Tria Handayani Marzuki adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama dengan kedua orang tua angkatnya, atas ke inginkan dari ayahnya sebelum beliau meninggal.
Awalnya Tria mengira ia akan hidup bahagia bersama mereka, namun dengan seiring berjalannya waktu yang di dapat Tria hanyalah kesedihan dan kesengsaraan.
Tria di perlakukan seperti seorang pembantu di rumahnya sendiri, Tria mencoba untuk tetap menjalani kehidupannya dengan rasa ikhlas. Keberadaan sahabatnya membuat Tria bertahan untuk hidup, hanya bersama dengan mereka Tria bisa tertawa lepas.
Tria mencintai salah satu dari sahabatnya, Satrio Nugraha yang ternyata ia juga diam diam mencintai Tria. Hingga suatu saat Rio memberanikan dirinya untuk mengutarakan perasaannya kepada Tria, dan Tria menyambutnya dengan bahagia.
Kisah cinta yang baru saja di mulai, harus kandas begitu saja karena Tria di jodohkan dengan pria lain oleh Karmila, mamah angkatnya.
"Aku memilih dia." ucap Tria.
Rio yang mendengarnya sungguh tidak menyangka dengan keputusan yang diambil Tria, Tria mengorbankan kebahagiaannya. Hanya untuk menuruti keinginan Karmila, mamah angkatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta hijau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps31
Di bandara
Hari ini adalah hari keberangkatan Nisa ke London. Sebelum ia berangkat, ia ingin sekali menemui Rio. Namun, ada keraguan di hatinya, ia ragu jika Rio akan bersikap ramah padanya saat bertemu nanti.
Ia juga takut akan kecewa lagi bila Rio kembali menunjukan sikap acuh padanya. Gadis itu merasa sangat suntuk di bandara, menanti jadwal penerbangannya.
Ia duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana, ia sedang memikirkan sesuatu.
Apa aku coba untuk telfon Rio saja untuk berpamitan padanya? Jika dia tidak mengangkat telfon ku, gimana? Ah, sudahlah aku coba telfon aja pasti di angkat! benaknya.
Nisa meraih handphone dari dalam tasnya. Namun, handphonenya tiba-tiba berdering, ia melihat ke layar tertera nama ”Bagas memanggil...” ia langsung menerima telfon dari Bagas.
”Halo. Nisa, apa aku mengganggu mu?”
”Iya, halo juga Bagas. Tidak, ada apa?”
”Apa kamu jadi berangkat ke London hari ini?”
”Iya, ini aku lagi di bandara. Satu jam lagi jadwal penerbangan ku. Memangnya kenapa?”
”Apa kamu sudah berpamitan dengan Rio?"
"Belum, aku ragu untuk menemuinya.” jawab Nisa dengan sedih.
”Apa kamu mau bertemu dengannya?”
Nisa tampak ragu untuk menjawabnya, ia terdiam.
Aku ingin sekali menemuinya, Bagas. Tapi, aku benar-benar ragu, apakah dia mau untuk bertemu dengan ku? Kalaupun dia mau bertemu, apakah dia akan bersikap ramah pada ku? benaknya.
”Halo. Nisa, apa kamu masih di sana?” tanya Bagas lagi, saat tidak mendengar respon dari Nisa.
”Iya, Bagas. Aku masih di sini, aku ingin sih menemuinya, tapi a__”
”Kamu datanglah ke kampus ku sekarang Nisa, Rio ada di sini. Dari bandara ke kampus jaraknya tidak terlalu jauh. Datanglah, sebelum Rio pergi.” ucap Bagas menerangkan, memangkas ucapan Nisa.
”Oh, ok. Aku akan segera ke sana, sekarang.” sahut Nisa, dengan senang. Ia memang ingin menemui Rio sebelum ia berangkat ke London.
”Ok, aku tunggu kamu di sini. Aku tutup telfonnya.” ucap Bagas, mengakhiri panggilan.
Tut tut tut. Nisa mendengar suara telfon yang terputus. Ia memasukkan lagi handphone ke dalam tas. Ia urungkan niatnya untuk menelpon Rio. Dia ingin berbicara secara langsung dengan Rio untuk berpamitan.
Dengan semangat dan senang, Nisa mencari taksi. Ia telah mendapatkan taksi, ia naik ke dalam mobil.
”Bang, jalan Bang! Kita pergi ke kampus universitas Negeri Medan ya, Bang. Jalannya di percepat ya, Bang!” ucapnya pada sang supir. Ia ingin cepat sampai ke kampus untuk bertemu dengan Rio.
