Darah dibalas dengan darah begitupun nyawa dibalas dengan nyawa dan rasa sakit dibalas dengan rasa sakit.
Tak ada kata kasihan pada diri Lea Meowni,dendam yang ada pada dirinya sudah menutup mata dan hatinya untuk menerima kalau musuhnya adalah papa kandungnya sendiri.
Bagi Lea Meowni atau biasa dipanggil Meow, Air mata mamanya adalah kesakitan untuknya,siapapun yang menyakiti mamanya akan habis ditangannya termasuk papanya sendiri.
Banyak nyawa yang sudah melayang ditangan seorang Lea Meowni tapi siapa sangka demi membalaskan dendam kepada sang papa dia bisa berpura-pura menjadi cewek polos nan lugu.
Lea bertemu dengan CEO kulkas 99999999 pintu yang sangat dingin dan mau menjadi pacar bohongan dari pria itu untuk memperlancar rencananya menghancurkan papanya.
Cinta yang dulu hanya sebuah bohongan kini tumbuh nyata dihati seorang CEO KULKAS.
Bagaimana kisah mereka?
MARKICA( Mari kita baca)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BALAS DENDAM DIMULAI
Lea masih memeluk Reza sangat erat meskipun mereka sudah jauh dari Fano.
"Ini lepasin dulu ya,gue gak bisa nyetir kalau gini."
"Aku takut." Lirih Lea
"Gue kira tadi cuma acting ternyata beneran."
"Awalnya mau acting tapi terus keinget sesuatu,gue takut beneran."
"Terus kalau gini gimana nyetirnya?"
Lea tak bergeming,dia malah semakin erat memeluk Reza.
KRING KRING
Ponsel Reza berbunyi nyaring,Reza gelagapan mencari ponselnya. "Tu hp nyangkut dimana si,ah elah."
KRING KRING
"Sabar woy sabar." Reza melihat benda pipih yang dia cari berada dipintu mobilnya.
"lo ngomong ngapa kalau ada dipintu." Reza mengambil hp dan mengangkat telfon dari Aril.
"Lama amat si cuma angkat telfon doang."Protes Aril saat Reza baru mengangkat telfon belum sempet ngomong.
"Belom juga gue ngomong udah ngomel aja,hp gue nyangkut dipintu,kenapa lo telfon gue?"
"Lo lagi dimana Za?"
"Rumah sakit tempat Ara dirawat."
"Kebetulan,kalau lo mau pulang gue nebeng dong,gue gak bawa mobil,mau pesen taxi mager."
'Kebetulan banget bisa gue suruh nyetir.'
"Yaudah sini keparkiran tapi lo yang nyetir ya!"
"Ok gpp dari pada naik taxi." Aril mematikan telfon sepihak .
"Bangsul ni anak main matiin aja." Reza menaruh ponselnya di kantong celannya.
TOK TOK TOK
Suara pintu jendela mobil yang diketuk.
Reza membuka kaca jendela."Cepet amat?"
"Gue deket dari parkiran tadi,itu Lea kenapa?" tanya Aril yang melihat Lea memeluk Reza sangat erat.
"Kayaknya dia trauma ketemu Fano,ya maklum aja kemaren abis dicekik sama Fano."
"Dicekik? kok bisa?"
"Biasa ulah nenek lampir."
"Bener-bener tu cewek ya,pengen gue bejek asli."
"Udah ngomelnya lanjut ntar,buru naik udah malem ni."
"Gimana mau naik kalau lo masih dikursi kemudi Jamal." Reza hanya nyengir.
"Sayang kita kebelakang ya biar Aril jadi supir kita."Lea melepas pelukan dan keluar lalu berpindah kebrlakang.
"Gue bukan supir mon maaf." Ucap Aril sambil masuk kedalam mobil setelah Reza pindah kebelakang.
Dibelakang Lea kembali memeluk Reza dari samping. "Jomblo mah gini,jadi obat nyamuk mulu,mana sekarang pakai peluk-pelukan lagi." Gerutu Aril sambil menjalankan mobil.
*****
Fano pulang dan langsung ngeloyor masuk kekamar tanpa dia sadar kalau dirumah tak ada orang sama sekali.
Jenni dan Zidan yang masih marah tak mau pulang sedangkan Rendra dan Fanya sedang mencari kedua anaknya.
"Pa,kita harus cari kemana lagi?" tanya Fanya frustasi.
"Papa juga bingung,kita sudah mencari kesemua tempat yang kemungkinann besar bakal didatengi mereka berdua tapi masih nihil.
Salah satu bodyguard Rendra datang menghampiri mereka. "Tuan kita sudah menemukan dimana sekarang non Jenni dan den Zidan berada."
"Dimana mereka? kenapa gak kamu bawa kesini?"
"Mereka ada dirumah non Lea tapi ibu Desi,Zoe dan Jebi tak mau membiarkan kita membawa non Jenni dan den Zidan,kecuali kalau tuan dan nyonya yang datang kesana.
"Yaudah ayo kita kesana." Rendra dan Fanya langsung naik kemobil dan menuju rumah Lea.
Dirumah Lea,Jenni dan Zidan sedang ngobrol santai sama Desi.
TOK TOK TOK.
"Bantar saya buka pintu dulu." Desi berjalan kedepan untuk membuka pintu."Mau apa kalian kesini?" tanya Desi ketus.
"Kita mau jemput Zidan sama Jenni." Jawab Fanya.
"Jenni gak mau pulang."
"Zidan juga." jawab Jenni dan Zidan yang baru keluar dari rumah.
"Sayang ayo pulang,mama sama papa minta maaf,kita gak akan percaya sama Ara lagi." Bujuk Rendra.
"Sekarang aja bilang gak akan,ntar juga percaya lagi sama tu nenek lampir." Ucap Zidan penuh emosi.
"Yang anak kalian siapa sebenernya,kita apa dia?" Terlihat sekali kemarahan dan kekekewaan dari mata kedua anak itu.
"Biarin mereka tinggal disini dulu sampai mereka yakin kalau kalian bener-bener udah berubah."
"Tapi Des-" Belum sempat Fanya menyelesaikan ucapannya,Jenni dan Zidan masuk kerumah tanpa memperdulikan kedua orangtuanya lagi.
"Lo lihat sendiri,anak lo belum bisa maafin lo,biarin mereka disini."
"Kita nitip mereka ya."
"Iya." Jawab Desi singkat.
Ada 1 mobil masuk kegarasi rumah mereka yang tak lain itu mobil Reza.
Reza turun sambil menggendong Lea yang sudah tertidur diikuti Aril yang membawakan tas dan sendal Lea.
"Lea kenapa Za?" tanya Desi panik.
"Lea gpp tante,dia cuma tidur."
"Oh yaudah ayo bawa dia masuk." Desi masuk diikuti Reza yang menggendong Lea ala bridal style dibelakang.
Aril tak ikut masuk,dia menghampiri Fanya dan Rendra. " Om sama tante mending pulang,saya takut Fano ngamuk dirumah,barusan Fano ketemu Lea dan Lea ketakutan,Lea pikir Fano bakal bunuh Lea dan sepertinya Lea sekarang trauma gara-gara kejadian kemaren."
Fanya dan Rendra menghela nafas berat." Makasih Ril atas infonya,kita pulang dulu." Ucap Rendra.
"Kalau ada kabar apapun kabarin kita Ril." Pinta Fanya.
"Iya tante."
Fanya dan Rendra pulang kerumah,sekarang pikiran mereka jauh lebih kacau dari pada tadi saat mereka belum menemukan Jenni dan Zidan karna mereka tau kalau Jenny dan Zidan tidak akan nekat tapi berbeda dengan Fano,dia bisa saja nekat sampai bunuh diri lagi.
Sesampainya dirumah,Fanya dan Rendra berlari kekamar Fano karna mereka dapat laporan kalau dari tadi Fano tak ada suara sama sekali.
Fanya dan Rendra menggetok pintu Fano tapi sama sekali tak ada sahutan disana,akhirnya Rendra mendobrak pintu kamar Fano dengan bantuan bodyguardnya.
Saat pintu terbuka semua masih rapi,tak ada barang yang jatuh sama sekali dan Fano hanya duduk dilantai sambil memandang keluar jendela dengan tatapan yang tak bisa orangtuanya artikan.
Fanya dan Rendra menghampiri Fano dan ikut duduk disebelahnya.
"Fan,kenapa?"Fano menatap mamanya sangat dalam lalu memeluk mamanya sambil menangis.
"Fano gak akan bunuh Lea ma."
Fanya mengelus kepala putranya itu dengan lembut. "Iya mama tau kok Fano gak akan bunuh Lea,cuma komdisi Lea sekarang masih takut aja,jadi Fano maklumin aja ya,nanti kalau Lea udah gak takut pasti balik lagi kok."
"Fano keterlaluan ya ma?"
