NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Matahari baru saja naik setinggi pucuk pohon kelapa ketika Bima muncul di depan gubuk. Raka sedang duduk di teras, menyesap teh paginya yang masih mengepul, saat bayangan panjang jatuh tepat di hadapannya. Ia mengangkat kepala dan mendapati Bima berdiri di sana dengan penampilan yang jauh berbeda dari pertemuan terakhir mereka. Tidak ada jubah hitam kebesaran atau aura arogan; Bima hanya mengenakan kemeja lengan panjang yang kusut. Perban di tangannya terlihat lebih tipis dan rapi, menandakan luka-lukanya sudah mulai sembuh.

Yang paling mencolok adalah ketiadaan pengawal. Tidak ada Hendra, tidak ada Joko, dan tidak ada pasukan bersenjata yang mengintimidasi. Hanya Bima seorang diri, dengan wajah yang meski masih kurus, tidak lagi tampak pucat sakit-sakitan.

Raka tidak beranjak dari duduknya. Ia hanya menatap mantan musuhnya itu dalam diam, menunggu inisiatif berikutnya.

Bima tidak mencoba masuk. Ia berdiri di depan pagar bambu yang sudah reyot, menatap Raka dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Bukan kemarahan, bukan pula dendam. Tatapan itu lebih mirip kelelahan mendalam yang disertai kesadaran penuh atas situasi yang dihadapi.

"Aku dengar ada wanita misterius di desamu," kata Bima. Suaranya serak, seolah-olah pita suaranya belum sepenuhnya pulih.

Raka mengangguk singkat. "Dia ada di dalam."

"Aku tidak datang untuk menemuinya." Bima menggeser kakinya sedikit, membuat debu halus beterbangan di udara pagi. "Aku datang untuk bicara denganmu."

Sebelum Raka sempat merespons, Laras muncul dari balik pintu dapur. Tangannya menggenggam erat parang kecil, matanya langsung terkunci pada sosok Bima dengan rahang yang mengeras.

"Kau datang untuk apa?" tanyanya dengan nada tajam dan tidak ramah.

Bima tidak menunjukkan rasa tersinggung. Ia hanya memandang Laras dengan tenang. "Aku tidak akan menyakitinya. Seperti yang sudah kukatakan, aku tidak datang untuk bertarung."

Laras melirik Raka, mencari konfirmasi. Saat Raka mengangguk pelan memberi izin, Laras mendengus kesal. Ia menurunkan parangnya namun tetap berdiri di ambang pintu dengan posisi siaga, siap menyerang jika diperlukan.

Raka menunjuk kursi kosong di hadapannya. "Duduk."

Bima melangkah masuk melewati pagar dan duduk dengan hati-hati, gerakannya kaku seperti orang yang baru belajar mengendalikan tubuhnya sendiri. Matanya menyapu sekeliling ruangan—gubuk sederhana, peralatan dapur usang, hingga tumpukan kayu bakar di sudut. Tidak ada kemewahan di sini, namun Bima mengamati setiap detail dengan saksama.

"Aku latihan," kata Bima tiba-tiba, memecah keheningan. "Setiap hari. Sejak aku sadar dari koma."

Raka mengangkat alis. "Aku tahu."

"Kau tahu?" Bima menatapnya penasaran. "Dari mana?"

"Dari tanganmu." Raka menunjuk perban di tangan Bima. "Ada luka baru di atas luka lama. Dan kau datang sendirian tanpa pengawal. Itu berarti kau sudah tidak membutuhkan perlindungan mereka lagi karena kemampuanmu sendiri sudah meningkat."

Bima terdiam sejenak. Perlahan, senyum tipis terbentuk di wajahnya. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum pengakuan. "Kau berubah. Kau jauh lebih tajam dari dulu."

"Aku juga berlatih."

"Tapi bukan fisik." Bima mengamati tubuh Raka yang tetap kurus tanpa penambahan massa otot yang signifikan. "Kau melatih ini." Ia menunjuk kepalanya sendiri.

Raka tidak membantah pernyataan itu.

"Kalau begitu, kau pasti sudah mendengar tentang Penguasa Benua Tengah?"

Sebelum Raka menjawab, Maya muncul di ambang pintu. Ia berdiri di sana dengan hening, seolah-olah materialisasi dari bayangan itu sendiri. Tatapannya tajam, sama persis seperti saat pertama kali ia menghadapi Raka di tepi sungai.

Bima menoleh ke arah Maya. Ada kilatan pengakuan di matanya. "Kau."

Maya tidak terlihat terkejut. "Kau tahu tentang keberadaanku?"

"Tidak secara langsung." Bima meraih cangkir teh yang diam-diam telah diletakkan Laras di depannya. "Keluargaku dulu bekerja untuk seseorang dari Istana Langit. Aku sering mendengar cerita tentang seorang wanita yang bisa menghilang di antara bayangan."

"Aku tidak menghilang," koreksi Maya dingin. "Aku hanya tidak terlihat oleh orang-orang yang tidak ingin melihat."

Bima tertawa kecil. Tawanya parau, namun tidak terasa pahit. "Pada dasarnya sama saja."