Pak supir mengangguk, ”Baik, Nona.” jawabnya.
Hanya beberapa menit dalam perjalanan kini taksi yang di tumpangi Nisa sudah terparkir di depan gerbang kampus.
Di kampus.
”Kita sudah sampai, Nona.” ucap sang supir.
”Ini uangnya, Bang. Terima kasih.” sahut Nisa sambil memberikan uang kepada sang supir.
Sang supir mengambilnya. ”Sama-sama, Nona.” sahutnya.
Nisa keluar dari mobil. Ia berdiri di depan gerbang kampus.
”Jika aku masuk ke dalam, aku takut akan nyasar. Lebih baik, aku telfon Bagas saja.” gumamnya.
Dia menelfon Bagas, telfon tersambung.
”Iya, Nis. Ada apa?”
”Bagas, aku sekarang ada di depan gerbang kampus mu. Aku ingin masuk, tapi, aku tidak tahu mengenai kampus mu ini. Bisakah kamu kesini?”
”Oh, ok, kamu tunggu aku disitu, aku akan segera ke sana.” ucap Bagas bersemangat.
Nisa memutuskan sambungan telfon. Ia menunggu Bagas di depan gerbang.
Bagas bergegas ke depan gerbang, menemui Nisa. Bagas mendekati Nisa yang sedang berdiri bersandar di pintu gerbang kampus.
”Nisa, maaf membuat mu menunggu. Ayo masuk! Aku akan mengantar mu untuk menemui Rio. Dia sekarang ada di kantin.” ucapnya.
”Oh, ok. Ayok!” sahut Nisa, dengan senang.
Mereka berdua jalan beriringan masuk ke dalam kampus. Bagas membawa Nisa menuju kantin kampus. Mereka melewati ruang demi ruang yang ada di universitas tersebut.
”Bagas, sebenarnya aku sedang berfikir, mengapa kamu selalu ingin membantu ku untuk bertemu Rio?” tanya Nisa, penasaran. Bukan hanya sekali, tapi, sudah beberapa kali ini Bagas selalu membantunya bertemu dengan Rio. Hal itu, menggelitik hatinya.
Deg! Pertanyaan Nisa mengejutkan Bagas, entah jawaban apa yang harus di berikan pada Nisa? Haruskah dia jujur pada Nisa sekarang ini?
Mengapa Nisa harus bertanya seperti itu? Aku harus jawab apa? Tidak mungkin kan, aku menjawab alasan ku karena Tria. benaknya.
”Em, itu...itu bukan apa-apa, Nisa. Kamu jangan terlalu banyak berfikir, Kamu kan temannya Rio. Masa sebagai temannya kamu gak berpamitan padanya sebelum pergi? Tadinya aku iseng aja bertanya padamu, kalau seandainya jawabanmu sudah berpamitan dengan Rio, aku tidak mungkin mengajakmu lagi untuk bertemu dengannya untuk berpamitan, kan?” ucapnya, berbohong.
Nisa sepertinya tidak percaya dengan ucapan Bagas. Ia menghentikan langkahnya, Bagas juga ikut terhenti. Nisa memicingkan mata melihat Bagas.
”Oh, yah? Aku kira alasanmu itu karena Tria.” ucapnya.
Deg! Bagas kembali gugup. Ucapan Nisa memang benar, tapi, apakah Bagas harus mengakuinya?
Bagaimana Nisa bisa tahu kalau itu adalah alasanku yang sebenarnya? Oh, iya, aku lupa, aku pernah beritahu dia kalau Tria adalah wanita yang aku cintai. benaknya.
”Tidak, kenapa harus Tria?” elaknya.
”Karena Tria adalah wanita yang kamu cintai. Kamu ingin mengambil kesempatan dari pertemuanku dengan Rio untuk bertemu dengan Tria kan? Kamu ingin punya waktu berduaan dengan Tria, iya kan?” ucap Nisa.
Bagas terdiam. Apa yang di ucapkan Nisa itu benar! Sudah beberapa Minggu ini, ia belum bertemu dengan Tria secara langsung. Dan ia juga tidak berkesempatan untuk bicara berdua dengan Tria. Bagas merindukan wanita itu.
”Sudahlah, jangan asal menebak! Sebaiknya kita lanjut jalan.” ajak Bagas.
Nisa mengangguk. Yang di katakan Bagas benar, waktunya juga tidak bisa lama berada di kampung itu.
Mereka berdua melanjutkan langkahnya menuju kantin. Bagas berhenti dari jarak beberapa langkah saja dari kantin. Membuat langkah Nisa ikut berhenti.
”Kenapa berhenti? Sudah sampai?” tanyanya.
”Iya, kita sudah sampai. Itu Rio.” jawab Bagas, sambil menunjuk Rio. Nisa mengikuti arah tunjuk Bagas. Ia melihat Rio bersama temannya sedang menikmati sarapan. ”Pergilah, temui dia.” ucap Bagas.
Nisa mengangguk.
Ia pergi menemui Rio dan temannya. Sementara Bagas, ia bergegas menemui Tria yang masih mengantri di tempat pendaftaran. Bagas menghampiri Tria yang berdiri sendiri di sana.
”Hai, Tria.” sapanya.
Tria menoleh, ia mengenal suara yang menyapanya ini. Ia sangat senang, sekaligus terkejut bisa bertemu dengan Bagas di kampus. Ia terdiam sejenak.
Bagas? Bikin apa dia disini? Apa dia melihatku di jalan, lalu ia mengikuti ku sampai disini? benaknya.
”Hai, Tria... Tria, apa yang kamu lamun kan? Sehingga sapa ku gak di jawab? Apa kamu sedang memikirkan aku?” ucap Bagas lagi, sambil memegang bahu Tria.
Ia tahu wanita di depannya itu bukan hanya memandangnya saja, tapi ia sedang melamun. Entah apa yang sedang di pikirkan wanita itu?
Tria terkejut, ”Eh, Mas. Gak, em maksudku aku gak lagi lamun kan apa-apa, kok Mas. Mas, Mas sedang apa disini?” tanyanya.
”Tria Handayani Marzuki!!” Tria mendengar namanya di sebut.
”Em...”
”Mas, bentar yah, Mas! Aku serahin berkas ku dulu untuk di periksa, namaku sudah di panggil.” ucap Tria, memangkas ucapan Bagas.
”Iya, pergilah!” sahut Bagas.
Tria bergegas ke tempat pendaftaran, ia menyerahkan berkasnya untuk di periksa. Sedangkan Bagas, ia masih setia menunggu Tria di tempat berdirinya.
Setelah beberapa menit berlalu, Tria datang kembali menghampiri Bagas yang masih berdiri di tempatnya semula.
”Sudah selesai?” tanya Bagas.
”Iya, sudah selesai.” jawab Tria, ”Mas, aku kira Mas langsung pergi tadi pas aku tidak ada, tapi, ternyata Mas masih di sini.” ucapnya.
Bagas tersenyum. ”Kenapa? Kamu mengharapkan aku untuk segera pergi?” tanyanya.
”Tidak, Mas. Bukan begitu maksud ku. Oh, ya, Mas belum jawab pertanyaan ku, Mas ngapain di sini?" tanya Tria, penasaran.
Bagas tertawa, ”Hahaha, kamu penasaran sekali dengan kehadiran ku di sini? Aku kuliah disini Tria, sayang.” jawabnya sambil mengacak-acak rambut Tria.
”Iya kah, Mas? Mas gak sedang membohongi Tria, kan Mas?” tanya Tria.
Bagas menggeleng.
”Wah, jadi aku bisa bertemu dengan Mas Bagas terus dong, asyik!”
Bagas tersenyum senang, ”Kamu senang sekali jika bisa bertemu dengan ku setiap hari.” ucapnya.
”Iya lah, Mas. Aku sangat senang.” sahut Tria, ”Mas kan kakak ku, pasti senang lah aku bertemu dengan Mas, tiap hari lagi. Mungkin aja, aku bisa manfaatin Mas, dari orang-orang yang akan menjaili Tria nanti.” ucapnya.
”Oh, yah? Kamu berani begitu? Memanfaatkan keberadaan ku disini?” tanya Bagas.
”Em...berani! Kenapa? Mas gak mau yah nolong Tria jika Tria di jaili sama orang-orang di sini? Berarti, Mas gak mau juga bertemu dengan Tria, dong!” ucap Tria.
Tria, jika kamu ingin tahu, aku ingin kamu selalu berada di dekat ku setiap hari. Agar aku bisa melindungi mu. Tria, aku masih mencintai mu. benak Bagas.
Bagas menggeleng cepat, ”Siapa yang gak senang jika berjumpa dengan mu setiap hari? Aku sangat senang em bahkan aku begitu sangat senang bisa bertemu dengan mu setiap hari, sayang!” ucapnya. Ia memandang Tria dengan sedih, ”Hanya saja, apa kamu gak takut jika terus bertemu dengan aku?” tanyanya.
