Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Dia Pasti Kembali
Nama Safira tidak boleh menjadi tontonan lagi.
Beberapa hari setelah vonis Vanessa, Rayhan menghentikan pencarian.
Di ruang kerja Hartono Estate, laporan dari tim keamanan menumpuk di meja. Jejak Singapura. Transit pendek. Tiket yang dibeli terpisah. Nama penumpang yang tidak lagi muncul setelah satu titik. Semua rute itu seperti benang yang sengaja dipotong sebelum bisa ditarik.
Farel berdiri di depan meja. "Kami bisa lanjutkan dengan jalur lain, Pak."
"Tidak perlu dicari."
Steven yang duduk di sofa langsung menoleh. William, di sampingnya, tidak berkata apa-apa.
Rayhan membuka kotak cincin di tangannya. Safir biru itu tetap indah, tetap dingin, tetap tidak berguna.
"Dia tidak bisa hidup tanpaku," katanya datar. "Beberapa hari lagi dia pasti kembali."
Steven menarik napas. "Ray."
"Dia marah karena aku terlambat menjelaskan. Dia akan tenang."
"Keira menghapus sidik jari lo, resign, mengosongkan apartemen, mengaburkan jejak penerbangan."
"Dia pintar."
"Itu bukan pujian yang menyelesaikan masalah."
Rayhan menutup kotak cincin. "Dia pernah bilang kangen."
William menunduk, lelah. Kadang orang paling cerdas bisa memilih satu kata untuk menutup seluruh kenyataan.
Sore itu, paket pertama tiba di Hartono Estate.
Kurir premium membawa beberapa kotak cokelat besar dengan segel rapi. Penerima: Rayhan Hartono. Catatan: barang pribadi. Farel menandatangani dokumen, lalu memerintahkan pelayan membawa kotak-kotak itu ke ruang tamu.
Rayhan turun ketika mendengar namanya disebut.
"Dari siapa?"
Farel ragu. "Bu Keira."
Ruangan menjadi sunyi.
Rayhan berdiri di depan kotak-kotak itu. Tidak ada yang berani membuka sebelum ia bergerak. Ia mengangkat cutter kecil, memotong lakban paling atas, lalu membuka tutup kotak.
Sertifikat properti.
Kunci mobil.
Kartu kredit tambahan.
Jam tangan.
Perhiasan.
Tas branded yang masih dibungkus dust bag.
Di setiap map, Keira menempelkan label kecil. Tanggal pemberian. Jenis barang. Kondisi dikembalikan. Tidak ada kalimat pribadi, tetapi kerapian itu justru lebih menyakitkan. Keira tidak melempar barang-barangnya seperti orang marah. Ia mengarsipkannya seperti orang menutup rekening.
Farel menemukan daftar inventaris di kotak pertama. Semua item dicentang. Bahkan kartu akses fasilitas privat yang Rayhan sendiri sudah lupa pernah kirim ikut kembali.
"Pak..." Farel berhenti karena Rayhan menatap daftar itu terlalu lama.
Semua hadiah yang pernah ia kirim dengan mudah, semua benda yang pernah ia kira bisa membuat hidup Keira lebih nyaman, kini kembali seperti barang bukti bahwa Keira tidak pernah ingin memilikinya.
Kotak kedua berisi perhiasan. Di antara berlian dan safir, Rayhan menemukan kalung berlian ombak dari Bali. Tangannya berhenti.
Ia ingat Tari tertawa di butik. Ingat Keira berkata metode terapi informalnya mahal. Ingat ia menahan diri untuk tidak menyentuh senyum Keira karena takut senyum itu hilang.
Kalung itu kembali.
Tidak ada satu pun yang tertinggal untuknya merasa dibutuhkan.
Di dasar kotak terakhir, ada amplop putih.
Rayhan membukanya.
Tulisan Keira pendek dan rapi.
Terima kasih untuk enam bulan ini.
Semoga hidupmu baik-baik saja.
Selamat tinggal.
Tidak ada panggilan sayang. Tidak ada penjelasan. Tidak ada marah. Justru karena tidak ada marah, surat itu terasa seperti pintu yang dikunci dari sisi lain.
Kertas itu remuk di tangan Rayhan.
Wajahnya tidak berubah, tetapi buku-buku jarinya memutih.
