NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31 - Nenek yang Menukar Takdir

Mama Sulastri menolak datang saat pertama kali dipanggil Siska.

Alasannya sakit kepala, tekanan darah naik, kaki lemas. Hendra mengirim pesan panjang kepada Ratna, meminta agar ibunya tidak diganggu dulu. Ratna membaca sampai selesai, lalu membalas satu kalimat.

"Aku sudah diganggu dua puluh delapan tahun."

Tidak ada balasan lagi.

Keesokan paginya, Siska mengirim surat resmi. Bukan surat somasi keras, tapi cukup jelas untuk membuat Hendra membawa ibunya ke kantor hukum.

Mama Sulastri datang dengan wajah pucat. Kali ini tidak ada tasbih di tangannya. Ia menggenggam ujung selendang, matanya menghindari Ratna, Raka, dan Bagas.

Bagas duduk di sudut ruangan. Ia memakai kemeja hitam sederhana. Wajahnya tertutup, seperti orang yang siap disalahkan sebelum bicara. Raka duduk agak jauh darinya. Mereka belum tahu harus saling menatap sebagai apa.

Hendra berdiri di belakang ibunya.

"Ma, jawab semua," katanya.

Sulastri tertawa pahit. "Sekarang kamu memerintah ibumu?"

"Karena hidup anak-anak hancur."

"Hidup siapa yang tidak hancur waktu itu?" Sulastri tiba-tiba berteriak. "Kamu pikir hanya Ratna yang susah? Darma hampir gila karena bayinya lemah. Tari menangis setiap hari. Kalian tinggal di rumah kontrakan tapi kamu dan Ratna punya gaji. Darma cuma kerja serabutan. Kalau bayi itu tetap di tangan mereka, dia mati."

Ratna menatapnya tanpa berkedip. "Lalu anakku boleh kamu berikan sebagai pengganti?"

"Dia sehat."

Kata itu membuat Bagas mengangkat kepala.

"Jadi karena saya sehat, saya boleh dibuang?"

Sulastri seperti baru sadar Bagas ada di sana. Bibirnya bergetar.

"Bukan begitu."

"Saya hidup di rumah yang selalu bilang saya makan terlalu banyak. Kalau saya sakit, Ibu Tari bilang saya manja. Saya berhenti sekolah karena katanya uang habis untuk Reno. Saya sehat karena tidak punya pilihan."

Ruangan itu sunyi.

Raka menunduk. Tangannya mengepal di atas lutut.

Ratna ingin memegang Bagas, tapi ia menahan diri. Bagas perlu bicara dengan suaranya sendiri.

Sulastri menangis. "Aku menyesal."

Ratna tertawa kecil. "Tidak. Kamu menyesal karena ketahuan."

Hendra memegang kepala. "Ma, kenapa tidak bilang padaku?"

Sulastri menatap anaknya dengan mata merah. "Kamu dulu sibuk mengejar proyek dan main kartu. Ratna baru melahirkan, kamu bahkan tidak tunggu sampai pagi. Kamu mau jadi ayah hebat sekarang?"

Hendra seperti ditampar di depan semua orang.

Ratna tidak membelanya. Itu memang benar.

Sulastri melanjutkan dengan suara lebih rendah. Malam itu, setelah Ratna pingsan karena pendarahan ringan, Sulastri memaksa Bu Nanik mengganti gelang bayi. Bayi lemah milik Tari dibawa ke ruang Ratna. Bayi Ratna diberikan kepada Tari dengan alasan "sementara". Namun esok paginya, semua catatan sudah diubah. Hendra tidak mengecek. Darma tahu belakangan, tapi Sulastri menekannya dengan rasa bersalah.

"Darma pernah mau mengembalikan," kata Sulastri. "Tapi Tari menolak. Dia bilang kalau ketahuan, mereka semua masuk penjara. Lalu waktu berjalan. Anak-anak besar. Semakin lama, semakin sulit."

Siska mencatat. "Apakah Hendra tahu sebelum ini?"

Sulastri menggeleng cepat. "Tidak."

Clara pernah bilang Hendra mengucapkan sesuatu saat mabuk. Ratna menoleh ke Hendra.

"Kamu yakin tidak pernah curiga?"

Hendra menelan ludah. "Aku... pernah dengar Mama dan Darma bertengkar dulu. Waktu Raka umur tiga tahun. Darma bilang anak itu bukan miliknya."

Raka langsung berdiri. "Anak itu maksudnya aku atau Bagas?"

Hendra tidak menjawab.

Raka tertawa getir. "Hebat. Semua orang punya potongan cerita, tapi aku dan Bagas hidup seperti orang bodoh."

