NovelToon NovelToon
Kage No Karada Toshite Tensei Shita Node, Saikyō No Danjon Ōkoku O Tsukurimashita!

Kage No Karada Toshite Tensei Shita Node, Saikyō No Danjon Ōkoku O Tsukurimashita!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Mengubah Takdir
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: royco

menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(perjalanan 2, bagian 2 : raja yang menghilang) agresi Elizabeth ke barat

Seluruh jajaran personel aktif unit pasukan khusus di bawah naungan komando Elizabeth kini bener-bener telah resmi berkumpul aman di area garis perimeter perbatasan bagian barat. Di bawah pekatnya atmosfer malam, mereka bergerak taktis mendirikan beberapa unit tenda darurat murni untuk dijadikan sebagai tempat beristirahat sejenak, sekaligus menjadi markas operasional darurat guna mengatur cetak biru draf strategi pertempuran yang teramat sangat matang.

"Sasis posisi seluruh unit kita... Semuanya fiks sudah berkumpul tanpa ada yang kurang satu orang pun, kan...?" Tanya Elizabeth lirih dengan nada suara dingin, tubuh mungilnya tampak duduk kasual melingkar bersama para bawahannya di sekeliling kobaran api unggun perkemahan.

"SIAP, LAPORAN DITERIMA! Seluruh barisan personel aktif sudah berkumpul 100% lengkap tanpa ada silsilah pengurangan, Komandan Elizabeth...!" Jawab dua puluh prajurit hantu tersebut serentak dengan nada lantang yang disiplin.

"Baiklah... Tarik napas kalian jeli..." Elizabeth mengedarkan sudut pandang matanya. "Detik ini juga, aku secara resmi akan menyusun draf strategi makro murni demi bisa merebut kemenangan mutlak di dalam peperangan kolosal kali ini... Realitas faktanya, mungkin saja di tengah jalannya agresi nanti, faksi kita terpaksa harus kehilangan beberapa unit prajurit berharga kita... Tetapi, dari dalam lubuk jiwaku, aku bener-bener sangat meyakini bahwa kita pasti bisa menang meratakan mereka...!" Ucap Elizabeth tegas memutus keheningan.

Selesai mengucapkan maklumatnya, tangan kecil Elizabeth bergerak merogoh kotak logistik, menarik keluar 20 perangkat mekanis peledak berskala masif buatannya yang sengaja dipasok khusus untuk digunakan sebagai kartu as persenjataan terakhir bagi seluruh barisan pasukannya, tidak terkecuali bagi raga Elizabeth itu sendiri.

Dengan gerakan sat-set berdarah dingin, ia langsung membagikan unit-unit perangkat peledak mematikan tersebut ke atas telapak tangan seluruh pasukannya.

"I-... Ini... Perangkat alutsista apa sebenarnya ini, Komandan...?" Tanya salah satu personel prajurit bawahannya dengan sirkulasi napas yang mendadak gugup parah meratapi benda di genggamannya.

"Ha...? Benda ini?" Elizabeth memicingkan matanya sinis. "Ini adalah unit bom mekanis... Sepasang matamu itu bener-bener masih bisa melihat dengan jelas, bukan? Dari sudut pandang estetika bentuk mana pun juga sudah kelihatan dengan gamblang kalau ini adalah sebuah bom penghancur..." Ucap Elizabeth kasual nan santai.

"I-... Iya, Komandan... Maksud pertanyaan hamba, untuk apa fungsi taktisnya benda mengerikan ini dipasangkan ke tubuh kami...?" Ucap salah satu prajurit lainnya menelan ludah ketakutan.

Mendengar desakan bawahannya, Elizabeth perlahan mengangkat bom miliknya, lalu meluncurkan bunyi KLIK mekanis murni untuk memasangkan perangkat peledak maut tersebut tepat melingkar di area pinggang zira kecilnya.

"Ohh... Ini? Semisal di tengah jalannya pertempuran nanti kalian bertindak bodoh sampai berhasil ditangkap disekap oleh faksi musuh... Maka secara logika kalian bener-bener sudah mustahil untuk bisa selamat pulang hidup-hidup, karena para bajingan luar itu pasti akan menyiksa fisik kalian habis-habisan secara biadab... Daripada raga kalian harus mampus mati mengenaskan dirundung siksaan trauma, mending kalian bergerak ekstrem menghabisi seisi barisan pasukan musuh yang mencoba menangkap kalian, dengan cara meleburkan raga kalian bersama dengan ledakan perangkat ini... Kapasitas radius daya ledak bom ini teramat sangat raksasa, bisa menyapu bersih segala hal hingga radius jangkauan 100 meter penuh...!" Ucap Elizabeth menjelaskan spesifikasi mautnya secara tenang nan berdarah dingin.

Mendengar penjelasan ilmiah dungeon dari mulut komandan mereka, dua puluh personel unit khusus tersebut seketika hanya bisa terdiam membisu mematung. Butiran-butiran keringat dingin seketika mengucur deras membasahi sekujur wajah mereka, tatkala menyaksikan sang komandan perempuan berumur 15 tahun itu dengan teramat kasual memasang perlengkapan bom bunuh diri ke tubuhnya, sebuah realitas takdir yang secara mutlak mengharuskan mereka semua untuk ikut mengenakannya malam ini.

CLIKK... CLIKK... CLIKK...

Bunyi detak mekanisme besi pengunci bergaung silih berganti di kegelapan perkemahan, menandakan perangkat senjata terakhir pemutus nyawa tersebut kini bener-bener telah resmi mereka pasang ketat di tubuh masing-masing.

"Baiklah... Draf rencana eksekusi kali ini adalah... Kita terus bergerak maju melesat ke depan... Pantang ada kata mundur bagi satu pun peleton...! Jika di tengah laga ada salah satu dari rekan kalian yang terluka parah, tinggalkan saja dia di tanah...! Jika ada yang sampai tertangkap musuh, segera mati saja meledakkan diri...! Aku gak ambil pusing siapapun sosok yang terkena takdir kelam itu, tidak peduli mau kalian ataupun raga aku sekalipun yang terpojok mengalami situasi sialan tersebut...! Atensi fokus kita murni hanya satu koordinat: ratakan, bantai, dan habiskan seluruh populasi musuh kita...! Bagi siapa saja di antara kalian yang berhasil bertahan hidup selamat keluar dari misi kiamat ini, aku bersumpah bakal mengajukan nama kalian langsung kepada Yang Mulia Raja Tuan Miko untuk resmi dilantik menjadi Komandan Tertinggi di bawah roda kepemimpinanku di korps ini... Bersanding dengan pasokan bonus harta yang teramat banyak... Aku jamin itu kepada kalian...!" Ucap Elizabeth penuh wibawa tirani kegelapan.

"SIAP, PERINTAH DICAMKAN, KOMANDAN ELIZABETH!!!" Jawab seluruh pasukan serentak dengan sebilah luapan tekad baja yang teramat pekat, bercampur baur dengan cucuran keringat dingin.

Elizabeth perlahan memutar tubuh zirahnya, menolehkan pandangan ke arah belakang dengan sebilah sorot tatapan matanya yang teramat sangat menusuk dingin.

"Kalian secara hukum kuizinkan untuk menghabisi dan membantai nyawa siapa pun di tanah barat nanti... Siapa pun itu, tak usah sudi pandang bulu... Kecuali, jika ada di antara mereka yang bersumpah bersujud ingin berpihak menyerahkan jiwanya bersama faksi kita... Selebihnya, habisi... Hancurkan... Ratakan sampai tak bersisa... Misi militer ini secara absolut akan segera kita jalankan tepat di menit saat faksi matahari terbit menyingsing subuh nanti..." Ucap Elizabeth lirih, melepaskan pancaran hasrat membunuh predator kasta tertinggi.

Maka di sepanjang sisa lembaran malam itu, dua puluh pasukan Elizabeth meluncurkan berbagai rutinitas murni untuk mengusir rasa tegang; ada yang memilih tidur terlelap sebentar, ada yang menegak minuman keras pengusir hawa dingin, ada juga yang terus-menerus mengobrol intim menumpahkan rahasia batin mereka demi bisa melenyapkan tekanan ketakutan maut di dalam dada.

Hingga akhirnya, sasis waktu bergulir cepat, fajar matahari pun mulai terbit menyembul di balik awan perbatasan. Udara sejuk pagi hari yang menusuk kulit seketika bermanifes nyata berubah menjadi teramat pekat nan mencekam.

Barisan peleton hantu udara Elizabeth kini bener-bener telah berbaris rapi tegap di depan kompleks tenda mereka, mengunci senjata dengan sirkulasi badan yang bersiap menyerang.

"BAIKLAH UNTUK SEMUANYA...!!! KITA SEKARANG AKAN MELUNCURKAN AGRESI SERANGAN TERBUKA SECARA HABIS-HABISAN MENUJU KE DESA OCRA DI DEPAN SANA, PERIMETER YANG BERTINDAK SEBAGAI GERBANG UTAMA MASUK MENUJU KERAJAAN PETRA...!!! ABDIKAN DAN KORBANKAN SELURUH JIWA RAGA KALIAN DEMI KEJAYAAN TANAH AIR TERCINTA KITA SEMUANYA... OPERASI PEMBANTAIAN RESMI DI MULAIIIIIIIIIIIIIIIII...!!!" Seru Elizabeth lantang memecah fajar, tubuh mungilnya seketika langsung melesat terbang meluncur naik ke atas udara angkasa bebas menggunakan mesin dorong Jetpack-nya.

NYIUUTTT... WUSHHHZZZZZ...!!!

Sentakan angin badai bergemuruh tatkala dua puluh personel pasukan lainnya secara serentak ikut menyalakan mesin Jetpack Mana mereka, melesat terbang membelah awan subuh bergerak menyusul di belakang posisi komandan mereka.

BZZTT... CHRRK...

"Elizabeth masuk jalur frekuensi komunikasi... Segera bagi formasi unit menjadi sepasang dua orang tiap unit kecil...! Meluncur menyebar dan lancarkan serangan tanpa suara tanpa ada sebilah pun rasa ampun...!" Perintah Elizabeth lantang menekan tombol HT magisnya.

BZZTT...

"SIAP, PERINTAH DIMAKLUMKAN, KOMANDAN!" Jawab para pasukannya kompak dari balik speaker HT.

Dalam kurun waktu lima detik, seluruh barisan pasukan khusus tersebut secara dinamis langsung terbagi rata menjadi sepasang dua orang tiap unit terkunci, membentuk formasi ofensif total sebanyak 10 unit barisan hantu udara yang terisolasi.

BZZTT...

"SELURUH LARAS KUNCI KOORDINAT... BERSIAPPP... TEMBAKKKKK...!!!" Seru Elizabeth mengacungkan laras panjang sniper raksasa miliknya.

BZZTT...

"SIAPPP, LAKSANAKAN!!!" Jawab seluruh unit serentak.

DODODOODORRRR... DODODODORRRR...!!!

Berondongan muntahan peluru kompresi mana kaliber berat dari senapan otomatis Minimagia 000 milik jajaran pasukan bersanding dengan letusan tembakan nuklir magis Elizabeth seketika langsung menghantam lumat habis-habisan seisi wilayah desa Ocra tanpa ada sebilah pun rasa ampun!

"Jangan kasih kendor... TERUSKANNN PEMBANTAIANNYA...!!!" Seru Elizabeth kencang membelah langit.

DUARR... DUARR... DUARR...

Kerusuhan, jerit kematian, bersanding dengan kobaran lautan api terus terjadi membara, dipicu oleh amukan pasukan Elizabeth yang terus-menerus menghancurkan merubuhkan infrastruktur bangunan desa Ocra tanpa ampun. Perlu digarisbawahi secara taktis, kompleks desa milik teritorial Kerajaan Petra semuanya memiliki karakteristik arsitektur bangunan batu yang teramat sangat besar, kokoh, nan kuat. Maka dari itu, paling engga dibutuhkan durasi waktu satu hari satu malam penuh murni murni hanya untuk bisa menghabisi menyapu bersih satu desa raksasa saja, jikalau jumlah batalion yang menyerang hanya seukuran kuantitas unit kecil milik Elizabeth.