Di bawah kuku, kertas surat itu meninggalkan garis putih kecil.
Steven berdiri perlahan. "Ray..."
"Keluar."
"Jangan sendirian."
"Keluar."
William menarik lengan Steven. Bukan karena setuju, melainkan karena ia tahu Rayhan tidak akan mendengar apa pun sebelum hancurnya selesai berbunyi di dalam kepala.
Malam itu, Hartono Estate terlalu luas.
Rayhan berdiri di balkon lantai atas, menatap langit Jakarta. Kota itu penuh cahaya, tetapi tidak satu pun memberitahunya di mana Keira berada. Di belakangnya, kotak-kotak pemberian yang dikembalikan masih terbuka, seperti peti kecil berisi versi dirinya yang gagal.
Bibirnya bergerak tanpa suara.
"Kei sayang, kamu di mana?"
Di Surabaya, angin malam membawa aroma laut dan hujan jauh.
Apartemen baru Keira kecil, dibeli atas nama Kevin dengan uang Keira sendiri agar jejaknya tidak langsung terbaca. Tidak mewah. Tidak punya balkon besar. Jendelanya menghadap jalan yang ramai oleh motor dan warung makan. Dari dapur kecil, terdengar suara kulkas tua yang sedikit berisik.
Keira menyukai suara itu.
Terlalu lama hidupnya dipenuhi ruangan yang terlalu sunyi karena semua orang takut membuat suara di sekitar Rayhan.
Pagi pertama, ia datang ke HEALER cabang Surabaya. Staf menyambutnya sebagai transfer dari kantor pusat, bukan sebagai perempuan dalam gosip Hartono. Itu menyenangkan. Meja kerjanya lebih kecil, lab tidak semewah Jakarta, tetapi ada rak bahan lokal yang membuat hidungnya bekerja lagi: cengkeh, daun jeruk, kayu manis, vetiver basah.
Kepala cabang memberinya kartu akses baru dan berkata, "Kami senang punya orang pusat di sini, Bu Keira."
Keira hampir mengoreksi panggilan itu menjadi cukup Keira saja, tetapi menahan diri. Di tempat baru, jarak profesional adalah pagar yang berguna.
Di meja barunya, tidak ada bunga mahal. Tidak ada dessert mendadak. Tidak ada pengawal yang berdiri terlalu jauh tapi tetap terlihat. Hanya komputer kantor, kursi yang sedikit berdecit, dan aroma bahan baku yang jujur.
Sore harinya, ia pergi ke rumah sakit swasta tempat Safira dirawat.
Kamar Safira benar-benar menghadap pohon. Daunnya bergerak pelan di luar jendela. Keira duduk di sisi ranjang, memegang tangan Fira yang tetap hangat karena perawatan.
"Kita di Surabaya sekarang," katanya. "Tidak ada Vanessa. Tidak ada kamera. Tidak ada orang yang boleh menjadikan kamu tontonan."
Monitor menjawab dengan bunyi stabil.
Perawat baru mengetuk pelan sebelum masuk. Ia memeriksa cairan infus, mengganti posisi bantal, lalu bertanya apakah Keira ingin menaruh foto keluarga di meja samping ranjang. Keira mengeluarkan foto panti dari tasnya. Dalam foto itu, Safira kecil berdiri di belakang Keira kecil, tangan di bahunya, seolah bahkan dari masa lalu ia masih mencoba menjaga.
"Taruh di sini," kata Keira.
Foto itu akhirnya berdiri di samping monitor.
Malam pertama di apartemen baru, Keira duduk sendirian di lantai karena sofa belum datang. Ia membuka ponsel. Tidak ada pesan Rayhan. Tentu saja tidak. Ia sudah menghapus nomor itu, memutus jalur, mengganti rutinitas.
Namun dadanya tetap menunggu sesuatu yang tidak ia izinkan datang.
Apakah ia merindukan Rayhan?
Pertanyaan itu muncul tanpa sopan santun.
Keira menutup mata sebelum menemukan jawaban.
Di balik kelopak matanya, ia melihat kembang api.
Bukan di langit London. Bukan di pantai Bali. Bukan di atas gedung Jakarta.
Kembang api itu menyala di tempat paling berbahaya: ingatan yang tidak mau padam malam itu, sama sekali.
Belum juga.