Kisah cinta segitiga antara Kakak, Adik dan teman se genk nya. Ditikung karena keadaan yang memaksa. Sanggupkah semua mempertahankan cinta sejatinya?.
laki-laki yang sangat high quality untuk dijadikan suami bertemu dengan wanita yang seusia adik bungsunya, dengan segala godaan yang menerpa, sanggupkah mereka bertahan?
Selamat membaca readers, semoga cerita sederhana ini bisa membawa kita lebih memahami apa yang terjadi disekitar kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
* Departure 31, Amelia
"Begini aja Bu.. mohon maaf saya ga bisa banyak basa basi, saya mau menemui Amelia sekarang" kata Fawaz.
"Amelia sudah meninggal Pak" jawab Humas.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun... Kapan?" ucap Fawaz dan Zahra bersamaan.
"Sabtu, sekitar jam 9 pagi" jelas Humas.
Fawaz segera melihat HP nya. Banyak misscall dari Fera dan orang tuanya Fera.
Ada pula chat Fera yang mengabarkan tentang kematian Amelia. Tepat saat dia ijab kabul, Amelia pergi untuk selamanya.
"Administrasinya sudah selesai?" tanya Fawaz yang langsung teringat.
"Ini yang akan kami informasikan ke Pak Fawaz. Menurut catatan kami, hari Jum'at Bapak sudah mengirimkan deposit ke Rumah Sakit sebesar 50 juta rupiah. Setelah perhitungan biaya terhadap pasien atas nama anak Amelia, masih ada deposit tersisa sekitar 20 juta rupiah. Uang sisa deposit diambil sama Bu Fera. Pihak Kepala Kasir merasa kecolongan, padahal beliau sudah mendapat mandat dari Bapak Fawaz untuk urusan kurang lebihnya administrasi Rumah Sakit langsung dengan Bapak. Saat itu Kepala Kasir kami sedang ada pelatihan dari salah satu provider asuransi, kasir baru memberikan sisa deposit ke bu Fera karena mengaku sebagai istri Bapak" jelas Humas.
"Oke no problem, yang penting tidak ada urusan administrasi yang tertunggak atas nama Amelia. Baiklah kami pamit dulu akan langsung ke rumah keluarga Amelia" ujar Fawaz.
"Silahkan Pak Fawaz, sekali lagi mohon maaf dan turut berbelasungkawa" pinta Humas.
Fawaz segera menggandeng tangan Zahra menuju lift. Didalam lift bertemu sama Bu Reni, Kepala Kasir.
"Pak Fawaz apa kabar?" tanya Bu Reni.
"Alhamdulillah baik Bu, belum pulang udah sore" basa basi Fawaz.
"Masih ada yang harus diselesaikan Pak. Kami turut berduka cita ya Pak" kata Bu Reni.
"Terima kasih... mohon do'anya buat Amelia. Kami juga sangat berterima kasih atas pelayanan terhadap Amelia dan mohon maaf jika ada ketidaknyamanan dari kami pihak keluarga" ujar Fawaz.
"Sama-sama Pak. Ini Pak Fawaz baru ketemu sama pihak manajemen ya?" tanya Bu Reni.
"Ya" jawab Fawaz singkat.
"Sebelum Amelia meninggal, Bu Fera menemui saya Pa, tanya tentang tagihan dan sisanya, sesuai dengan permintaan Bapak, saya ga membukanya secara rinci dan tidak memberitahu tentang deposit Bapak. Bu Fera akhirnya cerita kalo Pak Fawaz adalah mantan suaminya yang hanya memberikan uang aja tanpa kasih sayang. Katanya Bapak akan menikah dengan wanita lain, wanita yang menjadi pelakor dalam rumah tangga Bapak dengan Bu Fera. Akhirnya Bu Fera meminta saya untuk meminta deposit yang besar agar Amelia bisa terjamin pengobatannya. Padahal awal masuk Bapak sudah memberikan uang 50 juta rupiah. Maaf ya Pak, naluri saya sebagai seorang istri jadi merasa larut dalam emosi kalo dengar kata pelakor" terus terang Kepala Kasir.
"Harusnya Anda profesional dalam menjalani tugas. Posisi Anda sebagai Kepala Kasir hanya berhubungan sama administrasi pasien bukan masalah pribadi. Apapun cerita keluarga bahkan pasiennya sendiri, tidak perlu Anda ikut campur. Semoga jadi pembelajaran ya buat Anda" ujar Fawaz tampak menahan emosi. Untungnya Zahra yang masih berpegangan tangan sama Fawaz langsung menarik tangannya Fawaz sebagai tanda buat menahan emosi dan meninggalkan Rumah Sakit.
"Baik Bu Reni, saya pamit dulu" pinta Fawaz sambil tersenyum
"Sekali lagi mohon maaf ya Pak" ujar Bu Reni.
Fawaz segera memacu mobilnya menuju rumah orang tuanya Fera. Disana ada orang tua dan Fera yang tengah menonton TV. Sudah jam 6 kurang, Fawaz minta diantar ke makam Amelia sebelum Maghrib. Letak makamnya dekat dengan rumah.
Fawaz memanjatkan do'a di makam Amelia. Gundukan tanah merah bertabur bunga masih tampak.
"Maafin Daddy ya Amel...HP ga Daddy aktif karena Daddy lagi fokus ke pernikahan. Jadi kabar kepergian kamu pun baru tau hari ini. Tenanglah disana, udah ga sakit lagi ya Nak.. udah ketemu sama Papa Reno. Daddy pernah janji kan akan bawa Mommy Zahra buat liat kamu, ini mommy udah datang" bisik Fawaz dalam hatinya.
"Fera...Minggu depan ikut saya ke airlines, kita lunasin utang kamu, biar tenang semuanya" kata Fawaz didepan makam Amelia.
"Kamu gapapa Zahra?" tanya Fera.
"Gapapa Mba, kalo Bang Fawaz sudah memutuskan, saya ikut aja"jawab Zahra.
Sebenarnya Zahra belum ngerti banget tentang Amelia, Fera dan Fawaz. Tapi demi harga diri dan nama baik Fawaz, dia pura-pura paham sama kondisi ini.
Dalam perjalanan pulang, Fawaz menceritakan semua tentang Reno, Amelia dan Fera, tanpa ada yang ditutupi dari Zahra. Fawaz meminta Zahra untuk merahasiakan hal ini dulu dari Mama dan Papa sampe masalah Fera selesai.
"Abang hutang budi sama Reno. Dulu Abang kecelakaan ditabrak mobil, Reno yang menyumbangkan darahnya dan merawat Abang di rumahnya pasca keluar dari Rumah Sakit. Mama sama Papa ga dihubungi saat itu. Hampir sebulan Abang rehat buat recovery dan semua biaya pengobatan dan hidup Abang ditanggung sama Reno. Setahun masa pemulihan hingga kembali normal lagi, Reno yang meyakinkan pihak airlines kalo Abang ga masalah tetap menjadi seorang Pilot. Makanya Abang sangat merasa bertanggungjawab ke Amelia sebagai wujud balas budi Abang. Sekarang kamu paham kan kalo Abang suka terima telpon jauh-jauh dari semua. Ya itu video call dari Amelia yang kadang kangen sama Abang. Banyak hal yang harus Abang jaga, walaupun Abang tau menyembunyikan Fera seolah Abang berkomplot sama dia. Tapi Abang melakukan ini untuk Amel. Amel butuh kasih sayang seorang Ibu. Kalo Fera kena proses hukum, kasian nanti Amel siapa yang urus" cerita Fawaz.
"Ya Ra paham" ucap Zahra.
"Makasih De... oh ya rumah Abang udah laku De, tadi ada agen properti yang telpon, 700 jutaan kalo ga salah, tapi belum termasuk pajak penjual. Kecil sih tipe 21 tapi udah renovasi dan letaknya hook. Abang jual beserta isinya. Jadi sementara kamu akan tinggal dirumah Papa dulu ya. Abang udah beli tanah, nanti kita bangun sesuai dengan selera kita berdua" papar Fawaz.
"Abang udah punya rumah sendiri?" tanya Zahra.
"Ya kecil De, tadinya buat kita tinggal disana, tapi Abang butuh buat lunasin urusan Fera sama airlines dulu. Sabar ya, nanti Abang bikinin rumah buat kita, Abang kumpulin uangnya dulu" jelas Fawaz.
"Ya..." jawab Zahra.
"Abang tau kamu ingin punya rumah kaya gimana. Tanahnya udah ada, tinggal Abang cari uang buat bangunnya aja" ucap Fawaz.
"Kemarin kenapa Abang transfer lagi ke rekening Ra? katanya masih banyak kepeluan" ujar Zahra.
"Oh yang itu gaji Abang, simpan ya buat keperluan rumah tangga kita. Sama kamu atur bisa disisihin buat bangun rumah" pinta Fawaz.
"Gaji abang 60 juta?" tanya Zahra meyakinkan.
"Ya masih segitu karena tergantung jam terbang kita, semakin senior dan berpengalaman akan makin besar. Itu juga karena kerja diluar ya pake dollar dibayarnya. Diluar itu ada tunjangan, overtime dan uang perjalanan. Nah uang itu nanti buat pegangan Abang ya. Buat bayar sewa apartemen di Singapore sama biaya hidup kalo lagi disana" jelas Fawaz.
"Ya kalo Abang masih kurang, ga usah transfer segitu ke Ra" ucap Zahra.
"Cukup De...tenang aja. Kan uang diluar gaji lebih dari cukup. Makanya Abang bisa bantu biaya Amel. Dalam sebulan itu Amel bisa abis sekitar 50 jutaan. Abang usahakan gaji pokok itu diputar ke perusahaan Papa juga, kan lumayan dapat keuntungannya. Belum lama ini Papa dapat tanah posisi bagus dan harga miring karena orangnya butuh uang. Jadinya semua modal sama keuntungan Abang di tempat Papa buat beli itu dulu. Letaknya di Jalan Raya Bogor. Terus kita yang tiba-tiba nikah, ya terkuras lah tabungan buat bangun rumah" cerita Fawaz sambil cengengesan.
"Kan Zahra bilang ga usah resepsi" ujar Zahra.
"Biarin lah, kan menyenangkan orang tua. Toh kemarin juga ngundangnya dikit" jawab Fawaz.
"Abang libur masih lama?" tanya Zahra.
"Ya sekitar 10 hari lagi, jadwal kerja Abang udah keluar, airlines buka rute baru, jadi nambah jam deh" ungkap Fawaz.
"Enak ya bisa jalan-jalan keliling dunia" kata Zahra.
"Alhamdulillah.. kalo dulu enak-enak aja, tapi sekarang kayanya berat deh. Kemarin sebulan kita jauhan aja rasanya rindu banget, meskipun kita video call tiap hari, rasanya beda aja" papar Fawaz dengan senyum genitnya.
"Bucinnya sama kaya abege deh" ledek Zahra.
lanjuut