Cinta sungguh tidak bisa di duga. Tak pernah terbayangkan oleh Rizky Ade Bramantyo yang biasa di panggil Bram, akan jatuh cinta kepada keponakannya sendiri.
Zavira putri Bramantyo, gadis polos berusia delapan belas tahun yang merupakan keponakan Bram.
Bagiamana kisah cinta mereka? akankah Vira menerima cinta Bram?? Akankah cinta mereka bersatu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian
Bram membawa yome ke mobil dan meletakkannya disana. Kemudian dia berputar menuju kemudi dan dia segera masuk lalu melajukan nya ke rumah.
"Paman Danu" panggil Bram. Begitu mobilnya sampai didepan pintu.
Danu segera keluar rumah dan menyambut tuannya. Sedikit terkejut namun tak berani bertanya.
Bram membawa Vira kedalam dan menduduk kan nya di sofa.
"Ambilkan kotak obat." ucap Bram
Bram meraih kotak obat yang dibawa Nancy dan mulai menuangkan alkohol diatas kapas dan mulai mengobati luka Vira.
Vira mengaduh kesakitan dan meremas tangan Bram sekuatnya. Bram melirik sejenak namun terus mengusap luka Vira hingga bersih. Mengambil obat dan terakhir menutup lukanya dengan perban.
Vira melepaskan genggaman tangannya. "Maaf" ucap Vira menunduk.
Vira takut jika Bram akan memarahinya. Namun tak terdengar suara Bram yang marah, malah bram memandang wajahnya dengan tatapan sulit diartikan.
Vira awalnya menantang tatapan mata Bram namun akhirnya dia mengalah dan menunduk.
"Apa kau tidak bisa mengabari ku atau minta di jemput mang Udin. Mengapa kau malah menunggu disana sendirian. Apa kau bodoh! Bagaimana jika aku tidak datang." ucap Bram memaki Vira.
Vira kembali menatap Bram dengan pwnuh emosi.
"Om sendiri yang menyuruh aku menunggu, Dengan apa aku akan menelpon om, Jangankan ponsel, nomor telepon om pun aku tak punya. Apa om pernah sekalipun memikirkan ku, memberi ku uang, tidak kan om! Lalu mengapa om marah!!" ucap Vira berapi api.
"Aku bisa saja pulang dengan Ken, tapi aku tidak mau dia celaka, cukup aku saja yang tersiksa jangan sampai orang lain ikut celaka gara gara aku." ucap Vira di depan Bram
Bram seakan tertampar dengan ucapan Vira. Benar selama ini dia tidak pernah memberikan apapun kepada Vira, jangan kan ponsel uang saku pun dia tidak pernah memberikannya. Lalu kenapa sekarang dirinya marah marah.
Bram terdiam. Kata kata Vira telak menusuk ke dalam hatinya.
Vira mencoba bangkit dan berjalan tertatih ke kamarnya.
Semua pelayan diam tak berani bersuara apalagi membantu Vira. Nancy hanya memandang sedih kearah Vira.
Vira membaringkan tubuhnya diatas sofa. Dia enggan satu tempat tidur dengan Bram.
Bram masuk ke dalam kamar, dia melihat kosong kearah tempat tidur.
Dimana yome? bathinnya khawatir.
Dinhidupkannya lampu kamar, terlihat yome tidur meringkuk diatas sofa. Tanpa selimut dan tanpa bantal.
Timbul rasa iba di hati Bram. Dia yang menyebabkan yome seperti itu. Ditambah kata kata yome tadi, bahwa Bram sama sekali tidak pernah memperhatikan nya, benar adanya.
Bram mengambil selimut dan menyelimutinya. Kemudian dia berjalan ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Di dalam bath up Bram kembali berpikir, ucapan yome terngiang ngiang di kepalanya.
Sekejam itukah diriku selama ini, pikir Bram.
Semenderita itukah dirinya? Bukan kah tujuan utama ku adalah membuatnya menderita, tapi mengapa kini aku merasa sedih melihatnya menangis. Tidak Bram kau tidak boleh lengah, ingat tujuan awal mu. Membuat Vira jatuh dalam pesonaku dan mencampakkannya. ucap Bram dalam hati.
Setelah memakai piyama tidurnya Bram berjalan menuju tempat tidur. Tapi dia kembali tertegun melihat Vira tertidur di sofa.
Bram berjalan mendekat, dan dia melihat wajah Vira yang terpejam, pipi ya merah dan matanya bengkak ,akibat terlalu banyak menangis.
Bram duduk didekat yome. Dia bersandar di pinggiran sofa dengan kepala menyandar.
Terdengar suara rintihan Vira. Vira merasa perutnya sakit, maag nya kumat karena sejak pagi dia belum makan.
Bram bangkit dan memanggil paman Danu melalui teplon. Dia meminta Danu membawakan sepiring bubur dan segelas susu.
Setelah itu Bram kembali ke sofa melihat Vira. "dimana yang sakit, apa perlu aku memanggil paman Barus?" tanya Bram lembut.
Vira menggeleng, "Tidak perlu. Cukup minum obat saja, nanti juga akan sembuh. Obatku ada di laci kamarku yang dulu.
Bram Kemabli emminta pelayan mengambil obat Vira dan membawakannya ke kamar mereka.
Tok...tok...
"Masuk" ucap Bram.
Pelayan membawa nampan berisi bubur dan segelas susu untuk Vira.
"Ini tuan" ucapnya sopan.
Bram mengambil nampan tersebut dan meletakkan nya diatas meja.
Bram membantu Vira untuk duduk di sofa. Setelah itu dia mengambil piring bubur yang masih mengepul hangat.
Dengan perlahan dia menyendokkan bubur hangat tersebut ke mulut Vira. Awalnya Vira menolak ,tapi tatapan tajam Bram memaksa nya untuk membuka mulut nya.
Beberapa suapan vira kembali menolak dan menggelengkan kepalanya.
"Tiga suap lagi, setelah itu baru kau bisa minum obatmu." ucap Bram.
Vira terpaksa membuka mulutnya. Padahal dia sudah merasa mual. Disuapan kedua Vira sudah tidak tahan lagi, dia menutup rapat mulutnya menahan gejolak dari dalam yang memaksa untuk keluar.
Bram segera memberinya air hangat dan memberikannya obat untuk diminum.
Jika masih mual dan ingin muntah, muntahkan saja. Jangan di tahan. Biar nanti pelayan yang akan membersihkannya." ucap Bram.
Vira mengeleng. Dia kembali merebahkan kepalanya dan coba memejamkan matanya.
"Minumlah susu ini sedikit. Agar kau tidak pucat lagi dan lebih bertenaga. Setidaknya kau harus punya kekuatan untuk melawanku. Aku tahu di dalam hatimu kau sangat membenciku." ucap Bram.
Vira meminum susunya sedikit setelah itu kembali memejamkam matanya?
terus dukung penulis dengan vote sebanyak banyaknya....
.