NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA

SUAMI PILIHAN PAPA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rahmania Hasan

Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

CAPTER 31

BERHARAP ISTRI YANG BERLARI PADANYA

Yunita tengah duduk berdua dengan Veny disebuah kafe, Veny yang masih mengira kalau Hasan pria single dan sedang disukai oleh sepupunya dengan senang hati akan membantu mereka untuk menjadi dekat.

Tapi menurutnya ada satu penghalang, dan dia harus segera memberitahu Yunita. Penghalang yang dimaksud adalah dosennya sendiri, Lita. Meski Lita bukanlah tipe orang yang merambisi, namun hati yang terluka bisa merubah seseorang.

"Mba tahu nggak gosip seputar pak Hasan?." Ucap Veny berusaha memberitahu.

"Gosip apa?." tanya Yunita.

"Ternyata dikampus itu pak Hasan sering dicomblangin sama ibu Lita dan kabarnya lagi ibu Lita emang beneran suka sama dia." Tutur Vey dengan serius.

"Waww!." Batin Yunita.

"Beneran yang kamu omongin ini?." mencoba mencari kejelasan.

"Iya Mba aku nggak bohong."

"Hmmm...mau nggak bantuin kakak?." Memanfaatkan kembali.

"Ya pasti lah Kak."

"Kalau gitu bantu kakak untuk kenal sama dosenmu itu."

"Lohh kakak yakin...dia kan secara nggak langsung saingannya kakak." Bingung dengan pola pikir Yunita.

"Justru karena dia saingannya kakak...kakak harus kenal dia dan juga harus bisa berteman dengan dia, kita itu harus bisa bermain cantik." Tutur Yunita dengan tenang.

"Kakak emang cerdas...jangan khawatir kak aku bakal cari jalan buat deket sama ibu Lita." Ujar Veny.

"Kamu emang bisa diandalkan." Seru Yunita pada Veny.

Senyum kemenangan terlukis diwajah Yunita, seolah mendapatkan tambahan amunisi, otaknya tengah menyusun rencana untuk menghancurkan Naura.

"Nggak perlu ngotorin tanganku...cukup lewat dia saja." Guman Yunita begitu Veny sudah tidak bersamanya.

Setelah ketemuan dengan Yunita, Veny kembali ke kampus. Dia mulai mengambil suatu langkah untuk bisa

dekat dengan Lita. Dengan alasan untuk meminta bantuan pada Hasan, dia memberanikan diri untuk masuk keruang dosen. Tentunya setelah mengintai kedalam apakah Lita ada didalam tanpa keberadaan Hasan.

Keberuntungan tampaknya menyertai, Veny yang tahu kalau Hasan tidak disana segera masuk kedalam ruangan. Bersikap sopan dia datang ke meja Lita dan menanyakan keberadaan Hasan.

"Maaf Bu permisi." Kata Veny.

"Iya ada apa?." Lita bertanya.

"Pak Hasan masih dikelas ya?!."

"Iya ada kepentingan apa?."

"Saya mau menyerahkan ini!." Sambil memperlihatkan makalah ditangannya.

"Ohhh...kamu bisa langsung taruh dimejanya." Jawab Lita.

"Saya khawatir hilang Bu...boleh saya titip ke Ibu?." Pinta Veny.

"Ya sudah mana...nanti kalo orangnya ada saya kasihkan." Sambil meminta makalah yang tadi diperlihatkan padanya.

Dengan senang Veny menyerahkan makalah itu ke tangan Lita, lalu dia segera pamit karena akan mengikuti kelas berikutnya.

Hasan tengah berada didalam kelas menyampaikan materi, dia baru kembali ke mejanya diruang dosen menjalang sore. Saat itu Lita juga baru selesai kelas dan kembali ke meja kerjanya juga.

"Pak Hasan ini tadi ada mahasiswanya pak Hasan yang datang buat  ngumpulin." Sambil menyerahkan makalah ke Hasan.

"Makasih Bu!." Ucap Hasan.

Keduanya sudah tidak sedekat seperti sebelumnya, baik Hasan atau pun Lita sama -sama menjaga jarak. Mereka hanya saling bertegur sapa atau berbicara jika ada sesuatu yang berkaitan dengan tugas di kampus.

