Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Wanita Ular
Di sekolah, Rania dan seluruh siswa siswi kelas tiga dikasih waktu santai karena besoknya mereka akan ujian. Ada yang belajar dengan serius, ada yang bercanda malahan ada yang tidur juga. Tapi tidak dengan Rania dan sahabatnya, mereka memilih mojok disudut kelas sambil ngobrol santai.
"Eh Ran, lu dah siap belum buat besok?" tanya Leha sambil mengupas dan memakan kuacinya. Kulit kuacinya disemburkan ke sembarang arah dan saat tepat mengenai wajah Miskah, gadis itu pun menjerit. "Lehaaaa, lu jorok banget sih ih. Jijik tauu" protesnya sambil membersihkan kulit kuaci yang menempel di pipinya.
Yang di jeritin cuma cengengesan aja. "Hehe..maaf ya Miskah cantiiik". Miskah seketika tersenyum saat Leha menyebut dirinya cantik.
"Siap gak siap kan tetap harus siap guys. Tapi yang pasti gue udah belajar semalam suntuk buat ujian besok. Yaa semoga aja gue bisa ngejawab semua pertanyaan dengan benar. Kalian gimana?".
"Ya kalo gue sih siap siapin ajalah. Paling entar malam gue belajar sikit buat besok." ujar Leha sambil terus memakan kuaci nya.
"Kamu Mis?" Rania bertanya pada Miskah karena dilihatnya Miskah cuma melamun sambil ngeliat ke arah luar jendela.
"Eh..emm gue gak tau deh Ran. Semoga aja gue bisa jawab besok" suaranya terdengar lesu tak bersemangat seperti biasanya.
"Kamu kenapa Mis? Lagi ada masalah ya?" tanya Rania yang mengerti dengan perubahan Miskah.
"Hah...biasalah Ran, gue berantam lagi sama papa mama." terdengar helaan nafas berat dari Miskah. "Kali ini gue gak mau nuruti apa kata mereka." sambungnya.
"Emang orang tua lu minta lu ngapai beb?" ucap Leha sambil membereskan sampah kuaci nya.
"Haaah...kalau kalian dengar pasti bakalan terkejut."
"Apaan sih. Udah deh langsung aja cerita ngapa, suka banget bikin penasaran" tanya Leha lagi.
"Mereka mau ngejodohin gue. Aaaaaakkk...kesel banget gue tau" dia mengacak acak rambutnya dengan 1 jari.
"Hah..serius lo? Ujian aja belum masa udah mau ngejodohin"
"Tau ah gue pusing" ucapnya sambil menelungkupkan kepalanya ke meja.
"Eh markonah, yang namanya pusing trus acak acak rambut tu pake dua tangan bukan dua jari. Kayak gini nih " Rania mulai mengacak rambut Miskah.
"Aaah Raaan..liat ni rambut aku jadi kusut kaaan. Gak sukaaa tauuk." di rapikannya lagi rambutnya sambil bersungut sungut.
"Hahahaha. Eh guys..kalian ingat kak Andra gak?" Rania mulai mengganti topik agar Miskah tidak pusing terus.
"Kak Andra yang mana ya?" tanya Leha.
"Kak Andra yang tetangga kamu itu kan Ran? yang ganteng itu kan? yang pindah keluar negeri untuk lanjut sekolah dokternya kan?" tanya Miskah beruntun dengan penuh semangat. Dia pun sepertinya mulai lupa dengan masalah perjodohannya.
"Iyaaa.. Kalian tauu sekarang dia udah di sini lagi dan kayaknya bakal menetap disini deh. Dan tadi tu dia yang anterin gue."
"Serius lu Ran?" tanya Miskah. Leha hanya mendengarkan tanpa berniat ikut membahas tentang Andra.
"Iyaa..katanya sih dia mau main kerumah karena kangen sama bunda. Entar kalau dia kerumah gur kabarin kalian ya."
"Hati hati lu Ran, inget lu udah punya cowok yang tampan gilak." Miskah mengingatkan Rania tentang Hardin. Seketika dia mengambil hp da berniat mengirim chat untuk Hardin.
R : Pagi mas, udah dikantor? udah sarapan belum?
