Takdir tak akan berubah jika kau tak ingin merubahnya, berjuanglah untuk mendapatkan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhaze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Fay lebih memilih untuk membonceng Ren, sedangkan Ivy dan Myla mereka menggunakan mobil.
Ren menyarankan untuk ke bengkel terlebih dahulu, nanti ke arena balap mereka menaiki motor saja.
Fay memeluk erat tubuh Ren, dan menyandarkan kepalanya di punggung Ren, dia merasa nyaman, dia tak perduli bagaimana nanti tanggapan Ren, hanya saat ini dia ingin bersandar.
Dia juga bingung dengan dirinya sendiri, saat bersama Ren dirinya seperti lepas kendali, aneh memang. Padahal ada sahabat-sahabatnya yang selalu mensuportnya dalam keadaan apapun.
Apa semudah ini hatinya berbelok, apa karena rasa kecewa terhadap lelaki, maka ia merasa harus melampiaskan pada lelaki, dia tak tahu, untuk saat ini biarkan seperti ini.
Ren hanya melirik sekilas tangan Fay yang ada di perutnya, dia tau Fay tidak baik-baik saja, mungkin terjadi sesuatu yang membuat gadis itu seperti ingin melarikan diri.
Terlihat dari raut wajahnya yang seperti habis menangis, lalu tiba-tiba terlihat begitu semangat saat melihat dirinya.
Ren pun menggenggam tangan Fay yang ada di perutnya, dia mengendarai motornya dengan satu tangan.
Fay pun membalasnya dengan menggenggam tangan Ren, jadi tangan mereka saling bertumpuk, meskipun hal itu tak berlangsung lama, karena bagaimana pun Ren harus kembali mengendarai motornya dengan benar.
Mereka semua sampai di bengkel, Ren pun langsung menuju rooftop tempat para sahabatnya berkumpul, di susul oleh Fay dan kawan-kawannya.
"Oi lama banget!" seru Taksa.
"Kaya ngga tau cewek aja!" jawab Ren.
"Heh! jadi lu ngajak Fay ma temen-temennya?" seru Nuna.
Belum sempat Ren menjawab Fay dan para sahabatnya sudah berdiri di sana.
Liam pun melirik dan lekas bangkit dari duduknya mempersilahkan gadis yang berdiri di sana untuk duduk.
Taksa pun memilih bangkit dari sova tempat duduknya, dan bergabung dengan Liam menyandar di tembok pembatas.
Ivy dan Myla duduk bersama Nuna, sedang Fay duduk di sova bekas Liam.
"Mo berangkat sekarang Ren?" tanya Taksa, karena memang jam sudah menunjukan jam 11 malam.
"Ya udah yu cabut" Ren pun bangkit di susul mereka semua.
Sesampainya di bawah Ivy sedang berjalan menuju mobilnya, dia lupa jika Ren mengatakan untuk tidak menggunakan mobilnya.
"Oi mo kemana?" Taksa mencekal tangannya, karena dia yang berdiri paling dekat dengan Ivy.
"Ke mobil lah!" jawabnya enteng.
"Lu mo ikut apa balik?" tanya Taksa, sedang yang lain sudah bersiap di motor mereka.
"Astaga naek motor ya, lupa gw!" Ivy pun menepuk dahinya.
Dia pun bergegas menaiki motor Taksa, seperti sudah kebiasaan, Liam pasti akan memboncengi Myla, dan Taksa pasti akan memboncengi Ivy, sedang Nuna sudah pasti dia hanya sendiri.
Ren memimpin di depan mereka, sedang Taksa berada paling belakang, dia mengendarai motornya lumayan lebih lambat dari biasanya, karena dia melihat dari kaca spion, tampak Ivy tak berpegangan pada apapun, dia memeluk dirinya sendiri.
"Bisa pegangan ngga, gw mo ngebut nih, dah ketinggalan jauh sama mereka?" tanyanya.
"Apa?" Ivy pun mendekat karena ia tak mendengar perkataan Taksa.
Taksa pun mengulangi pertanyaannya "Lu bisa pegangan ngga, gw mo ngebut, udah ketinggalan jauh soalnya!" dengan suara agak lebih keras, supaya gadis di belakangnya bisa mendengar.
Ivy melihat jika memang motor Ren dan yang lainnya sudah tak ada di depan mereka, jadi ia pun segera mencari pegangan.
Ivy pun celingukan apa dia akan memegang besi yang ada di samping joknya? tau berpegangan pada Taksa.
Ivy pun lebih memilih berpegangan pada besi yang berada di jok duduknya.
"Udah" jawabnya mencondongkan kepalanya ke arah depan.
Taksa pun menaikan gasnya, dan Ivy pun terkejut sampai dia memeluk Taksa.
Ivy yang kesal pun memukul punggung Taksa dengan sebelah tangannya, sedang tangan satunya masih memegang erat perut Taksa.
"Eh alehandro, sengaja lu ya!" sungut Fay.