Lita segera keluar dari ruangan dosen setelah menyerahkan makalah yang dititipkan Veny kepadanya, dia hendak pergi ke kantin ketika Veny datang menghampirinya.

"Ibu Lita mau ke kantin ya?." tanya Veny.

"Iya kenapa?." Jawab Lita dan balik bertanya.

"Nggak kenapa-napa Bu kebetulan saya juga mu ke kantin." ujar Veny.

"Ohhh kalo gitu ayo bareng!." Ajak Lita.

Mereka berjalan berdua ke kantin, melewati lorong kampus sambil mengobrol. Veny dengan jeli berusaha mengorek informasi lebih banyak mengenai Lita dan dengan senang hati Lita menceritakan segala sesuatu yang menyangkut dirinya. Mulai dari masa kuliah dan sampai akhirnya dia mengajar di kampus itu.

Duduk dimeja yang sama, obrolan mereka terus berlanjut. Veny juga sedikit bercerita tentang dirinya. Misi terakhir dari obrolannya saat itu adalah meminta nomor telepon Lita.

"Ibu boleh saya minta nomornya?." ucap Lita.

"Ohhh iya tentu!." Jawab Lita tulus.

Setelah memberikan nomor teleponnya, Lita beranjak pergi duluan. Karena dia masih memiliki jam saat itu.

"Maaf ya duluan soalnya ada kelas." Pamit Lita.

"Iya Bu." jawab Veny

Begitu Lita menjauh darinya, Veny langsung mengirim chat pada Yunita. Dia mengirimkan nomor Lita padanya juga.

"Kak yang barusan itu nomornya bu Lita." Isi chat Veny.

Yunita yang tengah duduk santai di salon kecantikan miliknya, segera membalas chat yang dikirim oleh Veny kepadanya.

"Ok makasih ya...Veny emang yang terbaik." Balasan dari Yunita dengan menambahkan imoji jempol.

Segera setelah mendapat tambahan amunisi, Yunita yang tengah santai langsung menelfon

Sheril. Temannya waktu kuliahnya dulu yang tempo hari diminta oleh Yunita untuk memberikan sedikit pelajaran pada Naura. Yunita menanyakan kabar mengenai rencana yang dia instruksikan padanya. Sheril menjawab panggilan dan menceritakan apa yang dia lakukan dibutik Naura minggu lalu, dia juga berencana  kembali ke butik besok untuk melanjutkan permainannya.

Puas dengan berita yang didapat, Yunita tengah menyusun rencana berikutnya. Rencana yang akan melibatkan Lita dan tentunya dia akan cuci tangan dalam hal itu. Yunita tersenyum licik dan memicingkan mata, tak kala menemukan rencana yang cukup apik menurutnya.

---

Sore menjelang malam Veny hendak pulang dari kampus, Veny mengirim chat pada Yunita untuk segera menjemputnya. Tidak mengulur waktu, Yunita segera membawa mobilnya menembus jalanan dengan kecepatan lumayan tinggi.

Sementara itu Veny yang tengah menunggu diluar pagar kampus, melihat Lita berjalan keluar dari gerbang kampus dan berdiri tak jauh dari sana. Tidak ingin membuang kesempatan Veny segera berlari kearahnya.

"Bu lagi nunggu jemputan?" tanya Veny begitu berdiri disamping Lita.

"Loh kamu...iya hari ini ibu nggak bawa mobil, ini lagi pesen ojek online tapi belum dapat." Tutur Lita.

"Cancel aja Bu...bareng sama saya baliknya." Veny menawarkan tumpangan.

"Iya makasih jadi ngerepotin kamu." Lita menolak.

"Jangan gitu dong Bu...loh itu sudah datang, mari Bu bareng sama saya!." Ucap Veny dan meraih tangan Lita.

Lita tidak bisa menghindar lagi, terpaksa dia pun naik ke mobil dan duduk dikursi belakang dengan Veny. Veny memperkenalkan Lita pada kakak sepupunya yang tak lain Yunita. Setelah saling berkenalan, Yunita memulai percakapan terlebih dahulu. Tidak lupa dia juga meminta akun sosmed yang dimiliki oleh Lita dengan alasan agar bisa lebih akrab lagi.

Di kampus Hasan yang masih sibuk dengan tugasnya sebagai seorang dosen, lupa meningalkan mantel hujan dirumahnya sendiri.  Dan dia tidak menyadari, setidaknya sampai dia bersiap untuk pulang dan membuka jok motor. Untunglah tas ransel miliknya dilengkapi dengan pembungkus yang terbuat dari bahan parasut, sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkan isinya.

Tidak menunggu hujan reda, Hasan langsung mengendarai motornya menembus derasnya hujan. Dia juga tidak lupa untuk berhenti sebentar dipinggir jalan untuk membeli nasi goreng. Kali ini dia tidak makan disana melainkan membungkusnya untuk dimakan dirumah. Teringat dengan Naura yang kemaren terpaksa harus berbagi nasi goreng dengannya, Hasan pun memutuskan untuk membeli dua bungkus.

Begitu sampai dirumah Hasan memarkirkan sepeda motornya digarasi, lalu dia berlari kehalaman samping melewati kolam renang. Badannya yang basah kuyub karena kehujanan, membuat dia tidak bisa masuk. Hasan berdiri diteras belakang, berharap bik Siti berada disana. Namun ternyata tebakannya kurang beruntung,

orang yang dimaksud tidak ada. Cukup lama dia berdiri didekat pintu, menunggu kemunculan bik Siti dari dalam. Bahkan tubuhnya sudah mulai menggigil kedinginan.

Sebelum kembali kekamar, seperti biasa bik Siti akan memastikan cendela dan pintu terkunci dengan baik, serta menutup kembali gorden. Dia berjalan kebelakang untuk memastikannya juga. Matanya terkaget ketika melihat Hasan berdiri diluar sana dalam keadaan basah kuyup. Bik Siti berlari kesana dan segera membuka pintu kaca yang tadinya terkunci dari dalam.

"Ya Allah Aden kenapa berdiri disini kok nggak langsung masuk lewat depan?." tanya bik Siti dengan cemas.

"Ini Bik soalnya saya kehujanan...kalau lewat depan entar lantainya basah." Tutur Hasan menjelaskan pada bik Siti.

"Basah kan bisa dipel Den...tunggu bentar ya Den." Ujar bik Siti.

Bik Siti berlari kelantai dua untuk memberitahu pada Naura dan memintanya membawakan handuk serta baju ganti untuk Hasan. Khawatir dengan keadaan Hasan dibawah, bik Siti mengetok pintu kamar Naura dengan kuat. Dan membuat Naura panik dengan suara ketokan itu.

"Iya Bik ada apa?." tanya Naura yang dibuat panik.

"Non ini tasnya den Hasan." Sambil menyerahkan nya pda Naura.

"Loh orangnya mana Bik?." tanya Naura yang mulai cemas.

"Dibawah...Non cepetan ambilin handuk dan juga baju ganti buat Aden." Pinta bik Siti.

Begitu mendengarnya, Naura langsung balik kedalam untuk mengambil apa yang diminta oleh bik Siti.

"Ini Bik!." Ucap Naura dan menyerahkan pada bik Siti.

"Ya Allah Non...emang Non nggak khawatir ya sama keadaan den Hasan...bukannya lari kebawah malah dikasih ke bibik!."

"Kan tadi Bibik minta diambilin...terus aku salahnya dimana?!." Protes Naura.

"Salahnya Non itu karena sama sekali nggak ada perhatiannya sama  den Hasan...uda sini Non!." Ucap bik Siti yang kesal dengan sikap Naura.

Setelah menyambar handuk dan baju ditangan Naura, bik Siti langsung lari kebawah. Membawakan handuk dan baju lalu menyerahkannya pada Hasan. Hasan melirik sebentar kedalam, mencari kehadiran Naura disana. Kekecewaan tampak diraut wajahnya, namun dia segera menundukkan kepalanya beberapa saat dan mengangkatnya kembali setelah bisa menyembunyikan perasaan kecewa itu.

"Bik mba Naura mana...apa udah tidur?!." tanya Hasan.

Bik Siti tidak menjawab, dia mengerti maksud dari pertanyaan tuan mudanya. Yang diharapkannya saat ini adalah

istrinya yang berlari padanya dan dengan sedih mengurusnya. Bukan malah seorang pembantu.

