Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : UJUNG JEMBATAN DERMAGA
Aroma air asin yang tajam menyengat hidung ketika 𝘓𝘢𝘮𝘣𝘰𝘳𝘨𝘩𝘪𝘯𝘪 hitam milik Elara berhenti di area barikade Dermaga 3—jantung faksi maritim yang kini sepenuhnya dikuasai oleh Kaelen Cross. Malam itu langit bersih, cahaya bulan memantul di atas permukaan laut yang tenang.
Elara turun dari mobil. Ia mengenakan mantel kulit hitam panjang yang membungkus tubuhnya dengan pas, dipadukan dengan sepatu bot tinggi. Seperti biasa, Dante telah lebih dulu keluar untuk membukakan pintu, lalu mengambil posisi di belakang Elara.
Begitu tumit sepatu bot Elara menyentuh beton dermaga, belasan pelaut bertubuh kekar yang sedang memindahkan peti-peti amunisi langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka menunduk, menolak bertatapan langsung dengan wanita yang dua bulan lalu membantai seratus orang di tempat yang tak jauh dari sini.
"Nona Elara," sebuah suara yang familier dan bersemangat menyambut dari arah dek kapal cepat 𝘛𝘩𝘦 𝘓𝘦𝘷𝘪𝘢𝘵𝘩𝘢𝘯—kapal tempur kebanggaan faksi maritim.
Kaelen Cross melompat turun dari pagar pembatas kapal. Pemuda itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana 𝘫𝘪𝘯𝘴 pudar yang kotor oleh oli. Tato di tubuhnya berkilat di bawah lampu dermaga, dan senyum miringnya langsung terkembang begitu melihat siapa yang datang.
"Sungguh kejutan yang indah," ucap Kaelen, berjalan mendekat dengan langkah santai, mengabaikan Dante yang matanya langsung menyipit tajam penuh ancaman. Kaelen berhenti tepat di depan Elara, mengusap keringat di dahinya yang bercampur noda oli. "Aku tidak menyangka Sang Ratu Es mau mengotori sepatu mahalnya di dermagaku yang bau solar ini."
Elara menatap Kaelen dari atas ke bawah. "Aku sedang ingin berjalan-jalan, Kaelen. Dan aku ingin melihat apakah armada yang kau banggakan tempo hari benar-benar siap berlayar, atau hanya sekadar tontonan sirkus untuk menyenangkan ayahku."
Kaelen tertawa lepas. "Sirkus? Oh, Nona, kau melukai harga diriku sebagai pelaut." Kaelen berbalik, merentangkan tangannya ke arah jajaran kapal cepat berlapis baja di belakangnya. "Lihatlah mereka. Berkat kode sistem dari si jenius Julian, kapal-kapal ini bisa menembus perbatasan Australia malam ini juga tanpa terdeteksi satu pun sonar patroli. Jalur maritimmu seratus persen aman di tanganku."
Elara melangkah maju, melewati Kaelen. Ia berjalan di sepanjang tepian dermaga, menatap hamparan laut lepas. Rambut hitamnya bergerak pelan ditiup angin laut. "Jangan terlalu sombong dengan teknologi Julian, Kaelen. Di atas air, alam dan kecerobohan manusia jauh lebih mematikan daripada radar musuh."
Kaelen berjalan beriringan di sisi kanan Elara, sengaja memangkas jarak hingga bahu mereka nyaris bersentuhan—sebuah tindakan provokasi tingkat tinggi yang membuat Dante di belakang mereka langsung meletakkan telapak tangannya di atas gagang pisaunya.
Kaelen melirik Dante dari sudut matanya, senyum mengejeknya semakin lebar. Ia kembali menatap samping wajah Elara. "Kau tahu, Nona... bertarung di gelanggang kemarin membuatku sadar satu hal. Kau dan aku... kita memiliki jenis keliaran yang sama. Bedanya, kau menyembunyikannya di balik topeng anggunmu itu, sementara aku membiarkannya bernapas di laut."
Elara menghentikan langkahnya tepat di ujung jembatan dermaga. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap langsung ke dalam sepasang mata liar Kaelen. Jarak mereka kini begitu dekat, hingga Kaelen bisa mencium aroma parfum mawar dari tubuh Elara.
"Kau salah, Kaelen," ucap Elara. Ia mengulurkan tangan kirinya, dengan gerakan perlahan yang tak terduga, ujung jarinya yang dingin menyentuh luka sayat di pipi kiri Kaelan.
Kaelen menahan napasnya. Jantungnya berpacu cepat, karena pesona yang dipancarkan oleh wanita di depannya ini.
"Jika kau berpikir posisi komandanmu membuatmu setara denganku," Elara menarik tangannya kembali, menatap Kaelen dengan sorot tajam, "ingatlah bagaimana Marcus berakhir di atas mejanya sendiri. Aku bisa menenggelamkanmu ke dasar laut ini kapan pun aku bosan melihat wajah lancangmu."
Kaelen menelan ludah, lalu perlahan senyumnya kembali terkembang. Ia membungkuk sedikit, meletakkan tangan kanannya di dada. "Maafkan aku."
Elara berbalik, berjalan kembali menuju mobilnya tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
Saat melewati Kaelen yang masih berdiri di tepi dermaga, Dante menghentikan langkahnya sejenak. Tubuh yang besar sengaja menabrak bahu Kaelen dengan keras.
Dante menunduk, menatap Kaelen dengan mata merah penuh amarah yang tertahan dan berbisik dengan suara lirih, "Sentuh dia sekali lagi dengan tangan kotormu, Cross... dan aku akan memastikan parangmu sendiri yang akan memotong kedua tanganmu itu."
Kaelen hanya terkekeh pelan sembari memperbaiki posisi bahunya, menatap punggung Dante yang berjalan cepat membukakan pintu mobil untuk Elara. Mobil hitam itu kemudian melesat pergi membelah kegelapan malam.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..