NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 Kesaksian Widuri, Saling tuduh

John dan Sari akhirnya tiba di dekat Balai Kampung, di depan pintu masuk samping jendela. Mereka berdua akhirnya dapat melihat dan mendengarkan apa yang terjadi di dalam Balai Kampung.

Sari merasa sedikit lega, akhirnya dapat menyaksikan dengan lebih jelas. Dengan usaha yang tepat, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan, mendapatkan hasil juga.

"Syukurlah, akhirnya kita sudah berada di sini, area terdekat dengan pintu masuk, Kak!" Ungkap Sari merasa lega.

"Iya, dong. Kak John gitu loh!" Jawab John tersenyum.

"Terima kasih Kak. Berkat Kakak, Kita dapat berada di posisi ini." Sari merasa bahagia sekali.

"Tentu saja. Apa sih yang tidak buat Kamu, adikku Sayang." Jawab John penuh bahagia karena telah melihat kebahagiaan di wajah adiknya, Sari.

Terdengar suara di dalam Balai Kampung, yakni suara kepala Kampung.

"Jadi ketika Kamu mengantar Nona Widuri, secara tiba-tiba mereka bertiga menyerang kamu dari belakang?" Tanya Kepala Kampung kepada Harjo guna memperjelas peristiwa yang telah terjadi semalam.

"Benar, Pak. Saya bersama Widuri, tidak melihat kedatangan Mereka bertiga, yang secara serempak menyerang Saya. Saya sendiri karena tidak melihat keberadaan mereka dari belakang Saya tidak sempat mengelak sehingga terkena serangan." Harjo menjelaskan peristiwa kemarin.

"Benar Pak Kepala Kampung, Saya sendiri juga tidak dapat melihat ketika mereka menyerang Harjo karena ketutupan badannya Harjo! Saya hanya mendengar suara teriakan,

"Hiat."

"Huftt..."

"Ciat."

Widuri menurunkan suara serangan dimakan itu. Lalu melanjutkan perkataannya

"Nah dari siapa pak Kepala Kampung suara itu, namun terdengar suara "Bukk" siasat yang hampir bersamaan, lalu Harjo meminta Saya segera pergi dengan kode anggukan kepalanya, namun Saya hanya menyingkir mendekati rumah Saya saja, karena takut dan juga ingin melihat apakah Harjo tidak apa-apa." Widuri menjelaskan apa adanya, seraya kelihatan sedikit rasa sedih karena kejadian malam itu.

"Oh begitu? Jadi mereka telah menyerang Kamu Harjo dari belakang secara bersamaan tanpa Kamu ketahui? Betapa rendahnya sikap dan perbuatan mereka itu. Sungguh memalukan." Kepala Kampung merasa sedikit kesal dan geram sekali, mengetahui kisah penyerang terhadap Harjo.

Slamet yang mendengar pembicaraan itu angkat bicara, sebenarnya Saya tidak menyerang bersama-sama, tetapi Arif dan Udin lah yang tiba-tiba turut serta menyerangnya. Saya sendiri masih merasa mampu mengalahkannya, tidak perlu dibantu!" Slamet menyombongkan diri, dan berusaha membelok peristiwa yang telah terjadi itu.

Arif dan Udin merasa tersudutkan dengan semua yang dikatakan oleh Slamet.

"Bukan, bukan begitu. Sebenarnya ceritanya! Saya dan Udin saat itu, hendak pulang kerumah setelah sempat sebelumnya disentil oleh Harjo Pak, lalu kami bertemu Slamet yang terlihat kotor sekali pakaian dan penampilannya Pak. Kemudian Udin menceritakan kejadian itu, lalu Slamet minta diantarkan sekaligus mengajak kami turut serta menyerang Harjo, sebab katanya Harjo telah membuat Slamet terhina dan kotor seperti itu! Saya sendiri awalnya tidak mau pergi Pak!" Arif tidak ingin dirinya disalahkan berusaha kembali menyerang Slamet.

"Betul Pak, kami diajak Slamet bersama-sama!" Jawab Udin segera.

"Begitu, jadi benar dong, kalian menyerang Harjo secara bersamaan. Tanpa diketahui oleh Harjo?" Tanya Kepala Kampung memastikan apa yang telah terjadi.

"Benar Pak, awalnya Kami bertiga berhasil, namun akhirnya kami bertiga kalah akibat ketangguhan dari Harjo Pak." Jawab Udin dengan lugas, sedangkan Arif dan Slamet merasa ketahuan.

Di dalam hati Arif,

"Udin bodohi sekali Kau ini. Kita sudah ketahuan. Bodoh dasar anak bodoh!" Arif merasa tak tahan mendengar perkataan Udin.

