Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
BAB 15
Lima tahun mungkin telah berlalu.
Batu raksasa yang diapit dua tebing terpencil, yang dahulu hanya berisi sebuah rumah kayu kumuh, kini telah berubah menjadi sebuah permukiman kecil yang hidup.
Memanfaatkan setiap celah dan kontur bebatuan pegunungan yang sulit, aku perlahan merancang tempat ini agar fungsional. Kebun sayur tumbuh subur di berbagai sudut tanah datar. Katrol kayu yang dulu kubuat bersama Goran sudah diganti hingga tiga kali; ukurannya kini lebih masif dan mampu mengangkat beban berkali lipat dari sebelumnya. Kami bahkan sudah berhasil membiakkan beberapa ekor kambing gunung hasil tangkapan Goran yang dipelihara di kandang.
Seluruh tepian tebing juga sudah kupagari dengan kayu tebal. Tentu saja, itu karena aku takut terjadi sesuatu pada Mila yang hiperaktif dan sering berlarian ke sana kemari, sekaligus menjaga agar para kambing tak sengaja tergelincir ke dasar jurang saat dikeluarkan dari kandang.
Namun, dari semua hal, perubahan terbesar justru terasa di antara kami bertiga. Waktu lima tahun telah melebur ketegangan dan kewaspadaan awalku, mengubah kami menjadi sebuah keluarga ganjil yang saling bergantung. Setiap hari, kami selalu makan bersama didepan tungku api, berbagi porsi dalam keheningan yang nyaman layaknya sebuah ritual yang tak boleh dilewatkan.
Goran, pria raksasa yang dulu bertindak murni mengikuti insting, kini entah bagaimana sangat bergantung pada keputusan keputusanku untuk urusan rumah. Ia tak lagi asal melempar bangkai buruannya ke lantai. Sekarang, ia akan meletakkan hasil buruannya di atas meja potong kayu dan menungguku memilah mana daging yang harus diasap dan mana yang dimasak hari itu. Jika ada sesuatu yang rusak di sekitar tebing, ia akan menatapku lebih dulu, menunggu instruksiku tentang cara memperbaikinya.
Lalu Mila. Keseharian anak itu kini praktis berputar di sekelilingku. Jika Goran adalah perisai kami, maka akulah kompas bagi Mila. Ia menempel padaku bagai bayangan. Entah sejak kapan, aku menyadari bahwa ia jauh lebih sering meneriakkan panggilan "Kak Qatilah!" di seantero tebing ini dibandingkan memanggil ayahnya. Ia lebih suka menghabiskan waktu duduk berjam jam di sebelahku, memperhatikanku bekerja sambil menanyakan ribuan hal tentang dunia yang tak pernah bisa dijawab oleh Goran.
Soal umur, mungkin sekarang usiaku sekitar sepuluh tahunan. Entahlah, sangat sulit melacak presisi waktu di zaman ini. Tubuhku memang sudah bertambah tinggi, tapi coba lihat Mila.
Melihatnya tumbuh membuatku sadar betul bagaimana garis keturunan dan gen ayahnya yang luar biasa mendominasi tubuh anak itu. Usiaku jelas lebih tua dari Mila, mungkin selisih satu tahun atau kurang, tapi tinggi tubuhku hanya mencapai bahunya.
Secara fisik, aku memiliki perawakan ramping khas perempuan Arab, dengan rambut lurus sekelam malam, mata gelap yang tajam, dan tulang yang lebih kecil namun lincah. Sementara Mila? Gadis cilik yang sering kusuapi itu kini tumbuh menjulang melebihi rata rata anak usia sepuluh tahun. Rambut keemasannya tebal bergelombang, mata birunya bersinar terang, dan postur tubuhnya kokoh berisi. Otot otot kecil mulai terbentuk di lengan dan kakinya. Dia benar benar Goran versi mini yang kebetulan berwajah jelita.
Aku sering bertanya tanya, apakah orang orang Eropa di masa ini memang punya laju pertumbuhan secepat itu, atau ini mungkin murni keturunan kaum 'Ad? Apa mungkin memang Allah tak memusnahkan semua kaum itu dan mungkin juga orang tua Goran memanglah sisa sisa mereka yang masih hidup. Entahlah, hanya Allah yang tahu.
Dan bukan hanya tampilannya saja yang tak wajar untuk anak seusianya, tapi juga tenaganya.
Satu bukti tak terbantahkan terjadi beberapa bulan lalu, tepat saat persediaan garam yang dulu kupakai untuk mengobatinya habis karena terus kugunakan sebagai bumbu masakan. Hari itu, Mila mulai tertarik berlatih ilmu pedang?, tidak lebih tepatnya ilmu kapak. Ia berdiri di halaman depan, memperhatikan Goran yang sedang mengayunkan kapak besarnya. Aku yang sedang merangkai tali rami hanya melirik mereka yang asyik mengobrol, hingga sebuah pemandangan membuat mataku membelalak syok.
Goran menyodorkan kapak perangnya kepada Mila.
