[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
“Anda yakin?” Dokter memastikan kembali permintaan pasiennya, sebab melakukan jahit pada luka tanpa membiusnya pasti akan terasa sakit.
“Yakin!” Gabby menganggukkan kepalanya mantap.
“Gabby! Kau jangan gila!” George menatap tajam Gabby dan berbicara penuh penekanan. Untuk pertama kalinya George mengucapkan nama Gabby.
Gabby tak memperdulikan George. “Lakukan saja, Dok.”
“Ini akan terasa sakit jika tanpa bius, nona.” Dokter itu mencoba menakut-nakuti Gabby agar pasiennya mengurungkan niat gilanya itu.
“Tidak masalah untukku,” timpal Gabby tanpa rasa takut sedikitpun. “Lakukan saja sesuai perintahku!”
Dokter itu masih diam, ia menimbang-nimbang permintaan Gabby.
“Dok, jika kau takut dan ragu melakukannya, biar aku sendiri yang akan menjahitnya!” tegur Gabby. Wanita itu sudah siap menengadahkan tangannya untuk mengambil alih alat yang sudah dipegang oleh Dokter.
Dokter itu menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya lagi. “Baik, saya akan lakukan, tapi ini akan terasa sakit, nona. Tapi sebelumnya, mohon tanda tangani persetujuan dari anda terlebih dahulu, karena anda ingin melakukan tidak sesuai prosedur rumah sakit. Kami pihak rumah sakit tidak bisa bertanggung jawab banyak jika terjadi sesuatu dengan luka anda,” terangnya.
“Berikan saja dokumennya,” setuju Gabby.
Dokter segera memberikan perintah pada perawat untuk menyiapkan dokumennya. Tak berselang lama, perawat itu kembali dengan membawa selembar kertas.
“Ini, nona.” Perawat itu memberikan kertas yang harus dibubuhi tanda tangan beserta pulpen kepada Gabby.
Gabby langsung mengambilnya dan segera memberikan kembali setelah selesai memberikan persetujuan di kertas itu.
“Baik, saya akan melakukannya sekarang, nona,” ijin Dokter. “Siap, ya?”
Gabby hanya menjawab dengan anggukan.
Dokter itu pun mulai menjahit luka Gabby setelah ia bersihkan. Sesungguhnya Dokter itu juga ragu melakukan jahit tanpa bius, karena bukan termasuk prosedurnya. Tapi karena pasien mendesak ingin melakukan tanpa bius, ia pun mau tak mau melakukannya.
Gabby tak terlihat meringis kesakitan, ia menahan sakit itu. Ia memang sengaja melakukan tanpa bius agar mengalihkan hatinya yang rapuh ke rasa sakit fisiknya. Lebih baik merasakan sakit fisiknya daripada terus memikirkan sakit hatinya.
“Dasar keras kepala!” George yang tak bisa merubah keputusan Gabby hanya mampu mencibir dan melihat mimik wajah Gabby selama proses jahit luka berlangsung.
“Sudah selesai, nona. Lukanya jangan terkena air terlebih dahulu, ya?” ujar Dokter memberitahu.
Gabby hanya mengangguk mengerti.
“Saya resepkan obatnya terlebih dahulu, anda bisa menunggu di sini sebentar. Permisi.” Dokter itu pun pergi meninggalkan Gabby dan George berdua, karena perawat yang mendampinginya pun ia ajak pergi untuk ke ruangannya.
Selepas kepergian Dokter dan Perawat itu. George dan Gabby hanya diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing.
Gabby hanya memandangi luka di betisnya.
George pun demikian, ia juga memandangi luka itu. “Apa kau tak merasa sakit?” celetuknya. Tanpa sadar ia berbicara begitu lembut.
Membuat Gabby mengalihkan pandangannya dan menatap aneh ke arah sang pemilik suara itu. Apa dia sakit? Atau terbentur sesuatu?
“Tidak, apa kau meremehkanku dengan luka kecil seperti ini?” Gabby tetap menjawab seperti biasa, ketus.
“Oh iya, kau kan anak mafia, pasti kau sudah terbiasa dengan kekerasan dan luka seperti itu.”
“Sudah tahu, masih aja nanya!”
Mendapatkan respon yang tak bagus, George memilih diam. Hingga perawat kembali dan memberikan resep obat.
“Biar aku yang menebusnya.” Gabby hendak mengambil secarik hitam di atas putih itu, namun sudah diambil oleh George.
“Biar aku, aku yang menyebabkan lukamu, maka aku akan bertanggungjawab!”
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor