Menjalin hubungan terlarang bersama mantan kekasihnya didalam kediaman keluarga Hollarck alias keluarga kekasihnya sendiri adalah sebuah ketegangan untuk Sophia.
Namun tidak untuk Felix, tangan kanan keluarga Hollarck tersebut yang menganggap semuanya adalah hal biasa saja dan malah menjadi tantangan menarik untuk hubungan mereka.
•••
"Sudah di bagian bumi lain bahkan aku masih saja bertemu dengan mu!"
Felix menyeringaikan cibiran, "Lalu kenapa? Apakah kau fikir kita akan berjodoh, kau sangat lucu... hahah lalu apakah menurut mu anjing dan kera berada dalam satu kebun binatang lalu terpisah bertahun-tahun, kemudian bertemu di kebun binatang lain lalu mereka akan berjodoh, menikah, lalu mempunyai anak dan bahagia? Huh...kisah yang indah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tris rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
...
...
Pulau kecil di Barat Spanyol menjadi tujuan Nick membawa Sophia dan Allura pergi, selepas sebuah helicopter membawa mereka keluar dari Pallezo mereka harus pergi menyebrangi beberapa pulau kecil di sana.
Tempat ini terbilang pulau terisolasi, sebuah pulau kecil nan indah yang luput dari jangkauan bahkan keberadaanya tidak terdata hanya di anggap pulau tidak berpenghuni.
Pulau Berth, merupakan pulau kecil dengan hamparan pasir putih yang indah, tanaman hijau begitu rimbun hanya di huni oleh beberapa kepala keluarga nelayan yang berasal dari pulau-pulau besar di sekitarnya.
Tidak ada tenaga listrik negara, tidak ada jaringan seluler atau sebagainya, namun penduduk sekitar sudah memanfaatkan sumber energi matahari yang dikemas sederhana menjadi pembangkit listrik khusus untuk malam hari saja.
“Rumah siapa ini Nick?” Tatap Sophia saat Nick membuka pintu berposisi menggendong Allura dibahunya.
“Rumah kita.” Nick pun masuk kedalam.
Sophia mengedarkan pandangannya keluar rumah yang berada sendiri dengan jarak-jarak yang jaun antar rumah lainanya, berhalamankan batu-batu pantai dengan bibir pantai di bawah sana.
Ini menjelang pagi, angin laut cukup kencang berhembus, suara-suara berisik dari terpaan angin begitu berisik disana.
Sophia melangkah masuk di rumah berdinding tanah liat, berlantaikan batuan alam itu, rumah yang tampak besar dan rapi, tidak tampak barang-barang disana pemandangan pertama adalah tungku pemanas api dan pipa cerobong asap yang tampaknya lama tidak di gunakan.
“Nick?” Sophia berjalan perlahan di tempat dengan pencahayaan tamaram itu.
Tidak lama Nick pun keluar menutup pintu setelah meletakkan Allura disana, Sophia menghela, menatap pada Nickolas, “Kenapa kita kesini? Aku ingin pulang!”
Nick membawa Sophia kesebuah Sofa tua berbahan kulit domba, “Ini tempat kita, kita akan tinggal disini, sampai situasi aman!”
“Allura—” Sophia menggeleng, gadis kecil itu pun masih tampak canggung dengan Sophia sedari tadi dia hanya mau memeluk Nick saja. “Dia punya Ibu Nick, wanita yang melahirkanya.”
“Dia juga punya ayah yang mencintainya!”
“Nick ini salah! Aku ingin kembali!” Sophia pun bangkit.
Seketika Nick menarik tangan Sophia, “Ku mohon tetaplah bersama kami!”
Sophia menatap kesal, menggenggam tangannya, “Harusnya kau membawa ibunya, aku hanya orang lain Nick, tidakkan kau kasihan padanya, dia butuh ibunya!”
“Carmella sudah menikah! Semua sudah berakhir! Dan aku sudah punya kau!”
Sophia melepaskan kasar tangan Nick, “Sudah menikah? Mungkin saja itu juga terpaksa sebab kemauan ayahnya, siapa yang tahu Nick jika dia ternyata masih mencintaimu, Nick Allura butuh ibunya, butuh kau juga, harusnya kau cari tahu tentang itu!”
“Masih mencintai bagaimana maksudmu, apakah dengan menikahi orang lain?”
Sophia pun bangkit, “Hubungan kita hanya hubungan Yang baru, ku dengar dari penjelasan mu, kau dan dia banyak berjuang, harusnya kau melepaskan ku dan mengejarnya.”
Nicholas bangkit mengukiti Sophia, “Semuanya sudah berakhir, aku pun tidak mudah membuka hati sebelum bertemu denganmu!”