"Pakai kamar mandi disini aja Den!." Ucap bik Siti sambil menuntun Hasan masuk.

"Iya bik!."

"Loh itu apa Den?!." tanya bik Siti ketika melihat bungkusan kresek ditangan Hasan.

"Ohhh ini...cuma naso goreng."

"Sini Den itu." Ucap bik Siti.

Hasan dengan suka rela menyerahkannya pada bik Siti sebelum dia masuk ke kamar mandi. Segera bik Siti menaruhnya dimeja dapur, dengan lancang bik Siti mengintipnya. Hatinya tersentuh dengan perhatian yang

diberikan Hasan pada Naura tak kala mendapati dua bungkus nasi goreng didalamnya.

"Ya Allah Non kurang baik apa den Hasan sama Non...kok Non kayak gitu." Guman bik Siti dan air mata menetes tak terduga.

Bik Siti sesenggukan didapur sebelum mendengar suara Hasan dari arah belakang, buru-buru dia mengusap air mata yang membasahi pipinya.

"Iya Den!." Teriak bik Siti dari dapur dan langsung berlari menghampiri Hasan.

"Bik ada gantungan baju nggak buat ini." Tutur Hasan sambil menunjukkan emberyang berisi baju miliknya.

"Kok dicuci sendiri sih Den...kan ada bibik!." Seru bik Siti dengan suara bergetar karena menahan air mata.

"Tadi nggak sengaja ngelihat sabun cuci...ya sekalian wes." Ucap Hasan dengan senyuman tipis diwajahnya.

Tak lama kemudian bik Siti kembali dengan membawa hanger yang diminta oleh Hasan.

"Sini Den biar bibik yang ngangininnya dijemuran." Ucap bik Siti menawarkan bantuan.

"Udah Bik nggak apa-apa saya aja." Ucap Hasan menolak.

Selama berada dirumah pak Malik, Hasan sering mencuci sendiri bajunya. Meski hampir tiap hari bik Siti mengingatkan padanya untuk tidak mencucinya sendiri. Cukup menaruh baju yang kotor dikeranjang. Tapi Hasan tidak mendengarkan, dia hanya tidak ingin merepotkan orang lain selama dia masih bisa mengerjakannya sendiri. Terlebih lagi dia malu jika pakaian dalamnya juga harus dicuci oleh orang lain terkecuali oleh istrinya sendiri.

Naura yang sebenarnya mencemaskan keadaan suamianya, turun kebawah. Namun langkah kakinya terhenti, tubuhnya dan juga hatinya seolah berat dan tertahan. Dia hanya mengintip dari dapur, melihat Hasan yang sedang menggantung pakaiannya dijemuran. Naura juga segera bersembunyi dibalik tembok ketika Hasan hendak berbalik badan. Takut ketahuan oleh bik Siti dan Hasan, Naura kembali ke kamarnya diatas dan menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut.

"Den saya buatkan teh hangat dulu ya." Kata bik Siti.

Namun Hasan menolak, dia hanya meminta diambilkan dua piring dan sendok. Lalu kembali keatas dengan membawa dua bungkus nasi goreng yang dia beli.

Bik Siti menatap punggung Hasan yang sedang menaiki tangga dengan tatapan sedih dan haru. Terlihat jelas badannya yang menggigil kedinginan bahkan bibirnya terlihat biru. Namun dia berusaha bersikap

santai dan masih mengingat istrinya.

Hasan membuka gagang pintu dengan pelan, lalu meletakkan piring dan kresek yang berisi nasi goreng diatas meja. Dia menjatuhkan dirinya di sofa, mengambil nasi goreng itu dan menaruhnya dipiring. Matanya menoleh sebentar ke kasur namun tidak memiliki keberanian untuk membangunkan Naura. Dalam hening dia menyantap

sendiri nasi goreng itu, hatinya sedih, senyumnya pilu dan matanya berkaca-kaca tak kala melihat piring satunya yang tergeletak diatas meja. Padahal niat sebelumnya ingin makan berdua seperti kemarin malam.

"Kenapa sikapmu berubah-ubah...tolong tunjukkan yang mana sebenarnya yang mewakili perasaanmu ke aku...jangan membuatku bingung." Guman Hasan didalam hati.