R : Ran udah di sekolah ya (sent)
"Ya elaah, gue kan gak ada perasaan apa pun sama kak Andra. Gue udah anggap dia kayak kakak gue" ucap Rania.
"Hah..sukur deh. Jadi antara gue sama Leha masih punya kesempatan " Miskah senyum senyum gak jelas sambil menopang dagunya dengan dua tangan.
"Eh markonah, lu lupa udah di jodohin sama orang tua lu, hahaha" Leha terbahak melihat ekspresi Miskah yang langsung cemberut.
"Rese banget sih lu Juleha. Gak bisa liat orang senang lu ya." Miskah memukul lengan Leha karena kesal kesenangannya terganggu.
Dan akhirnya mereka bertiga pun mulai membahas tentang pelajaran setelah puas menggoda Miskah. Yang di goda cuma bisa cemberut menanggapi ulah dua sahabatnya yang usil.
...****************...
triinting
triinting
Hardin mengambil hp yang ada di saku jasnya dan melihat si pengirim pesan. Ada rasa senang karena mendapat chat dari sang kekasih, tapi karena masih kesal dia memilih mengabaikan chat itu begitu saja.
tok tok tok
Setelah mendengar seruan masuk, Sukma langsung masuk menghadap Hardin untuk menyampaikan bahwa ada yang mencarinya di luar sekalian mengantar berkas yang perlu diperiksanya.
"Selamat pagi pak. Ini ada beberapa berkas yang perlu bapak periksa " di sodorkannya beberapa tumpuk berkas pada Hardin dengan sedikit membungkuk untuk menampakkan bagian terseksi miliknya. "Dan ada yang mau bertemu dengan bapak diluar." sambungnya sambil tersenyum manis.
"Pertama jangan pernah mencoba menggoda saya dengan bentuk tubuhmu yang tidak seberapa itu, dan yang ke dua mulai besok kamu harus mengganti model pakaian kamu denga yang lebih sopan. Mengerti !!" Hardin menatap sekretarisnya itu dengan tajam dan mengatakannya dengan tegas.
"Ba..baik pak saya mengerti."
"Siapa yang mau bertemu dengan saya?"
"Seorang wanita pak. Saya tanya namanya tapi dia tidak mau menyebutkan. Jadi saya suruh dia tunggu di luar."
"Wanita? Bagaimana penampilannya.?"
"Dia berpakaian seksi dengan tinggi kira kira seperti saya, kulitnya putih dan rambutnya agak coklat sebahu".
Hah...pasti siluman ular lagi. Mending ku suruh Harry yang mengatasi, kalau aku yang jumpa langsung sama dia bisa bisa habis di ku panggang.
"Suruh pak Harry yang bertemu dengannya. Saya sedang tidak menerima tamu apalagi perempuan dengan pakaian kurang bahan" ucap Hardin sambil mengayunkan tangannya menyuruh Sukma keluar.
"Baik pak. Permisi."
Hardin langsung menghubungi Harry untuk mengatasi siluman ular karena dia gak mau lagi berurusan dengan wanita itu. Dan Harry sudah pasti tidak bisa menolak perintah bosnya demi masa depan yang indah dia rela berhadapan dengan wanita itu.
Hardin mulai memeriksa berkas yang tadi diantar oleh Sukma. Sebenarnya dia sangat malas kerja hari ini karena moodnya sedang kacau setelah kejadian tadi pagi, tapi dia tidak bisa melalaikan pekerjaannya. Saat sedang fokus memeriksa, Harry masuk kedalam ruangannya.
"Emang gila tu cewek ya. Padahal udah lu usir kemaren trus udah dikata katai juga tapi masih aja nekat datang kemari." Harry mendudukkan pantatnya di sofa ruangan Hardin.
"Uda lu usir dia kan?"
"Ya udahlah. Agak susah juga tadi gue bikin dia pergi, akhirnya gue suruh aja security yang narek dia keluar. Emang udah putus tu urat malunya." Harry mengambil minuman kaleng di mini bar yang ada di ruangan itu dan meminumnya untuk menyegarkan pikirannya.
"Oh ya man, ada yang lupa mau gue bilang sama lu." ucapnya.
Terima kasih sudah mampir di novel aku. Jangan lupa like, komen dan favorite kan ya. Mohon dukungannya kawan kawan.