Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Bobo Sakit
Di kursi belakang, napas Bobo semakin berat.
Meilan menekan pedal gas lebih dalam. Lampu jalan BSD City memanjang di kaca depan, pecah oleh hujan tipis yang dipukul wiper. Di kursi belakang, Bobo berbaring miring dengan selimut kecil menutupi tubuhnya. Matanya setengah terbuka, tetapi pandangannya tidak fokus.
"Bobo, dengar Mama?" Meilan memanggil lewat kaca spion.
Bibir kecil itu bergerak. "Dengar..."
Satu kata itu membuat Meilan hampir kehilangan kendali atas setir.
Ia menepi di depan instalasi gawat darurat rumah sakit swasta terdekat. Perawat datang dengan ranjang dorong. Bobo yang biasanya menolak terlihat lemah di depan orang asing malam itu hanya mengerutkan alis, lalu mencari tangan Meilan.
"Mama ikut."
"Mama ikut. Mama tidak ke mana-mana."
Pemeriksaan awal berjalan cepat. Suhu tubuh tinggi, denyut nadi tidak stabil, ada tanda peradangan yang tidak cocok dengan flu biasa. Dokter jaga meminta pemeriksaan darah lengkap, rontgen, dan pemindaian lanjutan. Meilan berdiri di sisi ranjang, menjawab pertanyaan satu per satu dengan suara datar yang nyaris terlalu tenang.
Kapan demam mulai?
Sejak sore.
Ada muntah?
Tidak.
Ada riwayat penyakit berat?
Tidak pernah terdiagnosis.
Tetapi ketika jarum kecil masuk ke lengan Bobo dan anak itu menggigit bibir agar tidak menangis, Meilan merasakan lututnya melemah.
"Sakit?" bisiknya.
Bobo menggeleng pelan. "Sedikit."
Anak itu berbohong untuk membuatnya tidak takut.
Ponsel Meilan kembali bergetar. Kali ini panggilan video dari Dr. Kelvin Liang. Ia mengangkatnya tanpa berpikir.
Wajah Dr. Kelvin muncul di layar, serius, rambutnya masih basah seperti baru keluar dari ruang operasi. "Meilan, kirim hasil pemeriksaan begitu keluar. Saya sedang di Surabaya. Jangan tunggu pagi."
"Seberapa buruk?" tanya Meilan.
Dr. Kelvin diam satu detik. "Saya belum bisa memastikan dari gejala saja. Tapi kalau dugaan saya benar, ini bukan infeksi umum. Ada kemungkinan parasit langka yang masuk ke pembuluh kecil dan memicu peradangan sistemik. Peralatannya harus lebih lengkap."
Jari Meilan mencengkeram ponsel.
"Bisa diobati?"
"Bisa. Tapi harus cepat."
Kata cepat itu jatuh seperti batu di dada Meilan.
Tiga puluh menit kemudian, hasil pertama keluar. Dokter jaga yang semula tenang mulai menelepon konsulen anak. Perawat menambahkan cairan infus. Bobo menggigil, lalu menggumam pelan.
"Mama... Lala jangan takut."
Meilan menunduk, mencium keningnya yang panas. "Lala di rumah sama Sari. Dia aman."
"Papa..." Bobo berhenti, seolah kata itu tersangkut di tenggorokan. Kelopak matanya bergetar. "Jangan kasih masuk."
Dada Meilan seperti ditusuk.
Di saat yang sama, suara langkah cepat terdengar dari koridor. Bima muncul lebih dulu, lalu Reynard. Rambutnya sedikit basah, kemejanya kusut di bagian bahu. Untuk pertama kalinya, Meilan melihat pria itu datang tanpa kesempurnaan yang biasa ia pakai seperti zirah.
"Bobo."
Meilan langsung berdiri di depan ranjang.
"Siapa yang memberi tahu kamu?"
"Dr. Kelvin."
"Aku tidak minta kamu datang."
"Aku tahu." Reynard berhenti tiga langkah dari ranjang. Matanya jatuh pada wajah Bobo yang pucat, dan warna di wajahnya menghilang. "Aku tidak akan menyentuhnya kalau kamu tidak izinkan. Tapi biarkan aku mengurus jalan ke Surabaya."
Meilan ingin menolak.