“Maka tutup hati mu! Perjuangkan dia atas apa yang sudah kalian pernah lewati dan Allura yang sudah kalian miliki!”
Nickolas benar-benar mentutup hatinya, ia melangkah cepat menangkap tubuh Sophia dan memeluknya dari belakang, “Aku hanya butuh kau sekarang! Bukan yang lain! Bertahun-tahun aku menunggunya, dia bahkan tidak melakukan itu malah menikah bersama orang lain!”
Sophia berusaha melepasakan Nick, ada sesuatu yang rasanya ingin terus menolak Nick, ia merasa ada yang lain di dirinya, yang mana ia pun sudah telat datang bulanya.
“Jangan tolak aku Sophia! Ku mohon mengertilah, Kita hanya perlu menjalani seperti biasa, perlahan-lahan semuanya akan membaik.”
“Nickolas! Mudah sekali ucapan mu, tidakkah kau fikirkan hati Allura hati ibunya! Lepaskan aku Nick, aku harusnya tidak perlu terlibat dengan ini, hidupku sudah berantakan Nick, apakah kau juga ingin melihatku mati konyol atas hal yang bukan salah ku!” Sophia mengusap tangannya yang tertusuk.
Nickolas menuduk lirih, “Aku dan Carmella sudah tidak mungkin bersama ada lelaki lain bersamanya, maafkan aku Sophia, aku berjanji kau tidak akan mendapatkan itu lagi!”
JEDDDDAAAAAAARRR… .
Suara petir menggelegar seakan memecah membelah sesuatu disana, Allura pun memekik dikamarnya, Sophia dan Nickolas pun berhambur ke kamar Allura.
“Daddy…, Mama… mama…” Allura berteriak, “Daddy Mama menangis, Mama menangis, tolong Mama daddy!”
Petir membuat Allura mengingat satu hal seseorang yang tidak ia lihat wajahnya memukuli sang Ibu saat itu, menjambaknya lalu menyeretnya masuk kedalam toilet.
...•••...
Barcelona
Carmella tampak menangis di ujung ranjangnya, setibanya di Mansion sang putri di kabarkan di bawa lari Nickolas, “Terkutuk! Aku membesarkannya, aku yang melahirkannya mudah sekali kau membawanya!”
“Diam kau wanita sialan!” Miguel berkacak pinggang, menatap nyalang Carmella, “Biar itu menjadi urusan ayah mu, ikutlah bersama ku, kita bisa melahirkan anak-anak lain nantinya.”
Carmella yang memeluk kedua lututnya pun mentap kebencian pada Miguel, “Ini yang kau mau bukan ini! Kau tidak perlu lagi berpura-pura bisa menerima Allura didepan ayah ku, tidak perlu, aku akan buka semua aib mu! Biar kau mati disini oleh anak buah ayahku!” lantang Carmella.
Miguel tertawa, “Apa kau menginginkan aku mati? Kau ingin itu?” Miguel berjalan mendekat.
“Menjuh dari ku Migu! Menjauh!”
Lelaki itu melampirkan smirk menyebalkan, dan PRAAAKKK… sebuah tamparan pun ia daratkan pada pipi Carmella, “Jaga ucapanmu! Aku suami mu!”
Carmella mengusap pipinya yang tertampar perih ketakutan, “Kau bangsaat Miguel, kau bangsat! Aku menyesal menyetujui pernikahan ini, menyesal!”
Haha… “Kau akan katakan pada ayah mu? Sayangnya dia tidak pernah mempercayaimu!”
BRAAAakkkk
Tubuh Carmella dihempas miring ke ranjang, air matanya tumpah ruah, lelaki itu tampak membuka ikat pinggangya, “Jangan Aku tidak sudi, aku tidak sudi bagian kotor mu menyatu dengan ku tidak sudi! Menjaug sialan!”
Carmella berusaha menendang-nendang Miguel, lelaki itu malah mudah menahan kakinya, menarik kuat membuat tangannya terikat satu pada besi ranjang, kemudian satunya lagi.
“Kau lupa malam pernikahan kita, bukankah itu sangat manis, berada dalam air dan kelopak mawar!”
“Cuiiihh!” Carmella berdecak, menatap kebencian Migiel, hari itu adalah saat dia belum tahu sepertia apa Miguel sebenarnya.
Miguel mengelak, kini ia beringsut siap memposisikan dirinya, memegang kasar dagu Carmella, “Menjauh sialan! Menjauh!”
Miguel tidak sedikitpun peduli itu, ia merobek kasar pakaian Carmella membuat Carmella terus memberontak, namun apalah daya tubuh Miguel jauh lebih besar mudah sekali menguncinya.
Hingga penyatuan itu terjadi, lelaki itu memaksai kasar dengan Carmella yang menangis, sama sekali tidak merasakan apapun selain sakit dan penyiksaan.
