Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 Kencan Interogasi
Dengan ditemani motor kesayangan. Faza memecah kemacetan ibu kota. Pemandangan wajar dan sudah menjadi kebiasaan sejak tinggal di kota tersebut.
Drrrt.
Faza menepikan motor saat handphonenya bergetar. Senyum di sudut bibirnya terangkat ketika melihat nama tertera di layar handphone.
“Bisa-bisanya aku lupa. Jika ada cctv terpasang di memori dan juga penglihatanku,” seloroh Faza melihat nama Satria tertera jelas.
Sebab, kemanapun Faza pergi dan berada. Satria selalu mengetahuinya. Sama seperti saat ini, ketika Faza sedang melakukan pengintaian.
“Sore, Ndan.”
“Kirim titik lokasi yang akan kamu datangi sekarang juga. Aku akan mengirim beberapa orang menuju ke tempat tersebut.”
“Siap, Ndan.”
“Lakukan dari kejauhan. Jika sudah terkunci, baru kamu gerak.”
“Siap, Ndan.”
“Jangan ceroboh meninggalkan jejak saat bertugas.”
“Siap, Ndan.”
“Lakukan dengan baik.”
Tanpa menunggu jawaban dari Faza. Satria memutuskan panggilannya. Rasa lega jelas dirasakan Faza.
“Aku kira akan membahas tentang hal lain. Ternyata masih tentang pekerjaan,” gumam Faza penuh kekhawatiran.
Satria mengetahui segalanya meskipun Faza belum memberikan laporan. Namun, ada pertanyaan mengganggu diri Faza.
Apakah pimpinannya itu tahu tentang kecurigaan kejadian 18 tahun lalu? Entahlah, yang jelas dari tatapan Satria tadi subuh di ruangan sudah memperkuat praduga Faza
Jelas hanya Satria saja yang tahu tentang kebenaran. Sebab, Faza dilarang membahas hal itu.
“Lebih baik aku fokus dengan pekerjaan ini. Jika menyangkut hal itu, bisa diselidiki secara perlahan.”
GREEENG!
Faza kembali melanjutkan tujuannya menuju ke titik posisi. Karena masih dalam penyamaran, jelas ia mencari tempat melepas penyamaran.
Jika Faza dipaksa untuk fokus dengan pekerjaan. Lain halnya dengan Satria yang kini tampak sangat berantakan.
Beberapa hari tidak pulang ke rumah. Dirinya tampak jauh berbeda dari pribadi yang terkenal rapi.
Huff…
Asap rokok kembali mengepul memenuhi balkon kantor Satria. Entah sudah habis berapa bungkus. Namun, belum mampu membuat dirinya tenang.
“Ternyata hidupnya tidak mudah,” gumam Satria sambil terus memperhatikan rekaman cctv di lingkungan rumah Dira.
“Dia sudah tumbuh besar, cantik dan lembut sama seperti ibunya,” ucap Satria.
“Meskipun saat itu aku tidak sepenuhnya sadar. Tapi, tatapan mata tidak berdaya itu sudah menjelaskan semuanya.”
Kata-kata Faza tentang identitas perempuan 18 tahun lalu. Kembali memenuhi pikiran Satria tiap detik.
Meskipun Satria fokus dengan segala kesibukan menyelesaikan banyak kasus. Tapi, tetap saja pikirannya kembali ke sosok Dira dan ibunya saat waktu senggang.
Tok… tok.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Satria dari layar handphone.
“Apakah Ndan Satria masih berada di dalam?”
Suara Tarjo terdengar cukup jelas. Satria yang berada di balkon, memilih masuk ruangan. Kembali fokus ke pekerjaan mencoba melupakan masalahnya sejenak.
“Masuk!”
Krieeet.
Tarjo tampak kaget dengan keadaan Satria. Ia sama sekali tidak mengenal sosok laki-laki yang menjadi idolanya dalam hal pekerjaan maupun penampilan, dengan disiplin waktu luar biasa.
