“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Enak nyoh
Hidungnya kembang-kempis, menghirup aroma masakan Beni dengan mata yang melebar. Air liurnya tanpa sadar hampir menetes melihat uap hangat yang mengepul dari mangkuk yang dibawa Beni.
Beni berjalan mendekat lalu meletakkan mangkuk itu di atas meja bambu dengan suara tuk yang pelan. "Makan ini. Habiskan agar kau punya tenaga untuk mulai bekerja seperti membersihkan rumah ini haha."
Tanpa gengsi sedikit pun, wanita itu langsung merangkak mendekati meja, meraih mangkuk tersebut dengan kedua tangan manusianya yang masih canggung, dan langsung mencicipi kuahnya dengan lahap.
SLURRPP!
Seketika, sepasang mata hitamnya berbinar terang. Ekspresi wajahnya berubah drastis dari cemberut menjadi penuh kejutan dan kepuasan yang mendalam.
Tekstur daging ikan yang lembut langsung meleleh di lidahnya, mengirimkan gelombang kehangatan spiritual yang instan ke seluruh aliran darah manusianya yang sedang kekeringan.
"Nyam! Enak banget!" serunya kegirangan, menyendok makanan itu dengan tangannya secara brutal karena tidak tahu cara menggunakan sendok. "Wah! Apa ini?! Makanan daratan ternyata selembut dan sehangat ini? Rasanya sangat kaya! Energi di dalamnya juga sangat murni!"
Beni duduk di kursi bambu di seberang meja, menyandarkan punggungnya sambil bersedekap, menatap pemandangan rakus itu dengan senyum meremehkan. "Tentu saja enak. Itu buatan tangan nelayan yang hampir kau tenggelamkan semalaman."
Sambil mengunyah dengan mulut penuh, wanita itu mendongak, menatap Beni dengan penuh rasa ingin tahu. "Hei, Manusia... makanan enak ini sebenarnya terbuat dari apa? Ramuan sihir daratan ya?"
Beni menopang dagunya dengan satu tangan, seringai liciknya kembali muncul. "Terbuat dari ikan."
UHUKK! UHUKK!
Wanita duyung itu langsung tersedak hebat hingga wajahnya memerah. Ia memukul-mukul dadanya sendiri, menatap Beni dengan tatapan horor yang luar biasa bercampur rasa jijik yang dibuat-buat.
"I-Ikan?! Kau memberiku makan bangsaku sendiri?! Kau monster kanibal ya?!" pekiknya dramatis, meskipun tangannya masih memegang mangkuk itu erat-erat, menolak untuk melepaskannya.
Beni memutar matanya malas. "Bangsamu dari mana? Kau itu duyung, mereka itu ikan spiritual biasa. Lagipula, kau sendiri di laut dalam juga memakan ikan-ikan kecil kan? Jangan munafik. Kalau tidak mau, kembalikan mangkuknya ke sini."
Beni bergerak seolah ingin mengambil mangkuk itu kembali, membuat wanita berambut hitam itu buru-buru membalikkan badannya memunggungi Beni, melindungi makanannya seperti seekor kucing yang takut makanannya direbut. "T-Tidak boleh! Karena sudah disajikan, ini sudah menjadi milikku! Biarpun ini ikan, tapi... tapi rasanya terlalu enak untuk dibuang!" ucapnya ketus sambil kembali melanjutkan makannya dengan lahap hingga tetes kuah terakhir.
Beni menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah absurd makhluk laut tersebut. Rasa lelah yang teramat sangat kembali menyerang kesadarannya. Kelopak matanya terasa seberat masing-masing lima kilogram.
Beni bergeser, turun dari kursi dan memilih untuk duduk berselonjor di atas lantai kayu yang terasa agak sejuk, menyandarkan punggungnya pada sisi ranjang tua miliknya. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintar tuanya yang layarnya retak.
Ia menyalakan layar ponsel, mengabaikan notifikasi aplikasi jual-beli yang masih sepi (dan ia masih belum menyadari harga seratus juta yang salah ketik itu).
Karena terlalu lelah untuk berpikir berat, Beni hanya membuka aplikasi video pendek untuk mencari hiburan ringan yang bisa membuatnya mengantuk.
Sebuah video komedi dengan musik latar yang berisik dan ceria mulai berputar di layar kecil ponsel Beni.