Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gula, Tepung, dan Harapan yang Rapuh
Tanggal itu tertera di sudut kanvas lukisan dengan tinta emas yang mulai memudar: 14 Februari.
Bagi kebanyakan orang di Kerajaan Vhaloria, tanggal itu hanyalah penanda pertengahan musim dingin, saat di mana persediaan kayu bakar mulai menipis dan badai salju biasanya mengamuk paling ganas. Namun, bagi Elara, tanggal itu kini memiliki arti lain.
Itu adalah hari di mana Kaelen dilahirkan ke dunia, dan ironisnya, mungkin juga hari di mana bagian 'manusia' dari dirinya mulai mati perlahan seiring berjalannya waktu.
Hari ini adalah tanggal 14 Februari.
Elara berdiri di tengah kamarnya yang hangat, menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru pucat, tanpa perhiasan berlebihan.
Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak menentu, campuran antara tekad yang membara dan ketakutan yang dingin. Ia akan melakukan sesuatu yang dilarang oleh aturan tak tertulis Kastil Blackiron: ia akan merayakan kehidupan di tempat yang memuja kematian.
"Kau gila, Elara," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Dia bisa saja mengusirmu. Atau lebih buruk lagi, mengabaikanmu sepenuhnya."
Namun, bayangan Kaelen yang berteriak dalam tidur, memanggil nama hantu masa lalu, kembali menghantuinya. Pria itu tenggelam dalam kesedihan yang membeku. Jika Elara tidak memecahkan es itu—sekecil apa pun retakannya—mereka berdua akan mati lemas di dalam kastil ini.
Elara menarik napas panjang, memutar gagang pintu, dan melangkah keluar menuju medan perangnya hari ini: Dapur.
Perjalanan ke dapur kali ini terasa berbeda. Lorong-lorong batu tidak lagi terasa begitu mengintimidasi, mungkin karena Elara kini memiliki tujuan. Ia tidak berjalan seperti tamu yang tersesat, melainkan seperti wanita yang memiliki misi.
Saat ia mendorong pintu ganda dapur, kehangatan dan aroma asap langsung menyambutnya. Aktivitas dapur sedang berada di puncaknya untuk persiapan makan siang para prajurit. Namun, begitu Elara melangkah masuk, suara pisau dan panci mereda sedikit.
Mata-mata para pelayan melirik ke arahnya. Tatapan mereka masih waspada, namun tidak lagi penuh cemoohan terbuka seperti hari pertama. Keberanian Elara memotong rotinya sendiri tempo hari telah memberinya sedikit rasa hormat—atau setidaknya, rasa segan.
Martha sedang berdiri di depan meja adonan, tangannya yang besar dan kuat sedang membanting adonan roti gandum dengan tenaga yang bisa mematahkan tulang. Saat melihat Elara, ia berhenti, menyeka tepung dari dahinya dengan punggung tangan.
"Nyonya," sapa Martha, suaranya datar, tidak ramah tapi juga tidak kasar. "Makan siang belum siap. Anda terlalu cepat."
"Aku tidak mencari makan siang, Martha," jawab Elara tenang. Ia berjalan mendekat ke meja kerja Martha, mengabaikan tatapan penasaran dari pelayan lain.
"Lalu?" Martha berkacak pinggang, tepung beterbangan dari celemeknya. "Dapur ini wilayah kerja, bukan tempat jalan-jalan."
"Aku butuh tepung halus," kata Elara, menyebutkan permintaannya dengan jelas. "Gula, mentega, telur, dan... apakah kita punya buah beri yang diawetkan? Blackberry, kalau ada."
Alis tebal Martha menyatu. Ia menatap Elara seolah Duchess muda itu baru saja meminta kepala naga. "Tepung halus? Gula? Nyonya, ini Utara. Gula adalah barang mewah yang kami simpan untuk tamu agung atau perayaan kemenangan perang. Kami tidak menggunakannya untuk eksperimen."
"Aku tahu," Elara tidak mundur. Ia meletakkan tangannya di atas meja kayu yang penuh tepung. "Hari ini adalah ulang tahun Duke Kaelen."
Hening.
Suara gemeretak api di perapian tiba-tiba terdengar sangat keras. Para pelayan yang tadinya pura-pura bekerja kini berhenti total. Lina, gadis pelayan yang dulu membawakan teh, menutup mulutnya dengan tangan. Wajah Martha berubah pucat, lalu merah padam.
"Kami tidak merayakan itu," suara Martha merendah, menjadi geraman peringatan. "Tuan Duke melarang perayaan ulang tahunnya sejak lima tahun lalu. Terakhir kali ada pelayan yang mencoba membuat kue, dia dipecat malam itu juga."
Informasi itu membuat perut Elara mulas. Jadi Kaelen tidak hanya melupakan ulang tahunnya; dia membencinya. Dia secara aktif menghapusnya.
"Aku tidak memintamu membuatnya, Martha," kata Elara lembut namun tegas. "Aku yang akan membuatnya. Jika dia marah, dia akan marah padaku, bukan padamu. Kau hanya memberikan bahan. Itu tugasmu sebagai kepala dapur: menyediakan kebutuhan Nyonya rumah."
Martha menatap mata Elara, mencari keraguan. Ia melihat tangan Elara yang sedikit gemetar, tapi dagunya terangkat tinggi. Ada kekuatan di sana, kekuatan yang berbeda dari kekuatan fisik Kaelen.
"Anda akan membuang-buang gula mahal," gumam Martha, tapi ia berbalik badan, mengambil kunci dari ikat pinggangnya yang gemerincing. "Lina! Ambilkan stoples blackberry dari gudang bawah tanah. Dan ambilkan mentega dari penyimpanan dingin."
Elara menghembuskan napas lega yang ia tahan sejak tadi. "Terima kasih, Martha."
"Jangan berterima kasih," gerutu wanita itu tanpa menoleh. "Jika Tuan mengamuk, saya akan bilang Anda yang memaksa masuk ke gudang."
Satu jam kemudian, Elara mendapati dirinya tenggelam dalam dunia yang sudah lama ia rindukan. Dunia tepung dan adonan.
Di sudut dapur yang agak terpisah, Elara mulai bekerja. Ia menyingsingkan lengan gaunnya, mengikat rambutnya dengan pita sederhana. Ia tidak memedulikan celemek kasar yang kini menutupi gaun sutranya.
Proses itu sendiri adalah terapi . Elara merasakan tekstur tepung yang lembut dan dingin di antara jari-jarinya, kontras dengan mentega yang mulai melunak oleh suhu ruangan. Ia mengaduk gula dan kuning telur dalam mangkuk keramik besar, gerakan memutar yang ritmis dan menghipnotis.
Kling, kling, kling. Suara pengocok kawat yang beradu dengan mangkuk menjadi musik pengiring lamunannya.
Ia teringat ibunya. Dulu, di dapur rumah Baron yang hangat, ibunya mengajarinya bahwa kue bukan sekadar makanan. 'Kue adalah emosi yang bisa dimakan, Elara,' kata ibunya dulu. 'Saat kau tidak bisa mengucapkan kata-kata penghiburan, berikan rasa manis. Lidah yang mengecap gula akan mengirim pesan ke otak untuk sedikit lebih bahagia.'
Elara berharap teori itu benar. Ia berharap sedikit rasa manis dari blackberry tart ini bisa menembus lidah Kaelen yang terbiasa dengan rasa besi dan darah.
Lina membantunya dengan takut-takut. Gadis itu menyiapkan loyang dan memanaskan oven batu kecil di samping perapian utama.
"Nyonya," bisik Lina saat mereka sedang menyusun buah blackberry yang berwarna ungu gelap di atas adonan kue. Buah itu diawetkan dalam sirup, berkilauan seperti permata hitam di bawah cahaya api. "Apakah... apakah Nyonya tidak takut?"
Elara berhenti sejenak, tangannya yang lengket oleh sirup menggantung di udara. "Takut apa, Lina?"
"Tuan Duke," jawab Lina polos. "Beliau... menakutkan. Matanya seperti badai. Semua orang bilang beliau tidak punya hati lagi."
Elara tersenyum sedih. Ia meletakkan buah terakhir di tengah kue. "Dia punya hati, Lina. Hanya saja hatinya sedang terkubur di bawah tumpukan es yang sangat tebal. Dan seseorang harus mulai menggali, bukan?"
Lina menatapnya dengan kagum. Bagi pelayan kecil itu, keberanian Elara tampak seperti aksi heroik dalam dongeng.
Saat kue itu masuk ke dalam oven, aroma yang luar biasa mulai memenuhi dapur. Aroma manis dari gula yang terkaramelisasi, berpadu dengan asam segar buah beri dan gurihnya mentega. Aroma itu asing di Dapur Blackiron yang biasanya hanya berbau daging panggang, bawang, dan rebusan gandum.
Para pelayan lain mulai mencuri-curi pandang, hidung mereka bergerak-gerak menikmati wangi itu. Bahkan Martha, yang sejak tadi sibuk memotong daging rusa, terlihat melirik ke arah oven beberapa kali.
Kehangatan aroma itu adalah senjata pertama Elara. Ia sedang mengubah atmosfer kastil, satu molekul udara pada satu waktu.
Malam tiba. Badai salju di luar kembali melolong, seolah marah karena tidak diundang ke dalam pesta kecil yang sedang disiapkan.