penasaran yang tiba-tiba muncul. Mengapa tantenya, seorang wanita yang tidak pernah betah menetap di rumah, tiba-tiba pulang hanya untuk menemui seorang gadis yang bahkan bukan bagian dari keluarga inti mereka?
Pertanyaan itu menggantung di benak Theo, tanpa jawaban.
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?