Tria terdiam. Ia balas memandang Bagas dengan dahi mengerut. Apa maksud dari pertanyaan Bagas, yah? benaknya.
”Maksudnya, gimana ya, Mas? Apa yang harus aku takut kan, Mas? Takut pada siapa? Takut kenapa?” tanyanya, penasaran.
Bagas tertawa, terdengar pilu. ”Hahaha, kamu sudah lupa ya, kalau ada yang cemburu dan marah jika melihat kita berdua begitu dekat? Apa kamu sudah lupakan itu? Sewaktu kita di villa Rio?” ucapnya, sambil mencubit hidung mancung Tria.
Tria terdiam. Oh, iya benar, aku lupa dengan itu. Tapi kan, gak ada salahnya kalau mau bertemu sama Bagas? Apalagi, ini kampus, siapapun bisa bertemu dengan siapa saja kan di sini? benaknya.
”Hum, bilang saja kalau Mas yang gak mau bertemu dengan Tria. Mungkin Mas yang merasa takut, Mas yang takut kan? Mas takut, jika pacarnya Mas ngelihat Mas lagi berduaan dengan cewe lain, pacarnya Mas akan marah sama Mas. Ya kan Mas? Mas jangan jadikan Rio dan teman ku alasan untuk tidak bertemu dengan ku deh, Mas.” ucap Tria. Ia memasang raut merajuknya.
Aku masih mencintaimu, Tria. Kalau kamu mau tahu itu. Jangankan bertemu setiap hari, bisa bicara denganmu berdua seperti ini saja aku sudah bahagia, Tria. benak Bagas.
Bagas menggeleng cepat, ia tersenyum kecut. ”Pacar? Memangnya ada yah yang mau sama aku? Aku jelek begini!” sahutnya.
”Adalah Mas, masa gak ada? Siapa bilang Mas jelek? Mas ada ganteng begini kok.”
”Apa ia aku ganteng? Kalau aku ganteng, pasti cewek-cewek gak akan nolak cintaku, Tria.”
”Memangnya siapa yang sudah menolak cintanya kakakku yang ganteng ini? Beritahu aku kak. Siapa dia?”
Bagas terdiam. Ia melihat Tria dengan serius, tatapannya tepat pada retina mata Tria. Sehingga membuat Tria gugup.
Deg! Jantung Tria berdetak cepat. Ia menelan saliva nya dengan terus memandang wajah Bagas yang menatapnya dengan tatapan yang entah apa maknanya.
”Kamu yang menolak cintaku, Tria.”
Deg! Tria terdiam. Tubuhnya membeku. Ia masih memandang wajah Bagas. Ia melihat kejujuran di mata Bagas. Ia juga melihat ada bayang dirinya di pelupuk mata Bagas. Ia bisa melihat betapa besar cintanya Bagas untuk dirinya.
Ia menunduk seketika. Bagas memegang dagu Tria lalu mengangkat wajah Tria agar wanita itu kembali memandang wajahnya.
”Kenapa menunduk? Hum? Apa perkataan ku menyakitimu?” tanyanya pelan.
Tria tidak menjawab. Ia begitu gugup, ia tidak menyangka Bagas akan mengatakan dirinyalah yang sudah menolak cinta Bagas. Matanya mulai berkaca-kaca.
Bagas tertawa sambil mengacak-acak rambut Tria. ”Hahaha, lihatlah wajahmu yang gugup itu, sayang! Aku hanya bercanda, Tria sayang. Jangan di ambil serius ucapan ku.” ucapnya sambil tersenyum. Ia menyembunyikan rasa kecewa dan sakit hatinya.
Tria masih tetap terdiam. Ia tahu dari mata Bagas, jika kalimat yang keluar dari mulut pria itu adalah bohong. Sedangkan di matanya, ia melihat cinta Bagas yang masih besar untuknya dan di sana juga tersirat kekecewaan.
Bagas ikut terdiam melihat Tria yang masih terdiam memandangnya. Ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan di hatinya.
Tanpa permisi, ia meraih tubuh Tria dan membawanya ke dalam pelukannya. Bagas ingin menguatkan hatinya dengan memeluk tubuh wanita yang dicintainya itu. Yang hanya menganggap dirinya selama ini sebagai seorang kakak.
Tria terkejut, ia terpaku, membeku, Bagas memeluknya tiba-tiba dan pelukannya sangat erat.
Apakah Bagas sedang menyalurkan kecewanya padaku? Pikir Tria. Ia tahu, pria itu sedang rapuh hatinya. yang di peluk secara tiba-tiba, ia terpaku membeku.