Di saat jajaran pasukannya terus meluncurkan gempuran bombardir udara masif, Elizabeth bersama satu orang prajurit bawahan elit yang mengawal ketat pergerakannya terus bergerak merangsek maju menembus badai api, terbang cepat mencari koordinat pusat komando desa tersebut.

Sementara itu, di sudut perimeter sektor yang lain... Nasib takdir kelam sedang merayap merundung posisi unit tempur Gregory bersanding dengan kakak kandungnya, Tachibana. Akibat meluncurkan agresi yang terlalu ekstrem, sepasang Kakak-Adik tersebut bener-bener telah terpojok ketat, dikepung rapat oleh ratusan infanteri musuh akibat kemunculan mendadak dari sesosok Jenderal Komandan tertinggi militer faksi musuh di titik koordinat mereka.

DORRR... DORRR...

"Kakak... Bahaya tingkat tinggi...! Posisi unit kita bener-bener terus-menerus terpojok ketat dikepung seperti ini... Apa-apaan gerombolan babi musuh ini, sialan...!" Ucap Gregory berteriak panik dari balik tameng energinya.

"Hee... perkataanmu bener-bener tepat, Adik kecilku... Situasi parameter kita detik ini fiks berada di ambang kiamat maut..." Ucap Tachibana terengah-engah parau dengan sekujur pakaian zirah Mirthil-nya yang sudah bersimbah cucuran darah akibat didera luka robek perang.

"Sialan... Bagaimana bisa jalurnya jadi sekritis ini... Apa-apaan takdir ini... Hidup macam apa yang harus kita jalani di dalam pertempuran ini...!" Dengus Gregory meratapi keputusasaannya.

Tachibana menyeka darah di pelupuk matanya, menatap wajah adiknya dengan sebilah sorot tatapan mata yang teramat teduh nan dipenuhi arti pengorbanan suci.

"Dengar aku baik-baik, Gregory... Apapun rentetan musibah kelam yang bakal melanda tempat ini... Kau... Raga kecilmu bersumpah harus tetap hidup selamat keluar dari tanah ini, wahai Adikku kesayanganku...! Bertahan hidup lah, jadilah sosok Komandan Tertinggi baru pada pasukan khusus ini, dan pimpinlah dengan gagah para prajurit pemula yang kelak di masa depan akan bergabung masuk ke dalam faksi pasukan khusus tercinta kita ini...!!!" Seru Tachibana lantang meluapkan silsilah kasih sayangnya.

KLIKKK... BOOMM...!

Tanpa memberikan jeda bagi adiknya untuk berpikir, tangan kanan Tachibana secara ekstrem langsung menekan paksa tombol darurat pengaktifan manual vertikal pada mesin perangkat Jetpack Mana yang terpasang di punggung Gregory! Seketika itu juga, mesin Jetpack Gregory menyemburkan pendaran api mana biru pekat berskala penuh, melesatkan paksa raga kecilnya terbang tinggi meluncur ke atas membelah awan menjauhi koordinat tanah pertempuran darat.

"Selamat tinggal untuk selamanya, Gregory..." Ucap Tachibana lirih tersenyum damai memandang kepergian adiknya.

Gregory yang terlempar paksa ke atas langit seketika langsung terbelalak syok kaget setengah mati meratapi keputusan bunuh diri Kakak kandungnya tersebut.

"ENGGAAAAAA... KAKAKKK...!!! AKU GAK MAUUU KABUR SENDIRIAN...!!! MOHON MATIKAN MESINNYA, KAKAKKK...!!!" Teriak Gregory kencang meraung-raung di angkasa, tangannya bergerak kocar-kacir berusaha mati-matian menekan tuas pembatalan sistem Jetpack-nya.

