NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32 - TUJUH RATUS RIBU TENTARA

Bulu tengkuk Intan berdiri lebih dulu sebelum akalnya berhasil menangkap sebabnya. Dari sudut ruangan itu ia melihat Pangeran Senja mengalihkan pandangan dari nona mudanya, menoleh pelan kepada tamu yang tak diundang itu, lalu melepaskan satu kata pendek yang ringan bunyinya namun berat timbangannya.

"Keluar."

Tidak ada ancaman yang dijelaskan. Tidak pula nada yang meninggi. Meski demikian, Pangeran Cendana yang semula hendak membuka mulut menelan kembali seluruh pembelaannya; kakinya bergerak mengikuti sang panglima keluar tanpa sepatah kata pun. Menolak di hadapan saksi sebanyak itu sama saja dengan menyerahkan lehernya sendiri — dan ia belum gila.

Setelah keduanya menghilang di balik daun pintu, keheningan kembali turun di kamar. Intan tertegun beberapa saat sebelum ia sadar kembali. Ia dengan hati-hati merapikan kain pengantin yang terlempar ke lantai tadi, menghampiri tuannya, dan bertanya dengan sisa ketakutan yang belum habis, "Nona, apa yang Nona katakan barusan? Adakah Nona lihat cara Pangeran Senja memandang Pangeran Cendana?" Suaranya masih bergetar; bayangan wajah dingin yang ia lihat sekilas tadi belum juga hilang dari kepala.

"Hah?" Wulan tercengang. Posisinya berdiri agak ke kanan, dan Nalendra menghadap ke samping, jadi ia benar-benar tidak menyadari apa yang terjadi. Ia hanya melihat Nalendra berbicara dengan tenang, tanpa pernah membayangkan ada sesuatu yang lebih di baliknya.

"Meskipun terlihat sama seperti biasanya," gumam Intan, "Intan merasa Pangeran Cendana tidak akan beruntung. Sangat tidak beruntung." Ia teringat tatapan dingin Nalendra barusan dan bergidik. Begitu mengintimidasi. Hanya dengan sekali pandang, ia merasa seperti tertusuk pisau sedingin es. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berpacu, dan diam-diam bersyukur bahwa orang sekuat itu berpihak pada tuannya.

Meskipun Nalendra adalah Pangeran Senja yang memegang pasukan besar, ia terlihat sangat tampan. Sekilas, orang dapat mengetahui bahwa ia adalah seorang putra bangsawan dari keluarga terkemuka. Ia sama sekali tidak terlihat seperti jenderal di medan perang yang biasa digambarkan dalam sandiwara — berwajah garang dan berbadan tegap — melainkan pemuda berwajah dingin yang sopan santunnya tidak pernah hilang. Jubah hitamnya tersampir rapi, dan setiap gerakannya mengandung wibawa yang membuat siapa pun yang berada di dekatnya tanpa sadar menundukkan kepala.

Melihat tatapan dingin di matanya barusan, Intan benar-benar menyadari untuk pertama kalinya bahwa pria yang akan dinikahi nona mudanya bukanlah seorang pemuda lemah dari keluarga bangsawan, tetapi seorang jenderal dengan jasa perang yang gemilang dan pasukan besar di bawah komandonya. Hanya dengan lambaian tangannya, seluruh Kesultanan Tirtaloka ikut berguncang. Ia baru benar-benar paham betapa tinggi kedudukan pria itu, dan betapa berbahayanya jika ada yang berani menantangnya. Bahkan bayangan perlindungan yang selama ini ia rasakan dari kejauhan kini terasa jauh lebih nyata dan mengagumkan.

Nalendra tidak pernah kembali. Wulan lelah selama sehari, dan lehernya sangat sakit dan tidak nyaman. Intan membantunya bersandar di kepala tempat tidur, hampir tanpa memberikan tekanan, dan kemudian ia merasa sedikit lebih rileks dan mengantuk.

Sambil menguap, Wulan setengah menutup matanya dan tertidur dalam keadaan linglung. Hari yang panjang sejak pagi telah menguras seluruh tenaganya, dan sebelum sempat menunggu lebih lama lagi, matanya pun menutup dengan sendirinya.

Tidak tahu berapa lama waktu berlalu, Wulan masih tertidur bersandar di kepala tempat tidur, tak menyadari malam telah larut. Pintu tiba-tiba berderit pelan, dan Nalendra masuk dengan aroma anggur yang samar. Wulan tidak mendengarnya sama sekali, terlalu lelah untuk sekadar menyadari bahwa ada orang yang memasuki ruangan. Cahaya lilin yang meredup membuat bayangan panjang jatuh di lantai, dan langkah Nalendra terdengar pelan namun pasti.

Intan mendengar suara dari pintu dan dengan cepat menarik lengan baju Wulan untuk membangunkannya. "Nona, bangun, pangeran sudah kembali." Suaranya berbisik, tidak ingin terdengar keras, tetapi cukup untuk membuat Wulan tersentak bangun. Ia memegang ujung kerudung Wulan dengan hati-hati, memastikan semuanya masih di tempat yang benar sebelum pangeran melihat.

Wulan membuka matanya dengan mengantuk. Kerudung di kepalanya menutupi pandangannya. Semua yang ia lihat berwarna merah cerah. Samar-samar ia mendengar Intan berkata bahwa Nalendra telah kembali. Ia segera merapikan kerudungnya dan duduk tegak. Setelah menegakkan tubuhnya, ia tidak tahu apakah Nalendra melihatnya tidur nyenyak tadi. Wajahnya memanas membayangkan jika pria itu sempat menatap wajah tidurnya yang tidak siap.

Intan melirik Wulan, lalu Nalendra, membungkuk hormat, lalu menundukkan kepalanya dan mundur. Ia menutup pintu pelan-pelan, meninggalkan ruangan itu bagi kedua orang yang baru saja menjadi sepasang suami istri. Sebelum menutup pintu sepenuhnya, ia sempat melirik ke arah tuannya sekali lagi, berharap malam itu berjalan baik bagi mereka berdua.

Sejak memasuki kamar pengantin, Nalendra telah duduk di meja bundar empat atau lima langkah dari Wulan. Semua orang di ruangan itu telah ia suruh pergi, bahkan para pengurus ritus pun tidak disisakan. Kini tinggal mereka berdua, dan udara di antara keduanya terasa semakin pekat. Wulan bisa mendengar derak kecil lilin merah di atas meja, satu-satunya suara yang memecah kesunyian di antara mereka.

Rasa kantuk Wulan telah hilang sepenuhnya. Ia menundukkan kepalanya dan menatap jari-jari kakinya dengan gugup. Kerudung merah yang menutupi kepalanya menutupi sebagian besar pandangannya. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk sesaat. Jantungnya berdetak kencang, dan telapak tangannya mulai berkeringat. Setiap kali ia membayangkan harus menghadap pria itu malam ini, perasaannya menjadi campur aduk antara malu dan harap, dan ia tidak tahu harus memulai dari mana.

Ada keheningan di udara, dan mereka berdua terdiam untuk waktu yang lama. Wulan hampir meragukan apakah Nalendra sudah berdiri dan pergi. Ia tidak berbicara, dan Nalendra tidak pernah datang untuk menggodanya. Ia hanya duduk di sana, menunggu, seperti orang yang tidak ingin mengusik ketenangan malam itu. Semakin lama keheningan berlangsung, semakin keras suara detak jantung Wulan, dan ia hampir bisa mendengar napasnya sendiri di tengah ruangan yang terasa makin sempit.

Sepasang lilin merah bermotif naga dan angsa yang diletakkan di atas meja menyala tanpa suara, mengeluarkan letupan kecil dari waktu ke waktu. Setelah waktu yang tidak diketahui lamanya, Nalendra akhirnya berbicara untuk memecah keheningan, tetapi suaranya begitu tenang sehingga tidak ada emosi yang terdengar. Ia tidak bergerak mendekat, hanya melontarkan kalimat singkat itu dari tempatnya duduk.

"Sudah larut, ayo tidur lebih awal." Hanya itu yang ia katakan, sederhana dan datar, tetapi entah mengapa membuat wajah Wulan memerah hingga ke telinga. Ia menundukkan kepalanya semakin dalam, tidak berani membalas sepatah kata pun, dan di dalam dadanya tersimpan perasaan yang sulit ia uraikan — antara lega, malu, dan gugup yang Semuanya bercampur menjadi satu.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!