“Allura, tolong Mama nak…”bathin Carmella, “Lurra hanya Lura yang Mama punya…”
“Selamat mencari cucu mu yang hilang tuan Carlos!” Miguel menyelesaikan aksinya.
...•••...
Di Pallezo kediaman Dominique sedang dalam keadaan panas, Carlos Hagens tengah datang bersaman para bodyguard-nya, Pallezo megah itu pun sudah di jaga ketat, para keamanan dengan senjata sudah berada di setiap sisi dan sudut.
Dominique sudah keluar di pintu utama setelah mendapatkan kabar Carlos Hagens tiba, keduanya sama-sama kuat, saling melemparkan senyuman, memegang tongkat dan sebuah alat hisap.
Felix pun sudah memasang lengkap tubuhnya dengan pakain berlapis peluru ia bersama disana menjaga Dominique di kanannya.
“Aku tidak ingin membuat keribuatan kali ini! Kembalikan Allura maka aku akan pergi dari sini.”
“Nickolas membawanya pergi, Allura adalah putrinya, dia punya hak atas itu!” ujar Dominique, “Apa yang kau mau mintalah dan lepaskan Nickolas!”
Carlos Hagens tertawa, “Apa yang ku mau?”
Jika dulu dia memang berharap memiliki sebagian harta kekayaan nama dan kedudukan Dominique, Namun sekarang tidak dia sudah memiliki semuanya, yang dia mau saat ini Dominique hancur begitupun keluarganya.
“Apakah Nickolas membawa Allura juga kekasihnya?” Hahaha Carlos tertawa.
“Jangan libatkan Sophia! Dia tidak ada urusan dengan kita!” Timpal Felix.
Carlos pun sukses tertawa, “Jangan libatkan?” Dia menyeringaikan cibiran pada Felix.
Carlos Hagens mempunyai seorang yang di percayai di Pallezo menjadi mata-mata untuknya, mengabarkan banyak hal dan membuka beberapa hal di dalam Pallezo, termasuk ada sebuah pengkhianatan besar, tangan kanan Dominique berselingkuh dengan tunangan Nickolas putra Dominique.
“Kau takut dia kanapa-kenapa, Tuan Felix?”
Degh…
Seketika Carlos mengarahkan anak buahnya berbalik, saat sebuah benda pada telinganya mengabarkan bahwa mereka sudah mendapatkan posisi terakhir Helicopter yang menerbangakan Allura dan Nick malam tadi.
“Ternyata musuh mu bukan hanya aku, Dominique Van Hollrack, kita bertemu disana…”Ha ha ha…. Aku bisa membantu mu memberi pelajaran bagi para pengkhianat haha…”
Shit… DORRRR…
“Omong kosong!” tembakan Felix melayang pada Jas berlapis baja milik Carlos peluru jatuh begitu saja.
Namun seketika suasana menjadi runyam, Felix di serang balik, pihak Dominique tanpa intrupsi pun membantu Felix, saling menembaki, langkah larian saling menembaki, namun Dominique sudah dibuat pergi oleh salah seorang.
Suasana begitu mencangkam, suasana tembak-tembakan dan baku hantam tidak terhindari, Felix berfikir jauh dia harus berlari dari sini Dominique sudah mendengar jelas ucapan Carlos, sesuatu akan terjadi bisa saja Dominique balas menyakiti Sophia.
Lelaki itu berhasi lolos, keluar dari halaman Pallezo.
DOORR…
“Kau akan kemana?” Simon datang entah dari mana dan berhasil membuat Felix tertembak.
“Kau musuh yang sebenarnya!” Kini Simon pun sudah tahu tentang kabar pengkhianatan Felix tersebut.
Felix yang sudah terjatuh berusaha kuat, Simon mengetahui dimana titik yang tidak terlindungi, dia pun tertawa atas Felix yang terkena pelurunya.
Seketika sebuah tombol pada saku pakai Felix tekan, langsung tersambung pada Gio mengirimkan status darurat.
Ya Gio sudah terbang lebih dulu ke barat Spanyol seperti yang di minta Felix saat ia yakin Carlos akan datang ke Pallezo.
“Jangan campuri urusan ku, Simon!” Felix menahan sakit, peluru itu benar-benar bersarang dalam disana menembusi tulangnya.
“Mati atau koma?” tatapan Simon mengejek
DOORR.. Felix membalas namun hilang keseimbangan, sebab dia seketika dikelilingi, De Hollrack lain.
Next »
makasih buat karya keren nya "sofiafelix" 😍
ngakak nya sampek ngik ngik
dari sekian banyak baca novel baru ini yang buat ketawa parahhh
outhor nya serius keuereeeennnnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