Meskipun mulutnya terasa gatal untuk bertanya keadaan atasannya. Namun, keinginan itu sulit terucap.
“Lapor, Ndan. Ini laporan yang Ndan Satria minta. Semuanya sudah lengkap sesuai arahan Ndan,” tutur Tarjo hati-hati.
“Ya, bagus. Aku suka dengan hasil pekerjaanmu yang rapi,” puji Satria.
Bagi Tarjo pujian Satria adalah prestasi untuknya. Karena atasannya itu dikenal perfeksionis dan rapi dalam hal pekerjaan.
“Kamu bisa pulang sekarang.”
“Pulang sekarang, Ndan?” tanya heran Tarjo.
“Kenapa? Kamu tidak mau,” tanya Satria menatap Tarjo.
“Pulang ketika Ndan masih tetap bekerja?” tanya Tarjo memastikan.
“Malam ini aku tidur di kantor. Untuk segala urusan sudah ada yang menghandle. Jadi, malam ini kamu bisa tidur nyenyak.”
“Siap, Ndan.”
“Keluarlah!”
Aslinya Tarjo masih tetap ingin berada di kantor. Melihat wajah Satria berantakan. Jelas Tarjo kepikiran. Dirinya benar-benar merasa asing melihat sosok atasannya.
Drrrt.
Tidak lama setelah keluar dari kantor Satria. Tarjo dikagetkan suara handphone bergetar di saku celana. Senyumnya berkembang melihat nama “My lovely” di layar.
“Kalau memang sudah sehati. Selalu ada kesempatan buat dekat. Seperti saat ini. Lagi capek-capeknya kerja tiba-tiba ada kiriman asupan energi.”
Dengan penuh semangat Tarjo mengangkat panggilan dari perempuan incarannya.
“Halo, as….”
“TARJO! ADA DIMANA KAMU?”
Belum juga Tarjo menyelesaikan ucapan salam. Suara sang pujaan hati menembus gendang telinga hingga berdenging.
“Ada apa, Mbak Panda?” tanya Tarjo hati-hati.
“Kamu masih ada di kantor? Mas Satria sama kamu, gak?”
Tarjo yang sebelumnya disuruh pulang Satria. Jelas tampak kikuk, jika dirinya menjawab masih ada di kantor. Jelas akan menimbulkan masalah baru.
“Perjalanan pulang, Mbak. Ada apa?” tanya Tarjo aman dengan ucapannya. Ucapannya memang benar, jika dalam perjalanan menuju parkiran.
“Sibuk, Gak?”
“Sama sekali gak sibuk kalau untuk Mbak Panda,” jawab Tarjo menggoda sambil tersenyum.
“Jemput aku di rumah sekarang juga! Awas kalau sampai lama.”
“Siap, Mbak. Ini langsung meluncur.”
Wajah berbinar menghiasi Tarjo menuju rumah dinas Satria. Karena tidak biasanya Miss Panda memanggilnya datang ke rumah secara pribadi.
Melihat kesempatan bagus ini. Jelas Tarjo tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dekat dengan sang pujaan hati.
“Aduh, masa kencan sama pujaan hati pakai seragam. Aku harus mengganti pakaian lebih santai biar orang yang melihat seperti pasangan yang sedang kasmaran.”
Tarjo berlari menuju lokernya. Berganti baju lebih kasual agar pertemuan dengan Miss Panda lebih santai dan intens.
Sedangkan di rumah dinas Satria. Tampak Miss Panda berjalan mondar-mandir sambil melihat ke arah pagar, hingga mengacaukan konsentrasi Kakek Wirawan.
“Panda, kenapa kamu mondar-mandir gak jelas seperti itu? Bikin pusing Papa saja,” gerutu Kakek Wirawan melihat putrinya.
“Kenapa lama sekali dia datang?”
Bukannya menjawab pertanyaan Kakek Wirawan. Justru Miss Panda lebih memilih melihat jam tangannya berulang kali. Tentu saja rasa penasaran menyelimuti pikiran Kakek Wirawan.
