NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Raka sudah menghabiskan tiga cangkir teh sebelum Maya memutuskan untuk berbicara. Laras duduk di kursi paling ujung, lutut ditarik rapat ke dada sementara jari-jarinya sibuk memutar-mutar ujung sarung yang mulai robek. Di atas meja, nasi dan telur dadar telah dingin, namun tidak ada seorang pun yang berniat menghabiskannya.

"Kamu bilang guru saya adalah muridmu," kata Raka memecah keheningan. "Tapi usianya jauh lebih tua darimu."

Maya tidak terlihat tersinggung oleh keraguan itu. "Usia tidak selalu berbanding lurus dengan pangkat atau kemampuan. Saya mengajarinya teknik dasar di Benua Tengah sebelum dia memutuskan pergi ke desa ini untuk bersembunyi. Dialah yang membawa artefak itu, sekaligus sistem yang kini tertanam di kepalamu."

Laras mengerutkan kening namun tetap memilih diam. Matanya hanya menatap Maya dengan sorot selidik yang tajam, seolah sedang mengurai setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu.

"Kenapa guru saya harus lari?" tanya Raka lagi.

"Karena dia mencuri △404 dari Istana Langit," jawab Maya datar. "Dulu dia menjabat sebagai komandan pasukan Kaisar dengan tugas utama menjaga artefak tersebut. Namun, dia melihat sesuatu yang mengubah prinsipnya."

"Apa yang dia lihat?"

Maya menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, topeng ketenangannya sedikit retak, menampilkan kelelahan yang jelas terukir di sudut matanya. "Kaisar menggunakan kekuatan artefak untuk menekan rakyatnya. Dia telah mengumpulkan tujuh pecahan, dan setiap pecahan memberinya kendali mutlak atas sebagian wilayah. Gurumu menyadari hal itu dan memilih kabur membawa satu pecahan—yang memang paling kecil, namun paling vital. Tanpa △404, Kaisar tidak akan mampu menyatukan seluruh kekuatan artefak tersebut."

Raka menunduk menatap artefak yang terselip di sabuknya. Benda kecil yang selama ini ia anggap sekadar pemberian aneh dari gurunya ternyata menyimpan beban sejarah seberat itu. Rasanya sulit dipercaya bahwa kekuatan sebesar itu bisa terkandung dalam objek seukuran ibu jari.

"Jika Kaisar benar-benar mengejar artefak ini," suara Laras tiba-tiba memotong, tajam dan dingin, "mengapa kamu baru muncul sekarang? Mengapa tidak dari awal?"

Maya mengalihkan pandangan ke arah Laras. Ekspresinya melunak, meski tatapannya tetap intens. "Karena saya perlu waktu untuk memastikan Raka layak menyandangnya. Gurunya sudah mengujinya di gunung, dan saya mengujinya di pasar. Kini dia telah melewati semua tahap seleksi."

"Maksudmu wanita misterius di pasar malam itu?"

"Benar."

Raka teringat kembali pada malam itu. Lampu neon yang berkedip-kedip, uap kopi yang masih mengepul, dan tatapan tenang dari kejauhan yang mengamatinya tanpa henti. Ternyata itu adalah Maya. Wanita itu sedang menilai apakah Raka memiliki integritas untuk menjaga artefak tanpa tergoda menjualnya atau ceroboh hingga kehilangannya.

"Bagaimana jika saya gagal saat itu?" tanya Raka.

Senyum tipis tersungging di bibir Maya. "Maka saya akan mengambil artefak itu sendiri dan menghilang. Tapi kamu tidak gagal. Kamu memilih untuk bertahan, melindungi Laras, dan berani melawan Bima meskipun tahu akan kalah. Itulah kualitas yang dicari oleh artefak ini."

Laras mendengus pelan. Nada sinis masih tersisa dalam suaranya, meski tidak sekeras sebelumnya. "Jadi kami semua ini hanyalah bagian dari tes?"

"Bukan tes," koreksi Maya lembut. "Ini adalah proses seleksi alami. Artefak tidak bisa jatuh ke tangan sembarangan. Jika Raka tidak memiliki keberanian dan hati yang cukup, benda itu akan menolaknya."

Raka mengangkat alis, penasaran. "Menolak bagaimana caranya?"

Maya menunjuk ke arah sabuk Raka. "Coba lepaskan."

Raka meraih artefak tersebut. Selama ini ia selalu memakainya tanpa pernah berpikir dua kali. Namun saat ia mencoba menariknya dari sabuk, benda itu terasa menyatu dengan kain. Bukan karena tersangkut atau terikat simpul, melainkan ada tarikan halus yang membuatnya enggan dilepaskan.

"Aneh," gumam Raka sambil menarik lebih keras. Artefak itu tetap kokoh pada posisinya.

"Itu karena artefak sudah terikat dengan energimu," jelas Maya. "Setiap kali kamu bertahan hidup atau melindungi orang lain, ikatan itu semakin kuat. Sekarang, bahkan aku pun tidak bisa melepaskannya tanpa merusak sebagian energi vitalmu."

Laras mencondongkan tubuh ke depan, mencoba mengamati lebih dekat. "Jadi benda ini sekarang menempel permanen di tubuhnya?"

