Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030
Empat hari setelah Kiana menggenggam tangan Hans di bawah lampu jalan, bekas hangat itu masih sesekali muncul tanpa izin.
Pada 22 Juli malam, ia berdiri di depan cermin ruang rias Galeri Cahaya, merapikan anting mutiara kecil di telinganya. Gaunnya hitam sederhana, potongannya bersih tanpa kilau berlebihan. Di luar pintu, suara tamu undangan bercampur denting gelas dan langkah sepatu mahal di lantai marmer.
Fang mengirim pesan terakhir sebelum acara dimulai.
Bu Kiana, Bu Hendro sudah hadir. Duduk baris kedua kiri. Vanya Pai dan Jovian Loe juga masuk lima menit lalu.
Kiana membaca pesan itu sekali, lalu mematikan layar.
Malam ini ia tidak datang untuk membeli perhiasan.
Ia datang untuk membuka jalan.
Vista Home tahap pertama sudah berjalan, tetapi setelah RUPS, Kiana tahu posisi Navara Tech harus diperkuat dengan proyek berikutnya. Bu Hendro adalah istri salah satu tokoh penting Vista Home. Dalam kehidupan sebelumnya, perempuan itu hampir tidak pernah berbicara panjang di rapat, tetapi satu hal Kiana ingat dengan jelas.
Bu Hendro menyukai pink diamond.
Bukan karena pamer. Suaminya pernah membelikan cincin pink diamond kecil saat usaha mereka hampir bangkrut. Sejak itu, batu merah muda menjadi semacam tanda bahwa masa sulit bisa dilewati.
Kiana tidak perlu menjilat.
Ia hanya perlu menunjukkan bahwa ia mendengar hal yang benar.
Ketika ia masuk ke ruang lelang utama, beberapa kepala menoleh. Nama Kiana Lim setelah RUPS sudah beredar di kalangan bisnis. Ada yang memandangnya dengan rasa ingin tahu, ada yang menimbang berapa lama putri Hendro Lim itu bisa bertahan melawan ayahnya sendiri.
Di baris depan kanan, Vanya Pai memakai gaun satin warna champagne. Wajahnya tampak lembut seperti biasa, tetapi jari-jarinya mencengkeram paddle lelang terlalu kuat. Di sampingnya, Jovian Loe duduk dengan jas biru gelap, punggung tegak, pandangan langsung menemukan Kiana.
Kiana tidak membalas lebih dari satu detik.
Ia memilih kursi di sisi kiri, dua kursi dari Bu Hendro.
Perempuan paruh baya itu menoleh. Wajahnya ramah, tetapi matanya tajam seperti orang yang sudah lama ikut membaca ruang bisnis dari balik senyum suaminya.
"Bu Kiana Lim?"
"Malam, Bu Hendro." Kiana menunduk sopan. "Terima kasih sudah mengizinkan tim kami terus mendampingi Vista Home."
Bu Hendro tersenyum tipis. "Saya dengar setelah RUPS, jadwal Anda padat."
"Padat, tapi masih bisa diatur."
"Anak muda yang bisa berkata begitu biasanya sedang tidak tidur."
Kiana tersenyum. "Kadang tidur juga, Bu. Kalau ada yang memaksa makan dulu."
Entah kenapa, kalimat itu membuatnya teringat panci semur di Pos Damkar.
Lampu ruang utama meredup sebelum Bu Hendro sempat bertanya lebih jauh. Pemandu lelang naik ke podium, suaranya jernih dan terlatih.
"Selamat malam, Bapak dan Ibu sekalian. Galeri Cahaya dengan bangga membuka lelang tahunan malam ini."
Lot pertama adalah lukisan. Lot kedua jam tangan antik. Lot ketiga sepasang giok tua. Kiana mengikuti tanpa tergesa, membiarkan beberapa orang saling mengangkat paddle demi gengsi kecil yang tidak ada hubungannya dengan tujuannya.
Sampai layar di depan berubah.
Sebuah kalung pink diamond muncul di atas beludru hitam.
Batu utamanya berbentuk tetes air, warnanya merah muda lembut, dikelilingi berlian kecil yang tersusun seperti lengkung bintang. Nama di katalog tertulis: Cinta Galaksi.
Jari Kiana berhenti di atas halaman katalog.
Untuk sesaat, suara pemandu lelang menjauh.
Di kehidupan sebelumnya, kalung itu pernah menyentuh tulang selangkanya.
Jovian memasangkannya pada malam ulang tahunnya yang kedua puluh tujuh. Saat itu ia mengira hadiah itu berarti cinta. Ia bahkan ingat bagaimana Vanya berdiri di sudut ruangan, tersenyum sambil berkata kalung itu cocok untuk Kiana karena "istri sah memang harus terlihat berharga."
Beberapa bulan kemudian, Kiana menemukan tagihan pembelian perhiasan lain di rekening Jovian.
Modelnya hampir sama.
Ukuran batunya lebih besar.
Nama penerimanya bukan dirinya.
Kiana menutup katalog perlahan.
Di kehidupan sebelumnya, kalung itu menjadi bukti bahwa ia pernah dibeli agar tetap diam.
Malam ini, ia akan memakainya untuk membeli jalan keluar.
"Lot berikutnya, Cinta Galaksi, pink diamond necklace dengan sertifikat internasional. Harga pembukaan tiga puluh juta rupiah."
Paddle Vanya terangkat hampir seketika.
"Tiga puluh juta dari nomor 18."
Beberapa tamu menoleh. Vanya menurunkan paddle sambil tersenyum malu-malu, seolah tidak sengaja menjadi pusat perhatian. Jovian mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya.
"Kalau kamu suka, ambil saja," kata Jovian cukup pelan, tetapi Kiana masih bisa membaca bentuk bibirnya.
Vanya menatapnya dengan mata berbinar. "Benar?"
Jovian mengangguk.
Kiana mengambil paddle miliknya.
"Tiga puluh lima juta," pemandu lelang menyebut setelah ia mengangkat tangan.
Senyum Vanya membeku setipis kaca.
Beberapa bisik-bisik terdengar.
"Kiana Lim juga ikut?"
"Bukannya Vanya dekat dengan Jovian?"
"Ini mau rebutan perhiasan?"
Kiana tidak menoleh.
Vanya mengangkat paddle lagi. "Empat puluh juta."
"Empat puluh juta dari nomor 18."
Kiana menunggu satu napas, lalu mengangkat paddle. "Empat puluh lima."
Pemandu lelang tersenyum. "Empat puluh lima juta dari nomor 27."
Vanya menoleh kali ini. Senyumnya masih ada, tetapi pipinya mulai kehilangan warna.
"Kiana," Jovian akhirnya berkata dari seberang baris, suaranya rendah namun cukup jelas. "Kalau kamu ingin bicara, tidak perlu begini."
Kiana memandang panggung. "Saya sedang lelang, Pak Jovian. Silakan ikuti aturan ruangan."
Pemandu lelang pura-pura tidak mendengar. Para tamu tidak.
Bu Hendro menutup senyum dengan katalog.
Vanya menggigit bibir, lalu mengangkat paddle. "Lima puluh lima juta."
"Lima puluh lima juta."
Kiana langsung mengangkat. "Enam puluh."
Ketegangan di ruangan naik seperti suhu sebelum hujan. Di baris depan, Jovian tampak mulai gelisah. Vanya menunduk sebentar, mungkin menghitung sampai batas mana wajah manisnya masih bisa dipertahankan.
"Tujuh puluh juta," katanya.
Pemandu lelang mengulang angka itu dengan nada lebih tinggi.
Kiana merasakan tatapan Bu Hendro di sisi kiri.
Ia tidak menjelaskan apa pun.
Ia hanya mengangkat paddle. "Tujuh puluh lima."
Vanya menoleh kepada Jovian. "Aku benar-benar suka."
Kalimat itu terlalu lembut, terlalu terlatih.
Jovian menatap Kiana. Tatapannya bukan lagi sekadar kesal. Ada kebingungan di sana, seolah ia baru sadar perempuan yang selama ini dianggapnya bisa ditebak ternyata berdiri di meja permainan lain.
"Delapan puluh juta," Jovian berkata pada akhirnya, mengambil alih paddle Vanya.
Ruangan berdesah.
Kiana menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu ia mengangkat paddle dengan tangan tenang.
"Delapan puluh lima juta."
Pemandu lelang hampir tidak menyembunyikan antusiasmenya. "Delapan puluh lima juta dari nomor 27. Ada yang lebih tinggi?"
Vanya menatap Jovian.
Jovian tidak mengangkat paddle lagi.
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Vanya benar-benar hilang.
"Delapan puluh lima juta satu kali."
Ketukan kecil.
"Delapan puluh lima juta dua kali."
Kiana menatap kalung di layar, bukan Jovian, bukan Vanya.
"Terjual."
Palunya turun.
Tepuk tangan terdengar sopan, tetapi bisik-bisiknya jauh lebih hidup. Kiana berdiri ketika staf Galeri Cahaya membawa kotak beludru ke samping ruang untuk penandatanganan. Banyak orang mengira ia akan menyimpan kemenangan itu seperti piala.
Ia justru berbalik kepada Bu Hendro.
"Bu," katanya pelan, "saya tahu ini mungkin terlalu tiba-tiba. Tapi izinkan saya menjadikan kalung ini sebagai tanda keseriusan Navara Tech untuk mendampingi Vista Home tahap berikutnya."
Bu Hendro menatapnya.
Ruang di sekitar mereka seperti tertahan.
Kiana membuka kotak beludru. Pink diamond itu menangkap cahaya lampu dan memantulkannya lembut, tidak menusuk, hanya hangat seperti sesuatu yang bertahan lama.
"Saya dengar Bu Hendro menghargai batu seperti ini bukan karena harganya," lanjut Kiana. "Tapi karena ia mengingatkan pada masa sulit yang berhasil dilewati. Vista Home sekarang sedang membangun masa depan keluarga Indonesia. Navara Tech ingin menjadi teknologi yang membantu rumah-rumah itu tetap hidup, aman, dan bisa dipahami penghuninya."
Bu Hendro tidak bicara selama beberapa detik.
Lalu perempuan itu menutup kotak dengan tangan sendiri.
"Kiana Lim," katanya, nada suaranya berubah lebih lembut, "kamu lebih pandai membaca hati orang daripada ayahmu."
Kiana menunduk. "Saya masih belajar."
"Tidak. Kamu mendengar." Bu Hendro menatapnya lama. "Vista Home tahap dua, kita bicara. Saya akan minta Pak Hendro membuka jadwal minggu depan."
Di baris depan kanan, Vanya berdiri terlalu cepat sampai kursinya berderit.
"Dia sengaja," desis Vanya kepada Jovian. "Dia tahu aku suka kalung itu."
Kiana mendengarnya.
Bu Hendro juga.
Jovian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kiana dengan ekspresi yang tidak pernah Kiana lihat di kehidupan ini. Bukan iba. Bukan marah. Bukan rasa memiliki yang biasanya ia pakai seperti hak.
Untuk pertama kalinya, Jovian tampak sedang menghitung ulang siapa Kiana Lim sebenarnya.
Kiana tidak memberi ruang untuk perhitungan itu.
Setelah administrasi selesai, ia keluar ke teras Galeri Cahaya. Udara malam Jakarta terasa hangat, sedikit lembap. Ia menghubungi Hans.
Telepon tersambung di dering kedua.
"Sudah selesai?" suara Hans rendah, dengan latar belakang bunyi radio pos.
"Sudah."
"Makan?"
Kiana tertawa kecil. "Aku baru saja menghabiskan delapan puluh lima juta untuk sebuah kalung."
Di seberang, Hans diam.
"Lalu aku berikan kepada orang lain," tambahnya.
Jeda kali ini lebih panjang.
"Worth it?" tanyanya akhirnya.
"Worth it. Vista Home tahap dua akan dibicarakan minggu depan."
"Bagus."
Kiana bersandar pada pagar teras. "Kamu tidak kaget aku menghabiskan uang sebanyak itu?"
"Kamu tidak boros tanpa alasan."
Kalimat itu membuat sisa ketegangan di bahunya luruh lebih cepat daripada tepuk tangan ruang lelang.
"Tapi aku tidak punya kalung sekarang," katanya, entah kenapa ingin menggoda.
Radio di sisi Hans berbunyi samar. Lalu suaranya datang lagi, datar seperti biasa, tetapi membuat jantung Kiana salah ritme.
"Kalau begitu, kapan saya boleh membelikanmu satu?"
Kiana menggenggam ponsel lebih erat.
Di dalam Galeri Cahaya, satu kalung telah berubah menjadi proyek.
Di luar, satu kalimat pendek dari seorang pemadam membuatnya bertanya dari mana Hans akan mendapat uang untuk membeli perhiasan semahal itu.