Taksa hanya terkekeh geli, dia tak mengurangi kecepatannya. Ivy yang merasa takut hanya memeluk Taksa semakin erat dan memejamkan mata.
Saat mereka sudah sampai Ivy pun turun dan memukul bahu Taksa "Gila lu ya, gw takut tau!" menatap kesal kearahnya.
"Kan tadi gw dah bilang mo ngebut, gw juga ngga bisa napas, lu meluk kenceng banget kali" jawab Taksa membela diri.
Padahal dia senang saat melihat tangan gadis itu memeluk dirinya, walaupun gadis itu sangat cerewet dan blak-blakan, tak seperti Fay dan Myla, tapi menurut Taksa Ivy adalah gadis yang apa adanya.
Mereka semua sudah ada di pinggir jalan, duduk di jok motor masing-masing, Ren pun mengajak mereka duduk di trotoar.
"Ini emang ngga ada polisi Ren?" tanya Fay.
"Seringnya sih ngga ada, tapi klo ada yang lapor ya tau-tau ada aja polisi" jawab Ren yang hendak mematik rokoknya.
"Trus klo ada polisi semua di tangkep gitu?" sela Ivy, gadis itu mendadak panik, apa jadinya jika tiba-tiba ia di tangkap polisi, benar dugaannya, pasti tak berakhir baik jika seperti ini.
"Fay— Myl pulang yuk gw takut" pintanya seraya berdiri dan menarik tangan kedua sahabatnya itu.
Ren dan sahabat-sahabatnya pun tertawa melihat kepanikan gadis itu.
"Elah tenang aja sih, ngga bakal ketangkep ini, gw jamin!" jawab Taksa yang kemudian melepas jaketnya dan memakaikan ke Ivy.
Ivy menjadi salah tingkah, tak menyangka jika Taksa akan berbuat hal manis padanya.
Taksa pun menggosok-gosoknya telapak tangannya dan menggenggam telapak tangan Ivy yang sangat dingin itu.
"Cie....cie.....khemmm...hemmm" olok Liam.
Liam pun melepas jaketnya, saat hendak memberikan ke Nuna malah di balas pelototan gadis itu, jadi ia hanya menaruhnya di stang motornya.
Fay yang memperhatikan jika mereka menggunakan kaus dengan logo yang sama yaitu "THE MOONSTAR" pun bertanya.
"The Moonstar itu apa Ren?" tanya Fay.
Ren pun menghembuskan asap rokonya dan akan menjawab pertanyaan Fay, belum juga menjawab Fay sudah terbatuk-batuk karena asap rokok Ren.
Ren pun segera memanggil pedagang asongan yang biasa mangkal di sana, dan membeli sebotol air mineral untuk Fay.
Dia membukakan botolnya dan menyuruh Fay segera meminumnya, Fay pun tak membantah.
Ren pun segera mematikan rokonya, takut gadis itu akan terbatuk-batuk lagi.
"Sory" ucap Ren sambil mengusap pelan punggung Fay.
Fay pun mengangguk, dia yang tak enak hati sebenarnya. Nuna pun kesal melihat perhatian Ren terhadap Fay.
Setelah Fay sudah tak terbatuk-batuk dia pun menjawab pertanyaan Fay. "The Moonstar itu nama genk kita, noh yang kasih nama," tunjuk Ren ke Nuna dengan dagunya.
Nuna pun cuek, walupun dia mendengar Ren menyebut namanya.
Ada rasa cemburu dalam diri Fay, andai dia yang terlebih dahulu mengenal Ren, pasti dia bisa memberi nama genk-nya Ren.
"Artinya apa Ren? atau ada cerita di balik nama 'The Moonstar' ? Tanya Fay penasaran.
"Kata Nuna, genk motor kaya kita ini kan biasa di anggap berandalan, padahal ngga semua genk motor begitu, contohnya ya kita ini, kita cuma main-main aja, ngikutin hoby kita, ngga ada tuh kita ngedrugs pa lagi **** bebas, bukan kita itu mah, tau dah klo genk yang lain" jawab Liam
"Trus kita juga suka nongkrong di rooftop di temani sinar bulan ma bintang kata si Nuna" sambung Taksa sambil tertawa.
Nuna yang berada di sampingnya pun memukul kepalanya "Ngga gitu juga vangke, maksud gw kalian tuh bisa buktiin ke warga kalo kalian itu beda, gitu— pinteran si Liam dari pada lu" kesal Nuna, menatap tajam Taksa.
"Elah kan gw cuma nambahin Na, kan waktu itu juga lu ngomong kek gitu" bela Taksa, dan mereka semua pun tertawa mengingat kembali kenangan mereka saat memberi nama ' The Moonstar '
"Jadi The Moonstar itu artinya Bulan Bintang?" Tanya Myla.
"Iya gw bulannya mereka bintangnya, kan gw cewek sendiri di genk Ren" jawab Nuna bangga.
"Hilih....apaan dah" Taksa tak sependapat. Tapi mereka semua tak menjawab lagi keluhan Taksa.
.
.
.
...****************...
-YOU'RE MINE, SERRA
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti