Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Haram
"Ciuman lagi dong! Ciuman lagi!" teriak si kembar.
Alya menelan ludahnya kasar, ia melirik Leon yang sudah bergeser sangat dekat dengannya.
"Apa sih? Minggir sana!" ucap Alya.
"Terima kasih. Besok aku akan jemput kamu dan kita bersama-sama ke psikolog. Mau?" tanya Leon.
"Besok aku kerja."
"Hah... kamu susah sekali dibilangin.
Kamu tidak perlu kerja dan kamu fokus pada anak-anak kita saja," jelas Leon.
"Leon, kumohon jangan ikut campur urusanku! Ini hidupku dan kamu tak perlu mengatur," ucap Alya.
Dia berdiri dan ke dapur untuk mencuci piringnya, sementara Leon hanya memandangnya saja. Perjalanan cukup jauh untuk mendapatkan hati wanita itu, tapi yang terpenting saat ini adalah anak-anak kembar itu sudah mau menerimanya.
"Anak-anak, suka makanannya?" tanya Leon.
"Suka banget. Makasih, Papa Leon," jawab mereka.
Leon melihat laptop dan beberapa gadget lainnya yang masih terlihat kinclong serta baru.
"Mama kalian beliin kalian itu, ya?" tanya Leon sambil menunjuk benda-benda tersebut.
"Oh, itu dari Om Agra."
"Om Agra?"
"Betul, Om Agra yang baik sama kami. Tinggalnya di kamar seberang."
Leon mengernyitkan dahinya. Hanya satu Agra yang mungkin kenal dengan Alya, bahkan pria itu juga bos dari Alya di hotel. Agra berdiri dan keluar dari kamar kos, ia melihat kamar seberang sana sambil memandang dengan tatapan kosong.
"Kenapa, Om?" tanya Farad."Kamar 13 itu, ya?"
"Iya, itu kamarnya Om Agra. Dia baik banget bahkan ngajarin aku main komputer dan laptop," ucap Farad.
"Untuk apa dia mengajarimu itu? Kamu masih anak 5 tahun yang tak seharusnya memegang benda itu?" tanya Leon.
"Pokoknya seru deh, aku suka."
Farad masuk ke dalam kos sementara Leon masih memandang kamar itu. Dia melangkahkan diri ke sana sambil terus penasaran, setelah sampai di depan pintu kos tiba-tiba Farid memanggil.
"Papa ngapain?" tanya Farid berlari ke arahnya.
Leon menggendong bocah itu dan menciuminya. "Gapapa, yuk masuk! Banyak nyamuk di luar sini."
Petang berganti malam, Alya juga sudah mencuci semua piring dan mengepel lantai sekalian. Leon dan anak-anak menonton televisi, Alya memandang mereka dan heran wajah mereka bahkan gaya duduk mereka sangat mirip."Leon, kapan kamu akan pulang? Aku tidak enak sama ibu kos," ucap Alya.
"Di sini kan kos bebas," jawab Leon.
"Tetap saja kita bukan muhrim. Jam 8 nanti pulang, ya?" ucap Alya.
Leon mengangguk, setelah bebersih rumah, Alya bergabung menonton televisi bersama mereka.
"Kata anak-anak, Agra tinggal di kos seberang. Apa benar itu?" tanya Leon.
"Iya, Pak Agra tinggal di sana. Hem... kenapa?"
"Aneh, kenapa dia tinggal di kos kecil seperti ini padahal dia punya apartemen sendiri."
Alya pun juga bingung, bahkan dulu saat di Bandung ia pun bertemu dengan Agra. Ah! Sudahlah! Ini bukan urusan Alya, yang jelas Agra bukan orang jahat.
"Pak Agra sepupumu 'kan? Kayaknya kalian tidak akur? Apa yang dimaksud Kakek Alfred tentang sepupumu yang menjadi sainganmu itu adalah Pak Agra?" tanya Alya penasaran dan baru menyadarinya.
"Benar, dialah Sagara Alfath. Dia sepupuku dan aku tidak menyukainya. Apa benar anak-anak dibelikan laptop dan ponsel oleh Agra?"
Alya mengangguk. "Benar, dia yang mengirimkan lewat paket."
"Dia menyukaimu, kamu harus berhati-hati."
Wanita itu terkejut mendengarnya, tidak mungkin pria seperti Agra menyukainya.
"Aku yakin dia ada alasan kenapa mendekatimu dan anak-anak kita," ucap Leon.
Alya menelan ludahnya kasar, kenapa malah menjadi serumit ini? Semoga saja Agra memang baik kepadanya. Setelah itu Alya mempersilahkan Leon untuk pulang karena ia dan anak-anak juga akan istirahat.
"Alya, katamu aku pulang jam 8 dan ini masih setengah 7," ucap Leon.
"Aku juga ingin istirahat, aku lelah bekerja seharian," jawab Alya."Istirahatlah! Aku yang akan menjaga anak-anak dan aku janji akan pulang jam 8 tepat."
"Aku takut kamu membawa kabur anak-anakku."
"Tidak akan. Percayalah padaku!"
Alya terdiam sejenak, jika ia tidur maka anak-anaknya memang tidak ada yang menjaga apalagi mereka sedang aktif-aktifnya.
"Baiklah, jaga mereka! Pukul 8 kamu harus pulang, aku mau masuk ke kamar dulu," ucap Alya.
"Siap, Nyonya!"
Setelah Alya masuk ke dalam kamar, Leon memperhatikan anak-anaknya yang menggemaskan. Dia memotret dan membuat video berkali-kali supaya ada kenangan di ponselnya.
"Kalian sangat lucu. Papa akan mengirim video kalian ke kakek kalian, siapa tahu dia berubah pikiran dan mau menerima kalian," ucap Leon.
Brooott....
Tiba-tiba Fared kentut, baunya sangat menyengat. Leon ingin muntah tapi dia tahan, ia hanya diam sementara Fared hanya nyengir saja.
"Wah... harum 'kan? Wangi 'kan?"
"Hueeeek... busuk!" ucap Farid sambil menutup hidungnya.
Leon tersenyum.
Preeet....
Sekarang gantian Farad yang kentut, ia tertawa-tawa lepas karena sudah membalas kentut dari Fared. Mereka malah bertengkar adu jambak, Leon merekamnya karena lucu sementara Alya yang penasaran langsung keluar dari kamar. Anak-anaknya bertengkar tapi sang papa malah santai merekamnya.
"Leon, apa yang kamu lakukan? Kamu sengaja mengadu domba anakku?" tanya Alya sambil melerai mereka.
"Mereka yang bertengkar sendiri, mereka perang kentut," jelas Leon.
Setelah mereka dilerai, Alya menatap tajam Leon. "Pulanglah sekarang juga!""Tapi...."
"Pulang!"
"Oke, baiklah. Besok pagi aku akan kesini mengantar anak-anak ke Fairy care," ucap Leon.
"Hem...."
Leon lantas pergi dari kos, Alya menutup pintu dengan rapat dan tidak lupa menguncinya.
"Mama mau tidur, kalian nanti nyusul, ya! Jangan bertengkar!" ucap Alya.
"Siap, Bos Mama!"
Alya masuk ke dalam kamar lagi sementara Farad langsung membuka laptopnya, ia berhasil membobol salah satu data perusahaan. Kecerdasannya sangat luar biasa sampai mampu melakukan itu dalam waktu singkat. Sementara yang lain sibuk mengurus hobi mereka masing-masing.
Tangan Farad sangat terampil dan matanya mengikuti tulisan-tulisan itu, sampai ia berhasil masuk ke data tersebut. Yang dia ingat dari ucapan Agra adalah identitasnya harus selalu tersembunyi bahkan dari sang mama sekaligus.
Di sisi lain.
Rafael mendapatkan kabar dari asistennya jika data perusahaannya jebol lagi.
Dia merasa kesal, sebenarnya ulah siapa ini karena sejak lama belum terbongkar juga.
"Jangan-jangan Leon yang melakukannya? Dia ingin menusuk papanya sendiri dari belakang," gumam Rafael.
Saat bersamaan pria tua itu mendapatkan kiriman video dari Leon tentang tiga anak kembar itu. Mata Rafael melihat dengan lembut, jujur saja ia mulai menerima kehadiran mereka tapi saat ini ia tidak bisa melakukannya.
Rafael tersenyum, ia mengelus wajah mereka video-video tersebut.
"Sayang, kamu tahu keluarga Miki meminta ganti rugi pada kita?" tanya Riana.
Riana melihat ke arah suaminya yang memandang ke arah ponsel sambil tersenyum sendiri."Jangan goyah! Kita tidak sudi menerima anak-anak haram itu di keluarga kita," ucap Riana.
"Bisa kamu lihat jika mereka sangat mirip dengan Leon saat kecil?"
"Itu tidak mengubah fakta jika mereka anak-anak haram dari pelayan itu. Jika kamu tidak bisa menyingkirkan pelayan itu maka aku yang akan menyingkirkannya," jelas Riana.
Di satu sisi.
Leon sedang dalam perjalanan menuju apartemennya setelah dari kos Alya. Tidak disangka, di tengah perjalanan yang sepi, tiba-tiba saja mobil yang ia tumpangi ditabrak keras dari belakang oleh sebuah mobil yang melaju kencang. Leon yang sedang duduk di bangku belakang terhempas ke depan, dan kepalanya membentur kaca mobil hingga retak.
Rick yang awalnya fokus mengendalikan mobil juga terkejut dengan kejadian tersebut. Seketika, tubuhnya terlempar ke samping hingga ia tak sadarkan diri.
Beberapa pengendara yang melihat kecelakaan tersebut langsung menghentikan laju kendaraannya dan membantu mengeluarkan Leon dan Rick dari mobil yang sudah penyok parah.
Setelah menyadari kondisi keduanya yang mengalami luka serius, seorang pengendara langsung menghubungi ambulans. Tak lama kemudian, ambulans tiba dan segera membawa Leon dan Rick ke rumah sakit terdekat. Kedua korban kecelakaan itu dilarikan ke ruang gawat darurat, di mana para dokter berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Wajah Leon tampak pucat, bibirnya menggigil, dan napasnya tersengal-sengal. Dia merasa sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya, terutama di bagian kepala yang membentur kaca mobil.
"Alya , Alya," lirih Leon memanggil nama Alya.
Rick yang tak sadarkan diri sejak awal kecelakaan tersebut, terlihat luka lebam diwajahnya dan tangannya yang patah.
Di sisi lain, Alya a yang berada di dalam kamar kos merasa tidak enak pada perasaannya, tapi dia bingung.
"Kenapa ya seolah ada yang memanggil namaku?" gumam Alya.
Alya sangat bingung dan gundah gulana, ia keluar dari kamar melihat anak-anaknya masih sibuk bermain.
"Hah! Perasaan macam apa ini?" gumam Alya sambil memegang dadanya yang berdetak kencang.
"Mama kenapa?" tanya Farad.
"Mama merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi Mama tidak tahu apa itu," ucap Farad.
cuma ada oma riana jd pembantu menantunya gdang salad.
biar nyaman ada halaman nya untuk keluarga dgn anak banyak
sesalah apapun ibu jgn tega begitu membiarkan dia kerja sm menantunya.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan