NovelToon NovelToon
The General'S Captive Lady

The General'S Captive Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Aliansi Pernikahan
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: indri novianti

"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.

Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Hangat Aliansi

Di tengah ketegangan yang menyelimuti seluruh sudut markas besar aliansi, Natalia Taylor melangkah perlahan namun pasti. Sepatu tumit rendahnya mengetuk lantai marmer koridor yang sunyi, menuju kamar peristirahatan khusus tempat Claudia dirawat karna shok selama beberapa hari terakhir.

Suara deru mesin panser dari halaman bawah terdengar samar menembus jendela lorong, tetapi Natalia mengabaikan itu. Fokusnya malam ini adalah memastikan sang mawar Montgomery merasa terlindungi.

Saat pintu kayu ek kamar terbuka, Natalia tersenyum manis. Di dalam ruangan, Claudia sedang duduk di tepi ranjang dengan gaun tidur berbahan katun lembut yang menutup tubuh

Melihat Cla yang sudah tampak jauh lebih segar, dengan gurat pucat di wajahnya yang perlahan mulai digantikan rona alami, hati Natalia dilingkupi kelegaan yang teramat sangat. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan kedua tangannya yang hangat ke hadapan Cla.

Selama satu tahun penuh ini, Reymond memang sangat enggan mempertemukan Claudia dengan anggota keluarga aliansi yang lain. Rasa curiga yang tebal dan ketakutan akan adanya spionase membuat sang jenderal mengisolasi istrinya rapat-rapat di dalam mansion terpencil.

Akibat benteng ketat itu, dari seluruh faksi aliansi raksasa, hanya Natalia yang pernah bertatap muka dan berinteraksi langsung dengan Cla saat mengantarkan pasokan medis beberapa bulan lalu.

"Kak Cla, ikutlah denganku keluar," ajak Natalia dengan nada suara yang teramat lembut dan menenangkan. Ia menggenggam jemari Claudia yang sempat sedikit gemetar karena terkejut.

"Seluruh keluarga sedang berkumpul di paviliun kaca sebelah. Aku ingin mengenalkanmu pada mereka semua. Kau tidak perlu merasa takut atau cemas lagi, kak. Mereka semua sudah tahu kebenaran tentangmu, dan mereka semua ada di pihakmu malam ini."

Claudia sempat ragu. Bayangan buruk tentang bagaimana publik di wilayah sekutu Raven selalu menatapnya penuh hinaan kembali melintas sekilas di benaknya.

Namun, sorot mata Natalia yang begitu tulus, hangat, dan tanpa kepalsuan seketika meruntuhkan seluruh pertahanan dan ketakutan di hati Cla.

Dengan langkah anggun yang kini terasa jauh lebih ringan dan bebas dari belenggu masa lalu, Cla bangkit dari ranjangnya dan mengikuti langkah Natalia, berjalan menyusuri lorong pendek menuju paviliun kaca yang hangat.

Begitu pintu ganda paviliun itu terbuka secara perlahan, keheningan sempat menyelimuti ruangan sesaat. Semua pandangan para wanita dari faksi aliansi yang sedang duduk berkumpul langsung tertuju lurus pada sosok Claudia yang berdiri di ambang pintu. Jantung Cla berdegup kencang, ia refleks menahan napasnya, bersiap menerima penolakan.

Namun, dugaan buruk Cla sepenuhnya keliru. Tidak ada satu pun tatapan menghina, jijik, atau penuh selidik. Sebaliknya, yang ia temukan adalah kehangatan murni yang luar biasa.

Emma Smith, ibu mertuanya, bersama Isabella Taylor—istri dari Noah Taylor—langsung bangkit berdiri dari kursi mereka dengan senyuman hangat yang mengembang tulus di wajah mereka.

"Kemarilah, Nak. Jangan berdiri di sana," ujar Isabella Taylor dengan kelembutan seorang ibu yang begitu mengayomi. Ia melangkah mendekat, lalu dengan penuh kasih sayang menuntun lengan Claudia untuk berjalan masuk dan duduk di sofa utama yang paling besar dan empuk di tengah ruangan.

Rieke Johnson, sang matriark faksi Johnson, bersama menantunya, Sophia pun langsung menyapa Cla dengan begitu ramah. Mereka menggeser duduk mereka, memberikan ruang yang nyaman bagi Claudia seolah-olah Cla sudah menjadi bagian dari keluarga besar aliansi mereka sejak lama, bukan seorang sandera politik yang baru saja terbebas dari ruang bawah tanah.

Natalia kemudian tersenyum, menarik kereta bayi ganda berbahan rotan mewah mendekat ke arah sofa tempat Claudia duduk.

Di dalam kereta bayi tersebut, sepasang bayi kembar menggemaskan yang baru berusia satu tahun, Kael Taylor dan Kiara Taylor, mendadak terbangun dari tidur lelap mereka.

Kedua bayi mungil itu mengerjapkan mata bulat mereka yang jernih, menatap sosok asing Claudia tanpa rasa takut.

Detik berikutnya, Kiara kecil refleks menjulurkan tangan mungilnya yang gempal ke atas, menggapai-gapai jemari Claudia sambil mengeluarkan suara tawa riang yang teramat menggemaskan.

Sentuhan jemari mungil yang suci dan hangat itu seketika melelehkan seluruh sisa-sisa trauma, ketakutan, dan rasa dingin yang mengunci hati Claudia. Air mata haru menggenang di sudut mata Cla.

Klek.