“Dari tadi lihat jam terus. Memangnya mau pergi kemana kamu?”
Lagi dan lagi Miss Panda sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Kakek Wirawan.
Jika sebelumnya Miss Panda fokus dengan jam tangannya. Justru saat ini pandangan Miss Panda kearah pintu gerbang.
“Punya anak dua gak ada yang peduli denganku. Yang satunya gak pernah kasih kabar. Sedangkan yang ini tidak peduli denganku. Benar-benar kasihan sekali kamu Wirawan,” gerutu Kakek Wirawan pada dirinya sendiri.
“Apa Papa ke panti jompo saya ya, Nda?”
“Papa bicara apa sih?” potong cepat Miss Panda.
“Makanya cepat menikah. Kasih Papa cucu biar gak kesepian.”
“Kenapa jadi kearah situ sih, Pa?”
“Ya, gimana lagi. Beberapa hari rumah ini sepi. Ya mending seperti itu.”
“Panda hanya ada urusan sebentar. Nanti juga pu…”
Brum.
Suara mesin mobil dari luar pagar. Menghentikan percakapan Miss Panda dan Kakek Wirawan. Wajah penuh penasaran menyelimuti keduanya.
“Itu kok seperti mobilnya Tarjo,” gumam Kakek Wirawan yang membuat Miss Panda buru-buru menyalami papanya.
“Pa, Panda ada urusan sebentar. Nanti juga pulang cepat. Assalamualaikum,” salam cepat Miss Panda sebelum Tarjo keluar mobil.
“Waalaikumussalam.”
Miss Panda berlari menuju pagar rumah dinas Satria. Mengabaikan semua orang untuk bisa masuk ke mobil Tarjo tanpa diketahui Kakek Wirawan.
Bruk!
“Ayo jalan cepat!” perintah Miss Panda ternyata tidak diindahkan oleh Tarjo yang justru menghampiri Kakek Wirawan.
“Mau kemana kamu?”
“Pamit sebentar.”
Tarjo dengan rasa percaya diri tinggi menghampiri Kakek Wirawan. Rasa bangga tersemat pada dirinya karena berhasil menaklukkan hati Miss Panda yang terkenal galak.
“Oalah ternyata orang yang ditunggu-tunggu sama Panda itu kamu to, Jo.” Suara Kakek Wirawan menuju telinga Miss Panda.
“Benar, Pak.”
“Ya sudah, langsung lamaran saja kalian berdua.”
Miss Panda lebih memilih menutup telinganya agar tidak mendengar obrolan Tarjo dan Kakek Wirawan. Karena dirasa cukup lama. Miss Panda memutuskan berteriak.
“Tarjo, ayo cepat! Keburu malam.”
“Baik, Mbak,” ucap Tarjo sambil berlari menuju mobil setelah berpamitan dengan Kakek Wirawan.
“Jo, jagain Panda.”
“Siap, Pak.”
Bruk.
“Mau kemana, Mbak?” tanya cepat Tarjo setelah menutup mobil.
“Ke restoran Padang sekitar sini saja.”
“Siap, Mbak.”
Selama menuju ke restoran, tidak ada obrolan yang berarti. Miss Panda lebih memilih diam. Hal itu pun juga terjadi hingga keduanya menikmati makanan.
Hal cukup janggal ini jelas membuat Tarjo memasang mode serius. Yakin betul akan ada obrolan yang akan menekan dirinya.
“Kamu gak nambah lagi, Jo?”
Suara Miss Panda tiba-tiba memecah kesunyian. Tarjo lebih memilih tersenyum sebagai upaya menekan kegelisahannya.
“Buat Mbak Panda saja, yang sepertinya makan sedikit,” ucap Tarjo melihat makanan di piring Miss Panda.
“Baiklah, karena kamu tidak ingin menambah makanan. Berarti kita langsung ke inti tujuanku mengajakmu makan malam diluar.”