Bagas menatap Raka. "Kamu tidak bodoh."

Raka menoleh. Itulah kalimat pertama Bagas yang langsung kepadanya.

"Aku menikmati hidupmu," kata Raka.

"Kamu juga tidak minta ditukar."

"Tapi aku dapat Mama."

Bagas diam.

Ratna merasa dadanya sesak.

Ia berkata pelan, "Tidak ada yang bisa mengukur luka kalian dengan timbangan. Jangan saling menghukum untuk dosa orang tua."

Sulastri menangis lebih keras. "Ratna, aku salah. Tapi jangan bawa ini ke polisi. Aku sudah tua. Aku bisa mati di penjara."

Ratna menatap perempuan yang dulu membuatnya merasa tidak pernah cukup baik. Mertua yang selalu menuntut, mengkritik masakan, menekan agar Ratna menerima Hendra apa adanya. Ternyata mulut yang sama menyimpan rahasia paling kejam.

"Waktu anakku tumbuh tanpa aku, kamu tidak takut dia mati sedikit-sedikit?"

Sulastri menutup wajah.

"Aku akan ambil jalur hukum," kata Ratna. "Bukan karena aku ingin melihatmu hancur. Tapi karena kalau semua ini diselesaikan dengan tangis keluarga, Bagas tetap dianggap anak yang bisa ditukar diam-diam."

Hendra berkata pelan, "Ratna, pikirkan Raka. Ini akan jadi berita."

Raka menatap ayahnya. "Jangan pakai namaku untuk menutup aibmu."

Hendra terdiam.

Setelah pertemuan itu, Bagas keluar lebih dulu ke lorong. Ratna menyusul.

"Bagas."

Ia berhenti, tapi tidak menoleh.

"Kamu boleh marah padaku."

"Saya tidak marah pada Ibu." Kata Ibu keluar kaku, seperti sepatu baru yang belum pas. Bagas sendiri tampak terkejut setelah mengucapkannya.

Ratna menahan napas.

Bagas menoleh sebentar. "Saya cuma tidak tahu harus mulai dari mana."

"Kita tidak harus mulai hari ini."

"Kalau saya tidak bisa jadi anak yang Ibu bayangkan?"

Ratna menggeleng. "Saya tidak punya bayangan. Saya hanya ingin mengenal kamu."

Bagas menatapnya lama, lalu mengangguk kecil.

Di ujung lorong, Raka berdiri. Ia mendengar semuanya.

Bagas berjalan melewatinya. Raka memanggil, "Gas."

Bagas berhenti.

"Maaf," kata Raka. "Aku tahu itu tidak cukup."

Bagas memandangnya. "Memang tidak cukup."

Raka mengangguk, menerima.

"Tapi boleh mulai dari situ," tambah Bagas.

Raka mengangkat kepala.

Untuk pertama kalinya sejak kertas DNA menghancurkan nama keluarga mereka, ada celah kecil yang tidak seluruhnya gelap.

Namun celah itu belum cukup lebar untuk disebut jalan.

Di parkiran, Hendra mencoba menghampiri Ratna. Arga langsung berdiri di antara mereka tanpa menyentuh siapa pun.

"Aku hanya mau bicara," kata Hendra.

Ratna menatapnya dari balik bahu Arga. "Bicara dengan Siska."

"Semua harus lewat pengacara sekarang?"

"Kamu membuatku belajar begitu."

Hendra memandang cincin kecil di tangan Arga yang memegang kunci mobil, lalu wajahnya berubah sinis. "Cepat sekali kamu nyaman dilindungi pria lain."

Ratna melangkah keluar dari belakang Arga. "Aku nyaman karena kali ini perlindungan tidak datang bersama tuntutan."

Hendra seperti hendak membalas, tapi Sulastri menangis dari kursi belakang mobilnya. Suara itu membuatnya mundur.

Bagas melihat semua dari dekat motor ojek yang ia pesan. Ia tidak mengerti seluruh sejarah Ratna dan Hendra, tapi ia melihat satu hal dengan jelas. Ibunya pernah hidup lama dengan orang yang membuat setiap kalimat menjadi perang.

Dan untuk pertama kali, ia merasa marah bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Bagas memasukkan helm ke kepala dan naik ke motor ojek. Sebelum kendaraan itu bergerak, ia melihat Ratna sekali lagi. Perempuan itu masih berdiri di parkiran, kecil di antara gedung tinggi, tapi tidak tampak lemah.

Bagas tidak melambaikan tangan.

Namun ia tidak memalingkan wajah.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!