"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemeriahan Hari Raya
1 Syawal
"Allaahu Akbar ... Allaahu Akbar ... Allaahu Akbar ... Laailaaha illallaah wallaahu Akbar ... Allaahu Akbar wa lillaahil-hamd ...."
Gelegar malam dipenuhi suara tawa anak-anak yang bermain di luar rumah, berpadu dengan suara gema takbir yang berkumandang di seluruh jagat raya ini. Turut bercampur juga suara meriam bambu yang menambah kemeriahan pesta malam hari raya idul fitri.
Aku dan Aceng pun, tak luput dari kemeriahan pasta malam ini. Sungguh nikmat yang tak terkira, masih dipertemukan dengan malam hari raya yang penuh kegembiraan.
Aku dan Aceng sedang bermain kembang api di luar rumah. Ditemani abah, mak, teteh, nenek dan saudara-saudara yang lain.
Aku senang, benar-benar senang. Abah sudah sehat seperti sedia kala. Sudah tidak batuk lagi, sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Abah benar-benar sehat. Alhamdulillah.
Aku berlari mendekati abah setelah api pada kembang apiku telah habis.
"Abah, pengen diterbangin ke atas," rengekku padanya sambil memegang kembang api yang belum dibakar.
Abah mengambil kembang api yang aku sodorkan. Ia membengkokkan ujungnya kemudian membakarnya. Lalu melemparnya ke atas hingga kawat yang dibengkokkan ujungnya itu mengait pada dahan pohon jambu di samping rumah bibi.
Aku bersorak senang. Aceng pun ikut memberikan kembang apinya, abah melakukan yang sama pada kembang api tersebut. Melemparnya hingga kembang api itu berhinggapan di dahan pohon jambu bibi.
Jadilah, pohon jambu itu berkelipan dipenuhi kembang api milik kami. Malam yang terang benderang, obor yang dinyalakan berjejer di sepanjang jalan kampung. Ditambah semua lampu di rumah-rumah dinyalakan dengan meriah.
Walau tak ada kembang api terbang tinggi di langit, tapi suasana malam idul fitri tak kalah meriah. Ramai dengan suara riuh anak-anak yang bermain dan berlarian memegang kembang api di tangan.
Para orang tua duduk di teras rumah masing-masing, ada yang berkumpul dengan sesama saudara seperti mak dan adik-adiknya.
Para orang tua laki-laki, pemuda, dan anak-anak sebagian menggemakan takbir di mushola. Sungguh malam yang meriah.
"Abah mana, Mak?" tanyaku saat kembali dari bermain dan tidak mendapati abah duduk bersama mak.
"Ke mushola, seneng mainnya?" jawab mak sekaligus bertanya. Aku mengangguk dan tersenyum senang.
"Aceng, gak takbiran?" tanya mak saat Aceng datang menghampiri kami.
"Emang Abah takbiran, Mak?" Aceng balik bertanya pada mak. Mak lantas mengangguk sebagai jawaban. Bocah kecil itu berlari ke mushola menghampiri abah.
"Nur boleh ikut takbiran di musholah, Mak?" tanyaku sembari memberikan cengiran lebar pada mak.
"Boleh, siapa yang gak ngebolehin?" jawab mak. Aku segera berlari ke mushola dan duduk di belakang abah yang sedang menggemakan takbir bersama bapak-bapak yang lain.
Kuikuti setiap kalimatnya, rasanya merdu terdengar. Suara takbir yang selalu kami nanti setelah sebulan penuh berpuasa. Suara takbir tanda kemenangan. Kemenangan dari melawan hawa nafsu selama berpuasa.
Tak terasa waktu terus berputar, hingga jarumnya menunjuk pada angka dua puluh satu malam. Saat itu, sudah sangat malam rasanya.
"Udah malam ... Nur sama Aceng pulang aja, tidur," ucap abah meminta kami untuk pulang.
"Aceng mau di sini aja, Bah. Boleh, 'kan?" pinta Aceng pada abah. Lelaki hebat itu mengangguk.
Aku lantas pulang karena memang sudah malam. Mak dan bibi pun sudah tak ada lagi di luar. Aku langsung masuk, mencuci kaki dan tangan juga muka sebelum beranjak tidur.