Naluri pertamanya selalu menolak. Ia sudah terlalu lama mengandalkan diri sendiri, terlalu lama belajar bahwa bantuan orang kaya sering datang bersama tali yang mengikat leher. Terlebih bantuan Reynard, pria yang tanpa sadar menjadi pusat luka paling kelam dalam hidupnya.
Namun Bobo menggigil lagi.
Tangan kecil anak itu mencari-cari selimut, bibirnya putih, napasnya pendek.
Meilan menelan semua amarahnya.
"Apa yang bisa kamu lakukan?"
Reynard langsung bergerak.
Dalam lima belas menit, Bima menghubungi bandara Halim untuk penerbangan medis malam itu juga. Bayu mengurus dokumen rumah sakit dan rujukan. Reynard menelepon Dr. Kelvin dengan suara rendah, menanyakan kebutuhan alat, kamar isolasi, dokter anak, anestesi, dan izin tindakan. Semua kalimatnya pendek, tepat, tanpa satu pun kata pamer.
Meilan berdiri di sisi ranjang, menyaksikan jaringan kekuasaan Sutanto bergerak seperti mesin yang tiba-tiba diberi perintah.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa jijik pada kekuasaan itu.
Ia hanya merasa Bobo mungkin punya kesempatan lebih besar untuk selamat.
Sari tiba membawa tas kecil, wajahnya pucat. Lala ingin ikut dan menangis di rumah, tetapi Meilan menelepon lewat video. Wajah putrinya muncul di layar, mata sembap, rambut berantakan.
"Mama, Lala ikut," isaknya.
"Sayang, Lala tunggu di rumah dulu sama Mbak Sari, Yan, dan Hugo. Besok kalau dokter izinkan, Lala menyusul. Sekarang Lala bantu Mama jaga rumah, bisa?"
Lala menggeleng sambil menangis.
Bobo yang setengah sadar tiba-tiba membuka mata. "Lala... jangan nangis. Bobo tidur sebentar."
Tangis Lala pecah lebih keras.
Meilan memegang ponsel dengan tangan gemetar. Reynard berdiri di belakangnya, wajahnya kaku, seolah setiap tangis Lala memukul langsung ke tulangnya.
Penerbangan medis berangkat lewat tengah malam. Di kabin kecil, suara mesin pesawat bercampur dengan bunyi monitor portabel. Bobo berbaring dengan infus, oksigen kecil menempel di hidungnya. Meilan duduk di satu sisi, tidak melepaskan tangannya. Reynard duduk di sisi lain, tidak menyentuh, hanya menahan selimut agar tidak bergeser.
Selama perjalanan, mereka hampir tidak bicara.
Namun beberapa kali, ketika pesawat berguncang dan Meilan secara refleks menahan ranjang, tangan Reynard sudah lebih dulu berada di sisi yang sama. Jarak di antara mereka tetap ada, tetapi untuk beberapa jam itu, amarah Meilan tidak punya ruang untuk berdiri paling depan.
Yang ada hanya Bobo.
Di Surabaya, mobil ambulans dari Liang Medical Institute sudah menunggu. Dr. Kelvin sendiri berdiri di pintu masuk, jas putihnya terbuka, matanya tajam.
"Langsung ke ruang pemeriksaan."
Meilan ingin ikut masuk, tetapi perawat menahannya di depan pintu kaca.
"Bu, kami perlu steril."
"Saya ibunya."
"Saya tahu." Dr. Kelvin berhenti sejenak. "Tapi kalau Anda pingsan di dalam, kami harus mengurus dua pasien."
Kalimat itu membuat Meilan terdiam. Reynard berdiri di sampingnya, tidak menyentuh bahunya, hanya membuka botol air dan menyerahkannya.
Meilan menatap botol itu. Beberapa detik kemudian, ia mengambilnya.
Reynard tidak mengatakan apa pun, tetapi napasnya berubah pelan.
Pemeriksaan berlangsung sampai subuh. Meilan duduk di kursi koridor, kedua tangan menggenggam ponsel yang layarnya terus menampilkan foto Bobo dan Lala di Harmony Academy. Dalam foto itu, Bobo berdiri kaku, Lala tersenyum lebar sambil menarik lengan kakaknya.
Reynard duduk di seberang. Ia tidak memejamkan mata.
