NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pintu kayu itu terbuka secara mendadak dengan sentakan yang sangat kasar, hingga menimbulkan suara dentuman keras yang memekakkan telinga. Di ambang pintu, sosok ayah tiri Suci berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan amarah yang belum usai, dan matanya melotot tajam seolah hendak melahap siapa pun yang berani mengganggunya.

"Kau lagi apa? Berani-beraninya kau menggedor pintu rumahku!" bentaknya dengan suara serak dan kasar, meludah ke arah lantai di depan kaki Samantha karena rasa kesal.

Namun tatapan Samantha sama sekali tidak teralihkan padanya. Pandangannya langsung menembus ke dalam ruangan yang sempit itu, dan seketika itu juga matanya menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih.

Di lantai tanah yang dingin, terlihat ibu Suci sedang tersungkur duduk dengan lemah. Kedua lututnya menopang tubuh yang tampak rapuh, wajahnya basah oleh air mata, dan di pipi kirinya terlihat jelas bekas kemerahan bekas tamparan tadi. Bahunya terisak pelan, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit dan ketakutan.

Rasa marah yang sedari tadi ditahan di dalam dada Samantha kini meluap sepenuhnya. Ia menatap pria kejam itu dengan pandangan yang setajam mata elang, tanpa sedikit pun rasa takut. Suaranya terdengar berat, dingin, namun penuh ancaman yang membuat suasana di sekitarnya terasa menegangkan.

"Beraninya kau menyakiti wanita lemah seperti dia?!" tegur Samantha dengan lantang, suaranya bergema di ruangan itu. "Kau laki-laki bukan? Laki-laki mana yang tega mengangkat tangannya pada wanita yang bahkan tidak berdaya melawanmu? Kau bukanlah pelindung, kau hanyalah penindas yang tidak punya harga diri!"

Suci yang berdiri di belakang Samantha pun langsung berlari masuk menghampiri ibunya, memeluk tubuh ibunya yang kedinginan sambil menangis histeris. "Ibu! Ibu tidak apa-apa? Siapa yang melakukan ini pada Ibu?"

Ayah tiri Suci semakin memerah wajahnya karena dipermalukan di depan orang asing. Ia menunjuk ke arah Samantha dengan jari gemetar. "Jangan mencampuri urusan rumah tanggaku! Kau bukan siapa-siapanya! Pergi sana sebelum aku perlakukan kau sama seperti mereka!"

Namun Samantha tidak mundur. Ia justru melangkah maju selangkah, membuat pria itu secara tidak sadar mundur sedikit karena tegasnya aura yang dipancarkan Samantha.

"Kau ancam aku? Cobalah saja," tantang Samantha dengan mata yang tidak berkedip. "Ingat baik-baik ancamanku: jika kau berani sekali lagi menyentuh sehelai rambut pun dari ibu atau Suci, aku pastikan kau akan menanggung akibatnya. Aku tidak akan membiarkan kejahatanmu terus berlanjut di sini."

Tanpa membuang waktu lagi, Samantha segera menoleh ke arah Suci dan berteriak tegas, "Suci, bawa Ibu segera keluar dari sini! Jangan tinggal sedetik pun di tempat yang penuh kejahatan ini!"

Mendengar perintah itu, Suci langsung memapah ibunya perlahan untuk berdiri. Namun ayah tiri Suci bergerak cepat, ia menahan lengan Bu Lastri dengan cengkeraman yang kuat agar tidak pergi.

"Jangan harap kalian bisa lari begitu saja! Masih menjadi istriku, kau tidak ke mana-mana!" bentaknya keras.

Namun kali ini, Bu Lastri yang selama ini selalu pasrah dan takut, tiba-tiba mengumpulkan sisa tenaganya. Dengan sekuat tenaga ia menyentak dan melepaskan lengannya dari cengkeraman kasar pria itu, hingga membuat pria itu terhuyung mundur selangkah. Bu Lastri kini menatap suaminya itu dengan pandangan yang tidak lagi berketakutan, melainkan penuh kemarahan dan kekecewaan yang mendalam.

"Cukup! Aku sudah tidak sanggup lagi hidup menderita di sisimu! Aku ingin bercerai! Sejak awal pernikahan ini hanya didasari paksaan dan hutang, bukan cinta. Sekarang aku ingin bebas!" ucap Bu Lastri dengan suara gemetar namun tegas, kalimat yang selama ini terpendam akhirnya terucap juga.

Mendengar itu, ayah tiri Suci justru tertawa terbahak-bahak seolah mendengar lelucon paling konyol. Wajahnya kembali berubah sinis dan angkuh.