_________*
"Nur ... bangun! Mandi," Suara mak mengusik tidurku yang lelap. Malam ini, aku tidur sangat nyenyak. Mungkin karena abah sudah sehat seperti semula.
"Mak!" Kukucek mata untuk dapat melihat dengan jelas mak yang berdiri di samping ranjangku.
"Iya, udah jam empat. Ayo, cepat bangun! Mandi gantian sama yang lain," ucap mak lagi.
Aku memaksa tubuhku untuk bergerak. Bangun dari rasa malas dan melangkah ke dapur. Rambut mak sudah basah, begitu pun dengan abah.
Ada Aceng juga di sana yang duduk malas dengan mata terpejam. Di belakang rumah, teteh sedang mandi diguyur abah menggunakan air langsung dari sumur.
Ini sudah menjadi kebiasaan kami saat malam hari saya. Abah dan mak akan membangunkan anak-anaknya sebelum subuh. Lalu satu per satu akan berjongkok di sumur dan abah mengguyur seluruh tubuh kami dengan air langsung dari sumur.
Brrrr!
Dingin!
Saat satu ember air sumur mengguyur tubuhku. Membuat mataku enggan terpejam lagi. Shampo? masih sama, menggunakan shampo yang terbuat dari sapu jerami.
Abah yang mengguyur dan mak yang akan menyabuni. Kompak ya? Kata abah, saat malam hari raya air zamzam akan dialirkan ke seluruh sumur di seluruh dunia. Dimulai dari jam satu malam hingga sebelum adzan subuh.
Jika adzan subuh sudah dikumandangkan, maka air zamzam akan balik lagi ke asalnya. Wallaahu a'lam.
Tapi itu semua sudah menjadi kebiasaan kami yang tak dapat dihilangkan begitu saja hingga sekarang. Meski pun tak lagi menggunakan sumur.
Kata abah lagi, insya Allah airnya memberikan kesegaran dan manfaat yang banyak untuk kita. Aamiin.
"Dingin, Mak!" kataku sembari menggigil. Keadaan belakang rumah yang gelap hanya ada satu buah lampu damar sebagai penerang yang diletakkan di bibir sumur.
Usai disabuni mak, aku membilas sendiri tubuhku menggunakan air yang ada di bak. Aku melangkah sambil menggigil masuk ke rumah.
Giliran Aceng juga yang mandi, kulihat teteh sudah rapi mengenakan pakaian muslimnya.
Aku bergegas masuk ke kamar dan mengambil baju muslimku. Ku pandangi baju itu, terutama kerudungnya. Teringat akan permintaan abah waktu itu tentang menutup aurat.
Kukeringkan tubuhku dan mengenakan baju muslim itu satu per satu. Kupandangi lagi kerudung di tanganku.
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan mengucap basmalah kukenakan kerudung tersebut. Mulai hari ini, aku akan belajar menutup auratku.
Setelah memastikan penampilanku, aku keluar dan duduk bersama teteh. Menunggu adzan subuh.
Hingga adzan subuh bekumandang, semua orang di rumahku sudah mandi subuh. Hanya tinggal shalat dan menunggu ajakan mak juga abah pergi shalat sunnah id.
"Minum atau makan dulu, ya, sebelum shalat id nanti. Sunnah," ucap abah pada kami semua.
Mak membuatkan kami teh hangat, rasanya cukup menghangatkan aliran darah dalam tubuhku yang sempat membeku tadi.
Abah pun ikut menikmati teh hangat tersebut. Abah dan mak mengajak kami untuk melaksanakan shalat id.
Kami berjalan beriringan menuju masjid yang terdapat di pinggir jalan besar. Kami akan berpisah saat di jalan besar nanti.
Abah dan Aceng akan berbelok ke arah masjid. Sedangkan aku dan mak juga teteh akan lurus. Perempuan dan laki-laki terpisah. Jika laki-laki di masjid, maka para perempuan akan melaksanakan shalat di majelis ta'lim.
Aku ingin segera memakan gemblong yang disiram kuah semur daging kerbau. Khas lebaran.
________
Taqabbalallaahu Minna wa minkum.
Taqabbal yaa Kariim.
Selamat hari raya Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