Booom!
Selayaknya ledakan yang tertahan sejak tadi. Ternyata prediksi Tarjo tepat sasaran. Miss Panda mengajaknya makan malam berdua karena ada maksud terselubung.
“Aku mengajakmu bukan untuk berkencan. Melainkan untuk menanyakan sesuatu hal tentang Mas Satria.”
“Maksudnya, Mbah?” tanya Tarjo pura-pura tidak tahu.
“Apakah kamu tahu hal apa yang membuatku kesal padamu?”
“Tidak tahu, Mbak.”
“Sifat barusan itu,” potong cepat Miss Panda.
“Kamu jelas tahu arah pembicaraan ku,” ucap Miss Panda sambil berhenti sejenak.
“Sekarang aku tanya padamu. Apakah Mas Satria sangat sibuk akhir-akhir ini?”
“Ndan Satria memang sangat sibuk, Mbak. Karena banyak kasus kriminal yang harus diselesaikan,” jawab Tarjo jujur.
“Akhir-akhir ini saja atau sepanjang bulan ini? Dan jika memang Mas Satria sibuk. Kenapa kamu sekarang tenang duduk di hadapanku? Kamu bohong padaku.”
Tarjo terdiam sejenak. Berbicara dengan pujaan hatinya ini memang harus hati-hati.
“Aku sama sekali gak bohong, Mbak. Ndan Satria memang sedang menyelesaikan kasus besar.”
“Kan ada kamu bawahannya. Kenapa harus menyibukkan diri hingga beberapa hari tidak pulang ke rumah? Apa Mas Satria tidak percaya denganmu?”
Tarjo langsung terdiam mendengar rentetan dugaan sekaligus pertanyaan dari Miss Panda. Diamnya Tarjo memancing amarah Miss Panda yang memang kesabarannya sangat tipis.
“Baiklah, jika kamu memang memilih diam untuk melindungi Mas Satria. Percuma juga aku mengajakmu makan di tempat ini.”
Setelah meletakkan lembaran uang diatas meja. Miss Panda mengambil tasnya meninggalkan Tarjo dalam keadaan marah.
“Mbak Panda!”
“Jangan panggil aku dan gak perlu kamu antar aku pulang. Karena aku bisa pulang sendiri.”
“Mbak!”
Tarjo cepat-cepat mengeluarkan uang untuk membayar makan malamnya dengan Miss Panda. Lalu mengambil uang pujaan hatinya untuk mengganti dengan uangnya sendiri.
“Mbak Panda!”
Tanpa menghiraukan teriakan panggilan Tarjo. Panda cepat-cepat menuju keluar parkiran menghindari Tarjo yang mengejarnya.
Wajahnya merah padam menahan kesal. Dirinya sudah rela mengajak makan malam diluar. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan.
“PANDA, aku bisa jelasin semuanya,” geram Tarjo sambil menarik tangan Miss Panda tanpa panggilan “Mbak” seperti dirinya gunakan dalam keseharian.
“Gak perlu dijelasin.”
“Baiklah, aku akan mengatakan padamu. Akhir-akhir ini Ndan Satria memang terlihat kacau. Aku sangat yakin bukan masalah kerjaan.”
“Apakah kamu juga menyadari hal itu?”
“Iya, lebih tepatnya setelah kunjungan di rumah muridku,” jawab Tarjo.
“Siapa namanya?” tanya cepat Tarjo mode serius.
“Dira.”
“Dira?”
Satu nama yang membuat tangan Tarjo terdiam. Nafasnya terasa terhenti saat itu juga.
“Iya, Arundaya Dirandra. Apakah kamu mengenalnya?”
“Tidak,” jawab cepat Tarjo bohong.
Tarjo memang tidak mengenal Dira. Tapi, tidak untuk Arundaya Dirandra yang namanya sudah masuk file miliknya dalam beberapa Minggu terakhir. Nama yang saat ini menjadi prioritas Satria.
Ceritanya keren 👍