Selesai makan Hasan menaruh kembali piring ke dapur, dia juga membawa piring yang satunya dan meletakkan dimeja dapur. Tubuhnya masih merasa kedinginan, sehingga dia memakai jaket. Dan mengistirahatkan tubuhnya di sofa.

Naura bangkit dari tidurnya ketika memastikan Hasan sudah tertidur. Dengan pelan kakinya turun dari kasur dan melangkah mendekati Hasan. Hatinya sedih ketika melihat suaminya tidur dengan memakai jaket dan meringkuk kedinginan disana.

Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering, setelah mengambil botol minuman yang kosong dimeja dekat tempat tidur, Naura turun kebawah. Ketika hendak mengisi botol tersebut, matanya melihat bungkusan dipiring. Teringat dengan Hasan yang tadi makan sedirian dikamar, tangannya mengambil piring itu dan membukanya. Hatinya kembali tersentuh ketika mendapati isi dibalik bungkusan yang dia buka. Tangannya menggeser kursi plastik yang biasa bik Siti duduki, dan menyantap nasi goreng itu sampai habis.

Kembali kekamarnya, Naura berjalan mendekati Hasan yang tertidur. Masih dalam posisi meringkuk kedinginan, tangan Naura menggoncang pelan pundak Hasan. Butuh waktu lama sampai Hasan membuka matanya.

"Iya Mba...." Suaranya lemah.

Naura meraih pergelangan tangan Hasan, membantunya bangun.

"Ayo pindah ke sana...." Ucap Naura sambil membantu Hasan bangun.

Hasan yang merasa lemah dan kedinginan dengan patuh mengikuti Naura. Dia berjalan ketempat tidur dengan mata setengah terbuka. Naura membimbingnya dengan tulus, merebahkan tubuhnya dan juga

menyelimutinya. Lalu dia juga naik keatas kasur dari sisi yang lain, menyelinap dibalik selimut dan memeluk tubuh Hasan yang dingin. Ini menjadi kali pertama bagi keduanya tidur diatas satu ranjang semenjak menikah.

"Apa masih dingin?!." tanya Naura.

Hasan menjawabnya dengan anggukan kepala yang lemah. Demi memberikan kehangatan pada suaminya, tangan Naura menyelinap masuk kedalam jaket dari bawah, merapatkan tubuhnya dengan ketat dan melingkarkan kakinya diantara kedua kaki Hasan serta membiarkan telapak kaki itu saling bersentuhan.

1
F2h 29
Lumayan
Bungatiem
aku baca udah ke 4x. tapi pas cerita nya udah mulai melintir ga karuan aku ga lanjutin lagi.
Triwoel Andari
Hasan ngasih mahar ke Naura d episod ke brapa yah.. apa aku yg kelewatan ngebaca nya atau gimana yah...???
Hani P Hani
soweet jadi penggen jadi naura😍😍😍
Hani P Hani
ahirnya mereka bersatu semoga ini menjadi awal yang baik
Hani P Hani
alhamdulilah
Myra Azmoro
Si naura kelewatan ,, Hadeeww episode ini banyak mengadung bawang bikin hati sesak
Yuni
i
나의 햇살
gimana cowok suka sama kamu, orang kamu aja calon pelakor karena kalah saing sama Naura
Jusmiati
enaknya Naura, masak suaminya terus yg berjuang, kalau sy jadi Hasan, sdh sy tinggalin tuh nauranya, cari wanita yg lebih berfikir dewasa....😔😔😔
Yeni Rubianti
berbagi ilmu
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Bagus bgt critanya,dr tadi bikin mewek mulu 😭😭😭
Linda Erma
Critanya bikin aku mewek bgt 😭😭😭
Linda Erma
Sedih bgt ya 😭😭😭
Linda Erma
Yahhh aku nangis,Naura harusnya bersyukur punya suami yg sabar kyk hasan
Muda MACMUDAH
bagus thor cm sayang kurang lengkap klo g ada ilham jg
Muda MACMUDAH
yg cewek kurang cantik kak soalnya yg cowok tampan abis🤭
Heny Purwati
naura knp egomu tinggi...sampai" tak menyakini ketulusan suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!