"Kemaren Fano lagi khawatir aja sama Ara,sekarang Fano udah tau gimana Ara jadi jangan sampai Fano salah langkah lagi ya."
"Fano udah kehilangan sahabat Fano,Fano juga kehilangan cewek yang Fano sayang cuma karna Ara sialan itu."
"Fan,udah ya gak usah dipikirin lagi,semua bakal baik-baik aja." Hibur Rendra sambil mengelus punggung Fano.
"Fano tidur ya!"
Fano melepas pelukannya dengan Fanya dan berjalan keatas kasurnya,Fanya menyelimuti Fano dan memastikan anaknya itu bener-bener tidur.
Setelah dirasa Fano sudah tidur,Fanya dan Rendra keluar kamar."Pa,kenapa semua jadi kaya gini? Lea cewek yang bisa jadi penyemangat Fano malah sekarang takut sama Fano." 1 bulir air mata jatuh dari kelopak mata Fanya.
"Papa juga pusing ma,karna 1 cewek jadi hancur semunya,papa nyesel percaya sama Ara."
"Mama juga gak nyangka kalau Ara cewek yang kita taunya baik bisa berbuat sekejam ini bahkan dia rela nyakitin dirinya sendiri."
"Mending kita tidur juga ma,kita pikirin lagi besok gimana jalan keluar terbaik untuk semua ini." Fanya hanya mengangguk dan mereka berjalan kekamar untuk tidur.
*****
Ara sekarang tak bisa tidur,selain karna kejadian yang tadi baru terjadi juga karna ada pesan masuk ke ponselnya yang lebih membuat Ara kepikiran.
"Pembunuh tak pantas hidup,dasar pembunuh." Ara berulang kali membaca pesan itu dan 20 pesan lain yang berisi 1 kalimat "Pembunuh"
"Gue pembunuh,gue pembunuh,pembunuh." Sepertinya kata pembunuh berhasil meracuni otak Ara sampai dia berniat mencabut infus yang menancap ditangannya,untung saja saat Ara ingin mencabut selang infusnya Hendri terbangun karna Ara terus menggumamkan kata "Gue pembunuh".
Hendri memencet tombol untuk memanggil dokter sambil terus menenangkan Ara yang terus mengamuk.
"Ara bukan pembunuh,tenang sayang tenang."
Sepertinya ucapan Hendri tak didengar oleh Ara,dia terus menyebutkan kalau dia pembunuh dan tak ada kata lain selain kata itu.
Dokter masuk bersama suster dan menyuntikkan obat penenang ketubuh Ara.Beberapa saat kemudian Ara tertidur.
"Pak ada apa sampai pasien mengamuk seperti itu?"
"Saya gak tau dok tadi saya bangun karna anak saya berisik banget,pas saya bangun saya melihat Ara mau melepaskan selang infus sambil terus berkata "Gue pembunuh."
"Sepertinya ada yang memicu anak bapak mengatakan itu semua,saran saya besok coba bapak datangi psikiater/psikolog untuk memeriksa anak bapak,Saya takut anak bapak depresi."
"Baik dok,besok saya akan menemui psikiater."
"Kalau gitu kita permisi dulu pak."
"Silahkan dok."Dokter pergi dan Hendri kembali duduk disebelah Ara sambil mencoba memeriksa hp Ara.
Ajaib,semua pesan yang tadi Ara baca hilang seketika tanpa jejak apapun.
"Ara kamu kenapa sebenernya sayang?"
*******
"Gimana? berhasil ngak.?"
"Tentu dong,gue jamin gak lama lagi antara dia masuk RSJ atau dia bakal bunuh diri."
"Bagus,jadi gue gak usah repot-repot bunuh dia."
Tawa penuh kejahatan menggema disetiap sudut ruangan.
"Gita gimana Gita?"
"Tujuannya sama cuma caranya aja yang beda,sesuai perintah lo."
"Kalian emang terbaik,gue mau mereka ngerasain penderitaan gue selama ini karna mereka."
"Lo tenang aja,mudah aja buat kita menghancurkan mereka,kita bakall kasih yang lebih kejam dari apa yang mereka perbuat sama lo."
"Sayang kalian berdua."Memeluk kedua cowok didepannya.
*********((((((((()))))))))*********
**BRRSAMBUNG
Sebelum ada yg nanya "Mafia kok lemah"
"Sekuat dan sekejam apapun mafia,dia masih manusia yang punya kelemahan juga,termasuk Lea**."
tapi jangan pakai saya kamu kesannya kaku
saran aja sich✌️