Suara mekanisme selot pintu paviliun yang terbuka kembali memecah suasana hangat di dalam ruangan. Seluruh pandangan mata refleks menoleh ke arah ambang pintu, menampilkan sosok tinggi tegap Reymond Oliver Smith yang berdiri diam di sana.

Ruang rapat besar para penguasa aliansi baru saja selesai menyusun taktik pertempuran, dan seluruh divisi pasukan kini telah siap bergerak ke garis depan untuk meratakan faksi Crimson Raven hingga ke dasar tanah.

Aura siap tempur terpancar jelas dari seluruh tubuh Reymond. Seragam militer hitam legamnya terpasang rapi dengan lencana faksi Smith yang berkilau dingin di dada kirinya, berpadu dengan sepasang sepatu bot militernya yang tinggi kokoh.

Namun, tatapan mata elang pria itu yang biasanya sedingin es, mendadak melembut secara instan saat pandangannya mengunci sosok Claudia yang kini sedang duduk dikelilingi oleh ibu dan para wanita keluarganya.

Para wanita di dalam ruangan itu seolah sangat memahami situasi darurat dan emosional yang sedang terjadi. Tanpa perlu banyak kata, Emma Smith, Isabella, Rieke, Sophia, dan Natalia perlahan bangkit berdiri dari sofa, memberikan ruang privasi bagi pasangan suami istri tersebut untuk berbicara sebelum keberangkatan pasukan.

Reymond melangkah masuk dengan mantap, mendekati sofa tempat istrinya berada. Ia mengulurkan tangannya yang bersarung tangan hitam taktis, membantu Claudia berdiri dengan gerakan yang sangat hati-hati seolah sedang memegang porselen yang rapuh.

"Aku butuh waktu sebentar untuk berbicara dengan istriku," ujar Reymond dengan nada suara yang berwibawa namun melembut saat menatap langsung ke dalam manik mata indah Claudia.

Reymond kemudian menuntun langkah Claudia berjalan menuju ke sudut paviliun yang lebih tenang, tepat di dekat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah halaman luar markas aliansi.

Di bawah sana, barisan ratusan kendaraan taktis dan panser lapis baja aliansi sudah menyalakan mesin mereka, memuntahkan asap tipis ke udara malam dan memancarkan pendar lampu sorot yang tajam membelah kegelapan—sebuah representasi visual dari badai pembalasan yang siap meluncur.

Reymond membalikkan tubuhnya menghadapi Claudia seutuhnya, menghalangi pandangan istrinya dari barisan kendaraan perang di bawah dengan tubuh tegapnya.

"Kami akan berangkat menuju perbatasan Crimson Raven sekarang, Cla," kata Reymond, sepasang mata elangnya menatap lurus, dalam, dan penuh dengan komitmen mutlak ke dalam manik mata indah Claudia yang masih menyisakan bekas air mata haru.

Tangan kekar Reymond yang biasanya kaku dan dipenuhi bekas luka latihan militer perlahan terangkat. Dengan gerakan yang teramat lembut seolah takut menyakiti, ia mengusap pipi Claudia yang kini tidak lagi terasa sedingin es saat berada di ruang bawah tanah tempo hari.

"Aku akan membawa kepala Frans Raven kembali kemari ke hadapanmu, Cla," desis Reymond, suaranya terdengar sangat rendah namun bergetar oleh amarah yang membara di dadanya.

"Aku akan memastikan bajingan tua itu menerima pembalasan yang setimpal."

Claudia mendongak, menatap lekat-lekat pada wajah tegas suaminya. Pria yang berdiri di hadapannya saat ini adalah pria yang sama dengan pria yang satu tahun lalu mengurungnya dalam isolasi dingin, dan pria yang beberapa hari lalu mencekik lehernya karena kemurkaan dan kesalahpahaman akibat surat fitnah Frans.

Namun malam ini, pria itu telah berubah sepenuhnya menjadi perisai paling kokoh, paling mematikan, yang siap bertaruh nyawa di medan laga demi membalaskan dendam mendiang ayah kandungnya, Baron William Montgomery, sekaligus mengembalikan kehormatannya yang telah lama diinjak-injak.

Claudia tidak lagi memasang senyum menggoda yang palsu untuk mempertahankan hidup seperti yang biasa ia lakukan di masa lalu. Topeng itu telah hancur seutuhnya.

Cla perlahan meraih tangan kekar Reymond yang masih bertengger di pipinya, lalu menggenggamnya dengan kedua belah tangan kecilnya—sebuah genggaman penuh ketulusan, doa, dan cinta murni dari seorang istri.

"Aku tidak meminta kepala siapa pun, Reymond..." bisik Claudia dengan suara yang teramat lembut dan parau, matanya kembali berkaca-kaca menatap suaminya.

"Aku tidak peduli dengan faksi mereka lagi. Aku hanya ingin kau... kembali lah dengan selamat."

Kata-kata sederhana namun penuh dengan ketulusan wanita seorang istri itu menghantam dada kaku Reymond dengan kehangatan dan getaran emosional yang luar biasa besar, meruntuhkan sisa-sisa keangkuhan militernya.

Reymond tidak mampu lagi menahan dirinya; ia menarik tubuh ramping Claudia ke dalam dekapan lengan kekarnya, memeluknya dengan teramat erat seolah ingin menyatu dengan detak jantung istrinya.

Dekapan itu adalah sebuah janji bisu, sebuah sumpah setia di bawah pendar cahaya malam aliansi, bahwa badai kelam di dalam hidup mereka akan segera berakhir dan hancur sepenuhnya setelah malam ini berlalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!