Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaringan Hitam yang Bergerak
Penerbangan privat menuju Maladewa seharusnya menjadi pelarian yang sempurna dari segala kepenatan dunia.
Kabin pesawat berukuran luas itu terasa begitu tenang, diisi oleh suara hembusan pendingin udara yang berpadu lembut dengan deru mesin jet di kejauhan.
Kirana tertidur pulas dengan kepala tersandar nyaman di bahu suaminya, jemari lentiknya masih menggenggam erat tangan Andra.
Namun, kedamaian itu pecah dalam sepersekian detik.
Andra menatap layar ponsel satelit di tangannya tanpa berkedip.
Foto rekaman CCTV dari ruang kerja pribadinya di istana Menteng terpampang nyata.
Sosok asing bertopeng venesia duduk di atas kursi kebesarannya, meninggalkan amplop merah berlambang singa bersayap.
Pesan singkat itu berdengung tajam di kepala Andra:
"Selamat menikmati liburanmu, Tuan Muda... Tapi kursi singgasanamu sudah kami duduki."
Rahang Andra mengeras hingga otot-otot di pipinya berkedut keras.
Matanya menyipit, memancarkan amarah dingin yang jauh lebih pekat daripada malam pembantaian di Surabaya.
Bukan karena ia merasa takut, melainkan karena ada pihak luar yang berani menyusup masuk ke jantung pertahanannya saat ia sedang bersama istrinya.
Ordo Singa Kelam.
Nama itu melintas tajam dalam memori arsip bawah tanahnya.
Sebuah sindikat internasional legendaris yang dikira sudah mati dan terkubur puluhan tahun lalu, ternyata kini bangkit kembali dan mengirim sinyal perang langsung ke hadapannya.
"Ada apa, Mas?"
Suara serak Kirana terdengar pelan.
Wanita itu terbangun karena merasakan ketegangan mendadak yang mengalir dari tubuh suaminya.
Kirana berkedip, lalu melirik ke arah wajah Andra yang tampak begitu dingin.
"Kenapa muka kamu pucat begitu? Ada masalah dari kantor?"
Andra dengan cepat mematikan layar ponselnya, lalu menyembunyikan benda itu ke dalam saku mantel.
Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha melunakkan ekspresi wajahnya agar tidak membuat istrinya panik.
Ia menoleh, lalu mengecup kening Kirana dengan lembut.
"Bukan apa-apa, sayang," jawab Andra dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin.
"Hanya sedikit urusan bisnis kecil yang bisa ditangani oleh Handoko dari jarak jauh. Kamu tidak perlu khawatir."
Kirana menatap suaminya lekat-lekat, mencoba mencari keraguan di wajah Andra.
Namun, ketenangan buatan yang ditampilkan suaminya terasa begitu sempurna.
Kirana akhirnya mengangguk pelan, kembali menyandarkan kepalanya, meskipun ada perasaan tidak enak yang mulai merayap di dalam dadanya.
Sementara itu, ribuan kaki di bawah mereka, pesawat terus membelah angkasa, terbang semakin jauh meninggalkan garis pantai Indonesia.
Namun Andra tahu pasti, liburan ini telah berakhir sebelum ia sempat menikmatinya.
Di daratan Jakarta...
Istana Menteng tampak berdiri megah di balik pagar besi yang menjulang tinggi.
Dari luar, rumah itu terlihat tenang tanpa ada tanda-tanda keributan.
Namun di dalam ruang kendali bawah tanah, suasana sangat lengang.
Layar-layar monitor yang menampilkan area luar dan dalam istana tiba-tiba berkedip serentak.
Satu per satu layar tersebut berubah menjadi warna hitam pekat, menampilkan sebuah lambang digital: Seekor Singa Bersayap dengan Pedang Patah.
Di sudut ruangan, sebuah unit komunikasi terenkripsi yang terhubung langsung ke ponsel darurat Handoko berdering nyaring.
Bip... Bip... Bip...
Handoko yang saat itu berada di pos komando darurat luar kota langsung mengangkat sambungan tersebut dengan tangan sigap.
"Lapor! Ada apa?!" seru Handoko tegas.
Dari ujung telepon, terdengar suara laporan panik dari salah satu tim IT cadangan yang memantau server pusat dari jarak jauh.
["Tuan Handoko! Gawat! Sistem keamanan pusat kita di istana Menteng baru saja dibajak total!"]
["Seluruh enkripsi tingkat militer kita dikunci dari dalam, dan ada sinyal transmisi ilegal berdaya tinggi yang memancar keluar menuju jaringan satelit global!"]
Mata Handoko membelalak lebar. Darahnya mendadak berdesir cepat.
Ia tahu betul tingkat pengamanan istana Menteng tidak mungkin bisa dijebol dalam waktu singkat kecuali ada pengkhianat atau kekuatan besar yang berada di baliknya.
"Lacak sumber sinyalnya sekarang juga!" perintah Handoko dengan suara membentak penuh amarah.
"Dan segera hubungi Tuan Andra! Katakan pada beliau... kita sedang diserang dari dalam!"
Sambungan terputus.
Badai besar yang disangka telah reda di Surabaya kini justru meluas menjadi perang total yang siap menghancurkan segalanya hingga ke akar-akarnya.
Ponsel satelit di saku Andra kembali bergetar pelan.
Kali ini getarannya berbeda.
Pendek. Tiga kali berturut-turut.
Itu adalah sandi darurat tingkat tinggi dari Handoko.
Andra melirik sekilas ke arah Kirana.
Istrinya sudah kembali terlelap dengan napas yang teratur.
Andra bangkit dari duduknya secara perlahan.
Ia berjalan hati-hati menuju ke bagian belakang kabin pesawat.
Menjauh dari jangkauan pandangan sang istri.
Andra mengeluarkan ponsel khususnya.
Ia menekan tombol sambungan balik dengan cepat.
Suara Handoko langsung terdengar di ujung sana.
Menempuh jarak ribuan kilometer dengan suara napas yang memburu.
"Tuan Andra!" teriak Handoko panik.
"Sistem pertahanan kita di istana Menteng jebol!"
Alis Andra langsung bertaut.
Sorot matanya berubah menjadi tajam setajam silet.
"Jebol bagaimana maksudmu, Handoko?" tanya Andra dingin.
"Jelaskan padaku sekarang."
"Ada penyusup tingkat tinggi yang berhasil masuk ke ruang kontrol utama, Tuan."
"Mereka menggunakan frekuensi enkripsi militer kuno."
"Semua kamera pengintai kita dikunci dalam waktu kurang dari sepuluh detik."
Andra mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat.
Buku-buku jarinya berderak pelan.
"Apakah mereka meninggalkan jejak?"
"Ya, Tuan."
"Sebuah amplop merah dengan lambang singa bersayap."
"Anak buah saya menemukannya di atas meja kerja pribadi Anda."
Suara Handoko terdengar bergetar hebat.
Bukan karena takut, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa.
"Ordo Singa Kelam..." bisik Andra pelan.
Nama itu meluncur berat dari bibirnya.
"Saya menduga kelompok itu sudah musnah sepuluh tahun lalu, Tuan."
"Tapi ternyata mereka masih hidup."
"Dan sepertinya mereka sengaja menunggu saat kita lengah."
Andra mendengus sinis.
Udara di sekitar sudut kabin pesawat itu mendadak terasa dingin.
"Mereka tidak sedang menunggu, Handoko."
"Mereka sedang menantang kita."
"Mereka pikir aku akan lari ketakutan ke pulau tropis ini."
"Padahal, mereka baru saja membangunkan macan yang sedang tidur."
"Apa perintah Anda selanjutnya, Tuan Muda?" tanya Handoko siap sedia.
Andra menatap ke luar jendela pesawat.
Hamparan awan putih kini tampak kelabu di matanya.
"Batalkan penerbangan kita."
"Putar balik pesawat ke Jakarta sekarang juga."
Handoko tertegun sejenak di ujung telepon.
"Tapi... bagaimana dengan Nyonya Kirana, Tuan?"
"Keselamatan Kirana adalah prioritas utamaku."
"Tapi membiarkan musuh menguasai rumahku adalah kebodohan fatal."
"Kita akan mendarat diam-diam di landasan darurat."
"Kumpulkan seluruh pasukan bayangan elit di titik kumpul sektor barat."
"Malam ini, kita akan meratakan siapa pun yang berani menginjakkan kaki di istana Menteng."
"Baik, Tuan! Laksanakan!" seru Handoko tegas.
Sambungan telepon langsung terputus.
Andra memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Ia menarik napas panjang untuk meredakan gejolak amarah di dadanya.
Ia berbalik badan.
Melangkah kembali ke kursi tempat Kirana tertidur lelap.
Andra menatap wajah damai istrinya dengan rasa bersalah yang menusuk.
Liburan impian itu harus batal sebelum sempat dimulai.
Sebab di ibu kota sana, sebuah perang suci antara bayangan dan singa telah resmi ditabuh.