Namun realitas fakta berkata lain, Gregory bener-bener sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena daya dorong mesin Jetpack-nya telah melesat teramat sangat kencang, meninggalkan raga Kakaknya seorang diri yang kini bener-bener telah tertekan habis dikepung rapat oleh Jenderal musuh di tanah.

"Apa-apaan takdir ini... APA-APAANNN SEMUA KEJAMNYA PERANG INIIII...!!!" Teriak Gregory menangis histeris dirundung tekanan batin yang luar biasa menghancurkan jiwanya di atas langit.

Melihat pelarian tersebut, Komandan militer musuh di tanah hanya bisa mendengus sinis memandang Tachibana.

"Ha? Sebuah pemandangan bodoh yang teramat komikal... Bisa-bisanya kau membiarkan rekan penyerangmu melarikan diri meninggalkanmu sendirian di tempat ini, Kurcaci Bodoh? Kau secara sukarela bakal mampus mati sia-sia jika bertindak sekonyol ini, bukan?" Ucap komandan musuh mengejek habis-habisan posisi pasrah Tachibana.

BZZTT... CHRRKK...

Tepat di detik yang menegangkan itu, frekuensi HT milik Tachibana berdesing nyaring.

"Elizabeth masuk sirkulasi frekuensi... Laporan visual, aku telah berhasil menemukan koordinat pusat komando desa, namun kelihatannya batang hidung komandan utama musuh sama sekali tidak berada di tempat ini... Segera lacak dan cari koordinat keberadaannya secepatnya...!" Ucap Elizabeth tegas dari balik speaker HT.

BZZTT...

"Tachibana izin menjawab langsung panggilan radio Komandan... Mohon maaf, unit perangkat Bom Pengakhiran di pinggangku detik ini resmi akan segera digunakan... Target komandan militer utama musuh fiks sedang berada di posisiku saat ini..." Jawab Tachibana terengah-engah parau dengan sisa-sisa napasnya yang di ambang maut.

BZZTT...

Mendengar laporan maut bawahannya, Elizabeth di seberang radio seketika langsung terdiam mematung, menahan sesak di dadanya. "Haa...? Ahh... Draf parameter dipahami, aku mengerti sepenuhnya kondisi darurat posisimu saat ini... Hak aktivasi operasional unit Bom resmi ku-izinkan menyala..." Jawab Elizabeth membalas dengan nada suara yang teramat gemetaran.

BZZTT...

"Terima kasih banyak atas segala kebaikanmu selama ini, Komandan Elizabeth... Tolong... Tolong jaga dan bimbing keselamatan hidup adik kandungku, Gregory... Selamat tinggal untuk selamanya..." Jawab Tachibana meluncurkan kalimat wasiat terakhirnya.

BZZTT...

"Hee... Tanpa kau minta pun, aku bersumpah dengan seluruh nama darahku bakal menjaga keselamatan hidup adikmu sampai akhir... Beristirahatlah dengan tenang penuh kedamaian... Wahai Pejuang Tangguh Aethelgard..." Jawab Elizabeth dengan nada suara yang kian melirih dalam, menahan bendungan air mata di balik kelopak matanya.

BZZTT... CHRRKK... Panggilan HT resmi terputus mati.

Mendengar bait-bait kalimat wasiat radio tersebut, Sang Komandan militer musuh seketika langsung tersentak kaget, wajahnya pucat pasi diserang kepanikan tingkat tinggi.

"B-... Bom...?! Apa-apaan kurcaci sialan ini...?! Di mana? Sejak kapan ada pasokan senjata bom di tempat ini, hah?!" Tanya komandan musuh berteriak panik luar biasa berusaha melangkah mundur kabur.

Tachibana perlahan mendongakkan wajah berdarahnya, mengulas sebilah senyuman paling damai nan berdarah dingin.

Tangan kanannya bergerak kencang memukul tuas pemicu bom bunuh diri di pinggangnya, merapalkan draf kalimat Doa Kudus Sekte Bapa Surgawi yang telah meresap suci ke dalam jiwanya.

"Sirkulasi waktu kalian bener-bener sudah terlambat sudah, Bajingan... Wahai Zero yang Perkasa... Bapa Surgawi yang Maha Agung nan berkuasa atas segala tatanan langit... Berilah ke atas raga kami makhluk rendahan ini sebilah kemampuan... Keberanian... Dan kobaran semangat... Murni untuk melebur habis memusnahkan para bajingan jahanam yang selama ini menyamar berselimut di balik topeng kesucian Altar palsu...!!! BOM PENGAKHIRAN, MELEDAKLAH...!!!" Pekik Tachibana lantang mengunci rapalannya.

TININININIITTT... BLAMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM...!!!!!!!

Sebuah letusan gelombang ledakan bom bunuh diri berskala raksasa yang teramat sangat dahsyat seketika meledak hebat menghancurkan daratan sekitar nya, melumat habis sekujur tubuh Tachibana beserta raga komandan militer musuh dan ratusan infanteri Petra di sekelilingnya menjadi abu hancur tak berbekas dalam sekejap kedipan mata!Dari kejauhan angkasa udara, Elizabeth menghentikan terbangnya sejenak, memandang sayu ke arah membumbungnya asap hitam pekat raksasa sisa ledakan Tachibana di ujung desa.

"Ahh... Satu pahlawan dungeonku resmi gugur ya... Semoga kau bener-bener bisa beristirahat dengan tenang penuh kedamaian di atas sana, Tachibana..." Ucap Elizabeth lirih dengan nada suara yang teramat sangat berat bergetar ketat.

"Huhh... Kompleks area desa Ocra ini bersumpah bakal bertransformasi menjadi titik koordinat awal mula dari jalannya agresi pembersihan total Aethelgard menuju ke jantung Petra hingga tuntas tanpa sisa... Aku bersumpah akan menyelesaikan pembersihan dunia barat ini sebelum sosok Ibu resmi berjalan pulang ke takhta istana..." Ucap Elizabeth berbisik lirih berdarah dingin penuh arti, sembari memimpin sisa pasukannya melanjutkan badai pembantaian udara.

1
Quinnela Estesa
belum baca LN Tenshura sih. berharap ada risiko aja untuk tokoh utama. risikonya belum ada sama sekali
royco: ouhh ini genre berat aslinya kak.. ikutin teruss yaa.. ini udah sampai skala war antar kerajaan kok..🙏😍
total 3 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
royco: siapp
total 1 replies
Crimson
Semoga nggak putus di jalan ya, min. Sayang banget kalau putus di tengah jalan./Grin//Grin//Grin/
royco: amann lanjut terus sampe tamat bahkan bakal ada volume lainnya😄
total 1 replies
Crimson
tuh kan, sekali di gas, sesak nafas.🤣🤣🤣
royco: 🤭 iyya
total 1 replies
Crimson
Gini, nih, kalau karakter sok keras. Sekali di gas, sesak nafas.🤣🤣🤣🤣
royco: wkwkwkwkwkk
total 1 replies
Crimson
Gas, jangan sampai putus di jalan min. Kyk hubungan ku sama dia, anjay klas king. Wkwkwk 😅😅😅
royco: waduu
total 1 replies
Crimson
Rada" plenger jugak nih, orang.🤣🤣🤣
royco: wkwkkwkwk
total 1 replies
Crimson
Udah kyk Rimuru Jir, War di awal pakai wujud aslinya. wkwkwk 🤣🤣😁
royco: hehehee
total 1 replies
Crimson
Saran gw sih Thor, biar seru. beri MC nya bawahan thor, hehehe 😁
royco: ikuti terus kak alur cerita nya makin ke sini makin rame kok
total 1 replies
Crimson
adegan ini lagi, mirip Rimuru Jir, yang mau masuk ke kota para dwaf. /Facepalm/
royco: reall wkwkkwkwk
total 8 replies
Crimson
Good job, Thor. Nanti aku mampir lagi. /Grin/
Crimson
Wah, gw udah kyk baca novel tensura, ya, baca nih novel. /Grin/
royco: siapp
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!