Raka mengamati interaksi keduanya dengan cermat. Ada dinamika aneh di sini. Biasanya, Bima akan langsung bersikap konfrontatif atau mengancam. Namun kini ia duduk tenang, berbicara dengan Maya seolah-olah mereka memiliki sejarah bersama. Rasa hormat Bima terhadap Maya terlihat jelas, lahir dari pengakuan akan kekuatan wanita itu.

"Apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Maya langsung ke inti permasalahan.

Bima menatap daun teh yang mengendap di dasar cangkirnya. "Aku ingin bergabung."

Laras mengerang keras di belakang Raka. "Apa?"

"Aku tidak bergurau." Bima mengangkat kepalanya, menatap Raka dengan serius. "Aku telah menghabiskan berminggu-minggu melatih diri, mencoba menjadi lebih kuat. Tapi aku menyadari bahwa melawanmu sendirian tidak akan membuatku berkembang. Aku membutuhkan tujuan yang lebih besar. Dan tujuan itu ada di Benua Tengah."

Raka meneliti wajah Bima, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang menyakitkan, seperti seseorang yang telah kehilangan segalanya dan kini berusaha menemukan jalan pulang.

"Apa yang membuatmu berpikir aku mau menerimamu?" tanya Raka.

"Karena kau tidak punya pilihan lain." Jawaban Bima terdengar blak-blakan. "Perjalanan ke Benua Tengah panjang dan berbahaya. Kau butuh seseorang yang memahami cara bertarung di luar ketergantungan pada sistem dan artefak. Aku tahu celah-celah itu."

Laras melangkah maju, tangannya kembali mengencangkan genggaman pada parangnya. "Kau hampir membunuhnya berkali-kali."

"Itu masa lalu," potong Bima. "Sekarang aku melihat sesuatu yang berbeda. Aku melihat seseorang yang berpotensi mengubah tatanan yang ada. Dan aku ingin menjadi bagian dari perubahan itu."

Keheningan kembali menyelimuti teras. Angin pagi berhembus membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau. Dari kejauhan, terdengar suara cangkul petani yang mulai membajak sawahnya, ritme yang lambat dan menenangkan.

Maya adalah orang pertama yang berbicara lagi. "Apakah kau siap mati untuk tujuan ini?"

Bima menjawab tanpa ragu sedetik pun. "Aku sudah siap mati sejak hari aku terbangun dari koma."

Maya mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah Raka. "Keputusan ada padamu. Dia datang menemuimu, bukan aku."

Raka menatap Bima lekat-lekat. Mantan musuh yang dulu mengirim preman untuk menghabisinya. Orang yang menjadi sumber penderitaan di awal perjalanannya. Namun kini, pria itu duduk di hadapannya dengan tangan terluka dan mata yang bersih dari dendam.

"Aku tidak percaya padamu," kata Raka akhirnya. "Tapi aku percaya pada keputusanmu untuk berubah."

Senyum tipis kembali menghiasi wajah Bima. Kali ini, senyum itu terasa seperti beban berat yang akhirnya terlepas dari pundaknya.

"Besok pagi," kata Raka. "Kita mulai latihan. Kita akan lihat apakah kau benar-benar siap."

Bima mengangguk paham. Ia bangkit dari kursinya, meninggalkan cangkir teh yang belum sempat diminum. Di ambang pagar, ia berhenti sejenak dan menoleh.

"Raka."

"Apa?"

"Terima kasih."

Bima pergi. Langkahnya terlihat berat, namun tegap. Untuk pertama kalinya, Raka memperhatikan bahwa punggung Bima tidak lagi memikul beban kesombongan. Yang tersisa hanyalah beban perjalanan panjang yang menanti di depan.

Laras menurunkan parangnya sepenuhnya. Ia menatap sosok Bima yang menghilang di tikungan jalan, lalu menoleh pada Raka dengan ekspresi tidak percaya.

"Kau benar-benar akan membiarkan dia ikut?"

Raka mengangkat bahu santai. "Dia bisa berguna."

"Atau dia bisa menusuk kita dari belakang," bantah Laras.

"Mungkin saja." Raka mengambil cangkir teh peninggalan Bima dan menuangkan isinya ke tanah. "Tapi dia tidak akan melakukannya. Dia terlalu bangga untuk menjadi seorang pengkhianat."

Maya tersenyum, sebuah ekspresi langka yang hanya muncul ketika ia menemukan sesuatu yang menarik. "Kau mulai mengerti cara membaca orang."

Raka tidak menjawab. Ia menatap ke arah jalan tempat Bima pergi, lalu mengalihkan pandangannya ke pegunungan di kejauhan. Perjalanan ke Benua Tengah akan segera dimulai, dan kali ini, ia tidak akan menjalaninya sendirian.

Di dalam dapur, Laras mulai menggoreng telur dengan gerakan kasar yang jelas mengungkapkan kekesalannya yang belum reda. Maya kembali ke dalam gubuk, mengambil bukunya, dan duduk di sudut ruangan. Raka tetap di teras, merasakan denyut halus energi artefak di sabuknya, menunggu matahari terus naik.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!