Kapak baja itu sangatlah masif dan berat, mungkin sekitar seratus kilogram. Saat Goran sedang pergi dan kapak itu tergeletak menghalangi jalan, aku dengan susah payah hanya bisa menggesernya beberapa sentimeter sebelum akhirnya menyerah dan memilih melangkahinya. Namun saat kulihat Mila menerima gagang kapak itu langsung dari tangan Goran, aku langsung menggeleng gelengkan kepala tak percaya. Meski tubuhnya sedikit terhuyung ke depan, wajahnya memerah, dan urat lehernya menegang karena kesulitan menahan bebannya, Mila berhasil menyambut dan menahan kapak itu agar tidak jatuh ke tanah.
Sejak kejadian absurd itulah, setiap kali Goran pergi berburu, aku lebih suka memanfaatkan tenaga Mila. Menyuruhnya membantuku mengangkat kayu, memindahkan batu untuk memperkuat permukiman kami, sembari menyuapkan berbagai ilmu dan akal sehat kepadanya. Biarlah dia yang menjadi ototnya, dan aku yang menjadi otaknya.
"Kak Qatilah!"
Panggilan nyaring Mila memecah keheningan sore. Aku sedang berjongkok memanen sayur sayuran dari kebun karena sebentar lagi musim dingin akan tiba.
"Apa?" balasku tanpa menoleh.
"Kok sup yang di tungku rasanya masih tidak enak, Kak?" gerutunya sambil berjalan mendekat.
Aku menghela napas panjang. "Kan sudah kubilang, garamnya sudah habis berbulan bulan yang lalu. Kenapa masih terus tanya hal yang sama sih?"
"Tapi aku ingin makan sup yang enak seperti dulu lagi." Mila merengek pelan, bibirnya mengerucut.
Sebenarnya, aku harus mengakui bahwa ucapan Mila benar adanya. Setelah garam habis, semua masakan yang kubuat rasanya hambar. Aku hanya bisa memastikan kebersihan dan asupan gizi kami terpenuhi, mengorbankan segala jenis kenikmatan lidah.
Aku berdiri sejenak sembari memikirkan keluhan anak itu.
"Hmmm, ayahmu ke mana?" tanyaku.
Mila menoleh ke sekeliling, matanya tertuju pada batu besar di tengah halaman tempat kapak Goran biasa ditancapkan. Batu itu kosong. Ia menoleh lagi ke arahku.
"Kapaknya tidak ada. Kayaknya pergi."
"Pergi ke mana ya? Daging rusa hasil asapan masih banyak di tempat penyimpanan. Apa mungkin dia bosan dan pergi berjalan jalan?" gumamku.
"Memangnya kenapa kalau ayah pergi, Kak?" tanya Mila penasaran.
"Emas di ruang harta sama sekali tak terpakai sampai sekarang. Mungkin ini saatnya kita memanfaatkannya."
Mata biru Mila langsung berbinar cerah. "Untuk dapat garam?!" sahutnya dengan nada luar biasa gembira.
"Iya, itu juga. Tapi yang paling penting adalah gulungan," kataku.
"Gulungan? Kan di ruang harta ada banyak sekali gulungan?" balas Mila bingung.
"Iya, tapi aku tidak bisa membacanya." Aku melipat tangan di depan dada. "Aku harus menyuruh ayahmu untuk mencari sesuatu, atau mungkin mencari guru?"
Aku terdiam cukup lama.
Gulungan gulungan yang kutemukan di ruang harta itu bukan sekadar coretan tak bermakna. Susunan bentuknya sangat mirip dengan susunan alfabet, namun variasinya berbeda sekali sehingga aku sama sekali tak bisa memecahkannya. Apa mungkin aku bisa mendapatkan seorang guru? Tapi Goran bisa saja marah jika ada orang lain di tempat ini.
Satu satunya cara yang logis adalah menemukan magister dan belajar di rumahnya. Emas batangan yang pernah kuhitung di ruang harta seharusnya sangat cukup untuk membayar biaya kami berdua, bahkan masih sisa banyak.
Masalahnya adalah dua lapis rintangan besar yang harus kuhadapi. Pertama, bagaimana mendapat perizinan dari Goran. Mengajak Mila turun mempelajari ilmu adalah hal yang sangat berat baginya.
Kedua, dan ini yang paling krusial, bahkan jika aku berhasil turun dan menemukan seorang magister, belum tentu ia mau menerima murid perempuan. Di zaman ini, wanita hampir mustahil diajari membaca dan menulis. Datang membawa kepingan emas saja belum tentu cukup untuk mendobrak aturan dunia luar.
"Kak!" panggil Mila.
Aku masih tenggelam dalam pikiranku.
"Kakak!" teriak Mila memecah lamunanku.
"Aaah iya iya, tidak usah teriak teriak!" gerutuku. "Nanti kalau ayahmu pulang, kita akan bicara padanya untuk..."
"Cari garam!" sela Mila cepat.
"Iya, itu dan yang lainnya. Sekarang bantu aku mencabut sayur sayuran ini. Hati hati jangan keras keras nanti rusak," balasku.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