" Ken, maaf kan aku ! " ucap Jonathan
Kendra tersenyum mencibir.
" Selama aku belum menikah, jangan mimpi kau mendapatkan maafku, dan asal kau tahu, aku tidak gampang menyukai seseorang dan selama aku belum memaafkanmu, kebahagiaan yang kau punya akan kosong dan rapuh seperti cangkang, camkan itu ! " pada kata terakhir, Kendra menunjuk dada Jonathan dengan ujung telunjuknya.
Ig.rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31.Bisa saling jatuh cinta
Menjelang jam sepuluh malam, Ibu Lastri dan Ken baru sampai dirumah, saat memasuki rumah, terlihat hidangan makan malam yang tidak jadi tersentuh di atas meja makan yang ditutupi dengan tudung saji.
Bagaimana ada yang berpikiran buat makan, Ken yang langsung berlari keluar begitu mendapat telepon dari Jo jika Raisa menghilang, Ibu Lastri juga tergopoh gopoh pergi ke rumah sakit tanpa tahu siapa yang akan di datanginya.
Bik Narti yang membukakan pintu rumah ketika Ibu Lastri dan Ken pulang, sedikit menahan kantuk karena terus menunggu.
Niken tertidur di sofa di depan TV karena tidak bisa bertahan untuk terjaga, menunggu suami dan ibu mertuanya yang pergi tidak tahu kemana dan jam berapa akan kembali.
Melihat Niken yang tertidur, ada rasa bersalah di dalam hati Ken.
Maaf ! jika belum ada cinta di hatiku untukmu, tetapi aku akan berusaha untuk jatuh cinta padamu, ku mohon bersabarlah !
Kata kata itu hanya mampu Ken ucapkan didalam hati.
Pelan Ken mengangkat tubuh Niken yang terlelap dan membawanya naik ke kamar mereka, ketika langkah Ken menaiki anak tangga, Niken terbangun, Ken tidak bermaksud menurunkan, Niken juga tidak berniat turun, justru tangan Niken terulur melingkari leher Ken.
Ken tersenyum tipis, Niken menyembunyikan wajahnya ke dalam dada Ken.
" Aku menggendong mu tidak gratis, bayar nanti " bisik Ken.
Niken diam saja tidak menjawab, karena Niken tahu, Ken meminta upahnya dengan cara apa, hembusan hangat napas Ken dan wajah Ken yang menatapnya dengan kabut gairah membuat Niken mulai bisa memahami bahasa tubuh suaminya.
*
*
Harusnya pendamping pasien tidurnya di sofa yang ada didalam ruang
perawatan kelas VIP, tetapi tidak dengan Jo, dia lebih senang menyempil di pinggir ranjang sembari memeluk istrinya.
Perawat yang sesekali mengecek perkembangan kondisi Raisa hanya menahan senyum.
Jo tak ubahnya seperti bayi koala besar yang terus memeluk induknya.
Raisa yang mungil terus dipeluk Jo seperti bantal guling.
" Bang " panggil Raisa pelan membangunkan Jonathan.
" Hemm "
" Aku lapar "
Jonathan membuka matanya malas.
" Jam berapa sekarang ? " bertanya dengan suara serak sembari melihat petunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Sudah jam tiga ya ? iya Abang juga lapar, kemarin terakhir makan siang di kantor " ujarnya pelan, sambil duduk dan membiarkan kakinya terjuntai ke bawah.
Raisa memperhatikan penampilan Jo, ia ingat, suaminya memakai setelan ini saat berangkat ke kantor, Rai baru menyadarinya.
" Abang belum sempat mandi dan berganti baju setelan dari kantor ya ? "
Jo berpaling menatap Raisa.
" Bagaimana Abang bisa mandi dan berganti pakaian ? masuk ke rumah saja harus melompat pagar dan merusak kunci pintu " Jo menowel ujung hidung Raisa.
" Maaf bang ! "
" Gak apa apa sayang, kita sama sama belum mandi dari kemarin sore bukan ? jadi sama " Jo terkekeh kecil lalu melompat turun dari ranjang.
Bibir Jo sudah mulai biasa memanggil Raisa dengan sebutan ' sayang ' ketika ia mulai yakin dengan perasaan yang ia rasakan pada Raisa.
" Sekarang mau makan apa ? nasi goreng sepertinya enak, didepan banyak pedagang yang mangkal "
Raisa mengangguk.
" Tunggu Abang ya ? jangan kabur lagi ! " ujarnya terkekeh, Raisa cemberut.
Jo berjalan keluar, Rai menatap belakang punggung suaminya ketika keluar kamar.
Raisa meraba hatinya, apakah ia sudah mencintai Jonathan seperti halnya Jo terhadap dirinya ? Raisa masih belum yakin, tetapi mengetahui Lisa hamil dan menduga jika ia mengandung anak suaminya, ada ketakutan dan kecemburuan yang sama di dalam hatinya.
Jo selalu bersikap baik terhadapnya, Rai sekarang memang sudah mulai menyukai Jo, sangat suka bahkan, semua perlakuan dan kata kata entah itu gombal atau benaran, hanya Jo yang tahu, semua Raisa suka, apakah itu sudah bisa dikatakan cinta ? entahlah, Raisa tidak mau merepotkan pikirannya untuk mencari kesimpulan yang ia rasakan, baginya Jo suaminya dan ayah dari anak yang dikandungnya.
Jadi ketika hatinya merasa hangat mendapatkan perlakuan sedikit berbeda dari Ken, Raisa merasa itu bukanlah hal yang baik, dan ia ingin menghindar tetapi justru membuat dia dan calon anaknya di situasi yang sangat buruk.
Inilah akibat pergi tanpa izin suami dan tidak mengindahkan keberatan dari ibu, Alloh tidak ridho
Raisa menyalahkan dirinya sendiri.
Suara pintu yang terbuka dari luar mengalihkan perhatian Raisa yang semula menatap langit langit kamar yang semuanya berwarna putih.
" Jangan memikirkan apapun ! " Jo menggeser kursi mendekat ke arah ranjang.
" Maafkan aku ya Bang, tidak meminta izin ketika keluar rumah " Raisa menatap Jo dengan tatapan bersalah.
" Lupakan ! masih menginginkan strowberi ? " tanya Jo mulai menyuapkan nasi goreng ke mulut Raisa.
" Abang mau membelikannya ? " tanyanya dengan wajah berbinar.
" Tentu saja "
Raisa mengangguk anggukkan kepalanya berulang ulang seakan menyakinkan Jo jika ia sangat menginginkan buah yang menyebabkan ia keluar rumah.
" Nanti kalau tokonya sudah buka, Abang belikan ya ! sekarang makan yang banyak, biar cepat gede "
Raisa mencebik, Jo tertawa.
Jo dengan sabar terus menyuapi Raisa yang masih belum boleh banyak bergerak, sesekali Jo juga menyuap untuk dirinya sendiri, sembari keduanya bercerita tentang hal hal yang ringan tanpa ada yang mau menyinggung anak siapa yang ada dalam kandungan Lisa.
Terlebih Raisa, ia tidak perduli itu anak siapa yang penting bukan anak suaminya.
*
*
Keduanya kembali tertidur sampai perawat yang hendak mengontrol kondisi Raisa di pagi hari membangunkan tidur lelap mereka.
Niken datang pagi pagi sekali diantar oleh Ken, sekalian Ken yang mengambil motornya di parkiran rumah sakit karena malam tadi ia membawa mobil Jo pulang malam bersama ibu Lastri.
" Abang pulanglah ! mandi dan bersiap siap kekantor, ada Niken yang menjagaku disini "
Jo mengangguk.
" Setelah Abang meminta izin di kantor, Abang secepatnya akan kembali ya ? menemani istri abang " Jo mencium dahi Raisa lama
Niken malu sendiri menyaksikan perlakuan manis Abang iparnya terhadap temannya.
" Titip Rai, ya Ni ! " pesan Jo sebelum meninggalkan kamar perawatan.
Niken menganggukkan kepalanya.
" Mas Ken sudah memberitahukan kenapa aku ada disini kan, Ni ? " ucap Raisa begitu Jo sudah menghilang dari balik pintu.
" Sudah, tadi malam Mas Ken menceritakannya, sebenarnya Mas Ken dan suamimu sudah tahu kalau mantan calon istri bang Jo hamil oleh pria lain, mereka tidak memberitahukan kepada dirimu dan ibuk, karena tidak ada sangkut-pautnya, cuma tidak menduga saja dia bertemu denganmu dan ...ya seperti yang kamu tahu sendiri ".
" Resiko kita berdua menikah mendadak ya Rai, harus mempersiapkan mental jika tiba tiba wanita masa lalu suami kita hadir di kehidupan kita saat ini " ujar Niken panjang lebar
" Yang menikah mendadak itu aku, Ni ? bukan kamu, kalian masih ada acara lamaran dan yang lainnya, nah aku ? tau tau sudah ijab Kabul saja " Raisa mengerucutkan bibirnya.
" Tetapi kamu bahagia kan, Rai "
" Alhamdulillah "
" Kamu bahagia juga kan Ni ? "
" Kalau untuk bahagia.... entahlah sepertinya terlalu cepat menyimpulkan kata itu, yang pasti aku tidak menderita, Mas Ken memperlakukan aku dengan baik, semoga aku dan dia bisa saling jatuh cinta, seperti kau dan suamimu "
" Aamiin " saut Raisa menjawab doa Niken
*
*
*
🌹🌹🌹🌹🌹
baru awal bab aja udah terasa bedanya... 👍👍👍
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah baca mengejar cinta suamiku & menikah dengan sahabat