"Bercerai katamu? Wah, hebat sekali kau sekarang. Tapi ingat ini, Bu Lastri! Kalau kau ingin bercerai dan bebas dariku, kau harus melunasi seluruh hutangku padaku beserta bunganya yang sudah membengkak! Jumlahnya sangat besar, uang mana yang akan kau pakai? Kau bahkan tidak punya sepeser pun!" ejeknya, membuat Bu Lastri terdiam terpaku dengan wajah pucat. Ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membayar jumlah yang dimaksud.

Namun di tengah keheningan yang mencekam itu, suara Samantha terdengar tenang dan santai seolah hal itu adalah perkara kecil saja.

"Jangan khawatir soal hutang itu. Aku yang akan melunasinya," ucap Samantha mantap.

Bu Lastri menoleh kaget ke arah Samantha, matanya terbelalak tak percaya. "Tidak, Nak... tidak boleh! Kami tidak mau membebani mu lagi. Kamu sudah terlalu banyak membantu kami, kami tidak sanggup membalasnya," tolak Bu Lastri dengan lemah namun tegas.

Samantha mendekat dan menggenggam tangan wanita tua itu dengan lembut namun tegas. "Bu, tolong jangan menolak. Bagi saya kebahagiaan dan keselamatan Ibu serta Suci jauh lebih berharga daripada uang. Biarkan saya membantu kalian meraih kebebasan yang sesungguhnya. Saya ikhlas melakukannya."

Meskipun Bu Lastri masih merasa berat dan sungkan, ketegasan serta kebaikan hati Samantha membuatnya perlahan mulai luluh dan menyadari bahwa inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan masa depan putrinya dan dirinya sendiri.

Samantha segera merogoh ponsel pintar dari dalam tasnya, lalu menatap tajam ke arah pria itu. "Baik, Pak Dadang. Sekarang sebutkan nomor rekening Anda. Saya akan melunasi semuanya saat ini juga," ucapnya tegas tanpa ragu sedikit pun.

Mendengar itu, Pak Dadang justru tampak bersemangat. Ia tidak menyangka akan mendapatkan uang secepat ini, sehingga tanpa berpikir panjang ia langsung menyebutkan serangkaian nomor rekeningnya dengan cepat.

"Ini nomornya... pastikan transfernya masuk, ya!" ucapnya serakah.

Samantha mengetik nomor itu dengan tenang, lalu kembali menatapnya. "Sekarang sebutkan berapa total hutang pokoknya."

Bu Lastri yang berdiri di samping Suci menjawab perlahan, "Hutang pokoknya dua puluh juta rupiah, Nak..."

Belum selesai Bu Lastri bicara, Pak Dadang langsung menyahut cepat dengan nada menuntut, "Hei, tunggu dulu! Itu baru hutang pokok! Belum termasuk bunga yang sudah berjalan bertahun-tahun. Kalau ditotal semuanya jadi lima puluh juta rupiah! Kalau mau bercerai harus lunas semuanya!"

Samantha berhenti sejenak menekan tombol ponselnya, lalu menatap Pak Dadang dengan senyum tipis yang terasa dingin dan mengancam.

"Maaf, Pak Dadang. Saya hanya akan membayar dua puluh juta sesuai hutang pokoknya. Untuk bunganya, anggap saja sudah lunas terbayar lunas dengan harga mahal yang sudah Ibu Lastri berikan selama ini bertahun-tahun melayani, mengurus rumah, dan menahan sakit serta menderita akibat perlakuan Anda. Bukankah itu jauh lebih mahal nilainya daripada sekadar uang bunga?" ucap Samantha dengan tegas dan berwibawa.

Kalimat itu membuat Pak Dadang tertegun mulutnya terbuka namun tak bisa berkutik. Ia sadar argumen Samantha tak terbantahkan, namun rasa serakahnya masih berusaha melawan.

"Itu beda urusan! Pokoknya harus bayar semua—"

"Cukup!" potong Samantha lantang. "Ambil dua puluh juta ini, selesaikan urusannya, dan lepaskan Bu Lastri serta Suci untuk selamanya. Atau... urusan ini kita bawa ke jalur hukum sekalian, dan kita hitung ganti rugi atas kekerasan serta penyiksaan yang sudah Anda lakukan selama ini. Silakan pilih."

Ancaman itu akhirnya membuat Pak Dadang ciut nyalinya. Ia sadar kalau dilaporkan polisi, ia justru bisa masuk penjara dan tak mendapat uang sepeser pun. Akhirnya ia menggerutu kesal namun terpaksa menerima keputusan itu.

"Baiklah! Dua puluh juta saja! Cepat transfer sekarang juga!"

Samantha pun segera menekan tombol kirim, dan tak lama kemudian terdengar bunyi pesan masuk dari ponsel Pak Dadang menandakan uang sudah masuk ke rekeningnya.

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!