"Sebagian besar. Ikatan itu juga yang membuat sistem 2Bit di kepalanya semakin stabil. Energi artefak memberi makan sistem, sementara sistem bertugas melindungi inangnya."

Raka melepaskan tangannya. Artefak itu kembali diam, tidak terasa hangat maupun dingin, namun kehadiran beratnya tetap terasa di dada. Ia merasa seperti sedang memegang rahasia yang terlalu besar untuk dipikul sendirian.

"Malam ini kita mulai latihan," kata Maya. "Bukan di simulator, tapi di dunia nyata. Aku akan mengajarimu cara menggunakan energi artefak secara langsung, bukan hanya mengandalkan perintah sistem."

Raka mengangguk setuju. Namun sebelum ia sempat merespons lebih lanjut, Laras berdiri mendadak. Wajahnya berubah kaku, rahangnya mengeras meski tidak tampak marah. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju dapur.

"Laras?" panggil Raka.

"Tidak apa-apa," jawab Laras tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, terlalu dikendalikan. "Aku cuma mau ambil air."

Raka menatap punggung sahabatnya yang menghilang di balik pintu dapur. Ada ketidakberesan yang terasa, meski ia belum bisa memastikan apa penyebabnya. Laras jarang bersikap sedingin itu.

Maya yang duduk di sebelahnya juga memperhatikan perubahan suasana. Matanya menyipit sebentar sebelum kembali tenang. "Temanmu tidak menyukai keberadaanku."

Raka menghela napas lelah. "Dia memang tidak suka orang asing."

"Bukan hanya itu." Maya menggeleng pelan. "Dia tidak suka karena aku memiliki informasi yang sangat kamu butuhkan. Dan lebih dari itu, dia tidak suka karena sadar dia tidak bisa melindungimu dari semua ini."

Raka ingin membantah, namun kata-kata Maya terasa terlalu tepat menusuk. Ia menyadari bahwa selama ini Laras berperan sebagai pelindung diam-diam. Dialah yang membalut luka, memasak makanan, dan menjaga pintu saat massa menyerbu. Kedatangan Maya dengan misi besar dan rencana rumit tiba-tiba membuat peran Laras terasa tergeser dan tidak lagi dibutuhkan.

Raka bangkit dari duduknya, meninggalkan Maya di teras, dan menyusul Laras ke dapur.

Laras sedang menuang air dari gentong tanah liat ke dalam cangkir. Gerakannya lambat dan hati-hati, seolah setiap tetes air harus diperhitungkan dengan teliti. Saat mendengar langkah Raka mendekat, ia tidak menoleh.

"Aku tidak marah," kata Laras lebih dulu, mencegah Raka berbicara.

"Aku tidak bilang kamu marah."

Laras akhirnya membalikkan badan. Cangkir di tangannya bergetar halus, mengikuti getaran tangan pemiliknya. "Aku cuma... tidak suka ada rencana besar yang datang tiba-tiba tanpa melibatkan aku. Aku benci mengetahui bahwa kamu akan pergi ke tempat berbahaya, sementara aku tidak bisa berbuat banyak."

Raka berdiri di ambang pintu. Jarak fisik mereka hanya dua langkah, namun terasa seperti jurang yang lebar.

"Kamu bisa ikut," kata Raka tegas.

Laras mendongak. Sudut matanya sedikit memerah, namun ia menahan diri untuk tidak menangis. "Kamu yakin? Aku tidak punya sistem. Aku tidak punya artefak. Aku hanya bisa masak dan memukul dengan parang."

"Itu sudah cukup," jawab Raka. "Selama ini, itu selalu cukup."

Laras terdiam. Getaran di cangkirnya berhenti. Ia menatap Raka lekat-lekat, lalu menunduk, dan akhirnya meneguk air dalam cangkir itu dengan gerakan terburu-buru.

"Bodoh," gumamnya pelan. Namun nada suaranya tidak lagi setajam sebelumnya.

Di luar, Maya masih duduk di teras. Pandangannya tertuju ke kejauhan, ke arah Benua Tengah yang tak terlihat, seolah ia sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang jauh.

Laras meletakkan cangkir kosong di atas meja kayu. Ada retakan kecil di pinggiran cangkir, bekas terjatuh beberapa minggu lalu yang tidak pernah ia ganti. Ia menatap Raka, dan untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha menyembunyikan ekspresi aslinya.

"Aku akan masak lebih banyak," katanya akhirnya. "Jika perjalanan nanti panjang, kita butuh bekal yang kuat."

Raka tersenyum tipis. Ia tidak perlu menjawab karena makna di baliknya sudah saling dipahami.

Di luar, Maya berdiri dan menepuk debu dari jubahnya. Ia menatap langit yang mulai gelap, lalu mengarahkan pandangan ke arah Raka yang masih berada di dalam dapur.

"Latihan malam ini di belakang desa," seru Maya lantang. "Jangan telat."

Raka melangkah keluar dari dapur, meninggalkan Laras yang mulai mengambil panci dari rak. Di hadapannya, Maya sudah berjalan mendahului menuju jalan setapak. Artefak di sabuk Raka berdenyut pelan, ritmis seperti detak jantung kedua.

Ia segera mengikuti.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!