"Kalau tidak karena Kamu yang memberitahu Slamet dan mengajak Ku, Aku tidak akan terlibat. Si alan." Arif memandang Udin dengan tajam, ingin sekali menyerangnya. Namun Linmas yang berada di dalam segera memandang tajam ke arah Arif, sehingga Arif harus mengurungkan niatnya.

"Sudah, sudah. Berarti sudah jelas kejadian ini kalian bertiga yang menyebabkannya, bukan Harjo." Kepala Kampung berkata dengan tegas, membuat Arif, Slamet dan Udin terdiam merasa takut.

Kepala Kampung kembali duduk setelah sebelumnya sempat berdiri karena terbawa emosi,

Kepala Kampung saat ini sebenarnya adalah pengganti dari orangtua Sari dan John karena mengundurkan diri. Kepala Kampung tidak ingin masalah ini akan membuat dirinya malu, dihadapan masyarakat terutama dihadapan mantan Kepala Kampung yang telah menyerahkan kepercayaan kepadanya.

"Kamu, Slamet ada apa denganmu? Mengapa kamu mengatakan kalau Harjo telah membuat kamu menjadi kotor dan lusuh? Bagaimana ceritanya? Coba jelaskan!" Kepala Kampung mencoba mencari kebenaran yang menyebabkan kemarahan dari Slamet terhadap Harjo.

"Ti... Tidak Pak. Itu..." Slamet mencari alasan, sebab dirinya tidak ingin merasa malu dikarenakan masalah kemarin.

Di luar ruangan Sari dan John yang serius mendengarkan merasa sedikit aneh, sehingga mereka saling berpandangan mencoba mencerna setiap perkataan yang terucap di dalam Balai Kampung.

Sari menyenggol John,

"Apa mungkin, masalah di rumah makan pinggir sungai itu... Slamet hendak mempersalahkan Harjo atas kejadian tersebut?" Sari bertanya kepada John.

"Aku juga belum tahu dan penasaran! Kita dengarkan saja lebih dahulu, apa sebenarnya yang telah terjadi?" Jawab John, John segera pergi ke luar kerumunan kembali karena Junaedi sudah terlihat berteriak-teriak dan mencoba menembus kerumunan. Dengan kata-kata khas orang yang akan lewat dari kerumunan John menyalakan toa ditangannya untuk segera berjalan menuju Junaedi yang terlihat kesulitan.

"Minggir, tolong minggir! Beri jalan!" John berkata menggunakan toa sambil berjalan menuju keberadaan Junaedi.

"Awas air panas, kasih jalan sedikit!" Canda John melalui toa." ucap John lagi.

Berbagai kalimat lucu diucapkannya agar dapat dengan lebih mudah menerobos kerumunan warga.

Dengan penuh susah payah John menjemput Junaedi yang kesulitan menerobos kerumunan itu.

John pun segera berbalik arah menuju Balai Kampung, setelah berada di dekat Junaedi. Mereka kembali menerobos kerumunan yang sudah bertambah ramai itu.

Kerumunan warga saat ini sudah seperti di pasar kaget atau wahana permainan diakhir pekan, ramai sekali. Warga penuh antusias mencari tahu dan juga memanfaatkan hari liburnya untuk sekadar mendapatkan hiburan.

"Benar Pak! Slamet kemarin sore, berada di rumah makan tepi sungai dan bersandiwara seperti orang gila, sebab tidak mampu membayar. Dia juga menyebutkan nama Bang Harjo kemarin itu." Ucap Yono, Pemuda yang sering berada di pinggir sungai untuk memancing atau menjala ikan, kebetulan berada di saat Slamet bersandiwara dirumah makan tepi sungai itu.

Mitra yang merasa ada kesempatan untuk menjatuhkan Slamet karena dendamnya akibat Slamet pernah menggoda pujaan hatinya pun ikut menambahkan.

"Iya, itu benar! Saya juga berada di rumah makan tersebut Pak, dan melihat apa yang dilakukan Slamet!" Mirza menyambung perkataan dari Toko.

Suara itu terdengar saat Harjo dan Junaedi telah tiba di depan pintu Balai Kampung.

Junaedi segera ingin masuk, tetapi tidak lupa Dia mengajak John.

"Ayo masuk saja, tempatnya masih luas, cukup untuk beberapa orang masuk dan dapat mendengarkan dengan lebih seksama. Lagi pula, kamu kan anak mantan kepala Kampung yang dihormati warga dan juga Pak kepala Kampung. Tidak perlu sungkan, nanti Aku yang jelaskan jika ada yang memprotes atau mempertanyakan kehadiran Kamu dan Sari di dalam John." Junaedi membujuk John untuk ikut masuk bersama Sari.

John berpikir sesaat dan memutuskan untuk ikut masuk ke Balai Kampung sebab dirinya merasa sesak dan kesulitan menyimak pembicaraan di dalam kalau berada di luar Balai Kampung.

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!