Setiap pintu ruang pemeriksaan terbuka, ia berdiri lebih dulu. Setiap perawat keluar, ia bertanya dengan suara rendah. Ketika Meilan akhirnya tertidur beberapa menit karena kelelahan, ia mengambil selimut dari Bima dan meletakkannya di sandaran kursi dekat bahu Meilan, tidak menyentuhnya sama sekali.
Meilan terbangun ketika mendengar suara Bobo.
"Mama..."
Ia langsung berdiri.
Bobo sudah dipindahkan ke kamar observasi. Wajahnya masih pucat, tetapi demamnya sedikit turun. Meilan berlari mendekat, lalu berhenti sebelum tubuhnya menekan selang infus.
"Mama di sini."
Bobo menoleh pelan. Matanya jatuh pada Reynard yang berdiri di dekat pintu.
Reynard tidak maju.
Anak itu menatapnya lama. Wajah kecil yang mirip dengannya terlihat lelah, terlalu kecil untuk membawa kebencian sebesar itu. Setelah beberapa detik, Bobo memalingkan wajah ke Meilan.
"Mama jangan capek."
Meilan menggigit bibir, lalu mengangguk.
Malam berikutnya, Bobo kembali demam. Dr. Kelvin memberi obat dan meminta observasi ketat. Meilan hampir tidak makan. Reynard akhirnya masuk ke kamar setelah ia melihat tangan Meilan gemetar saat memegang sendok.
"Makan dulu."
"Aku tidak lapar."
"Kalau kamu jatuh sakit, Bobo bangun dan tidak melihat Mama."
Kalimat itu membuat Meilan berhenti.
Reynard meletakkan bubur ayam hangat di meja kecil. Aromanya sederhana, bukan makanan hotel mahal. Ada irisan jahe tipis, telur setengah matang, dan kecap asin terpisah seperti yang biasa dibuat Sari.
"Aku minta dapur membuat yang mirip masakan rumah."
Meilan menatap bubur itu. "Kamu tidak perlu sampai begitu."
"Aku perlu."
Suara Reynard serak. Ia menatap Bobo yang tidur dengan napas pendek. "Aku terlambat tiga tahun. Sekarang apa pun yang bisa kulakukan, aku akan lakukan."
Meilan tidak menjawab. Tetapi malam itu, ia makan beberapa suap.
Lewat tengah malam, ia terbangun dari tidur pendek di sofa. Lampu kamar redup. Di sisi ranjang, Reynard duduk dengan punggung sedikit membungkuk. Satu tangannya memegang buku catatan kecil berisi suhu tubuh Bobo setiap jam. Tangannya yang lain menggenggam ujung selimut, memastikan kaki Bobo tetap hangat.
Mata Reynard merah.
Ia tidak tahu Meilan bangun. Pria itu hanya menatap Bobo seperti sedang menjaga satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupnya.
Hati Meilan yang sejak malam kebenaran itu membeku, untuk sesaat, retak sangat halus.
Pagi hari ketiga di Surabaya, Dr. Kelvin memanggil mereka ke ruang konsultasi. Di atas meja ada hasil laboratorium, citra pemindaian, dan beberapa lembar rencana tindakan.
"Dugaan saya benar," kata Dr. Kelvin. "Ini parasit langka. Masuknya sudah lama, mungkin sejak lingkungan buruk sebelum kalian pindah dari tempat lama. Selama ini tertidur, lalu aktif setelah daya tahan tubuh turun."
Meilan merasa darahnya mengalir turun dari wajah.
"Bisa disembuhkan?" tanya Reynard.
"Bisa." Dr. Kelvin menatap mereka bergantian. "Tapi harus operasi kecil untuk membersihkan titik utama dan terapi obat setelahnya. Karena Bobo masih sangat kecil, risikonya tinggi."
Meilan mencengkeram tepi meja. "Berapa peluangnya?"
Dr. Kelvin menarik napas.
"Enam puluh persen."
Ruangan itu sunyi.
Angka itu terlalu besar untuk disebut putus asa, terlalu kecil untuk membuat seorang ibu bisa bernapas lega.
Tangan Meilan dingin. Sebelum ia sadar, Reynard sudah mengulurkan tangan dan memegang ujung jarinya dengan sangat ringan, seperti takut ia akan pecah bila disentuh terlalu kuat.
"Mei," suaranya rendah, "kita pilih peluang hidupnya."
Meilan menatap tangan itu.
Kali ini, ia tidak menariknya kembali.